Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Lampu-lampu kota Jakarta berkilau seperti hamparan berlian berserakan di bawah sana, terlihat jelas dari dinding kaca setinggi langit-langit yang mendominasi ruang tengah penthouse mewah milik Langit Prita Dewanta.
Namun, bagi sang pemilik, kilau di luar sana sama sekali tidak sebanding dengan ketegangan yang mendadak merayap di dalam dadanya. Langit yang terkenal dengan tangan besinya di dunia korporasi, malam itu merasa seperti seorang amatir.
Gaun pengantin satin putihnya yang elegan masih melekat di tubuh, meliuk indah namun terasa mencekik.
Ia berjalan mondar-mandir di atas karpet beludru abu-abu, sesekali melirik pintu utama.
Malam ini adalah malam setelah pesta pernikahan mereka yang super mewah. Pernikahan yang menjadi tajuk utama di berbagai media bisnis dan entertainment.
Cklek.
Pintu terbuka. Sosok tinggi tegap melangkah masuk dengan santai, membawa sebuah koper hitam sederhana.
Bumi. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas tampak lelah, namun sepasang matanya yang tajam tetap terlihat tenang, seolah dia baru saja pulang dari bengkel, bukan dari hotel bintang lima tempat resepsi miliaran rupiah diadakan.
Langit menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ada kecanggungan yang luar biasa yang tiba-tiba menyergapnya.
"Bumi," panggil Langit, berusaha mempertahankan nada suara otoriter yang biasa ia gunakan di ruang rapat.
"Kita perlu bicara. Ada beberapa hal yang harus kita perjelas malam ini. Tentang batasan dan apa yang terjadi di pesta pernikahan tadi."
Bumi menoleh, menatap Langit dengan sebelah alis terangkat. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sulit diartikan. "Mau bicara di jam satu malam begini? Apa kamu tidak capek pakai gaun seberat itu dari sore, Langit?"
Bumi berjalan mendekat, meletakkan kopernya di dekat sofa besar berbentuk L yang berada di tengah ruangan.
Ia lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa empuk itu, menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata sejenak.
Kehadirannya yang kasual terasa kontras dengan kemewahan interior penthouse tersebut.
"Kalau yang kamu maksud batasan adalah aturan tertulis di kontrak pranikah kita, aku ingat betul semuanya," ucap Bumi tanpa membuka mata. "Tapi kalau yang kamu maksud adalah ciuman intens di depan ratusan pasang mata tadi_"
Bumi membuka matanya, menatap lurus ke dalam manik mata Langit. "Bukankah itu yang diinginkan media? Menampilkan kemesraan yang sempurna?"
Langit mendengus, melipat kedua tangannya di dada. "Itu berlebihan, Bumi. Kesepakatannya adalah kecupan formal untuk formalitas publikasi. Tapi yang kamu lakukan tadi, kamu menarik pinggangku terlalu dekat. Itu di luar skenario."
"Tadi itu namanya improvisasi. Kamu lihat muka si Galang? Sudah seperti kepiting rebus siap saji. Dan pamanmu yang terhormat itu? Sampai melotot seperti mau copot matanya. Kalau aku cuma mengecup keningmu seperti anak TK pamit pergi sekolah, mereka tidak akan percaya kalau kita ini saling cinta." Bima menjelaskan dengan logikanya.
"Tapi tidak perlu se-intens itu juga, Bumi" potong Langit, melipat tangannya di dada untuk menutupi rasa canggungnya.
"Intens?" Bumi terkekeh, suara tawanya terdengar renyah dan seksi di keheningan malam.
"Itu standar, Langit. Kalau mau yang benar-benar intens, kita tidak akan bahas ini sambil berdiri berjarak tiga meter."
"Tapi aku tidak suka kehilangan kendali!" potong Langit cepat. Matanya berkilat menahan kesal, sekaligus menyembunyikan getaran aneh yang menjalar di punggungnya setiap kali mengingat bagaimana bibir pria itu menyapu miliknya dengan kehangatan yang terasa terlalu nyata untuk sebuah kepura-puraan.
"Jadi, CEO Dewanta group sempat kehilangan kendali?" Sahut Bima, tatapanya lurus menembus manik mata wanita yang sepertinya terkejut dengan pertanyaannya.
Langit tertegun. Wajahnya semakin merah padam. "Bumi! Ingat batasan!"
"Iya, iya, aku ingat, ibu CEO" Bumi mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah dengan gaya cool-nya yang khas.
"Kontrak pasal 4: Tidak ada kontak fisik berlebihan tanpa persetujuan tertulis atau kebutuhan mendesak di depan publik. Tadi itu masuk kategori kebutuhan mendesak. Jadi, tenang saja. Saya tidak akan mendadak menuntut hak istimewa di kamar tidur." Bumi seperti sedang membacakan kembali pasal-pasal kontrak pernikahannya.
"Hem, terimakasih sudah mengingatnya" balas Langit.
Lalu Bumi melanjutkan ucapannya lagi,
"Di duniaku, saat mesin mobil berulah, tidak ada waktu untuk membaca buku petunjuk. Kita harus bergerak sesuai insting," bisik Bumi saat posisinya kini hanya berjarak satu langkah dari Langit.
Aroma parfum maskulin bercampur samar wangi maskulin khasnya sendiri menyeruak ke indra penciuman Langit. "Tadi itu insting, Langit. Untuk meyakinkan dunia bahwa kamu milikku, dan aku milikmu. Setidaknya untuk enam bulan ke depan."
Begitulah Bumi menjelaskan dengan sangat cepat namun masih bisa di cerna dengan baik oleh langit.
Mendengar penegasan itu, entah mengapa ada sedikit rasa lega, namun ada juga secuil rasa aneh yang tidak bisa Langit jelaskan di sudut hatinya.
Mungkin sebuah harapan suatu saat apa yang di katakan bumi berbanding terbalik dengan kenyataan, tapi entahlah, batin Langit.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu berjalan mendekati sofa dan duduk di ujung satunya, menyisakan jarak yang cukup lebar di antara mereka.
"Bagus kalau kamu ingat," gumam Langit, bahunya akhirnya sedikit rileks. "Aku hanya tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita."
Bumi memperhatikannya. Dari atas sampai bawah. Gaun mewah yang melekat di tubuh Langit memang indah, tapi Bumi bisa melihat betapa tidak nyamannya wanita itu.
"Kamu mau tetap berdiri kaku begitu sampai pagi, atau mau melepaskan konde dan semua jarum di kepalamu itu? Kelihatannya berat sekali, seperti membawa beban utang perusahaan."
Langit spontan menyentuh rambutnya yang disanggul rapi. "Ah_ini, Iya, rasanya kepalaku mau pecah."
"Sini," kata Bumi tiba-tiba, bergeser mendekati Langit.
Langit langsung waspada, tubuhnya menegang. "Mau apa?"
"Buka jarumnya, Memangnya kamu bisa raih bagian belakang kepalamu sendiri tanpa merusak rambut atau menusuk jarimu?" Bumi mendengus pelan, tangannya sudah bergerak ke belakang kepala Langit sebelum wanita itu sempat memprotes lagi.
Sentuhan jari-jari Bumi yang kapalan namun terasa hangat dan luar biasa lembut di kulit kepalanya membuat Langit terdiam. "Ya Tuhan apa ini" batin Langit.
Keheningan kembali merayap, namun kali ini bukan keheningan yang mencekam, melainkan keheningan yang dipenuhi oleh debaran aneh.
Lagi-lagi, langit bisa merasakan kecupan hangat bibir Bumi masih melekat kuat di bibirnya yang tanpa sadar di sentuh sendiri.
Bumi yang melihat hal itu, mengerutkan keningnya, khawatir akan sesuatu.
"Apa aku melakukannya terlalu kuat?"
"Apa?" Langit tersentak ,dan segera menurunkan tangannya.
"Apa bibirmu terluka?, sakit?" Tanya Bumi lagi.
"Tidak-tidak, aku tidak apa-apa, aku hanya_"
"SUKA?"
Ya ampun demi apa, kata-kata Bumi semakin tidak bisa mengkondisikan otaknya, dan langit hanya diam, berbalik tak menjawab lagi perkataanya, Bumi semakin membuat nya lelah saja, lelah yang indah, batinnya.
Ehem, yang makin gemas sama mereka berdua, yuk pada komen ya, jangan lupa LIKE dan HADIAH nya.