Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Adrian bangkit dan masuk ke ruang kerjanya. Suasana rumah yang memanas sejak subuh membuatnya butuh ketenangan untuk berpikir dingin.
Ia menarik kursi kerja, mengambil selembar kertas tebal, dan mulai merumuskan batas-batas yang jelas agar keberadaan Sasi di rumah ini tidak memicu bentrok berkelanjutan dengan Fitria.
Dengan pena di genggamannya, ia menuliskan setiap poin secara mendetail.
Setelah selesai dan memastikan isinya cukup tegas, ia melangkah menuju kamar Sasi.
Tok... tok... tok...
"Sasi, buka pintunya," panggil Adrian tegas dari luar.
Ceklek.
Pintu terbuka sedikit. Sasi berdiri di ambang pintu dengan wajah enggan dan matanya yang sembap.
"Ada apa lagi?" tanyanya malas.
"Duduklah, aku ingin bicara," ujar Adrian tanpa menunggu persetujuan, melangkah masuk ke dalam kamar.
Ia meminta Sasi duduk di tepi tempat tidur, lalu Adrian berlutut pelan di hadapannya.
Tanpa banyak bicara, Adrian kembali memasang gelang kaki di pergelangan kaki Sasi—simbol keterikatan dan pengawasan yang tak bisa dibantah.
Sasi hanya bisa memalingkan wajah, menahan kejengkelan saat sensasi dingin logam itu kembali menyentuh kulitnya.
Setelah itu, Adrian berdiri dan menyerahkan selembar kertas yang baru saja ia tulis.
"Ini surat kontrak pernikahan yang harus kamu patuhi selama tinggal di rumah ini."
Sasi menerima kertas tersebut dan membaca setiap baris kalimat yang tertulis di sana:
SURAT KONTRAK DAN ATURAN PERNIKAHAN
Demi menjaga ketertiban, keharmonisan, serta batas-batas kedudukan di dalam rumah tangga ini, maka pihak Pertama (Adrian) menetapkan aturan-aturan yang WAJIB dipatuhi oleh Pihak Kedua (Sasi):
Kedudukan dan Hak Rumah Tangga:
Fitria adalah istri pertama dan memegang kendali penuh atas urusan operasional rumah tangga. Sasi tidak berhak mencampuri atau mengambil keputusan atas rumah tanpa persetujuan Fitria dan Adrian.
Sasi wajib menjaga sikap dan kesopanan, baik kepada Adrian maupun kepada Fitria sebagai istri senior.
Penggunaan Gelang Kaki dan Keberadaan di Rumah:
Gelang kaki yang telah dipasang tidak boleh dilepas dengan alasan apa pun tanpa izin tertulis dari Adrian.
Sasi dilarang meninggalkan area rumah atau berpergian tanpa seizin Adrian.
Tugas dan Keterlibatan di Rumah:
Sasi bukan pelayan rumah tangga, namun Sasi wajib berkontribusi menjaga kebersihan dan ketertiban area pribadinya sendiri serta membantu pekerjaan rumah jika diminta oleh Adrian.
Pembagian tugas dapur dan keperluan harian akan diatur lebih lanjut agar tidak terjadi bentrok.
Batasan Hubungan dan Privasi:
Sasi tidak diperbolehkan menolak kewajiban sebagai istri apabila Adrian membutuhkan kehadiran atau pemenuhan hak suaminya.
Jadwal kebersamaan dan pembagian malam akan ditentukan sepenuhnya oleh Adrian secara adil dan mutlak.
Sanksi Pelanggaran:
Setiap bentuk pembangkangan, penghinaan, atau upaya melarikan diri dari rumah ini akan dikenakan sanksi berupa pembatasan akses komunikasi luar dan isolasi di dalam kamar.
Sasi menatap kertas di tangannya dengan rahang mengeras setelah membaca setiap poin yang tertulis di sana.
"Gila, ini gila!" jerit Sasi, matanya membelalak menatap lembaran kertas di tangannya dengan tubuh bergetar hebat.
"Yang diuntungkan cuma kalian berdua! Aku sama sekali nggak punya hak di rumah ini! Aku nggak mau tanda tangan!"
Sasi menghempaskan kertas itu ke atas ranjang, menolak mentah-mentah aturan gila yang mengurungnya semakin dalam.
Adrian tak bergerak sedikit pun. Ia menatap Sasi dengan wajah dingin tanpa ekspresi, lalu berbisik pelan namun sarat ancaman, "Harus tanda tangan, atau kamu mau kembali kepada lelaki yang memperkosa kamu?"
Sasi langsung membeku seketika. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan seluruh darah di tubuhnya seakan tersedot habis.
Wajahnya yang pucat bertambah pasi saat mata sembapnya menatap lurus ke dalam iris mata Adrian.
"Aku sudah tahu semuanya, kecuali Fitria," lanjut Adrian datar, memotong sisa keberanian yang tadinya dikumpulkan Sasi.
Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga bayangannya menutupi tubuh wanita yang gemetar itu.
"Jadi, kamu harus patuh sama aku, Sasi. Jangan pernah berpikir untuk membangkang lagi."
Sasi bangkit dari duduknya dengan napas tersengal parah, lalu mundur merangkak naik ke atas tempat tidur hingga punggungnya menempel rapat pada kepala ranjang.
Matanya menatap Adrian dengan kilatan amarah dan keputusasaan yang meluap.
"Aku tidak mau tanda tangan!" jerit Sasi lantang, suaranya gemetar menahan tangis.
"Bunuh saja aku sekarang! Tidak usah mengancamku seperti itu!"
Melihat respon trauma Sasi yang membuncah, raut dingin di wajah Adrian perlahan luntur.
Ia memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas berat, lalu mengambil langkah mendekati tepi ranjang tanpa intimidasi.
"Sasi, ini untuk perlindungan kamu," ucap Adrian dengan nada yang mendadak melunak, namun sarat akan penekanan serius.
Ia menatap lurus ke dalam manik mata Sasi yang ketakutan.
"Aku bisa menjaga kamu dari lelaki itu. Lelaki itu tidak akan berhenti sampai di situ, Sasi. Dia akan mencarimu, atau dia akan datang dan mengancam keselamatan keluargamu di rumah kalau kamu berada di luar perlindunganku."
"Itu akal-akalanmu, Adrian!" bentak Sasi, suaranya parau dan terpecah oleh rasa frustrasi yang teramat sangat.
"Kamu mau anak, kan?"
Tanpa ragu sedikit pun, dengan jemari menggigil dan gerakan kasar, Sasi menarik ke bawah dan membuka pakaiannya.
Ia mencampakkannya begitu saja ke lantai ranjang, membiarkan kulitnya terpapar udara dingin malam.
Adrian terpaku. Mata pria itu membelalak saat pandangannya jatuh pada tubuh Sasi—terpampang nyata jejak-jejak memar kebiruan dan lebam memilu bekas jamahan paksa Hendrik yang belum sembuh sepenuhnya.
"Lakukan sekarang, Adrian." amuk Sasi, membusungkan dadanya dengan tatapan benci yang menghunus tajam.
"Lakukan sekarang agar aku tidak punya utang budi lagi padamu! Habisi sekalian!"
Sensasi perih menghantam dada Adrian. Rahangnya mengeras rapat, dan dengan gerakan cepat ia langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Sasi, enggan menatap luka membekas di kulit wanita itu.
"Pakai pakaianmu, Sasi!" bentak Adrian keras, suaranya bergetar menahan amarah yang campur aduk dengan rasa kasihan.
"Aku, bukan binatang yang langsung nafsu melihatmu seperti itu!"
Keheningan yang menyiksa kembali menguasai kamar.
Adrian mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuh, menarik napas panjang untuk menguasai emosinya.
"Terserah kamu, Sasi. Aku keluar dulu," bisik Adrian dingin tanpa menoleh sedikit pun.
Pria itu melangkah lebar meninggalkan tempat tidur, meletakkan surat kontrak beserta sebuah bolpoin di atas meja samping ranjang, lalu berjalan keluar dan membanting pintu kamar rapat-rapat.
Di dalam kamar, Sasi terduduk kaku di atas tempat tidur.
Udara dingin menyentuh kulitnya yang terlanjur terekspos, namun rasa kebas di dadanya jauh lebih membekukan.
Dengan tangan menggigil hebat, ia memungut kembali pakaiannya dan mengenakannya secara terburu-buru.
Air matanya menetes satu per satu, jatuh menimpa bekas lebam di lengannya.
Rasa hina dan tidak berdaya merayapi seluruh tubuhnya.
Pandangannya beralih ke meja samping ranjang, tempat lembaran surat kontrak dan pulpen itu tergeletak.
Kata-kata Adrian kembali bergema di kepalanya, memantul-mantul tanpa ampun: Hendrik tidak akan berhenti sampai di situ. Dia akan mencarimu atau akan datang ke rumahmu.
Bayangan Hendrik yang penuh kekerasan dan ancaman terhadap keluarganya membuat napas Sasi makin tersengal.
Adrian benar-benar tahu titik lemahnya. Pria itu menguncinya bukan hanya dengan gelang hitam di kaki, tapi juga dengan ketakutan terbesarnya.
Sementara itu di lorong luar, Adrian bersandar di dinding sebelah pintu kamar Sasi.
Pria itu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menghembuskan napas berat yang tertahan sejak tadi.
Bayangan lebam di tubuh Sasi terekam jelas di ingatannya.
Ada rasa marah yang membakar dadanya—bukan kepada Sasi, melainkan kepada Hendrik dan situasi gila yang diciptakan oleh almarhum ayahnya ini.
"Mas?"
Suara panggilan itu membuat Adrian menoleh. Fitria berdiri di ujung lorong dengan melipat tangan di dada, memperhatikan suaminya dengan tatapan curiga.
"Kenapa kamu berdiri di situ? Apa mas sudah buat surat kontrak" tanya Fitria, melangkah mendekat dengan nada menuntut.
"Belum," jawab Adrian singkat dan dingin.
Ia melangkah melewati Fitria tanpa berminat melanjutkan percakapan.
"Mas! Sampai kapan kamu mau lembek sama wanita itu?!" seru Fitria kesal sambil menyusul langkah Adrian.
"Dia itu cuma jalan buat kita punya anak! Jangan bikin semuanya jadi rumit!"
Adrian mendadak menghentikan langkahnya dan menoleh tajam ke arah Fitria.
"Fitria, berhenti menekan aku. Urusan kamar Sasi adalah urusanku. Jangan campuri lebih jauh dari yang seharusnya."
Fitria bungkam seketika, terkejut melihat aura ketegasan dan rasa frustrasi yang terpancar dari mata suaminya.