Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 10
Zivana memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata kembali jatuh. "Aku... aku di rumah, Mas. Ada apa?"
Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota, Aidil mencengkeram erat kemudi dengan sebelah tangannya. Suara napasnya masih memburu, terengah oleh panik dan sisa emosi yang membakar dadanya. Ia mendengarkan suara lembut Zivana di seberang telepon, suara yang kini terasa begitu berharga, sekaligus menghantam nuraninya dengan penyesalan yang luar biasa.
Aidil membuka mulutnya, hendak menumpahkan seluruh kenyataan bahwa ia baru saja membohonginya dan bertemu Stela. Namun, ketakutan mendadak melumpuhkan lidahnya. Bagaimana jika Zivana marah? Bagaimana jika wanita itu membencinya karena telah membiarkan Stela mendekati anak-anak? Rasa takut kehilangan Zivana justru membuat pria itu kembali melangkah masuk ke dalam jebakan kebohongannya sendiri.
Aidil menelan saliva yang terasa sepahit racun. Ia memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat canggung dan bergetar.
"E... enggak apa-apa, Ziva..." sahut Aidil, suaranya naik satu oktav karena gugup yang luar biasa.
"Ini... aku dan anak-anak sudah selesai jalan-jalannya. Sekarang kami sedang di jalan pulang."
Di dalam kafe seberang jalan, Zivana memejamkan mata rapat-rapt. Airmata yang tadi sempat mereda kini kembali menetes, membasahi pipinya yang dingin. Jawaban Aidil bagaikan belati yang menusuk langsung ke ulu hatinya. Harapan kecil yang ia genggam, bahwa Aidil akan mengaku saat mendengar suaranya, musnah seketika.
Zivana menggigit bibir bawahnya rapat-rapat demi menahan isak tangis yang hampir pecah di tenggorokannya.
"Oh... begitu ya, Mas?" bisik Zivana parau, suaranya begitu bergetar hingga ia harus menahan napas.
"Anak-anak... senang jalan-jalannya?"
Aidil melirik dari kaca spion tengah. Khaisar duduk menyandar di kursi belakang dengan mata sembab menatap keluar jendela, sementara Amora terlelap dengan sisa bekas air mata di pipi bahagianya. Dada Aidil kian berdenyut nyeri.
"Senang, Ziva. Mereka gembira sekali," bohong Aidil lagi, suaranya makin tercekat. Pria itu menyusap wajahnya kasar, berusaha menutupi kebingungan dan rasa bersalahnya.
"Kamu... kamu sedang apa di rumah? Masih capek?"
"Aku cuma... menyiram tanaman dan menyiapkan makan malam untuk kalian," jawab Zivana lirih, menatap pantulan dirinya yang hancur di kaca jendela kafe.
"Pasti anak-anak lapar setelah puas main..."
Aidil menarik napas panjang yang terasa sangat berat di dadanya. Pria itu menatap jalanan di depannya, ingin rasanya memutar balik waktu, namun keberaniannya telah pupus dikalahkan rasa takut. Untuk mengalihkan rasa cemas dan menutupi kecanggungannya, Aidil memotong pembicaraan.
"Ziva, ini... aku ada di jalan raya dekat supermarket pusat. Kamu mau aku belikan sesuatu? Mau menitip apa untuk makan malam atau camilan?" tanya Aidil terburu-buru, suaranya sarat akan kepanikan yang tersembunyi.
"Sebutkan saja, Ziva. Nanti Mas mampir belikan."
Zivana terdiam cukup lama di seberang telepon. Hening yang tercipta di antara mereka terasa begitu mencekam, seolah udara di dalam mobil Aidil dan di dalam kafe tempat Zivana berada mendadak membeku. Zivana meremas kain gaunnya erat-erat, menahan sesak yang teramat sangat.
"Aku tidak menitip makanan atau barang apa pun, Mas..."
Aidil mengerutkan dahi, hatinya makin tidak tenang. "Lalu? Kamu butuh apa, Sayang? Katakan saja."
Zivana menarik napas yang terasa patah-patah, lalu berbisik dengan nada suara paling pilu yang belum pernah Aidil dengar sebelumnya.
"Aku cuma menitip satu hal, Mas... Tolong bawa anak-anak segera pulang, aku khawatir dengan mereka,."
Di dalam kafe yang sunyi, Zivana mematikan ponselnya dengan tangan yang bergetar hebat. Kalimat terkahir itu, pilihan untuk menahan diri demi anak-anak alih-alih meledakkan amarahnya, terasa membakar seluruh tenggorokannya. Ia mengusap air matanya dengan tisu hingga tak bersisa, merapikan gaunnya, lalu bergegas meninggalkan kafe. Zivana harus sampai di rumah sebelum mobil Aidil berbelok di ujung gang. Ia tak ingin anak-anak tahu bahwa sang bunda telah mengawasi pertengkaran heboh itu dari seberang jalan.
Tiga puluh menit kemudian, deru mesin mobil sedan hitam Aidil terdengar memasuki halaman rumah. Suara ban yang berdecit halus menapak di atas kerikil memecah keheningan sore.
Di dalam mobil, dada Aidil serasa diremas kuat-kuat. Tangannya yang menggenggam setir masih menyisa getaran hebat. Kalimat Zivana di telepon tadi. Tolong bawa anak-anak segera pulang, aku khawatir dengan mereka. terus bergema bagai dentang lonceng kematian bagi ketenangannya. Ada nada pasrah yang begitu asing dalam suara istrinya, nada yang membuat Aidil diliputi kecemasan luar biasa.
"Khaisar, yuk turun," bisik Aidil parau, suaranya serak habis menahan tangis sepanjang jalan.
Khaisar tidak menjawab. Bocah delapan tahun itu langsung membuka pintu mobil sendiri tanpa menunggu dibantu. Sementara itu, Aidil melangkah mutar ke pintu sebelah untuk menggendong Amora yang terbangun kaget dan masih tampak linglung.
Saat pintu utama rumah kayu itu terdorong terbuka, Zivana sudah berdiri di balik pintu. Ia mengenakan celemek kain, berusaha keras memasang raut wajah setenang mungkin, walau lingkaran hitam dan rona merah di sekeliling matanya tak bisa sepenuhnya disembunyikan.
"Bunda!"
Pekikan nyaring Khaisar memecah udara. Bocah itu melupakan sikap diamnya sepanjang jalan dan langsung berlari sekencang-kencangnya, berhambur menubruk pinggang Zivana. Khaisar menyembunyikan wajahnya di perut Zivana, melingkarkan kedua tangan kecilnya erat-erat seolah takut wanita itu akan menghilang.
Zivana berlutut seketika. Kedua tangannya merengkuh tubuh mungil Khaisar, mengusap punggung bocah itu yang naik-turun menahan isak yang tiba-tiba pecah kembali.
"Bunda... Khaisar kangen Bunda..." bisik Khaisar terendat-endat, isakannya menyerap ke kain baju Zivana.
"Khaisar takut tadi... Khaisar ndak mau dipaksa-paksa lagi..."
Hati Zivana bagai diiris sembilu mendengar rintihan anak sambungnya. Ia mencium puncak kepala Khaisar berulang kali, meremas bahunya lembut.
"Bunda di sini, Sayang. Bunda di sini... Mas Khaisar aman sama Bunda."
Aidil melangkah masuk dengan canggung, melintasi ambang pintu sambil menggendong Amora. Langkah kaki pria itu terasa berat, bagai diikat rantai besi. Amora yang melihat Zivana berlutut langsung mengulurkan kedua tangan mungilnya dari dekap Aidil.
"Bunda... mau Bunda..." rengek Amora dengan suara serak, mencengkeram kemeja Aidil agar minta dipindahkan.
Zivana mendongak. Pandangannya beradu dengan mata Aidil yang merah dan sarat akan penyesalan yang mendalam. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada suaminya, Zivana mengulurkan tangan dan mengambil Amora dari gendongan Aidil. Amora seketika menyembunyikan wajahnya di celah leher Zivana, memeluk leher bundanya erat-erat sambil meremas rambut panjang Zivana.
"Bunda, tadi ada orang jahat... tapi Ayah marah-marah," adu Amora polos dengan bibir melengkung ke bawah.
"Amora takut..."
"Shh... tidak ada orang jahat, Sayang. Kan ada Ayah dan Bunda yang jaga Amora sama Mas Khaisar," bisik Zivana menenangkan. Suaranya bergema begitu lembut, begitu kontras dengan kebohongan dan ketegangan yang baru saja terjadi beberapa jam lalu.
Aidil berdiri membisu di hadapan mereka. Pria itu menatap pemandangan di depannya dengan tenggorokan yang menyempit hebat. Ia melihat bagaimana kedua anaknya sepenuhnya berlindung pada Zivana, bukan pada Stela, dan bahkan bukan pada dirinya yang telah gagal menjadi pelindung yang jujur.
"Ziva..." panggil Aidil, suaranya begitu lirih dan bergetar, memecah keheningan di antara mereka.
Zivana berdiri perlahan sambil menggendong Amora, sementara tangan kirinya menggandeng erat jemari Khaisar. Ia menatap Aidil lurus-lurus. Tidak ada ledakan amarah di matanya, hanya ada kelelahan yang teramat sangat dan kepedihan yang menyayat.
"Mas, segera bersih-bersih," ujar Zivana datar, nada suaranya begitu dingin dan berjarak.
"Aku mau lap badan Amora dulu di kamar mandi."
Pria itu membeku di tempatnya, menatap punggung Zivana yang berjalan menjauh membawa kedua anak mereka ke dalam kamar, meninggalkan Aidil sendirian di ruang tamu yang mendadak terasa hampa dan mencekam. Dia belum bisa mengatakan kedatangan Stela kepada Zivana untuk saat ini, apalagi dia juga sudah mulai mencintai Zivana dan tak mau kehilangan istrinya itu.
jdi laki kok banci amat😅😅😅
kl ortu berkuasa bisa memiskin kn aidil pasti bisa melindungi khaisar Dan amora.
buktinya mereka gk bisa melindungi khaisar Dan amora.
apa hati mereka gk merasakan pnderitaan cucunya ya.
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan
kasian khaisar n Amora jd broken home