Wanita desa menjadi tulang punggung keluarga, semenjak Bapaknya meninggal dunia. Hanum tinggal bersama sang ibu. Ibu yang setiap hari menjual sayuran keliling untuk mencukupi hidupnya.
Usai penderitaan Hanum, tapi ia masih berdiri tegar agar ibunya senang.
Namun jalan tak begitu mulus, kini Hanum tengah di nikahi oleh seorang lelaki yang amat ia cintai, seorang anak pengusaha sukses sebagai CEO.
Namun takdir berkata lain, lelaki yang justru di idamkan oleh Hanum tak sesuai harapan.
Menikah hanya sebuah terpaksa, Arkan enggan menyentuh Hanum karena dari keluarga miskin.
Tapi percayalah kedua orangtua pihak lelaki lebih menyayangi menantu dari anak sendiri.
Riswan akan mengangkat derajat Hanum sebagai CEO, setelah apa yang di perbuat anaknya.
Akankah Arkan mengetahui hal tersebut, apakah ada kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Rohimah II, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar
Aku mendengar suara itu secara nyata jika Pembantu mengatakan sejujurnya jika Chandra adalah anak kandungnya. Tapi, saat aku bertanya seolah tubuh Pembantu tersebut gemetar hebat, karena pembantu merasa takut saat pasangan suami istri menoleh.
Pembantu tersebut berlari kecil, seolah ia akan dalam bahaya besar. Tapi apa yang dikeluhkan oleh pembantu itu. Apakah mengatakan jujur itu berat? Tapi memang takut jika anaknya tak mengakui ibu kandung sendiri, secara Chandra sudah dibenci bahkan ingin dijual oleh kedua orangtuanya.
Riswan merasa jika ia baru pertama kali mengetahui adanya IRT baru di rumahnya, sejak kapan IRT itu ada dirumahnya? Ia harus menanyakan langsung kepada satpam.
Kedua pasangan tersebut tampak seperti was-was, jika saja kiriman dari satpam mengenai pembantu yang suka mengerjakan tugas tapi tidak jujur.
Perginya seorang, membuat jantung Rina berdegup kencang, seolah ia tak sanggup untuk mendapatkan kembali anaknya. Tapi Chandra seperti anak gembira, mereka juga menyayangi Chandra seperti saudara sendiri, beda dengan Riana menyiakan seolah Riana paling berjasa dalam hidup.
"Hampir saja saya ketemu, Tuan dan Nyonya. Bisa-bisa saya langsung kena pecat. Maafkan saya, Mbak Hanum, tapi saya tidak sengaja mendengar teriakan, Mbak," Ucapnya dalam hati, seraya meneteskan air mata. Tak sadar jika dibelakang ada sosok berbaju putih, sedang ingin mencari sesuatu.
Keduanya tampak ketakutan, Satpam tersebut hendak mencari sesuatu. Tentu ia lupa membuka masker putih yang dikenakan di wajah. Keduanya langsung terkejut, saling jatuh ke lantai.
"Hantu,, Gusti Ngurah Wahyu, tolong jangan takuti saya. Saya hanya ingin kerja disini, tolong," ucap Rina, ia tampak memohon sambil mengangkat kedua tangannya dan bersujud dikaki satpam.
Rina masih membalikkan badannya, seolah ia tidak sanggup melihat wajah seram di belakangnya. Kedua mata di tutup mengunakan kedua tangannya, sampai satpam tersebut memukul pundak Rina yang tengah ketakutan.
"Yaa Allah, ini Udin! Kenapa harus takut, Bik. Saya tadi kehilangan sesuatu, tolong jangan ambil nyawa saya dulu, tolong, Bik," jawab Satpam merasa tidak baik saja, padahal semua didunia akan dikembalikan kepada sang pencipta.
"Kamu ya, Udin. Ini masih malam, kenapa kamu kagetin saya. Misal, jantung kambuh, kamu harus tanggung jawab, Udin."
"Maaf!!" Ini Udin copot maskernya, Udin mah butuh perawatan, Bik. Biar di lirik oleh Neng Hanum."
"Astaghfirullah al-aziim nyebut Udin, Mbak Hanum udah punya suami, bisa-bisa nanti kena tendang, apalagi punya Mertua yang galak."
"Bibik Rina jangan asal sebut Tuan Riswan, Tuan Riswan itu mah baik, sayang, orang seperti saya aja diberi keringan kerja. Gara-gara ada musibah menimpa keluarga saya di kampung, sebaiknya Bik Rina hati-hati menyimpulkan kalimat, bisa-bisa di pecat dari sini," ujar Udin memihak langsung, ia menerangkan apa yang belum diketahui jangan langsung dipublikasikan.
Tidak semua orang mengetahui bahwa setiap manusia akan berbeda-beda. Dimana pun, dan kapan pun. Begitu banyak gaya manusia bermacam-macam, intinya saling berbagi, silaturahmi, dan memaafkan.
...----------------...
Tidak mudah bagi Arkan untuk mendapatkan kembali perusahaan itu jatuh ke tangannya. Mengapa setelah ia menikah, keluarga memberikan ini semua pada istrinya. Tidak terima, dengan sikap lugunya, Arkan ingin menuai simpati kepada istrinya. Menjadi seorang suami penurut, dan ingin mendapatkan kembali jabatan sebagai CEO.
Akan tetapi tidak mudah dan percaya bagi Riswan, ia akan menjadi pertama agar menantu yang selama ini menderita, dan kabarnya akan segera pulang ke kampung halamannya. Bagaimana pun juga, Riswan akan menjatuhkan diri pilihan Hanum.
Baginya Arkan tidak pandai mengolah bisnis kedua orangtuanya, sangat sulit untuk menjelaskan kepada Arkan sudah membuat dampak rumah tangga mereka hancur.
Ditambah Mertua menginginkan cucu, namun sayang Arkan selama menikah tidak menyentuh istrinya. Lalu tujuan Arkan menikahi Hanum untuk apa? Hanya sebuah kesepakatan kedua orangtuanya, ia rela mengeluarkan pendapat bila ingin menikahi gadis kampung.
Nasib malang Arkan, harus menerima hukuman diberikan oleh orangtua sendiri. Kerja keras Arkan tak sebanding dengan kerja keras yang diperoleh Riswan.
Padahal setelah kepulangan dari luar kota, Riswan ingin mencari karyawan lagi, namun saat pulang karyawan malah demo ingin menaikan gaji. Sungguh, Arkan zalim dengan rakyat, lalu ke manakah uang sebanyak 100 M digunakan.
Mengetahui sikap Yusuf kokoh pada pendiriannya, ia rela menerima semua tantangan dari Majikannya. Bahwa ia menerima hadiah saat menolong seorang wanita yang tengah ingin mendapatkan musibah, tapi ini semua berkat bantuan dari Yusuf. Maka Riswan mengangkat Yusuf sebagai Aspri kerja untuk Arkan.
Arkan yang menyombongkan diri, seolah ia ingin mengeluarkan Yusuf. Arkan tidak terima dengan Aspri baru, jika saja kekasih gelapnya ada disitu, mungkin saja Arkan sudah menjadikan Riana sebagai Aspri. Namun sayang, semua sudah dikendalikan oleh Riswan, karena bisnis tersebut masih ada dipuncak tangan bisnis Papanya.
Mendengus kesakitan, duduk rasanya ngilu. Semua tubuh tak kuat untuk menahan rasa sakit yang di lakukan anak buah Riswan.
"Bod**!!" Kenapa anakmu ga kau Bun** saja, Pa. Arkan salah apa?" Arghhh!!" Teriak Arkan, para karyawan sudah pulang, mana mungkin ditengah larut malam ada yang memangil.
Arkan menendang meja, bangku, dan juga benda ada disekitar. Tak ingin terjadi, tapi saat ia sedang ada musibah besar, Riana tiba saja menelpon kekasihnya.
{Riana: "Sayang, dimana?" Bisa bebaskan gue dari sini, gue tadi ada dirumah loh, tapi gue malah ketemu sama Hanum, pokoknya loh kesini sekarang, gue tunggu}
{Arkan: "Loh sekarang kemari, gue ada di kantor. Tapi bagian gudang bawah, loh bawa pisau entah apa, benda lain, gue rasa udah mau mati, pengap sekali disini, sayang}
Tut..Tut...
Tiba saja ponsel Arkan mati, batrei tinggal 1Persen langsung mati. Akibat ponsel tak di charger. Riana dari kediaman rumah Arkan, di kagetkan dengan sebuah jika Arkan masih ada di kantor.
"Tadi jika Arkan ada di kantor!" Kok bisa?" Siapa berani mengurung dia, otomatis Arkan pemilik perusahaan, ini ga bisa terjadi. Gue harus besok kesana, gue ga mau sayang gue, kenapa-kenapa," bisik dalam hati, seraya berkata jika ini semua ulah Hanum yang mengaku sebagai istri.
Riana dipenuhi emosi, ia bahkan sudah tidak tahan dengan semua kelakuan Hanum. Jika benar dialah adalah istri, maka sudah kelewatan. Tapi, Riana memang belum terpikir jika Arkan memiliki seorang istri. Yang dipikiran Arkan sekarang jika Arkan janji akan menikahi Riana didepan keluarganya.
Kembali di kelurga Riswan...
Hanum sudah tak memikirkan firasat mengenai pembantu tersebut, yang ia pikiran sekarang adalah kesehatan ia sekarang. Mengenai jika lusa ia akan menjenguk ibunya di kampung, dan membawa ibunya bersama Hanum di kota.