Indonesia
NovelToon NovelToon
THE LAZY GENIUS

THE LAZY GENIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ardyan1

Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Reinkarnasi Menjadi Usia 15 Tahun

Gelap.

Itulah hal pertama yang Yamada rasakan.

Bukan gelap seperti saat dia memejamkan mata di kelas karena malas. Bukan gelap seperti kamar yang lampunya dimatikan untuk tidur siang. Ini adalah gelap yang total. Gelap yang tidak memiliki kedalaman.

Tidak ada suara. Bahkan suara denging di telinga yang biasanya muncul saat ruangan terlalu sunyi pun tidak ada.

Tidak ada cahaya. Bahkan cahaya samar di balik kelopak mata pun tidak ada.

Tidak ada rasa sakit. Rasa dingin yang menusuk saat truk itu menabraknya sudah hilang sepenuhnya.

Namun kali ini berbeda. Sangat berbeda dari kegelapan pertama setelah kecelakaan.

Saat dia mati pertama kali, kegelapan itu terasa seperti kekosongan. Seperti dia adalah pikiran yang mengambang tanpa wadah.

Tapi sekarang...

Dia bisa merasakan sesuatu. Sebuah beban. Sebuah batas.

Tubuh.

...Aku punya tubuh?

Pikiran itu muncul dengan sangat pelan, seperti gelembung udara yang naik dari dasar kolam yang dalam.

Dia mencoba merasakannya. Dia memusatkan kesadarannya, yang masih terasa kabur, ke ujung-ujung eksistensinya.

Jari-jarinya bergerak.

Perlahan. Sangat perlahan. Seperti seseorang yang mencoba menggerakkan jari setelah tangannya tertidur terlalu lama dan kesemutan.

Ada sensasi gesekan. Ujung jarinya menyentuh sesuatu yang lembut. Kain. Selimut.

Itu bukan imajinasi. Itu nyata.

Yamada membuka matanya.

Cahaya menyilaukan langsung memenuhi pandangannya, menusuk retina yang belum siap. Cahaya putih kekuningan yang tajam.

"Ugh..."

Suaranya terdengar asing. Suaranya sendiri membuat tenggorokannya bergetar.

Bukan karena suara itu benar-benar berbeda, dengan nada yang jauh lebih tinggi atau lebih rendah. Tidak.

Tetapi karena sudah terlalu lama dia tidak mendengar suaranya sendiri. Di dalam kekosongan setelah kematian, tidak ada suara. Hanya pikiran. Mendengar suaranya sendiri sekarang terasa seperti mendengar rekaman lama yang sudah berdebu.

Yamada berkedip beberapa kali. Kelopak matanya terasa berat. Air mata refleks keluar karena silau, membuat pandangannya semakin buram sebelum akhirnya perlahan-lahan fokus.

Langit-langit kayu terlihat di atas kepalanya.

Bukan langit-langit gypsum putih seperti di kamarnya di kehidupan sebelumnya. Ini adalah papan-papan kayu berwarna coklat muda, dengan serat kayu yang terlihat jelas. Ada sambungan di antara papan-papan itu. Ada lampu gantung sederhana yang terbuat dari anyaman bambu, menggantung dengan kabel yang agak usang.

Sebuah ruangan.

Tempat tidur. Tempat tidur yang sedang dia tiduri sekarang. Kasurnya tidak terlalu empuk, tapi tidak keras juga. Spreinya berwarna biru pudar, dengan aroma deterjen dan sedikit aroma kayu.

Meja kecil. Di atasnya ada sebuah lampu minyak kecil, beberapa buku yang tertumpuk tidak rapi, dan sebuah gelas air yang sudah kosong.

Lemari. Lemari kayu tua dengan cat yang sedikit terkelupas di sudutnya.

Dan cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Jendela kayu yang terbuka sedikit, membuat tirai tipis berwarna putih berkibar pelan tertiup angin. Debu-debu beterbangan di dalam cahaya itu, sama seperti di kelasnya dulu.

Yamada terdiam. Otaknya menolak untuk memproses informasi ini dengan cepat.

Di mana ini?

Ini jelas bukan rumah sakit. Tidak ada bau antiseptik. Tidak ada suara mesin monitor jantung. Tidak ada selang infus.

Ini juga bukan rumahnya. Rumahnya tidak pernah memiliki langit-langit kayu seperti ini.

Dia mencoba bangun. Dia menekan kedua tangannya ke kasur dan mengangkat tubuhnya.

Tubuhnya terasa ringan.

Terlalu ringan.

Di kehidupan sebelumnya, tubuh Yamada terasa... berat. Berat karena malas. Berat karena semua ototnya seolah-olah berkata, "untuk apa bergerak?". Setiap kali bangun tidur, dia harus berjuang melawan gravitasi yang terasa dua kali lipat lebih kuat.

Tapi tubuh ini... tubuh ini terasa seperti bulu. Ringan, lincah, penuh dengan energi yang belum terpakai. Sendi-sendinya tidak berbunyi. Punggungnya tidak pegal.

Yamada duduk di tepi tempat tidur dan melihat kedua tangannya. Dia mengangkatnya ke depan wajahnya, ke dalam cahaya matahari.

Tangannya terlihat jauh lebih muda.

Jari-jarinya lebih ramping, lebih pendek. Kukunya bersih dan terpotong rapi. Tidak ada kapalan di ujung jari karena terlalu sering bermain ponsel. Kulitnya lebih cerah, lebih halus. Pembuluh darahnya tidak terlalu menonjol.

Tidak ada luka.

Tidak ada darah.

Tidak ada bekas kecelakaan. Tidak ada memar, tidak ada perban, tidak ada jahitan.

Dia meraba wajahnya dengan kedua tangan itu. Pipinya masih memiliki sedikit lemak bayi, tidak setirus wajahnya yang dulu. Rahangnya belum terlalu tegas.

Kemudian rambutnya. Rambutnya terasa lebih tebal, sedikit berantakan karena baru bangun tidur, tapi lembut.

...Apa-apaan ini?

Jantungnya mulai berdegup sedikit lebih cepat. Bukan karena panik, tapi karena kebingungan yang logis.

Dia turun dari tempat tidur.

Kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin. Sensasi dingin itu menjalar dari telapak kakinya hingga ke tulang keringnya. Nyata. Sangat nyata.

Kakinya hampir kehilangan keseimbangan. Proporsi tubuh ini berbeda. Titik beratnya berbeda. Kakinya lebih pendek. Dia seperti seseorang yang tiba-tiba memakai sepatu orang lain.

"Tunggu."

Yamada memegang meja kecil di samping tempat tidur untuk menstabilkan tubuhnya. Kayu meja itu terasa kasar di bawah telapak tangannya yang baru.

Tubuhnya terasa aneh.

Bukan tubuh yang dia kenal selama 17 tahun. Otot-ototnya terasa belum terbiasa dengan kesadarannya. Seolah-olah dia adalah seorang pengemudi veteran yang tiba-tiba disuruh menyetir mobil yang sama sekali berbeda.

Dia berjalan menuju sebuah cermin yang berada di sudut ruangan. Cermin itu tidak besar, hanya cermin persegi panjang yang digantung di dinding, dengan bingkai kayu yang sederhana. Di bawahnya ada wastafel kecil.

Langkah demi langkah. Setiap langkah terasa canggung. Kakinya terasa terlalu ringan sehingga dia hampir melayang, tapi juga terasa asing.

Kemudian dia berdiri di depan cermin.

Dan membeku.

Seorang anak laki-laki menatapnya dari dalam cermin.

Rambut hitam sedikit berantakan, dengan poni yang agak panjang dan jatuh ke dahi. Wajah yang masih muda, mungkin sekitar 14 atau 15 tahun. Mata yang berwarna hitam, dengan tatapan yang masih polos, belum tercemar oleh rasa malas kronis selama bertahun-tahun. Pipinya sedikit memerah karena cahaya matahari. Tubuh yang jelas belum sepenuhnya dewasa, lebih kurus dan lebih pendek dari tubuhnya yang dulu. Dia mengenakan piyama sederhana berwarna putih gading yang kebesaran.

Yamada menyentuh pipinya. Jarinya menekan kulit pipi yang lembut itu.

Bayangan di cermin melakukan hal yang sama. Dengan sinkronisasi yang sempurna, tanpa jeda.

Dia menarik rambutnya, sedikit keras.

Bayangan itu ikut menarik rambutnya, dengan ekspresi meringis yang sama persis.

"Ini..."

Suaranya tercekat di tenggorokan. Tenggorokan barunya yang lebih kecil.

Yamada menatap dirinya sendiri. Menatap mata anak laki-laki di dalam cermin itu. Dia mencari sisa-sisa dirinya yang lama di sana, dan dia menemukannya. Di balik mata muda itu, ada kelelahan yang sama. Tatapan malas yang sama.

"Mustahil."

Kata itu keluar sebagai bisikan.

Dia mencoba mengingat kejadian terakhir. Otaknya memutar ulang rekaman yang tidak ingin dia putar ulang.

Kecelakaan.

Kendaraan.

Benturan.

Rasa dingin.

Kegelapan.

Suara aneh yang berbicara langsung di dalam pikirannya.

[Beginning reincarnation process.]

Sebuah kalimat yang tidak mungkin dia lupakan. Kalimat yang terukir di dalam jiwanya, bukan di dalam otaknya.

Yamada perlahan menyadari sesuatu. Sebuah kesadaran yang begitu absurd sehingga otaknya yang malas pun menolak untuk memprosesnya dengan cepat, karena memproses hal absurd membutuhkan energi yang besar.

"...Aku bereinkarnasi?"

Dia mengucapkan kata itu dengan suara pelan, seolah-olah takut didengar oleh seseorang. Kata yang selama ini hanya dia lihat di dalam novel-novel ringan yang dibaca teman-temannya di kelas. Kata yang selalu dia anggap sebagai pelarian konyol bagi orang-orang yang tidak puas dengan hidupnya.

Padahal hidupnya sendiri sudah cukup puas. Terlalu puas, bahkan.

Dia terdiam beberapa saat. Berdiri di depan cermin, menatap pantulan anak laki-laki asing yang kini adalah dirinya.

Kemudian menghela napas. Napas panjang yang khas Yamada. Napas yang mengandung 90% kelelahan dan 10% kepasrahan.

"Serius?"

Tidak ada rasa takut. Rasa takut sudah habis terpakai saat truk itu datang ke arahnya.

Tidak ada kegembiraan berlebihan seperti tokoh-tokoh utama di cerita reinkarnasi yang berteriak "YEAY AKU DAPAT KEHIDUPAN KEDUA! AKU AKAN JADI OVERPOWER!". Yamada tidak pernah bercita-cita menjadi overpower. Menjadi overpower itu melelahkan. Harus menyelamatkan dunia, harus mengalahkan raja iblis, harus berurusan dengan politik kerajaan.

Hanya satu hal yang muncul dalam pikirannya. Satu hal yang sangat, sangat Yamada.

Repot.

Kata itu bergema di dalam kepalanya.

Yamada kembali duduk di tempat tidur. Kasur itu berderit pelan saat dia menjatuhkan tubuh ringannya. Dia menatap langit-langit kayu lagi.

Kalau ini benar-benar kehidupan kedua, berarti dia harus memulai semuanya dari awal.

Belajar. Dari awal. Alfabet, berhitung, sejarah dunia baru yang mungkin sama sekali berbeda.

Bekerja. Mencari uang lagi.

Membangun kehidupan. Mencari tempat tinggal, beradaptasi dengan budaya baru, mungkin belajar bahasa baru.

Mengenal orang-orang baru. Menghafal nama, wajah, hubungan. Hal yang paling dia benci.

Dan berbagai hal lainnya yang bahkan belum terpikirkan olehnya. Pajak. Identitas. Sekolah baru.

Yamada memijat pelipisnya dengan jari-jari barunya yang ramping. Sebuah kebiasaan lama yang terbawa ke tubuh baru.

"Padahal aku baru saja mati."

Dia menatap langit-langit, dengan tatapan kosong.

"Aku bahkan belum sempat menikmati tidur setelah mati. Harusnya ada masa istirahat dulu. Masa transisi. Seperti cuti setelah resign dari kehidupan. Kenapa langsung disuruh kerja lagi jadi manusia?"

Dia menggerutu pelan. Keluhannya begitu tulus.

Dia baru saja ingin menikmati kegelapan yang tenang itu sedikit lebih lama. Kegelapan tanpa tugas, tanpa sekolah, tanpa harus membeli roti krim. Tapi semesta sepertinya tidak mengizinkan Yamada untuk beristirahat bahkan setelah mati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!