Indonesia
NovelToon NovelToon
SANG PENAFSIR LANGIT

SANG PENAFSIR LANGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Action
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kang Minho, juru tulis arsip Kota Eunha, meninggal kecelakaan. Di tubuhnya, Nuri terbangun—peramal rasi dari Negeri Cahaya yang kini menempati raga itu. Nuri bukan Minho; ia hanya memakai identitas Minho. Di kota, ia tetap dipanggil Minho. Di baliknya, Nuri membawa peta langit dan warisan Sang Gaib yang mengguncang kerajaan. Dari arsip kota yang sederhana, ia naik menjadi penafsir seluruh cakrawala dan pemimpin Majelis Batu Cakrawala. Namun tiap keping yang ia ungkap mendekatkannya pada Dewa Tua, sementara Pangeran Selat sudah mencuri namanya sejak langit pertama terbuka. Di balik pertempuran dan konspirasi yang berlarut-larut, satu pertanyaan menggantung: apakah Nuri menyelamatkan dunia, atau justru menulis takdir yang menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Saklar

Begitu kalimat itu selesai diucapkan Tuan Gil, sepasang mata ilusif yang mengintai di balik kegelapan di belakang lelaki tua itu menghilang. Bahkan dalam keadaan Penglihatan Roh sekalipun, Nuri tidak lagi mampu menangkap jejak keberadaannya.

"Itu salah satu ciri dari sihir ritual," jelas Tuan Gil sambil terkekeh.

Menakjubkan... Apakah Penglihatan Roh semacam versi penyempurnaan dari mata ketiga yang dikenal orang rumahan di Negeri Cahaya? Nuri merasa seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru. Dengan penuh semangat, ia mengalihkan pandangannya dan mulai mengamati setiap sudut ruangan. Ia ingin melihat perbedaan ruang racik dengan dan tanpa Penglihatan Roh.

Garis-garis benda di kegelapan, seperti meja, tabung uji, timbangan, cangkir, dan lemari, tampak tidak berbeda dari penampakannya tanpa Penglihatan Roh. Benda-benda itu tidak memancarkan cahaya atau warna apa pun.

Bahkan debu yang menempel di rak dan retak-retak di dinding bata tampak biasa saja—tanpa cahaya, tanpa bayangan, tanpa kehidupan. Hanya peti-peti tua di sudut ruangan yang lain halnya, seolah berbalas dengan Nuri.

Benda tanpa kehidupan tidak memiliki spiritualitas? Nuri bergumam dalam hati sambil mengarahkan pandangannya ke peti perak itu.

Tiba-tiba, ia melihat semburan warna yang hidup. Warna-warnanya ada yang biru seperti langit, berkilau seperti bintang, atau merah tua menyala seperti kobaran api!

"Bahan-bahan dari makhluk luar biasa masih menyimpan semacam kehidupan, dan, eh... masih aktif? Meskipun sumbernya sudah mati?" Nuri menimbang-nimbang kata-katanya sambil meminta penjelasan Tuan Gil.

"Gambaran yang tepat adalah mereka memiliki spiritualitas sisa. Itu salah satu titik kunci keberhasilan peracikan ramuan. Itu juga salah satu alasan mengapa seorang Praktisi bisa kehilangan kendali. Baek seharusnya sudah memberitahumu," jelas Tuan Gil dengan terus terang.

Ia tiba-tiba tertawa karena teringat sesuatu.

"Aku ingat rumus Pemungut Mayat memerlukan seekor katak belang hitam yang sudah tua dan kering. Untuk menelan ramuan itu, kau butuh nyali yang besar."

Nuri membayangkannya sebentar dan merasa jijik. Ia tidak menimpali perkataan Tuan Gil dan mengalihkan pandangannya ke sebuah tempat yang gelap. Namun, tidak ada tubuh roh atau hantu yang ia harapkan untuk dilihat.

"Bukankah dikatakan bahwa dunia roh ada di mana-mana?" tanyanya karena penasaran.

Tuan Gil terkekeh singkat sebelum berkata, "Nak, ulangi setelah aku.

"Ini adalah markas satu regu Garda Malam. Ini adalah tanah di bawah Rumah Doa Agung Senja. Ada banyak Praktisi di sini!

"Kau pikir kami akan membiarkan roh dan jiwa berkeliaran di sini? Lagi pula, dunia roh dan roh adalah dua konsep yang berbeda."

Nuri merasa sedikit malu lalu menoleh, berpura-pura memperhatikan cahaya samar dari lampu-lampu gas di pintu masuk.

"Aku mengerti."

Sementara berbicara, bagian dahi di antara kedua alisnya mulai berkedut.

Apa ini? Baru saja Nuri berbalik ingin bertanya, ia tiba-tiba melihat sesosok tubuh berdiri dengan tenang di dekat pintu, di batas lingkaran cahaya. Sosok itu tampak seperti manusia, meskipun warna auramya berbaur sempurna dengan kegelapan sehingga mustahil untuk dibedakan.

Sss!

Nuri merasakan kejang yang menyakitkan di bagian dahi di antara kedua alisnya. Pandangannya menjadi kacau ketika ia memusatkan perhatiannya kembali, tetapi sosok "tak berwujud" itu sudah lenyap!

Aneh... Ia berbalik dan bertanya.

Mungkin sosok itu hanya pantulan dari lampu gas yang berkedip. Atau mungkin, karena Tuan Gil baru saja mengingatkan tentang halusinasi, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Nuri mengusap matanya sekali sebelum membuka suara.

"Tuan Gil, bagian dahi di antara kedua alisku ini sedikit sakit karena berkedut."

"Haha, ini sangat lazim. Kau kini Praktisi baru. Penglihatan Roh membebani Tubuh Rohmu dengan sangat berat. Lagi pula, ia terus-menerus menguras tenagamu setiap saat. Pengaruh fisiknya bisa berupa kedutan di dahi antara kedua alis, sakit kepala, kepekaan berlebih, dan halusinasi ringan. Ketika melihat-lihat dengan Penglihatan Roh, sangat mudah merasa tidak nyaman akibat lingkungan yang asing. Emosimu juga sangat mudah terpengaruh orang lain. Ini semua hal yang perlu kau perhatikan. Kau bisa membiasakan dan menyingkirkannya dengan latihan berulang. Selain itu, gunakanlah ia secara hemat dan akhiri ia tepat waktu," jawab Tuan Gil sambil tersenyum.

Kenapa rasanya kau justru gembira ketika mendengar hal ini... Nuri buru-buru meminta petunjuk. "Kalau begitu, bagaimana cara keluar dari kondisi Penglihatan Roh?"

Ia tadinya berencana menyinggung sosok tak terlihat yang ia lihat, tetapi ketika ia mendengar gejala-gejala halusinasi ringan, ia mengurungkan niat itu.

Dari kedutan di dahi di antara kedua alis dan sakit kepala yang ia alami, ia bisa sepenuhnya menebak jawaban Tuan Gil!

"Seperti sebelumnya, pikirkan sebuah benda untuk mengalihkan perhatianmu. Itu akan membawamu keluar dari Kontemplasi. Pejamkan matamu dan kendalikan spiritualitasmu, lalu berulang kali suruh ia berakhir. Ketika kau membuka matamu lagi, kau akan mendapati bahwa Penglihatan Rohmu telah berakhir."

Tuan Gil menguraikannya dengan santai, dan setelah selesai, menambahkan, "Tentu saja, itu cara yang paling remeh dan kikuk. Kita bisa berulang kali memberi isyarat pada diri sendiri dalam Kontemplasi dari hasil latihan untuk memengaruhi spiritualitas kita. Dengan begitu, kau akan punya saklar yang sederhana. Misalnya, mengetuk dua kali di dahi di antara kedua alis akan memungkinkanmu dengan mudah mengaktifkan Penglihatan Roh. Ketukan dua kali lagi akan mengakhirinya. Soal bagaimana kau mengaturnya, itu tergantung pada kebiasaan dan preferensimu."

"Paham." Nuri berpikir sejenak dan berencana meniru Tuan Gil dengan menjadikan ketukan dua kali di dahi di antara kedua alis sebagai saklar Penglihatan Rohnya.

Satu ketukan terlalu mudah dikira ketukan naluriah ke dahi sendiri; tiga ketukan bisa membuang waktu yang berharga dalam situasi berbahaya. Sedangkan tindakan seperti jentikan jari terlalu menarik perhatian. Lagipula, dalam kegelapan sebuah pertempuran, gerakan sekecil apa pun bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati.

Ia melonggarkan fokusnya dan membayangkan bola-bola cahaya yang bertumpuk, lalu memasuki kondisi Kontemplasi kembali.

Di bawah bimbingan Tuan Gil, setelah isyarat pembungkaman yang berulang dan latihan, pada akhirnya ia "memasang" "saklarnya".

Ia mengepalkan tangannya pelan dan menggunakan ruas jari telunjuknya untuk mengetuk dua kali di dahi di antara kedua alisnya. Seketika, aura-aura bercahaya dengan ketebalan dan warna yang berbeda-beda muncul di hadapannya.

Setelah dua ketukan lagi, semuanya kembali normal.

"Akhirnya kumenguasainya..." Nuri menghela napas dengan gembira.

Baru saat itulah ia menyadari betapa lelahnya ia. Ia merasa bisa tertidur kapan saja; pikirannya sakit seolah-olah sudah tiga malam tidak tidur.

Tuan Gil berkata sambil terkekeh, "Kita bukan Peronda Malam. Setiap kali berlatih, dan setiap kali Penglihatan Roh dipakai secara berlebihan, kau akan butuh tidur. Kau boleh pulang sekarang dan beristirahatlah dengan baik. Sore ini, pergilah ke Jalan Bunga Teratai, ke kawasan kediaman keluarga Hyun, dan berkelilinglah. Cobalah secepat mungkin menemukan petunjuk tentang Buku Kulit Harimau. Besok, aku lanjutkan pengajaran ilmu gaib untukmu. Tentu saja, jangan lupa membaca dokumen-dokumen sejarah."

"Baiklah." Nuri setuju sepenuhnya dengan pengaturan Tuan Gil.

Ia mengambil tongkatnya dan meninggalkan ruang racik. Ia menyaksikan pintu itu tertutup ketika Tuan Gil kembali ke ruang senjata. Nuri memijat bagian dahi di antara kedua alisnya dan pelipisnya, dan dengan bantuan tongkatnya, menaiki anak tangga dengan santai.

Saat itu, Kapten Baek datang dari belakangnya dengan ujung bibir yang melengkung. Dengan pandangan yang dalam, ia berkata, "Kudengar dari Tuan Gil bahwa kau calon yang sangat cocok. Bahkan tanpa Kontemplasi, kau sudah bisa menggunakan Penglihatan Roh."

"Mungkin, itu keistimewaan unik seorang Pembaca Tanda," jawab Nuri dengan rendah hati.

Ia menebak bahwa Baek tadi sedang mengawasi ruang senjata untuk mengawasi Tuan Gil.

Baek memperlambat langkahnya dan berjalan sedikit di depan Nuri. Setelah beberapa detik hening, ia berbalik dan berkata, "Kau harus ingat, rasa ingin tahu membunuh kucing. Ia juga bisa membunuh Praktisi. Jangan mencoba mengintip bisikan yang tidak seharusnya kau dengar atau melihat keberadaan yang tidak seharusnya kau lihat."

"Baiklah." Nuri tahu ini adalah peringatan lain tentang bagaimana Praktisi bisa kehilangan kendali.

Setelah masuk kembali ke Biro Penjaga Duri Hitam, ia menyapa Bomi yang jelas-jelas tidak tahu bahwa ia telah menjadi Praktisi. Ia lalu berjalan pelan keluar pintu dan sampai di jalanan, di mana ia menaiki kereta tanpa jalur menuju Jalan Bakung. Ia hampir tertidur dalam perjalanan pulang.

Di dalam kereta, Nuri menurunkan topi sutranya hingga menutupi mata, tetapi jari-jarinya tetap mengetuk pelan bagian dahi di antara kedua alisnya—membiasakan saklar barunya dalam keadaan tersembunyi. Angin yang menerpa jendela kereta membawa bau pinggir kota: jerami, asap, dan sisa air hujan di jalanan, sehingga suasana perjalanan terasa seperti tengah dirundung kantuk.

Ia tiba di rumah menjelang tengah hari. Rumah itu masih kekurangan banyak perabot. Ruang keluarga dan ruang makan masih kosong. Wonho sudah bekerja di gudang barang konvoi di tepi sungai, sementara Sena belum pulang dari Sekolah Teknik, jadi keduanya sudah pergi sejak pagi.

Nuri tidak punya tenaga untuk mengurus hal lain. Ia menutup pintu dan segera naik ke lantai dua, masuk ke kamar yang dilengkapi rak buku yang menjadi miliknya.

Setelah melepas jas resminya dan menggantungnya di rak gantungan, ia segera terjun ke tempat tidur. Begitu kepalanya menyentuh bantal, ia tertidur lelap.

...

Dua hari berikutnya dijalani Nuri dengan disiplin khas seorang juru tulis. Sore harinya ia menyambangi kawasan Jalan Bunga Teratai, menyusuri kediaman keluarga Hyun serta gang-gang sekitarnya, dan mencocokkan setiap petunjuk dengan lembaran tersembunyi peninggalan Minho. Di kantor, ia membaca dokumen-dokumen sejarah di lorong arsip; pada malam harinya, ia menyimak pengajaran Tuan Gil tentang tata cara merawat spiritualitas dan kebiasaan-kebiasaan seorang Praktisi. Di sela-sela pekerjaan itu, ia mengetuk saklar barunya setiap kali tempat itu memungkinkan, sampai dua ketukan itu terasa seperti gerakan yang lahir dari kebiasaan, bukan kesengajaan.

Pada hari Senin, Nuri terbangun oleh cahaya matahari yang terang. Ia menoleh dan perlahan membuka matanya, mendapati matahari yang menyengat di luar jendela.

"Pukul berapa sekarang? Apakah aku terlambat untuk pertemuan Majelis?" Ia bangkit dengan susah payah dan berjalan ke rak gantungan untuk mengambil arloji sakunya dari kantong lapisan dalam jas resminya.

Ternyata ia lupa menutup pintu kamarnya dan menarik tirai jendela bertonjolan itu.

Pa!

Nuri mengeluarkan arloji sakunya dan segera merasa lega ketika ia membukanya.

Baru saja lewat tengah hari. Masih ada banyak waktu sebelum pertemuan pukul tiga sore.

Hari Senin—hari ia akan berkumpul dengan Batu Lentera dan Batu Keadilan.

Nuri tenggelam dalam pikiran sambil mengetuk dua kali di dahi di antara kedua alisnya. Pemandangan di hadapannya berubah sekali lagi; ia melihat bahwa tubuh rohnya telah kembali ke kilau yang terang.

Ia puas: kilau tubuh rohnya tampak lebih pekat daripada kemarin, dan tidak ada lagi bayang-bayang bertumpuk yang mengaburkan pandangannya.

Ia mengetuk dua kali lagi dan menghentikan Penglihatan Rohnya. Dengan santai, ia turun ke lantai pertama, merebus seketel air, menaruh sedikit daun teh kualitas rendah, lalu mengunyah roti gandum yang dioles sedikit mentega.

Setelah itu, Nuri membuka dokumen-dokumen sejarah dan lembaran-lembaran tersembunyi peninggalan Minho. Ia mulai "mengulang pelajaran" dan memadatkan pengetahuannya.

...

Pukul 14.57, Nuri menutup bukunya, memasang kembali tutup penanya, lalu menarik tirai jendela.

Tepat setelah itu, ia mengunci pintu kamarnya sehingga ruangan menjadi gelap yang tidak wajar.

Ia mengetuk dua kali di dahi di antara kedua alisnya dan mengaktifkan Penglihatan Roh untuk memeriksa sekeliling.

Setelah memastikan tidak ada tubuh roh tak terlihat di dalam kamarnya, Nuri menghentikan Penglihatan Roh dan mengeluarkan arloji sakunya untuk memeriksa waktu.

Tik-tok. Tik-tok.

Beberapa saat sebelum pukul tiga, ia membuka langkahnya dan, seperti sebelumnya, berjalan empat langkah melawan arah jarum jam membentuk segi empat. Ia melafalkan doa dengan lirih dalam bahasa Negeri Cahaya.

Hanya saja, kali ini ia tidak menyiapkan makanan pokok apa pun.

Nuri memejamkan mata ketika ia merasakan lekuk balik telinga kirinya mulai gatal. Rasanya seperti tiga bintang samar itu menonjol dan memancarkan sesuatu.

Teriakan-teriakan histeris dan bisikan-bisikan yang menggoda mulai bergema, tetapi Nuri menyadari bahwa sakit kepalanya tidak seburuk yang pertama kali.

Bukannya ia tidak terpengaruh, tetapi ia berusaha sekuat tenaga menahan diri untuk tidak mendengarkan.

Sebagai seorang Praktisi, ia harus punya kendali diri yang lebih besar dalam lingkungan semacam ini.

Tak lama kemudian, tubuhnya menjadi ringan ketika ia mengambang naik. Ia melihat kabut yang menyebar, putih keabu-abuan dan samar. Lalu, ia melihat "bintang-bintang" merah tua. Dua di antaranya memiliki hubungan yang sangat kecil dengannya dengan rasa keakraban yang tidak wajar.

Nuri menatap wujud dirinya yang samar dan bergumam dengan kebingungan, "Ini Raga Sukma yang disebut Tuan Gil?"

Ia tetap tenang selama beberapa detik dan sekali lagi mewujudkan istana agung dengan meja perunggu panjang di bawah kubah senja yang megah, serta kursi-kursi bersandaran tinggi yang bersesuaian dengan rasi-rasi bintang yang berbeda.

Nuri berjalan tenang ke kursi kehormatan dan membiarkan tubuh serta wajahnya tenggelam dalam kabut kelabu yang lebih pekat. Ia mengulurkan tangan kanannya, mengetuk dua bintang merah tua yang ia kenal, dan menciptakan hubungan yang menakjubkan.

1
-Thiea-
kayaknya minho sengaja dilenyapkan kali ya. 🤔
-Thiea-
bertransmigrasi kayaknya dia ya.🤔
-Thiea-
dia kenapa? apakah hilang ingatan? kayaknya asing sama keadaan.
Xlyzy
itu kayak nya harus di cari tau deh penyebab nya kenapa tiba tiba berpindah di tubuh orang lain lagi
Tamaa
mahalnya
Tamaa
anak gadis sukanya yang begituan
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
aku bayanginnya ala drakor korea min 🤣😭
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
ini latarnya korea berati ya tor?
Kartika Candrabuwana: mirip korea..tp mix fantasi jg
total 1 replies
Miu.Nuha
wiii ajaib juga ya
aku jadi penasaran sok kalo minho cedera lagi apa y gk bakal ngerasa sakit 🙄
Miu.Nuha
ini kalo keluar rumah apa gk pada jerit tuh para warga 😅🙄
Filan
malam ini dia memang terlalu banyak berpikir sampai pusing.
Filan
woah, bulannya merah... ini bukan Korea ya, negeri fantasi? Dan dia juga berasal dari negeri yang beda tapi serupa.
Kartika Candrabuwana: semi korea dan fantasi
total 1 replies
Filan
nyalain lampunya pakai koin?
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
Filan
orangnya memang sudah mati kalau ga ada jiwa lain yang menempati.
Myz Pena
iih ngeri bangettt... seharusnya orang dengan benjolan kepala itu bisa sekarat berhari2 di rumah sakit🤧
Putry Chan
bangkit lah nuri emang tangguh
abis nagis langsung mode srius mental baja gitu loh
ginevra
ou begitu... karena jiwanya gantinmaka raganya ikut pulih
ginevra
lukanya sembuh sendiri ya
ginevra
ngeri banget lukanya, harus cek ke dokter deh, takutnya ada pendarahan otak
Arni Arlinawati Pratiwi💃
oke.. jadi nuri yang masuk ke tubuh nya kang minho ini adalah peramal.. jadi jiwa nuri yang punya kemampuan diem di tubuh nya kang minho, 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!