Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.

bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. DSKKR

**

(Sore harinya di Studio Fandi Photography)

Fandi sedang duduk bersandar di kursi kerjanya seraya menyesap rokok, sementara Siska sibuk mematut diri di depan kaca dressing studio sambil mengoleskan lipstik merah menyala.

"Mas, beneran kamu udah kirim berkas aku ke VANE Agency?" tanya Siska dengan nada manja yang dibuat-buat, memutar tubuhnya memamerkan gaun ketatnya. "Kata temen-temenku, VANE itu susah banget ditembus. Cuma model papan atas yang bisa masuk sana."

Fandi terkekeh sombong, mengembuskan asap rokoknya ke udara. "Kamu tenang aja, Sayang. Siapa sih di industri ini yang gak kenal Fandi? Relasiku di VANE itu banyak. Sekali aku kasih rekomendasi, nama kamu langsung dipertimbangkan."

"Duh, Mas Fandi emang paling hebat deh!" Siska menghampiri Fandi, bergelayut manja di bahunya. "Gak kayak mantan istrimu yang cuma bisa ngerusak di rumah."

"Itu jelas.." Jawab Fandi sombong.

Mendengar nama Maya disebut, raut wajah Fandi sempat menegang sejenak. Bayangan saat Maya menyodorkan berkas kontrak VANE dan bukti transfer ratusan juta minggu lalu di depan rumah ibunya kembali membakar emosinya. Tapi Fandi cepat-cepat menepis rasa cemas itu. Paling Maya cuma halusinasi atau dapat kerjaan jadi staf katering di VANE. pikirnya berusaha menenangkan diri.

Tiba-tiba, suara denting email masuk berbunyi nyaring dari laptop di meja Fandi.

Fandi mengklik notifikasi itu. Matanya membelalak lebar begitu membaca kop surat elektronik di layarnya: VANE AGENCY - UNDANGAN AUDISI RESMI SIKSA AMELIA

"Mas! Apaan tuh?!" Siska yang ikut mengintip langsung menjerit girang. "Aku dipanggil audisi?! Mas, beneran dipanggil!"

Fandi terperanjat, lalu tawa bangga langsung meledak dari mulutnya. "Tuh kan! Apa ku bilang! Suratnya langsung dari manajemen pusat VANE! Kamu dapat jadwal besok jam sepuluh pagi!"

"Aaaa! Makasih banyak, Mas Fandi!" Siska memeluk leher Fandi erat-erat, melompat-lompat kegirangan. "Aku bakal buktikan kalau aku bisa jadi bintang utama VANE! Aku bakal bikin semua orang tahu kalau pilihan Mas Fandi berpaling dari Mbak Maya itu gak salah!"

Fandi tersenyum puas, membalas pelukan Siska seraya mengusap punggungnya. "Besok aku antar kamu ke VANE Tower, Sayang. Aku mau lihat sendiri gimana orang-orang VANE nyambut calon bintang baru kita."

Fandi mengepalkan tangannya di balik punggung Siska. Dia merasa menang. Di kepalanya, dia sudah membayangkan betapa bangganya dia bisa melangkah gagah di gedung VANE Tower, mengantar Siska menjadi model terkenal, sekaligus membuktikan pada Maya bahwa wanita dasteran itu sama sekali tak ada artinya dibanding Siska.

Mereka berdua tidak pernah tahu, bahwa panggilan audisi itu bukanlah panggung kemenangan... melainkan pintu masuk menuju perangkap yang sudah disiapkan sang Ratu.

**

(Kembali ke VANE AGENCY)

"Sudah may! Selamat eksekusi besok." Ucap Arch setelah melihat pesan dari sekretaris nya.

"Terimakasih mas Arch." Jawabku.

"Sama-sama. aku sangat suka di panggil kamu mas."

Selepas diskusi tersebut, aku pun seperti biasa memanjakan diri dengan pergi ke klinik kecantikan untuk langkah awal lagi merawat wajah ku.

***

Keesokan harinya, pukul sembilan empat puluh lima pagi.

Lobi VANE Tower yang megah sudah mulai ramai oleh para staf dan tamu. Di antara lalu lalang orang-orang bersetelan rapi, Fandi melangkah masuk dengan gaya yang dibuat-buat gagah. Kemeja hitam dengan lengan digulung hingga sikut, kaca mata hitam menempel di kerah, dan langkah kaki yang sengaja dibikin berat agar terkesan berpengaruh.

Di sampingnya, Siska berjalan anggun menggunakan mini dress merah cabe menyala dengan high heels sepuluh sentimeter. Gaunnya cukup mencolok untuk ukuran sebuah audisi pagi hari, tapi gadis itu tampak sangat percaya diri.

"Mas, rame banget ya," bisik Siska seraya membetulkan posisi tas mewahnya. "Tapi tenang aja, aku pasti yang paling menonjol di sini."

"Harus dong," sahut Fandi sombong seraya menepuk pelan tangan Siska. "Ingat, kamu ke sini bukan cuma bawa nama sendiri, tapi bawa rekomendasi dari studio aku. Relasi Mas di lantai atas itu bukan orang sembarangan."

Fandi menghampiri meja resepsionis dengan senyum mengembang. "Selamat pagi. Saya Fandi, membawa Siska Amelia untuk undangan audisi project Summer Royalty."

Resepsionis wanita berpenampilan rapi itu menatap berkas di layarnya sejenak, lalu tersenyum sopan. "Baik, Pak Fandi. Silakan menuju lantai 18, Ruang Audisi Utama. Tim kurator sudah menunggu di dalam."

"Terima kasih," Fandi melirik Siska dengan kerlingan mata penuh kemenangan. "Yuk, Sayang. Kita naik."

Di dalam lift, Fandi terus memoles ego Siska. Dia benar-benar merasa berada di puncaknya. Semua bayangan tentang Maya mantan istrinya yang dianggap kusam dan membebani sudah sepenuhnya hilang dari ingatannya. Di matanya saat ini, hanya ada panggung masa depan cerah bersama Siska.

Pintu lift berdenting di lantai 18.

Suasana di depan ruang audisi cukup tegang. Ada beberapa model lain yang sedang menunggu giliran. Namun, Fandi tanpa ragu menuntun Siska melewati barisan itu begitu namanya dipanggil oleh asisten kurator.

"Atas nama Siska Amelia, silakan masuk."

Siska merapikan gaun kurang bahan nya itu, menghembuskan napas panjang, lalu melangkah masuk. Fandi ikut mengekor di belakangnya, berniat mendampingi calon bintangnya sekaligus menyapa direksi VANE yang dipikirnya adalah kenalan lamanya.

Ruang audisi itu sangat luas dengan pencahayaan spotlight yang terang pas di tengah panggung. Di seberang panggung, terdapat meja juri yang diisi oleh tiga orang. Karin duduk di sebelah kiri, seorang kurator senior di kanan, dan di posisi tengah... seorang wanita duduk membelakangi pintu masuk, sibuk meneliti berkas di tangannya.

"Selamat pagi," ucap Siska berpose di tengah panggung dengan suara yang dibuat se manja mungkin.

Fandi melangkah dua tindak di belakang Siska, bersedekah tangan dengan raut tegap. "Selamat pagi tim kurator VANE. Saya Fandi, penanggung jawab dari studio Siska"

"Tolong berdiri di garis hitam yang sudah disediakan," potong wanita di meja tengah. Suaranya tidak keras, tapi bernada dingin, lugas, dan sangat berwibawa.

Fandi menghentikan ucapannya. Alisnya berkerut. Suara itu... terasa sangat familiar di telinganya. Tapi Fandi cepat-cepat menepis kepalanya. "Gak mungkin," pikirnya.

Wanita di meja tengah itu perlahan meletakkan pulpennya, lalu mendongak dan memutarkan kursinya menghadap ke panggung.

Sinar lampu pas spotlight yang memantul di kaca meja seolah mempertegas penampilan sosok wanita itu. Dia mengenakan blazer oversized berwarna sage green dengan tatanan rambut *bob layer yang sangat elegan. Wajahnya bersih, dipoles makeup nude bernuansa mahal, dan tatapan matanya tajam menembus panggung.

Siska tertegun. Matanya membelalak lebar.

Sedangkan Fandi... rasanya seluruh darah di tubuhnya mendadak berhenti mengalir. Napasnya tertahan di tenggorokan. Kacamata hitam yang bertengger di kerah kemejanya hampir saja merosot jatuh.

"Maa..Maya?!" pekik Fandi, suaranya tercekat hebat hingga sumbang.

Maya wanita yang tiga minggu lalu diusirnya dari rumah dengan daster lusuh. kini duduk tegak di kursi tertinggi meja juri VANE Agency.

Maya menyunggingkan senyum tipis, begitu dingin hingga sanggup membuat suhu di ruangan itu merosot drastis.

"Selamat datang di VANE Agency, Mas Fandi, Siska," panggil Maya renyah seraya mengetukkan pulpennya di atas meja. "Silakan mulai presentasinya. Waktu kalian cuma lima menit."

Bersambung..

1
Heny
Sdh pergi baru nyesal
Heny
Sudah sukses lupa daratan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!