Indonesia
NovelToon NovelToon
Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

 "Miranti tolong!" Gerald berteriak ketika melihat Miranti di kejauhan.

Miranti tergopoh-gopoh datang. "Ada apa? Kenapa Nismara?"

"Aku akan bawa ke ruangannya, tolong carikan minyak angin atau apa saja yang bisa membuat Nismara sadar!"

"Okey!" Miranti menyahut dengan kalut.

Dia melambai pada staff terdekat dan mengulang permintaan Gerald. "Cari minyak angin dan segera bawa ke ruangan Bu Nismara ya!"

Miranti menyusul Gerald dengan berlari kecil. Kini pikiran Miranti ikut kalut. Nismara yang dikenalnya adalah perempuan yang tegar, jadi jika sekarang dia pingsan setelah mendengar sesuatu, sudah bisa dipastikan itu adalah kabar yang sangat buruk.

Sampai di ruangan Nismara, Miranti melihat Nismara sudah di baringkan di sofa. Gerald di sampingnya sedang berusaha membetulkan rok Nismara di bagian kakinya.

"Ge, ada apa?" Suara Miranti memburu.

Gerald menoleh dan bangkit. "Tolong jaga Nismara sebentar, aku masih perlu bicara dengan para polisi."

"Permisi." Seorang staf masuk dengan gerakan kikuk dan langsung mendekati Miranti. "Bu ini minyak kayu putih, adanya cuma ini, Bu "

"Iya, nggak apa-apa. Terima kasih." Miranti menerima botol berwarna hijau.

"Sama-sama, Bu."

"Eh apakah ada selimut? Atau apa saja yang bisa menutup ee..... maksudnya untuk menyelimuti Bu Nismara." Miranti berkata lagi. Dia melihat kaki mulus Nismara terekspos hingga atas lutut. Rasanya kurang nyaman saja, apalagi Gerald sudah bukan suami Nismara lagi. Di tambah dua orang polisi itu. Meski sekarang mereka Tengah berada di sudut yang lain tapi tidak menutup kemungkinan mereka akan kembali ke sofa ini.

"Baik, Bu."

Staf itu pun pergi.

Miranti segera membuka tutup botol minyak kayu putih itu, menumpahkan sedikit isinya ke jari jemarinya, digosok-gosok sebentar lalu didekatkan ke hidung Nismara.

"Nis, kamu kenapa? Bukalah matamu, ini aku sahabatmu." Miranti bicara pada tubuh Nismara yang tidak berdaya.

"Nismara sudah siuman, Mir?" Gerald tiba-tiba berada di belakang Miranti.

"Belum. Sebenarnya ada apa sampai Nismara bisa pingsan begini?" Miranti menatap Gerald. Pandangan Miranti juga menyapu ke pojok ruangan, ternyata dua polisi tadi sudah pergi.

"Permisi, Bu Miranti, ini adanya sarung dari mushola." Orang yang tadi diperintah Miranti telah kembali dengan selembar sarung di tangannya, membuat Gerald mengurungkan niatnya untuk membuka mulut.

Miranti hanya mengangguk dan staf itu langsung pergi. Tanpa menunggu lama Miranti segera memakai sarung itu untuk menyelimuti bagian bawah tubuh Nismara.

Ketika Miranti berbalik ke arah Gerald, dia melihat Benjamin diambang pintu, lurus di belakang Gerald. Laki-laki itu adalah pengacara perusahaan yang tadi dia telepon atas perintah Nismara.

"Ada apa, Mir?" Benjamin yang biasa disapa Om Ben, bertanya. Matanya menunjukkan keheranan saat melihat Gerald ada di ruang kerja Nismara, terlebih dengan mata sembab di wajah Gerald.

"Ya Tuhan, Nismara kenapa?" Ben berseru, dia baru melihat Nismara yang terbaring di sofa.

"Miranti, Om Ben, kami lagi mendapat musibah." Gerald berkata lirih, tentara sekali dia menahan sesuatu di dadanya. "Sherin - Sherin bu- bunuh diri......."

"Astaga!!!!"

Teriakan itu dilontarkan bersamaan dari mulut Miranti dan Benjamin.

"Tadi pagi jam 08.00 WIB dia melompat dari balkon hotel Mahkota." terang Gerald. "Aku sudah melihat mayatnya, keadaannya sangat menyedihkan,......"

Gerald menangis lagi. Ben menepuk-nepuk pundak Gerald, tapi wajah Ben tak lupa dari mendung.

"Ke- kepalanya pecah...."

Miranti berteriak histeris mendengar ucapan Gerald barusan, terlalu spontan menutup mulutnya sendiri. "Ya Tuhan Sherin -ku."

"Ba- badan nya tidak ada yang utuh.,...."

Benjamin memeluk sekilas tubuh Gerald, kemudian menepuk-nepuk pundak Gerald lagi.

"A- apa yang harus kukatakan pada Nismara?" Gerald mengusap wajahnya dengan kasar.

"Jadi Nismara belum tahu?" Miranti menatap Gerald.

"Dia hanya tahu kalau Sherin telah bunuh diri, kemudian dia pingsan." Jawab ayah kandung Sherin itu.

"Sheriiiiiiiin....."

Terdengar suara lirih dari mulut Nismara. Rupanya perempuan cantik itu mulai sadar.

Miranti dan Gerald buru-buru mendekat.

Begitu Nismara melihat Miranti, dia langsung menangis. "Sherin, Mir, Sheriiiiiiiin......"

Miranti ikut menangis, dia hanya mampu memegang tangan Nismara.

Gerald bergerak untuk lebih mendekat, laki-laki itu memegang pundak Miranti, dan Miranti pun mengerti. Dia pun menyingkir dua langkah ke kanan memberi tempatnya kepada Gerald.

Gerald kini duduk di tepian sofa, membantu Nismara duduk dari posisi tidurnya. Setelah itu Nismara menghambur ke dalam pelukan Gerald. Perempuan itu menangis sejadi-jadinya sambil terus menyebut nama Putri semata wayangnya. Siapa sangka gadis muda itu telah mati dengan tragis.

Karena kematian Sherin masuk dalam kategori kematian tidak wajar, maka mayat gadis itu baru bisa dikuburkan dua hari kemudian. Setelah urusan panjang dengan pihak kepolisian beres dan mereka menyatakan bahwa kematian gadis 17 tahun itu adalah benar-benar murni bunuh diri.

Entah kebetulan atau tidak, tapi itu sepertinya menjadi waktu yang sangat pas, sebab Nismara sudah tampak lebih tegar daripada kemarin yang masih pingsan-pingsan terus setiap mengingat putrinya bunuh diri.

Sherin dimakamkan di sebuah pemakaman eksklusif yang tidak sembarang orang bisa masuk. Untuk itu Nismara dan Gerald telah menentukan hanya keluarga dan kerabat dekat saja yang boleh mengikuti upacara penurunan peti ke liang lahat.

Nismara tak dapat menahan air matanya saat peti yang berisi tubuh Putri kandungnya itu perlahan-lahan ditutupi tanah. Sosok Nismara sedikit limbung, tapi di samping Nismara ada Samudra, kekasihnya yang sedari tadi sigap menopang dan selalu memberi kekuatan.

Akhirnya pemakaman selesai sudah. Beberapa orang tampak berpamitan kepada Nismara dan Gerald, termasuk Miranti dan Benjamin yang datang bersamaan.

"Kami duluan ya Nis, ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan."Miranti memeluk Nismara.

"Thank you." Jawab Nismara berbisik. Dia sebagai atasan Miranti tahu persis bahwa memang ada beberapa rencana besar yang sedang mereka garap. Dan Nismara bersyukur dia punya Miranti, sahabat sekaligus asisten yang telah teruji ketangguhan dan loyalitasnya.

"Aku besok akan mulai ngantor." Kata Nismara lagi.

"Oh, Nis, ambillah waktu untuk dirimu dulu. Urusan kantor ada aku dan tim, kami tahu ini begitu berat." Miranti menyahut.

"Setidaknya Di kantor ada kamu untuk teman bicara, Mir. Kalau di rumah terus aku malah jadi keingat Sherin."

Miranti merespon dengan mengusap-usap punggung Nismara.

"Thank you, Om Ben." Pandangan Nismara beralih pada pengacara kepercayaannya, begitu dia melepas pelukan Miranti.

Benjamin bergerak, dia juga memberikan pelukan sekilas kepada Nismara. Laki-laki itu tidak berkata apa-apa, tapi dari sorot matanya dia benar-benar ikut berduka dengan yang terjadi pada klien istimewanya itu.

Kini di pemakaman hanya ada Nismara, Samudra, Gerald dan Cynthia, tunangan Gerald. Ke empat orang yang mengenakan baju hitam itu saling diam dengan pikiran masing-masing.

"Nis, ada beberapa barang milik Sherin yang kemarin ditemukan di hotel. Sempat disita polisi untuk kepentingan penyelidikan, dan pagi tadi sudah dikembalikan semuanya kepadaku. Barang nya ada di mobil ku " kata Gerald memecah kesunyian.

Nismara mengangguk. "Aku akan simpan di kamar Sherin, bersama barang-barangnya yang lain."

"Bagaimana kalau kita letakkan bersama-sama?" Gerald memberi usul. Kemudian menoleh pada Samudra. "Boleh kan, Sam? Aku minta waktu berdua dengan Nismara untuk meletakkan barang-barang itu di kamar Sherin?"

"Aku ikut!" Cetus Cynthia tiba-tiba.

"Chin, please kali ini aku dan Nismara hanya ingin menjadi orang tua utuh untuk Sherin, meski ini semua terlambat. Tapi paling tidak izinkan kami untuk yang terakhir kalinya mengenang putri kami." Gerald menatap Nismara. " Gimana, Nis?"

"Kalau Cynthia tidak keberatan aku juga ingin... benar kata kamu, Ge, mungkin saja ini adalah pembicaraan terakhir kita. Setelah ini kita akan benar-benar tidak ada hubungan lagi. Satu-satunya pengikat hubungan kita sudah pergi." Nismara menyahut.

1
Maria
penuh dengan teka teki tp seru. Ada pelajaran yg BS kita ambil dr cerita ini. penyesalan pasti akan datang di belakang, kalau di depan itu namanya pendaftaran.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!