Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pukul 06:00 pagi. Matahari belum sepenuhnya naik, menyisakan langit Jakarta dalam gradasi ungu dan abu-abu yang suram. Di safe house Puncak, Reyna tidak tidur. Ia duduk di depan jendela besar, menatap hutan pinus yang masih diselimuti kabut. Secangkir kopi hitam yang ketiga sudah dingin di tangannya.
"Kau harus tidur, Nona," suara Vincent terdengar dari ambang pintu. Pria paruh baya itu kini terlihat jauh lebih tua, dengan perban di kepalanya dan kantung mata yang gelap. "Kita sudah mengamankan bukti dari Tanjung Priok. Bareskrim sedang menyita aset Raka di seluruh dunia. Dia sudah tidak bisa..."
"Dia bisa banyak hal, Vincent," potong Reyna, tidak menoleh dari jendela. "Raka bukan tipe yang menyerah hanya karena kehilangan uang. Dia adalah tipe yang akan membakar seluruh dunia hanya untuk melihatku hangus di dalamnya."
Vincent menghela napas, melangkah masuk dan duduk di sofa di belakang Reyna. "Apa yang kau khawatirkan? Pulau itu terisolasi. Interpol sudah memblokir semua jalur keluar. Raka tidak bisa..."
"Dia tidak perlu datang sendiri," balas Reyna, akhirnya berbalik menatap Vincent. Matanya yang lelah masih menyala dengan kewaspadaan yang intens. "Maya. Maya masih bebas. Dan dia tahu bahwa RUPSLB darurat Arland Group akan diadakan siang ini. Dia tahu aku harus muncul di Jakarta untuk mempertahankan posisiku di depan dewan direksi."
Vincent terdiam, menyadari kebenaran dalam kata-kata Reyna. RUPSLB darurat yang dipanggil oleh komisaris yang masih loyal pada Richard akan dimulai pukul 10:00 pagi di kantor pusat Arland Group. Jika Reyna tidak muncul, ia akan dicopot secara otomatis dari jabatannya.
"Kau tidak harus pergi sendiri," ucap Vincent pelan. "Kita bisa mengadakan RUPSLB secara virtual. Atau kita bisa menundanya dengan alasan keamanan..."
"Tidak," tolak Reyna tegas. "Jika aku bersembunyi, Raka akan tahu dia berhasil membuatku takut. Para direksi akan melihat itu sebagai kelemahan. Mereka akan berbalik melawanku. Aku harus muncul di kantor pusat, berdiri di atas panggung, dan menunjukkan bahwa aku tidak takut pada hantu mana pun."
Reyna berdiri, merapikan setelan jas hitamnya. "Tapi aku tidak akan pergi sendirian. Gavin, hubungi tim keamananmu. Aku butuh enam orang, bukan dua. Dan pastikan mereka membawa peralatan yang cukup untuk menghadapi mantan operatif MI6."
Gavin, yang sedang berdiri di sudut ruangan sambil merokok, mengangguk. "Aku akan hubungi mantan rekan lamaku di SAS. Mereka sekarang bekerja sebagai kontraktor keamanan swasta di Singapura. Mereka bisa berada di Jakarta dalam dua jam."
"Bagus. Vincent, siapkan mobil lapis baja. Dan Nadia..." Reyna menoleh pada gadis muda yang masih duduk di depan komputer, "pastikan seluruh sistem keamanan di gedung Arland Group berada di bawah kendali langsungmu. Tidak ada kamera yang boleh mati, tidak ada pintu yang boleh terbuka tanpa otorisasi darimu."
Nadia mengangguk serius. "Siap, Nona. Saya akan memonitor setiap sudut gedung secara real-time."
***
Pukul 08:30 pagi. Bandara Halim Perdanakusuma.
Sebuah pesawat pribadi mendarat di landasan yang jauh dari terminal utama. Tidak ada manifest penumpang. Tidak ada catatan kedatangan. Hanya sebuah pesawat hitam tanpa logo yang meluncur di landasan dan berhenti di hangar terpencil.
Pintu pesawat terbuka. Seorang wanita melangkah keluar.
Maya.
Ia tidak lagi mengenakan gaun malam atau pakaian taktis. Kali ini, ia mengenakan seragam staf kebersihan gedung Arland Group. Rambutnya diikat rapi dalam kuncir kuda, dan wajahnya dipoles dengan riasan tipis yang membuatnya terlihat seperti wanita paruh baya yang lelah dan tidak mencurigakan.
Di tangannya, terdapat sebuah troli peralatan kebersihan yang besar. Di dalam troli itu, tersembunyi sebuah senapan runduk yang bisa dibongkar menjadi tiga bagian, dua pistol berperedam, dan empat granat asap.
Sebuah mobil van putih sudah menunggu di samping pesawat. Seorang pria bertubuh besar dengan wajah yang dipenuhi bekas luka membuka pintu belakang.
"Selamat datang kembali di Jakarta, Maya," ucap pria itu dengan aksen Rusia yang kental. "Tuan Raka mengirim salam. Dia ingin kepala gadis itu di mejanya sebelum tengah malam."
Maya tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk singkat dan melangkah masuk ke dalam van. "Berikan aku denah gedung Arland Group yang terbaru. Dan pastikan semua jalur evakuasi dari lantai lima puluh tidak dijaga oleh keamanan Reyna."
Pria itu menyerahkan sebuah tablet. "Gedung itu sekarang seperti benteng. Reyna membawa enam orang kontraktor asing. Mereka berjaga di setiap pintu masuk dan keluar. Tapi aku punya seseorang di dalam. Seseorang yang masih setia pada Tuan Richard."
Maya menatap layar tablet itu, matanya memindai denah gedung dengan kecepatan luar biasa. "Siapa?"
"Sekretaris pribadi Tuan Richard. Namanya Linda. Dia masih memiliki akses ke seluruh lantai, termasuk lantai lima puluh. Dia yang akan membukakan pintu darurat untukmu."
Maya mengangguk. "Bagus. Tapi ingat, tidak ada saksi. Gadis itu harus terlihat seperti bunuh diri. Tekan pelatuknya dari jarak jauh. Jangan biarkan ada yang melihat wajahmu."
Van itu melaju meninggalkan bandara, menghilang ke dalam lalu lintas pagi Jakarta yang padat.