Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.

Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

"Perjalanan kelompokmu berakhir malam ini," bisik Arka dingin tanpa keraguan sedikit pun.

​"Arka... tunggu! Kau tidak bisa..."

​Pftt! Bruk

​Satu tembakan teredam mengakhiri pria itu. Tubuhnya terkulai lemas dan ambruk ke lantai. Ruang tamu yang sempit itu kini mendadak hening, meninggalkan bau amis darah yang menyengat dan jejak pertempuran yang kelam.

​Arka mendesah pelan. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang. Ia segera menyimpan senjatanya, merapikan baju taktisnya, lalu melangkah menuju kamar tidur.

​Tok. Tok. Tok.

​Arka mengetuk pintu kamar tiga kali sesuai janji yang ia katakan pada istrinya.

​Pintu kayu itu perlahan terbuka. Kinanti berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat dan mata yang basah oleh air mata. Begitu melihat Arka berdiri utuh tanpa luka sedikit pun, Kinanti langsung melompat ke pelukan Arka, memeluk leher suaminya begitu erat seolah takut Arka akan menghilang dihidupnya.

​"Mas Arka! Mas nggak papa? Mas luka nggak?!" tangis Kinanti pecah di ceruk leher Arka.

​Arka melingkarkan tangannya di pinggang Kinanti, merengkuh tubuh istrinya dengan penuh kehangatan. "Mas baik-baik aja, Sayang. Semuanya udah selesai. Mereka ngga akan pernah ganggu kita lagi."

​Kinanti menyandarkan kepalanya di dada bidang Arka. Saat melirik ke ruang tamu, ia melihat pemandangan mencekam yang ada di sana. Tapi kali ini, tidak ada rasa takut atau jijik di mata Kinanti. Yang ada hanyalah rasa haru dan perlindungan yang teramat besar. Pria yang ada di pelukannya ini telah mempertaruhkan segalanya bahkan nyawanya demi menjaga kedamaian dan keselamatan dirinya.

​"Mas Arka..." bisik Kinanti seraya menatap manik mata suaminya. "Apa setelah ini kita pindah kontrakan aja?"

​Arka mengusap lembut pipi Kinanti, mengeringkan sisa air mata di sana. "Kalau kamu mau, kita bisa pergi ke tempat yang lebih aman. Mas akan pastikan kamu hidup tenang."

​Kinanti mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tulusnya kembali. "Ke mana pun Mas Arka pergi... aku akan selalu ikut. Walaupun Mas harus kembali mendorong gerobak cilok setiap pagi, aku tetap mau jadi istri Mas."

​Arka tersenyum sangat manis senyum hangat yang selalu berhasil melelehkan hati Kinanti. Ia mengecup bibir istrinya lembut di tengah keheningan malam yang kini terasa begitu damai.

​Di balik latar belakangnya yang kelam sebagai Raja Mafia, Arka tahu satu hal pasti, sejauh apa pun ia melangkah, rumah tempatnya pulang adalah Kinanti.

~Dua hari setelah penyerangan~

Dua hari setelah malam mencekam di kontrakan kecil mereka, sebuah mobil van hitam melaju tenang meninggalkan pinggiran kota lama. Anak buah tepercaya Arka telah membereskan seluruh jejak pertempuran di ruang tamu tanpa menyisakan satu pun bukti, sementara rumah kontrakan tua itu kini sudah ditinggalkan sepenuhnya.

​Kinanti duduk di kursi samping pengemudi, menatap ke luar jendela melihat pemandangan kota lama mereka yang perlahan menghilang di balik kabut pagi. Di tangannya, ia memeluk erat tas kecil berisi dokumen penting dan kenangan manis mereka.

​Arka yang duduk di balik kemudi melirik istrinya lembut. Tangan kirinya terulur, menggenggam jemari Kinanti yang berada di atas pangkuan.

​"Masih sedih harus ninggalin rumah lama kita, Kin?" tanya Arka dengan nada suara yang amat halus.

​Kinanti menoleh, lalu menyunggingkan senyum hangatnya. Ia membalas genggaman tangan Arka, merasakan kehangatan yang selalu membuatnya merasa aman.

​"Sedikit, Mas. Tapi yang penting kan kita tetap sama-sama," sahut Kinanti tulus. "Lagipula, kata Mas Arka tempat baru ini lebih tenang, kan?"

​Arka tersenyum manis, mengecup punggung tangan Kinanti secara singkat sebelum kembali fokus ke jalanan. "Iya, Sayang. Di desa pesisir pegunungan nanti, suasananya jauh lebih adem. Rumah baru kita dekat sungai kecil, dan Mas sudah siapkan tempat jualan baru buat kita."

​Kinanti tertawa kecil, matanya berbinar geli. "Masih mau jualan cilok juga di sana?"

​"Tentu dong," kekeh Arka, matanya menyipit jenaka. "Resep bumbu kacang Mas itu rasanya yang terbaik. Apalagi sekarang Mas punya asisten cantik yang bakal nemenin jualan setiap hari."

​Candaan sederhana itu membuat suasana di dalam mobil terasa hangat dan dipenuhi kebahagiaan. Bagi Kinanti, tidak masalah siapa Arka di masa lalu. Pria di sampingnya ini adalah sosok yang rela membuang mahkota kekuasaannya demi hidup sederhana bersamanya.

​Namun, di balik senyum hangatnya yang menenangkan Kinanti, pikiran Arka tetap bekerja secara matematis dan dingin. Lewat spion tengah, Arka memperhatikan situasi jalan di belakang mereka. Meskipun klan Red Dragon cabang lokal sudah diratakan sepenuhnya, Arka tahu dunia bawah tanah tidak pernah benar-benar tidur.

​Ponsel khusus di saku jaket Arka bergetar halus sebanyak tiga kali sebuah sinyal rahasia bahwa ada pesan darurat yang masuk. Tanpa membuat Kinanti curiga, Arka mengabaikan getaran itu untuk sementara, menikmati perjalanan menembus jalur darat menuju wilayah Jawa Barat.

Mobil van hitam mereka perlahan menyusuri jalanan tanah berkerikil yang membelah pedesaan Bandung. Suasana kota berganti menjadi hamparan sawah berundak-undak yang hijau meluas, dikelilingi deretan perbukitan yang diselimuti kabut tebal. Roda mobil melindas dedaunan basah, menyebarkan aroma tanah yang khas setelah disiram hujan gerimis.

​Rumah kayu bertingkat dua yang disiapkan Arka berdiri anggun di ujung desa, jauh dari pemukiman warga lainnya. Di belakang rumah, gemericik air sungai kecil mengalir jernih melewati bebatuan kali, menghadirkan kedamaian yang belum pernah Kinanti rasakan sebelumnya.

​Kinanti membuka pintu mobil, melangkah keluar seraya menghirup udara pedesaan Bandung yang teramat sejuk dan bersih.

​"Mas... asri banget desanya," bisik Kinanti penuh kagum, memeluk tubuhnya sendiri karena hawa dingin yang menusuk kulit. "Suara air sungainya bikin hati tenang banget."

​Arka melangkah dari belakang, merengkuh tubuh Kinanti dengan kehangatan dadanya. "Ini desa yang Mas janjikan, Kin. Jauh dari bising kota, jauh dari orang-orang jahat. Di sini kita bisa hidup tenang."

​Kinanti membalikkan badan, memegang kedua pipi Arka yang hangat dan menatap mata suaminya penuh keharuan. "Makasih ya, Mas Arka... Kita benar-benar buka lembaran baru di sini, ya?"

​"Iya, Sayang. " balas Arka tulus, mendaratkan kecupan hangat di bibir Kinanti di bawah naungan langit desa yang teduh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!