Indonesia
NovelToon NovelToon
Tujuh Kembaran

Tujuh Kembaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Seven Gu

⚠️ PERINGATAN

Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.

Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst



Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.

Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.

Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:

Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.

Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.

Ketika seseorang telah memiliki segala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mo Wuxin [FRAGMEN KEENAM: MO WUXIN]

# BAB 6 — RUMAH YANG MEMILIH PENGHUNINYA SENDIRI

Danau Bayangan Hilang tidak pernah benar-benar tenang, meski permukaannya selalu terlihat seperti cermin.

Orang-orang di sekitarnya percaya danau itu menyimpan mimpi-mimpi yang jatuh dari kepala orang yang tidur terlalu dekat dengan tepiannya—mimpi yang tidak sempat diingat saat bangun, tenggelam perlahan ke dasar, menumpuk selama ribuan tahun menjadi sesuatu yang tidak lagi sepenuhnya air.

Mo Wuxin duduk bersila di atas permukaannya, tidak tenggelam, tidak basah, seperti seseorang yang danau itu sendiri sudah lupa cara menolaknya.

Ia sudah di sana selama tiga hari, menunggu seseorang yang katanya sedang mencarinya di seluruh Benua VI.

Orang itu akhirnya datang pada senja hari ketiga.

 

"Tuan Mo." Pria itu berlutut di tepi danau, terengah, wajahnya penuh debu perjalanan panjang. "Kumohon. Aku sudah mencarimu selama dua tahun."

"Kau menemukanku," Mo Wuxin berkata, tanpa membuka mata, suaranya pelan seperti angin yang enggan mengganggu ketenangan air. "Itu lebih cepat daripada kebanyakan orang."

"Adikku." Pria itu—bernama Lin Qing, seperti yang akan diketahui Mo Wuxin kemudian—menelan ludah. "Namanya Lin Yue. Enam tahun lalu, ia menghilang setelah pembantaian Klan Lin oleh musuh keluarga kami. Aku menemukannya lagi tiga bulan lalu, hidup, sehat—tapi ia tidak mengenaliku. Ia menyebut dirinya A-Xue sekarang. Ia menikah dengan seorang nelayan. Ia punya anak."

"Dan kau ingin aku mengembalikan ingatannya."

"Ia adikku," Lin Qing berkata, suaranya bergetar. "Ia berhak tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Keluarga kami berhak mendapatkannya kembali."

Mo Wuxin akhirnya membuka mata, menatap pria di hadapannya dengan tatapan yang tidak menghakimi, tidak juga menyetujui.

"Itu satu cara untuk melihatnya," ia berkata pelan. "Aku akan pergi melihat sendiri sebelum memutuskan apakah aku setuju."

 

Desa Nelayan Qingshui berada dua hari perjalanan dari danau, terletak di teluk kecil yang tenang, dikelilingi perahu-perahu kayu yang berayun pelan mengikuti napas laut.

Mo Wuxin menemukan A-Xue dengan mudah—seorang wanita muda menjemur ikan di halaman rumah kayu sederhana, seorang anak balita duduk di dekatnya bermain dengan kerang, dan suara tawa yang keluar dari mulutnya terdengar seperti sesuatu yang sudah lama tumbuh alami, bukan sesuatu yang dipaksakan.

Ia tidak mendekat. Ia hanya duduk di bawah pohon di seberang jalan, mengamati, seperti biasa ia mengamati banyak hal—tenang, tidak terburu-buru, membiarkan kebenaran menunjukkan dirinya sendiri tanpa dipaksa keluar.

A-Xue tertawa lagi saat suaminya pulang membawa hasil tangkapan hari itu, mencium kening anak mereka, bertukar cerita kecil tentang hari yang biasa-biasa saja.

Ia tampak bahagia.

Bukan bahagia yang dipaksakan untuk menutupi kekosongan di baliknya—Mo Wuxin sudah melihat cukup banyak kepura-puraan seperti itu sepanjang hidupnya untuk mengenali perbedaannya. Ini bahagia yang mengakar, sederhana, nyata.

 

Malam itu, dengan izin diam-diam dari suami A-Xue—yang Mo Wuxin dekati terpisah, menjelaskan sebagian kebenaran tanpa mengungkap semuanya—Mo Wuxin memasuki mimpi A-Xue.

Ini bukan sihir dalam pengertian yang dipahami kebanyakan orang. Dream Dao bekerja dengan prinsip yang lebih halus: jiwa manusia, saat tertidur, membuka pintu yang biasanya tertutup rapat siang hari, dan seseorang yang cukup terlatih bisa berjalan melaluinya, bukan sebagai penyusup, tapi sebagai tamu yang diundang oleh bagian diri yang tidak pernah benar-benar tidur.

Mimpi A-Xue dimulai dengan sederhana: pantai, anaknya berlari tertawa di antara ombak, suaminya melambai dari perahu.

Tapi semakin dalam Mo Wuxin melangkah, semakin ia merasakan sesuatu di bawah permukaan mimpi itu—sebuah pintu, terkubur jauh di dasar kesadaran A-Xue, tersegel bukan oleh kekuatan luar, tapi oleh sesuatu yang jauh lebih rumit.

Oleh dirinya sendiri.

 

Di balik pintu itu, dalam ruang mimpi yang lebih gelap, lebih tua, Mo Wuxin menemukan potongan-potongan ingatan yang tersegel: api yang membakar seluruh kompleks Klan Lin, jeritan yang tidak pernah benar-benar berhenti bergema di suatu tempat dalam jiwa seseorang, dan seorang gadis remaja yang berlari sendirian ke dalam hutan, memutuskan—dengan kesadaran yang lebih dalam daripada logika biasa—bahwa satu-satunya cara untuk bertahan hidup bukan hanya secara fisik, tapi secara utuh, adalah dengan mengunci semuanya rapat-rapat dan menjadi seseorang yang baru.

Bukan orang lain memaksanya melupakan.

Ia memilih melupakan.

Mo Wuxin berdiri di ambang ruang gelap itu lama, tidak masuk lebih jauh, menghormati sesuatu yang jelas tidak ingin dikunjungi.

Di sana, samar, seolah menunggu, ia mendengar—atau merasakan, karena di ruang mimpi, kedua hal itu sering tak terbedakan—sebuah bisikan yang bukan miliknya, bukan pula milik A-Xue sepenuhnya:

Rumah ini sudah memilih siapa yang boleh tinggal di dalamnya.

Ia tidak tahu apakah itu suara A-Xue yang lebih dalam, atau hanya gaung dari pikirannya sendiri yang dipantulkan oleh dinding-dinding mimpi. Di Soul Dao, batas antara keduanya sering kali lebih tipis daripada yang diinginkan siapa pun.

 

Mo Wuxin keluar dari mimpi itu sebelum fajar, duduk lama di bawah pohon yang sama seperti sebelumnya, memikirkan apa yang akan ia katakan kepada Lin Qing.

Pertanyaan yang selalu mengikutinya sepanjang hidupnya kembali muncul, kali ini dengan bobot yang lebih nyata daripada sekadar renungan filosofis larut malam:

seluruh ingatan seseorang dihapus—atau, dalam kasus ini, dikubur sepenuhnya oleh pilihannya sendiri—apakah ia masih menjadi orang yang sama?

Lin Yue, gadis yang lari dari reruntuhan keluarganya enam tahun lalu, dan A-Xue, wanita yang tertawa di halaman rumah kayu sederhana sambil menjemur ikan—apakah mereka satu jiwa yang sama memakai dua wajah, atau apakah A-Xue, dalam pengertian yang paling jujur, adalah seseorang yang benar-benar baru, lahir dari reruntuhan seseorang yang memilih untuk berhenti ada?

Tubuh adalah rumah.

Jiwa adalah penghuni.

Tapi jika penghuni lama memilih pergi, mengunci pintu di belakangnya, dan penghuni baru membangun kehidupan yang utuh di rumah yang sama—siapa yang berhak mengatakan penghuni lama harus dipanggil kembali, hanya karena seseorang di luar rumah itu merindukannya?

 

Ia kembali ke Danau Bayangan Hilang, di mana Lin Qing sudah menunggu dengan harapan yang jelas terpancar di wajahnya.

"Bagaimana?" Lin Qing berdiri cepat. "Bisakah kau mengembalikannya?"

"Aku bisa," Mo Wuxin berkata jujur. "Secara teknis, aku bisa membuka segel itu malam ini juga, dan Lin Yue yang kau kenal akan kembali, lengkap dengan seluruh ingatannya."

Wajah Lin Qing bersinar penuh harapan—sebelum meredup kembali saat ia melihat ekspresi Mo Wuxin yang tidak berubah.

"Tapi ada 'tapi'-nya."

"Segel itu bukan dipasang oleh musuh, atau oleh kecelakaan," Mo Wuxin melanjutkan. "Adikmu memasangnya sendiri, dengan kesadaran penuh, di tengah reruntuhan keluarga kalian. Ia tidak kehilangan ingatannya. Ia memutuskan untuk berhenti membawanya." Ia berhenti sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati yang jarang ia perlukan. "Jika aku membuka segel itu, aku tidak sekadar mengembalikan sesuatu yang hilang. Aku menghapus enam tahun kehidupan yang ia bangun dengan sengaja, memilih untuk mendorong kembali kesadaran yang sama besarnya dengan trauma yang membuatnya memilih pergi sejak awal."

"Tapi ia adikku—"

"Ia masih adikmu," Mo Wuxin memotong, lembut tapi tegas. "Wajahnya sama. Darahnya sama. Tapi jiwa yang sekarang tinggal di tubuh itu telah membangun rumahnya sendiri di atas reruntuhan yang lama, dan rumah itu, saat ini, punya seorang suami yang mencintainya, seorang anak yang membutuhkannya, dan kedamaian yang tidak pernah ia miliki sebagai Lin Yue."

 

Lin Qing terduduk di tepi danau, wajahnya hancur antara kerinduan dan kebingungan yang tidak pernah ia bayangkan akan serumit ini.

"Jadi kau menolak membantuku."

"Aku tidak menolak membantumu," Mo Wuxin berkata. "Aku menolak membuat keputusan itu untukmu, untuknya, atau untuk diriku sendiri, tanpa ia yang paling berhak memutuskan diberi kesempatan untuk bersuara." Ia berdiri, jubahnya bergerak pelan tertiup angin danau. "Aku bisa membawamu menemuinya, sebagai kakaknya, tanpa sihir, tanpa memaksa apa pun. Biarkan A-Xue memutuskan apakah ia ingin tahu tentang Lin Yue, dengan kesadarannya sendiri, di dunia nyata, bukan lewat pintu yang kubuka paksa di dalam mimpinya."

"Dan jika ia menolak?"

"Maka kau akan tahu bahwa keputusan itu, akhirnya, benar-benar miliknya," Mo Wuxin berkata. "Bukan milikmu. Bukan milikku."

Lin Qing tidak menjawab untuk waktu yang lama, hanya menatap permukaan danau yang tenang, memikirkan pertanyaan yang tidak pernah ia duga akan sesulit ini saat ia mulai mencari selama dua tahun terakhir.

 

Mo Wuxin kembali duduk bersila di atas air, membiarkan Lin Qing dengan pikirannya sendiri, menutup mata sekali lagi.

Pertanyaannya sendiri masih belum terjawab, dan mungkin tidak akan pernah terjawab sepenuhnya—ia sudah lama berdamai dengan gagasan bahwa beberapa pertanyaan ada bukan untuk dijawab, tapi untuk terus dibawa, seperti batu kerikil di dalam sepatu yang mengingatkanmu bahwa kau masih berjalan.

Dalam keheningan itu, tepat sebelum tidur benar-benar mengambilnya, ia merasakan sesuatu menyusup ke tepi kesadarannya—bukan mimpi orang lain kali ini, tapi sesuatu yang lebih aneh: kesan bahwa ada satu jiwa lain, entah di mana, yang juga sedang bertanya-tanya tentang rumah dan penghuninya, tentang siapa yang berhak disebut "diri sendiri" ketika begitu banyak versi dari diri itu bisa hidup dalam satu tubuh yang sama.

Tunjukkan padaku sesuatu yang belum pernah kulihat, gema itu terdengar, lebih jelas kali ini daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya, seolah jarak antara mereka berdua—siapa pun "mereka" itu—perlahan menyusut.

Mo Wuxin membuka mata sekali lagi, menatap ke langit malam yang dipenuhi bintang, dan untuk pertama kalinya, alih-alih membiarkan pertanyaan itu lewat begitu saja seperti angin, ia membiarkan dirinya bertanya balik, ke dalam kekosongan yang sama:

Siapa kau, yang terus bertanya hal yang sama dari begitu banyak arah berbeda?

Tidak ada jawaban.

Tapi untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan, ia merasa yakin bahwa suatu hari, jawaban itu akan datang—dan ketika itu terjadi, ia curiga jawabannya akan mengubah segala hal yang selama ini ia percaya tentang rumah, penghuni, dan siapa yang sebenarnya memiliki hak untuk memutuskan siapa dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!