Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.
Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan di Atas Nyawa
"Sekarang, lepaskan senjatamu, Cucuku," perintah Sophia dengan nada dingin penuh dominasi mutlak. "Berlutut di hadapanku, atau kau sendiri yang akan menyaksikan anakmu hancur dari dalam rahim ibunya."
Udara di dalam ruang operasi bawah tanah itu serasa mendadak membeku. Suara deru indikator medis dan rintihan napas Anindya menjadi satu-satunya bunyi yang memecah ketegangan gila tersebut.
"Adrian... Jangan..." bisik Anindya seraya memegang erat pergelangan tangan suaminya. "Jangan berlutut pada iblis ini...
"Tutup mulutmu, Anindya!" bentak Sophia, jarinya menekan lebih dalam tombol frekuensi pada pemantik di genggamannya. Lampu hijau pada alat itu mendadak berubah berkedip merah cepat. "Aku tidak punya kesabaran untuk drama emosional kalian! Tiga detik, Adrian!"
Adrian menatap mata tua Sophia yang penuh kelicikan, lalu melirik ke arah Anindya yang bersimbah peluh dan air mata. Dengan perlahan, Adrian menurunkan moncong pistolnya.
Klak.
Pistol taktis itu terjatuh ke lantai beton yang dingin. Adrian merendahkan tubuhnya, perlahan menjatuhkan kedua lututnya di hadapan kursi roda Sophia.
"Pilihan yang sangat bijaksana," cibir Sophia seraya terkekeh parau. "Seorang pahlawan yang akhirnya tunduk di bawah takhta penciptanya."
"Aku sudah berlutut, Sophia," desis Adrian dengan suara serak yang memendam amarah tak terhingga. "Sekarang matikan sinyal mikrochip itu!"
"Matikan?" Sophia menyipitkan matanya. "Tentu saja tidak sampai proses ekstraksi genetik ini selesai secara sempurna. Pengawal! Ambil sampel darah murni dari leher Adrian!"
Dua pengawal berjas hitam yang tersisa melangkah mendekati Adrian, membawa jarum suntik raksasa berukuran khusus.
"Jangan sentuh dia!" teriak Baskara tiba-tiba, mendobrak kisi-kisi saluran udara di langit-langit dan melompat turun bersama Maya!
BRAK!
Baskara mendarat tepat di antara pengawal dan Adrian, menyapu kaki pengawal pertama hingga tersungkur, sementara Maya melepaskan tembakan presisi dari pistolnya ke arah pengawal kedua.
DOR!
Pengawal kedua roboh seketika dengan luka tembak di dada.
"Baskara?! Maya?!" teriak Adrian terkejut seraya langsung berdiri kembali dan menyambar pistolnya dari lantai.
"Kalian penyusup sialan!" jerit Sophia histeris. Tanpa ragu, jemari keriputnya bersiap menekan penuh tombol destruktif pada pemantik di tangannya. "Matilah kalian semua bersama bayi ini!"
"Tidak akan!" jerit Dokter Kenzie yang tiba-tiba menerjang keluar dari balik panel kontrol utama!
Dokter Kenzie melempar sebuah tabung pemadam api kecil tepat ke arah wajah Sophia.
BUK!
Tabung besi itu menghantam pelipis Sophia dengan keras. Wanita tua itu terhuyung di atas kursi rodanya, dan pemantik sinyal di tangannya terlepas, melayang jatuh di udara!
"Pemantiknya!" berteriak Maya.
Adrian melompat dengan refleks kilat, meluncur di atas lantai dan menyambar pemantik frekuensi itu tepat satu senti sebelum alat tersebut menghantam lantai beton!
Ctek!
Adrian berhasil menahan sakelar pengaman pemantik tersebut dengan ibu jarinya, mencegah sinyal peledak teruji secara otomatis.
"Dapat!" seru Adrian terengah-engah dengan peluh membasahi dahinya.
Sophia, dengan darah segar mengalir dari pelipisnya, menatap Adrian dengan pandangan gila penuh dendam. "Kau pikir kau menang, Adrian?! Tanpa pemancar utama di tanganku, mikrochip itu akan memasuki mode otomatis dalam hitungan tiga puluh detik jika tidak dideaktivasi lewat terminal pusat!"
"Dokter Kenzie! Bisakah kau menonaktifkan mikrochip itu dari konsol?!" teriak Baskara panik seraya memapah Anindya yang kembali mengerang kesakitan.
"Bisa! Tapi saya butuh kode deskripsi utama yang hanya ada di dalam drive data Proyek Genesis!" jawab Dokter Kenzie seraya berlari menuju konsol medis utama.
"Data Proyek Genesis?!" Maya tersentak, lalu menatap Baskara. "Baskara! Drive yang dilemparkan Rendra tadi!"
"Ada padaku!" Baskara dengan cepat merogoh saku taktisnya, mencabut drive portabel kecil itu dan melemparkannya ke arah Dokter Kenzie. "Kenzie! Tangkap!"
Dokter Kenzie mencakup drive tersebut di udara dan langsung mencolokkannya ke port utama konsol medis. Jemarinya menari liar di atas tombol. "Proses pemindaian kode dimulai! Dua puluh detik tersisa!"
"AAGHHH!" Anindya mendadak meraung kesakitan yang jauh lebih hebat. Perutnya menegang kencang, dan cairan ketuban mulai membasahi meja operasi tempatnya berbaring. "Adrian... bayinya... bayinya mau keluar sekarang!"
"Anindya!" Adrian berlari menghampiri istrinya, menggenggam erat tangannya seraya menahan pemantik frekuensi dengan tangan satunya. "Tahan, Sayang! Bertahanlah sebentar lagi!"
"Sisa waktu dekripsi lima belas detik!" seru Dokter Kenzie dengan peluh bercucuran di wajahnya. "Sistemnya terlindungi oleh algoritma enkripsi ganda milik Sophia!"
Sophia yang terbaring lemah di kursi rodanya mendadak tertawa parau. "Kalian tidak akan pernah bisa menembus enkripsi buatan intelektualku dalam lima belas detik! Anak itu akan hancur dari dalam!"
"Tutup mulutmu, Wanita Tua!" bentak Maya seraya mengarahkan pistolnya ke dada Sophia. "Sebutkan kata kuncinya atau kubolongi kepalamu sekarang juga!"
"Tembak saja aku, Maya!" cibir Sophia gila. "Kematianku hanya akan mempercepat keabadian Proyek Genesis!"
"Sepuluh detik tersisa!" teriak Dokter Kenzie makin histeris. "Enkripsi kedua meminta kata kunci DNA! Saya butuh sampel urutan basa genetik asli dari pendiri Vane!"
Baskara membelalakkan matanya. "Urutan basa genetik asli?! Itu adalah struktur DNA milikku dan Sophia!"
"Baskara! Gunakan darahmu pada pemindai konsol!" teriak Adrian.
Tanpa ragu sedikit pun, Baskara menggoreskan telapak tangannya dengan pisau taktis Maya, lalu menempelkan telapak tangannya yang bersimbah darah segar tepat ke atas layar pemindai biologis konsol medis!
Bzzzt! Pemindaian DNA Diterima.
"Enkripsi berhasil dibobol! Memulai deaktivasi mikrochip janin dalam tiga... dua... satu..." suara otomatis konsol medis berkumandang nyaring.
BZZZZT! Klik.
Lampu indikator merah pada pemantik di tangan Adrian seketika mati total, berganti menjadi warna putih netral..
"Mikrochip-nya berhasil dinonaktifkan!" jerit Dokter Kenzie penuh kegembiraan. "Anak itu aman!"
Anindya menghembuskan napas lega yang sangat panjang, namun kontraksi rahimnya mencapai puncak paling intensif seketika itu juga. "ADRIAN! SEKARANG! AKU TIDAK BISA MENAHANNYA LAGI!"
"Dokter Kenzie! Baskara! Bantu proses persalinannya sekarang!" perintah Adrian tegas seraya terus memegang erat jemari Anindya.
"Maya, jaga pintu darurat!" seru Baskara seraya menyiapkan peralatan medis steril di samping meja operasi. "Kenzie, pegang bagian penyangga!"
Di tengah kepungan kegelapan bawah tanah dan debu ledakan yang belum mereda, jeritan perjuangan Anindya memenuhi seluruh penjuru ruangan operasi.
"Dorong, Anindya! Dorong terus!" seru Baskara memberi komando.
"AAAGHHHH!".
OEEEK! OEEEK! OEEEK!
Tangisan bayi yang sangat nyaring dan melengking akhirnya pecah, membelah keheningan mencekam laboratorium bawah tanah itu. Tangisan kehidupan baru yang bersih dan suci dari segala kegilaan Proyek Genesis.
"Bayinya... bayinya sudah lahir!" tangis Dokter Kenzie pecah seraya mengangkat bayi yang baru lahir itu dengan kain steril. "Seorang bayi laki-laki yang sangat sehat!"
Air mata Adrian menetes deras membasahi pipinya saat melihat buah hatinya. Ia mencium dahi Anindya yang terbaring lemas dengan senyuman paling bahagia di wajahnya. "Kita berhasil, Anindya... Anak kita lahir dengan selamat..."
"Anak... anak kita..." bisik Anindya haru sebelum kesadarannya perlahan menghilang akibat kelelahan luar biasa.
"Dia hanya pingsan karena kelelahan, Adrian," ujar Baskara seraya memotong tali pusat bayi itu dengan cermat. "Dia butuh istirahat."
Namun, di saat mereka semua terhanyut dalam keharuan haru tersebut, sebuah gelombang kejut dahsyat kembali menghantam seluruh struktur bawah tanah gedung hospital!
BOOOMMMM!
Lantai ruangan tempat mereka berdiri retak hebat, dan dinding sisi kiri laboratorium mendadak hancur tertimpa pilar beton raksasa yang roboh dari lantai atas.
"Protokol runtuhan sekunder!" jerit Maya seraya tertatih-tatih menahan tubuhnya agar tidak jatuh. "Gedung ini benar-benar akan ambles sekarang!"
"Kita harus keluar lewat lorong evakuasi darurat!" seru Baskara seraya membungkus sang bayi dengan selimut hangat dan menyerahkannya ke pelukan Adrian. "Bawa Anindya, Adrian!"
Adrian dengan cepat menggendong Anindya yang tak sadarkan diri di lengan kirinya, sementara lengan kanannya mendekap erat bayi mereka yang masih menangis.
"Bagaimana dengan Sophia?!" tanya Kenzie seraya melirik ke arah kursi roda wanita tua itu.
Namun saat mereka menoleh ke sudut ruangan, kursi roda Sophia sudah kosong melompong. Hanya tersisa tetesan darah di lantai yang mengarah ke sebuah celah rahasia di balik dinding yang retak.
"Dia kabur!" bentak Maya.
"Abaikan wanita tua itu!" tegas Baskara. "Keselamatan bayi dan Anindya adalah yang utama!"
Ketiganya berlari kencang menembus reruntuhan pilar dan kepulan asap tebal menuju lorong keluar darurat. Namun tepat ketika mereka sampai di ambang pintu besi menuju permukaan tanah, sebuah ledakan bom raksasa terjadi tepat di atas kepala mereka!
DUAARRR!
Atap beton lorong keluar runtuh secara masif, melempar tubuh Adrian, Baskara, Maya, dan Kenzie ke arah yang berlawanan.
Asap peka abu-abu membubung tinggi menutupi seluruh pandangan. Dalam remang-remang kesadaran yang mulai memudar di tengah debu runtuhan, Adrian mencoba merayap, jemarinya yang berdarah menggapai pelukan Anindya dan bayinya.
Namun dari balik asap tebal di hadapannya, sepasang sepatu bot militer berwarna hitam melangkah perlahan mendekat. Sosok pria tinggi besar berjas taktis berdiri di atas tubuh Adrian yang tak berdaya, mengarahkan moncong senapan laras panjang tepat ke kepala bayi di dada Adrian.
"Selamat atas kelahiran anakmu, Adrian Vane..." ucap pria itu dengan suara asing yang dingin, "...namun perjalanan darah murni ini harus berakhir di tanganku."