Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Keheningan di kamar VIP itu makin tebal, berganti menjadi ketegangan yang meremukkan dada. Denting jarum jam seolah mati, hanya menyisakan gemuruh degup jantung Aluna yang terancam meledak.
Ibu jari Hayden terangkat, meraba garis teks cetak tebal di lembar laporan laboratorium. Rahang tegapnya yang tajam menegang seketika, dan sorot mata kelamnya membeku kaku di atas kertas tersebut.
Di seberangnya, Suster Maya menunduk dalam-dalam, memilin jemarinya dengan napas tertahan, sementara Dokter Siska berdiri canggung menanti respons dari sang pemilik kekuasaan.
Aluna memejamkan mata rapat-rapat, meremas seprai rumah sakit hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Dalam hati, ia terus menjerit memohon agar penderitaannya tak ditambah dengan kehadiran sebuah nyawa baru hasil dari perbuatan jahat pria itu.
Hayden perlahan menurunkan lembaran kertas itu. Tatapannya terangkat, mengarah lurus ke tempat Aluna terbaring. Wajah pria itu tidak menunjukkan senyuman kepuasan, namun kilatan posesif yang gelap dan sukar diartikan justru semakin pekat di matanya.
"Negatif," ucap Hayden datar, suaranya dingin tanpa intonasi. "Kadar HCG normal. Tidak ada tanda-tanda kehamilan."
Detik itu juga, seluruh pasokan udara seolah kembali membanjiri paru-paru Aluna. Suara bisikan 'negatif' itu bergaung menyelamatkan jiwanya dari jurang kegilaan. Aluna menghembuskan napas panjang yang gemetar, membiarkan tubuhnya yang lemas terkulai pasrah di atas kasur. Ia sempat melirik singkat ke arah Suster Maya, mendapati suster muda itu mengangguk tipis—sebuah isyarat samar bahwa bantuan terselubungnya telah berhasil mengecoh bahaya terbesar.
Namun, kelegaan Aluna tak bertahan lama.
Hayden melipat kertas laporan itu dengan tenang, lalu menyerahkannya kembali kepada Dokter Siska. "Dokter, pastikan kondisi fisiknya pulih dalam dua hari. Suplai vitamin terbaik dan rawat luka di tangannya."
"Baik, Tuan Hayden. Kami permisi dulu," pamit Dokter Siska seraya membungkuk sopan, disusul Suster Maya yang melangkah keluar membelakangi mereka.
Setelah pintu bergeser kaku dan mengunci otomatis, Hayden kembali melangkah mendekati sisi tempat tidur. Bayangan tubuh tegapnya kembali menutupi Aluna dari pendar cahaya lampu.
"Kamu merasa lega, Aluna?" tanya Hayden rendah, menyunggingkan senyum tipis yang sarat ancaman beracun.
Aluna tidak menjawab, memilih memalingkan wajahnya menatap dinding putih.
Hayden membungkuk, menumpukan sebelah tangannya di samping kepala Aluna, membuat Aluna terkurung rapat. Pria itu menyapu beberapa helai rambut yang menempel di dahi dingin Aluna dengan sentuhan yang amat lembut, bertolak belakang dengan kejamnya kalimat yang meluncur dari bibirnya.
"Hari ini hasil tesmu memang negatif," bisik Hayden tepat di samping telinganya, begitu pelan namun sanggup menghentikan detak jantung Aluna seketika. "Tapi jangan bersenang-senang dulu. Kamu pikir setelah kamu keluar dari rumah sakit ini, aku akan melepasmu begitu saja?"
*
Aluna membeku. Ketakutan baru yang tak kalah mengerikan kembali menyengat seluruh sel sarafnya.
"Aku akan membawamu kembali ke mansionku," lanjut Hayden dengan nada mutlak, mengikis sisa-sisa harapan Aluna tanpa ampun. "Dan kita punya banyak waktu untuk memastikan benihku benar-benar tertanam di sana. Kamu tidak akan pernah bisa lari dariku, Aluna. Tidak selamanya kamu bisa beruntung."
Aluna memutar kepalanya perlahan, menatap lurus ke dalam iris mata kelam Hayden. Tidak ada lagi lelehan air mata atau getaran ketakutan di wajahnya yang pucat pasi. Rasa trauma dan keputusasaan yang meluap sejak semalam kini menjelma menjadi gumpalan kebencian yang dingin dan keras. Pertahanannya tidak lagi dibangun dari rasa takut, melainkan dari tekad nekat untuk menghancurkan keangkuhan pria di hadapannya.
"Setelah aku keluar dari rumah sakit ini, kita tidak punya hubungan apa-apa lagi, Hayden," ucap Aluna dengan suara datar namun tegas, menekankan setiap kata tanpa sedikit pun keraguan.
Hayden tidak bergerak. Posisi tubuhnya masih mengurung Aluna, namun alisnya bertaut tipis mendengar ketenangan abnormal yang keluar dari bibir gadis itu.
"Soal seluruh biaya rumah sakit, operasi, dan pengobatan Kak Romeo sampai dia sembuh..." Aluna jeda sejenak, menatap Hayden dengan senyum tipis yang sarat akan cemoohan. "...anggap saja malam itu adalah bayarannya. Kamu sendiri yang berjanji malam itu, bukan? Bahwa kamu akan menanggung seluruh hidup kakakkku jika aku menyerahkan diriku padamu. Dan sekarang, aku menagih janji itu. Transaksi kita sudah selesai."
Keheningan menyergap ruangan tersebut. Hayden tetap membisu, rahangnya mengeras kaku. Iris matanya yang serapi es menatap Aluna tajam, mencoba membaca jalan pikiran gadis yang baru saja menyebut malam kehancurannya sebagai sebuah transaksi jual beli.
Melihat Hayden yang hanya diam, Aluna menghembuskan napas pendek, lalu melipat kedua tangannya di atas dada. Tatapan matanya berganti menjadi begitu percaya diri dan penuh tantangan.
"Kenapa? Kamu masih menginginkan tubuhku?" tanya Aluna dengan nada santai namun merendahkan, sengaja menginjak-injak harga dirinya sendiri demi memukul balik keangkuhan Hayden. "Kalau kamu masih haus dan ingin menyentuhku lagi setelah ini... kamu harus bayar lebih mahal lagi, Hayden. Aku bukan lagi model gratisanmu. Sebutkan hargamu, dan kita buat perjanjian baru."
Kata-kata itu terlempar bagai tamparan keras di udara. Aluna menantang iris mata kelam Hayden tanpa berkedip, menunjukkan bahwa ia tidak akan lagi membiarkan dirinya dihancurkan secara cuma-cuma oleh obsesi gila sang seniman Mahendra.
Kata-kata Aluna menggantung di udara, tajam dan dingin. Ia tidak lagi menjadi Aluna yang gemetar ketakutan atau pasrah ditindas. Keberanian nekat ini lahir dari tempat yang paling gelap di dalam dirinya: rasa lelah yang telah berubah menjadi mati rasa total.
*
Setelah percobaan bunuh dirinya gagal, Aluna menyadari satu hal yang teramat pahit—Hayden tidak akan pernah membiarkannya mati, dan Hayden tidak akan pernah melepaskannya selama ia memosisikan diri sebagai korban yang lemah. Pria itu memberi makan obsesinya dari air mata, ketakutan, dan penderitaan Aluna.
Maka, jika ia ingin bertahan hidup dan melindungi sisa kehormatan kakaknya, ia harus menghancurkan fondasi permainan gila Hayden. Dengan mengubah hubungan mereka menjadi transaksi bisnis yang murahan dan gamblang, Aluna sedang menyerang balik keangkuhan Hayden sebagai seorang Mahendra dan seniman yang selalu berpura-pura menjadi "penyelamat".
Hayden membeku. Cengkeramannya di sisi ranjang mengerat hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Iris mata kelamnya berkilat oleh amarah yang pekat, bertolak belakang dengan ketenangan abnormal Aluna.
"Kamu... menjual dirimu padaku, Aluna?" bisik Hayden rendah, suaranya serak dan sarat akan ancaman yang berbahaya.
"Bukan menjual diri, Hayden," potong Aluna cepat dengan senyum dingin tanpa beban di bibirnya yang pucat. "Bukankah dari awal kamu yang memulainya? Kamu membeli tubuhku untuk lukisanmu, kamu membayar pengobatan Kak Romeo sebagai imbalannya. Aku hanya memperjelas posisi kita agar kamu tidak perlu berakting seolah kamu pemilik jiwaku."
Aluna merapikan selimutnya dengan satu tangan yang tidak terikat perban, lalu menatap Hayden lurus tanpa ada sedikit pun riak ketakutan.
"Kamu pria kaya raya yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, kan?" lanjut Aluna, nadanya begitu merendahkan hingga menusuk tepat di pusat keangkuhan Hayden. "Jadi, kalau kamu mau menggunakan tubuhku lagi sebagai pelampiasan obsesimu, bayar aku. Tentukan angkanya. Tapi jangan pernah berharap kamu bisa mendapatkan hatiku, rasa hormatku, atau air mataku lagi. Transaksi kita murni uang dan tubuh."
Ruang VIP itu mendadak menjadi sangat dingin. Hayden melangkah maju satu pukulan cepat, membungkuk kaku hingga hembusan napasnya yang panas memburu di pipi Aluna.
"Kamu pikir kamu bisa memprovokasiku dengan cara menjijikkan seperti ini, Aluna?" tegap Hayden, rahangnya mengeras hebat menahan amarah yang membakar. "Kamu pikir dengan menyebut dirimu sendiri sebagai barang dagangan, aku akan merasa bersalah dan melepaskanmu?"
"Aku tidak butuh rasa bersalahmu," sahut Aluna datar, matanya bergeming menatap balik mata Hayden yang membara. "Aku cuma menagih janji dan menetapkan aturan main baru. Kalau kamu keberatan dengan hargaku... keluar dari kamarku dan jangan pernah temui aku lagi."
*
*
*