Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Sang Don

Di Balik Topeng Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: LORD KING

Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.

Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.

Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guru Baru

Sekolah Cendekia Mulia bukan sekolah biasa. Uang pangkalnya saja bisa membeli sebuah rumah type 36 di pinggiran Jakarta, dan para orang tua yang menyekolahkan anaknya di sana adalah pengusaha, pejabat, dan — dalam kasus Indra Subroto — pemilik sindikat bisnis yang tak pernah tercantum di kartu namanya.

Pagi itu, ruang kepala sekolah terasa lebih dingin dari biasanya, meski AC-nya disetel pada suhu yang sama seperti hari-hari lain.

"Pak Subroto," Ibu Retno, kepala sekolah, meremas ujung lengan blazernya sendiri tanpa sadar, "saya tidak tahu bagaimana harus menyampaikan ini dengan sopan, jadi saya akan langsung saja. Indra meretas sistem penilaian sekolah."

Luki duduk di kursi seberang meja dengan punggung tegak, tangan terlipat di pangkuan, wajah setenang permukaan danau yang tak diusik angin. Di dunia lain, tatapan seperti ini akan membuat orang di depannya gemetar. Di sini, di ruangan berbau kertas dan pengharum lavender murahan, ia hanya seorang ayah yang sedang mendengarkan laporan dari sekolah anaknya.

"Meretas dalam artian apa?" tanyanya, tenang.

"Ia mengubah nilai ujian matematika seluruh kelasnya menjadi seratus. Termasuk nilainya sendiri, yang—" Ibu Retno berhenti sejenak, seolah kalimat berikutnya sulit dipercaya bahkan oleh dirinya sendiri, "—yang sebenarnya sudah seratus tanpa perlu diubah. Ia bilang pada saya ia melakukannya karena, kutipannya, 'nggak adil kalau cuma aku yang dapat nilai bagus sedangkan yang lain nangis karena dapat tujuh puluh.'"

Untuk sepersekian detik, sesuatu di dada Luki melunak — sebuah kehangatan aneh yang tak pernah ia rasakan bahkan saat menghitung keuntungan bisnisnya berlipat ganda. Anaknya, di usia enam tahun, punya nurani yang lebih besar dari kebanyakan orang dewasa yang pernah berlutut di ruang rapatnya. Tapi ia menyembunyikan itu di balik alis yang sedikit terangkat.

"Bagaimana caranya seorang anak enam tahun bisa masuk ke sistem sekolah yang katanya dilindungi firewall internasional?"

Ibu Retno menghela napas panjang, mengeluarkan selembar kertas dari mapnya. "Tim IT kami butuh waktu dua jam untuk menelusuri jejaknya. Dan bahkan setelah itu, mereka bilang metode yang dipakai Indra... tidak ada dalam kurikulum manapun yang kami ajarkan. Pak Subroto, dengan segala hormat, saya harus mengatakan ini: dewan sekolah mempertimbangkan untuk mengeluarkan Indra."

"Tidak," kata Luki, satu kata, datar, tanpa nada naik sedikit pun — tapi entah kenapa kata itu terasa seperti pintu baja yang dibanting menutup.

Ibu Retno berkedip. "Pak—"

"Anak saya bukan masalah yang perlu diselesaikan dengan mengeluarkannya," Luki melanjutkan, suaranya masih tenang namun kini ada sesuatu di baliknya yang membuat Ibu Retno tanpa sadar mundur beberapa senti di kursinya. "Anak saya adalah anak berusia enam tahun yang kesepian karena tidak ada satu pun teman sekelasnya yang bisa mengimbangi cara berpikirnya, dan sekolah ini — yang katanya sekolah unggulan — tidak punya satu pun program pun untuk anak seperti dia selain kata 'jenius' yang ditempel di brosur promosi kalian."

Ruangan itu hening selama beberapa detik.

"Saya usul begini," lanjut Luki, kali ini nadanya melunak sedikit, meski masih dengan ketegasan yang tak bisa dibantah. "Saya akan mendanai program pendampingan khusus untuk Indra — kurikulum yang disesuaikan, dan seorang pendamping psikologis yang mengerti anak dengan kemampuan di atas rata-rata. Sekolah ini menyediakan ruangnya. Saya yang menyediakan segalanya yang lain."

Ibu Retno menatapnya lama, lalu mengangguk pelan, jelas lega karena tidak perlu berdebat lebih jauh dengan seorang pengusaha yang auranya entah kenapa membuat seluruh ruangan terasa lebih kecil dari ukuran sebenarnya.

Malam itu, di meja makan penthouse yang biasanya hanya diisi suara sendok beradu piring dan ocehan Indra soal Pluto, Luki menelepon seseorang yang namanya sudah ia simpan sejak tiga bulan lalu — sebuah rekomendasi dari kenalan lamanya di dunia medis, seorang psikolog anak muda yang katanya "punya cara aneh menangani anak-anak yang terlalu pintar untuk usianya sendiri."

"Alena Kirana," suara di seberang telepon terdengar profesional namun sedikit lelah, seperti orang yang baru saja pulang dari sesi terapi panjang.

"Nama saya Luki Subroto. Saya mendapat nomor Anda dari dr. Hasan. Saya butuh seseorang untuk mendampingi anak saya."

Ada jeda sejenak di seberang telepon. "Boleh saya tahu usia anak Anda, dan situasinya seperti apa?"

"Enam tahun. IQ-nya di atas seratus enam puluh menurut tes terakhir. Ia baru saja meretas sistem sekolahnya sendiri karena merasa nilai teman-temannya tidak adil." Luki berhenti sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati, sesuatu yang jarang ia lakukan bahkan saat bernegosiasi dengan rival bisnis paling licik sekalipun. "Ia anak yang baik. Tapi ia kesepian, dan saya... tidak selalu tahu cara membantunya dengan cara yang benar."

Sesuatu dalam nada suara pria di seberang telepon itu membuat Alena berhenti sejenak sebelum menjawab. Ada kejujuran yang jarang ia dengar dari orang tua kaya yang biasa menghubunginya — kebanyakan dari mereka lebih peduli pada nilai rapor daripada kebahagiaan anaknya.

"Saya bisa datang lusa untuk sesi pertama," katanya akhirnya. "Tapi saya perlu memperingatkan Anda, Pak Subroto — saya tidak akan hanya duduk dan memberi tes IQ lagi. Kalau anak Anda kesepian, itu bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan kurikulum yang dipercepat."

"Saya tahu, Itu sebabnya saya menelepon Anda, bukan lembaga tes IQ lainnya."

Di kamarnya, Indra duduk bersila di lantai, laptop kecil di pangkuannya menyala terang di tengah kamar yang gelap. Ia sudah seharusnya tidur satu jam yang lalu, tapi rasa penasarannya lebih kuat dari kantuknya.

Ia membuka folder yang sama untuk ketiga kalinya minggu ini — folder terenkripsi di server pribadi ayahnya yang seharusnya tak bisa diakses siapa pun, apalagi anak berusia enam tahun. Tapi bagi Indra, kata sandi hanyalah teka-teki lain untuk dipecahkan, seperti Rubik atau soal olimpiade matematika.

OPERASI ELANG

Ia menatap nama folder itu lama, jarinya melayang di atas trackpad, ragu antara rasa penasaran dan sesuatu yang lebih dalam — semacam firasat samar bahwa apa pun yang ada di dalamnya akan mengubah cara ia memandang ayahnya selamanya.

Dari kejauhan, ia mendengar langkah kaki ayahnya mendekat di lorong.

Dengan gerakan cepat, jemari kecilnya menutup laptop, mematikan layarnya, dan berpura-pura sudah tertidur tepat saat pintu kamarnya berderit terbuka.

Luki mengintip dari celah pintu, tersenyum kecil melihat anaknya yang tampak damai di bawah selimut galaksi, tidak tahu bahwa jantung kecil di balik selimut itu masih berdebar kencang, menyimpan pertanyaan yang belum berani ia ucapkan.

Ayah, kamu sebenarnya siapa?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!