IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Sandiwara
Seminggu telah berlalu sejak Helena pergi meninggalkan penthouse tanpa memberikan kabar sedikit pun. Liam, yang awalnya memutuskan untuk tidak mengejarnya demi memberikan ruang bagi mereka berdua untuk berpikir jernih, akhirnya mulai merasakan kekhawatiran yang bercampur dengan kecurigaan setelah beberapa hari berlalu tanpa satu pun pesan atau panggilan dari Helena.
Menggunakan sedikit koneksi yang masih ia miliki dari salah satu rekan bisnisnya yang bergerak di bidang investigasi swasta, Liam memutuskan untuk mencari tahu keberadaan dan aktivitas Helena selama beberapa hari terakhir ini, sebuah keputusan yang sebenarnya bertentangan dengan naluri kepercayaannya, namun didorong oleh kebutuhan mendesak untuk mengetahui kebenaran setelah rentetan kekacauan yang telah terjadi belakangan ini.
Laporan yang ia terima tiga hari kemudian membuat dadanya terasa begitu sesak, meski entah kenapa, kejutan yang ia rasakan tidak sebesar yang mungkin seharusnya ia alami mengingat status hubungan mereka yang begitu serius.
Helena ternyata tidak menginap di apartemen temannya seperti yang tertulis dalam catatan singkat yang ia tinggalkan. Sebaliknya, foto-foto yang disertakan dalam laporan tersebut menunjukkan Helena sedang menghabiskan waktu bersama seorang pria asing di sebuah apartemen mewah di kawasan SoHo, pria yang belakangan diketahui bernama Marcus Kane, seorang pengusaha muda yang baru saja mewarisi kekayaan keluarganya yang begitu besar dari bisnis properti di New York.
Liam duduk diam di ruang kerjanya, menatap foto-foto tersebut satu per satu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan—bukan amarah meluap-luap seperti yang mungkin diperkirakan, melainkan sebuah ketenangan aneh yang justru semakin memperkuat kesadaran yang telah lama tumbuh dalam dirinya sejak mimpi tempo waktu yang menghantuinya.
"Jadi begini rupanya," gumamnya pelan, menatap salah satu foto yang menunjukkan Helena tertawa mesra sambil bersandar pada bahu Marcus Kane di sebuah restoran mewah, sebuah kemesraan yang tidak pernah lagi Helena tunjukkan kepadanya sejak beberapa minggu terakhir.
Namun alih-alih segera mengonfrontasi Helena begitu wanita itu kembali, sebuah pemikiran yang jauh lebih terkendali dan strategis mulai terbentuk dalam benak Liam.
Ia menyadari bahwa jika ia langsung menuduh Helena dengan bukti-bukti yang ia miliki, wanita itu kemungkinan besar akan segera berkelit dengan berbagai kebohongan yang telah lama menjadi keahliannya, atau bahkan segera menghilang sepenuhnya sebelum Liam benar-benar memahami seluruh kedalaman dari pengkhianatan yang telah terjadi.
"Aku perlu mengetahui seberapa jauh ini telah berlangsung," pikirnya, memutuskan untuk sementara waktu menyembunyikan pengetahuannya, berpura-pura tidak curiga sedikit pun ketika Helena akhirnya kembali menghubunginya.
...***...
Dua hari kemudian, Helena akhirnya mengirimkan pesan singkat kepada Liam, memberitahukan bahwa ia telah selesai memikirkan segalanya dan siap untuk kembali ke penthouse mereka guna melanjutkan pembicaraan yang tertunda. Liam membalas pesan tersebut dengan nada yang begitu hangat dan penuh pengertian, sebuah kontras yang begitu jauh dari kemarahan yang seharusnya ia rasakan setelah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
Ketika Helena akhirnya tiba di penthouse sore itu, ia tampak sedikit gugup, matanya menatap Liam dengan hati-hati seolah mencoba membaca reaksi apa yang akan ia terima setelah kepergiannya yang begitu tiba-tiba seminggu lalu.
"Liam," ucapnya pelan, meletakkan tas tangannya di meja dekat pintu, "aku sudah memikirkan semuanya selama seminggu ini. Aku minta maaf telah pergi tanpa memberikan kabar yang jelas."
Liam menatapnya dengan senyum yang begitu tenang, menyembunyikan dengan sempurna kebenaran yang telah ia ketahui di balik ekspresi wajahnya yang begitu meyakinkan. "Aku juga minta maaf, Helena. Aku terlalu larut dalam masalah bisnis hingga mengabaikan perasaanmu. Aku sudah merenungkan banyak hal selama kau pergi."
Helena tampak sedikit terkejut dengan respons yang begitu lembut tersebut, mungkin telah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemarahan atau interogasi yang lebih keras. "Benarkah? Aku pikir kau akan sangat marah padaku."
"Tidak," jawab Liam, melangkah mendekat dan memeluk Helena dengan gerakan yang begitu meyakinkan meski di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang begitu dingin dan terkendali, jauh berbeda dari kehangatan yang ia tunjukkan di permukaan. "Aku menyadari bahwa aku memang perlu memberikan lebih banyak perhatian padamu, Helena. Mari kita mulai lagi dari awal."
Pelukan itu, meski tampak begitu tulus di mata Helena, sesungguhnya merupakan bagian dari sandiwara yang telah Liam rencanakan dengan begitu hati-hati. Ia menyadari bahwa dengan berpura-pura tidak mengetahui apa pun tentang perselingkuhan tersebut, ia bisa mengamati lebih jauh pola perilaku Helena, mengumpulkan lebih banyak bukti, dan yang terpenting, memahami sepenuhnya sejauh mana kebohongan yang telah dibangun wanita itu selama berbulan-bulan terakhir ini.
"Bagaimana kalau kita makan malam bersama malam ini?" tawar Liam, mempertahankan nada suaranya yang tetap hangat dan penuh perhatian. "Seperti yang selalu kau inginkan sebelumnya."
Wajah Helena langsung berbinar mendengar tawaran itu, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik senyum tulus Liam, tersembunyi pengamatan yang begitu tajam dan terkendali. "Aku suka ide itu, Liam! Aku akan segera bersiap-siap."
Selama makan malam mereka di restoran mewah favorit Helena malam itu, Liam dengan sengaja mengajukan berbagai pertanyaan ringan tentang bagaimana Helena menghabiskan waktunya selama seminggu terakhir, mendengarkan dengan seksama setiap kebohongan yang keluar dari mulut wanita tersebut tentang bagaimana ia menghabiskan waktu bersama teman-temannya, merenungkan hubungan mereka, dan mencoba menemukan kejernihan pikiran—semuanya jauh dari kebenaran yang sesungguhnya tentang waktu yang ia habiskan bersama Marcus Kane.
"Aku benar-benar senang kau memberikan kesempatan kedua untuk hubungan kita, Liam," ucap Helena sambil menggenggam tangan Liam di atas meja, matanya berbinar penuh kepuasan menyaksikan betapa mudahnya ia berhasil meyakinkan Liam tentang ketulusannya.
Liam tersenyum, menggenggam balik tangan Helena dengan lembut, meski di dalam hatinya, setiap kata dusta yang keluar dari mulut wanita itu semakin memperkuat kesadaran yang telah lama tumbuh dalam dirinya sejak beberapa minggu terakhir, bahwa Helena yang ia kenal sekarang benar-benar jauh berbeda dari sosok yang dulu ia idealkan dengan begitu romantis selama bertahun-tahun perpisahan mereka.
"Aku juga senang kita bisa memperbaiki semuanya," jawab Liam, suaranya begitu meyakinkan hingga Helena sama sekali tidak curiga bahwa di balik kata-kata manis tersebut, tersimpan sebuah rencana yang jauh lebih kompleks dan terkendali.
Sepanjang malam itu, Liam terus mempertahankan sandiwaranya dengan begitu sempurna, memperlakukan Helena dengan kelembutan dan perhatian yang bahkan melampaui apa yang pernah ia tunjukkan sebelumnya, sebuah strategi yang ia yakini akan membuat Helena semakin lengah dan percaya diri, sehingga memudahkannya untuk mengumpulkan lebih banyak informasi tentang seluk-beluk pengkhianatan yang telah terjadi.
Ketika mereka akhirnya kembali ke penthouse malam itu, dan Helena tertidur dengan tenang di sampingnya, merasa yakin bahwa hubungan mereka telah sepenuhnya pulih, Liam berbaring dalam kegelapan dengan mata terbuka, pikirannya dipenuhi berbagai rencana dan strategi tentang bagaimana ia akan mengungkap kebenaran secara penuh sebelum akhirnya mengambil tindakan yang tepat.
"Bermainlah sepuasmu, Helena," bisiknya pelan dalam hati, menatap langit-langit kamar dengan ekspresi yang jauh lebih dingin dan terkendali dibandingkan sandiwara hangat yang telah ia tunjukkan sepanjang malam itu. "Tapi aku akan memastikan aku mengetahui setiap detail kebohonganmu, sebelum aku memutuskan langkah selanjutnya yang harus kuambil."