Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.
"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."
Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni SMA Penuh Kejutan
Sebuah pesan singkat di grup alumni SMA mengejutkan Elara di pagi hari. Undangan reuni angkatan yang digelar di sebuah restoran mewah kawasan Jakarta Selatan mendadak ramai dibicarakan. Awalnya Elara enggan datang, mengingat masa-masa SMA bukanlah kenangan manis baginya.
Dulu, dia sering menjadi bahan cemoohan Siska, gadis kaya sombong yang hobi merundung. Serta Rian, mantan ketua OSIS yang dulu disukainya, lalu menjauh setelah termakan fitnah Siska bahwa Elara gadis matre.
Namun, Arka yang tak sengaja membaca pesan di telepon pintar istrinya justru mendorong Elara untuk hadir.
"Kamu datang saja, Sayang," ujar Arka seraya membetulkan kerah kemeja Elara di depan cermin besar.
"Tapi, Mas, Ara malas ketemu Siska. Nanti dia pasti pamer lagi atau ngatain Ara," adu Elara, seraya memanyunkan bibirnya.
Arka tersenyum tipis, merengkuh pinggang Elara dari belakang dan menatap pantulan mereka di cermin. "Dulu kamu tidak punya siapa-siapa untuk membela kamu. Tapi sekarang, kamu punya saya. Kamu datang, dan tunjukkan siapa kamu sebenarnya."
"Mas Arka ikut?" mata Elara berbinar.
"Tentu saja," bisik Arka tegas di telinga Elara, dengan kilatan posesif yang tak tertutup. "Saya tidak akan membiarkan ada laki-laki dari masa lalu kamu yang berani menatap kamu terlalu lama."
Restoran bergaya modern itu sudah dipenuhi para alumni. Elara melangkah masuk mengenakan gaun simpel berwarna krem yang sangat elegan, dipadukan dengan perhiasan berlian halus yang dipilihkan langsung oleh Arka.
Baru beberapa hitungan langkah menuju ke dalam ruangan, suara melengking khas Siska sudah menyambutnya.
"Lho, Elara? Ya ampun, datang juga kamu!" seru Siska dengan nada meremehkan. Dia berjalan mendekat, menggandeng tangan suaminya yang bersetelan jas biasa. "Gimana kabarmu, Ra? Dengar-dengar, kamu belum kerja, ya? Yah, maklum, sih. Zaman sekolah dulu aja kamu emang serba kekurangan. Beda sama aku."
"Oh, ya, kenalin ini suamiku. Dia manajer di anak perusahaan kontraktor lho!"
Elara hanya tersenyum tipis, memilih tidak menanggapi provokasi tersebut.
Tak jauh dari sana, Rian, pria bersetelan rapi yang dulu disukai Elara, melangkah mendekat. Matanya menatap Elara tanpa kedip, terpesona oleh kecantikan Elara yang kini memancar dewasa dan jauh lebih anggun.
"Elara, kamu makin cantik aja," ucap Rian dengan nada penuh penyesalan. "Soal masa lalu, aku minta maaf, ya, Ra. Aku baru tahu kalau dulu Siska cuma memfitnah kamu. Seandainya dulu aku nggak percaya sama rumor itu, mungkin cerita kita..."
"Cerita apa yang kamu maksud?"
Sebuah suara berat, dingin, dan penuh aura intimidasi memotong ucapan Rian seketika.
Udara di sekitar meja itu mendadak membeku. Arka melangkah mendekat dengan setelan jas custom-made yang sangat mewah, memancarkan wibawa pimpinan tertinggi yang tak tertandingi. Langkah kakinya begitu tenang, namun tatapan matanya menancap tajam tepat ke arah Rian.
Arka tanpa ragu melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Elara, menarik tubuh istrinya rapat-rapat ke sisi tubuhnya. Dikecupnya pelipis Elara dengan santai, tetapi sarat akan klaim kepemilikan.
Siska membelalak kaget sampai hampir menjatuhkan gelas minumannya. "P-Pak Arka Valora?! CEO Valora Group?!"
Suami Siska yang berdiri di sampingnya seketika pucat pasi, refleks menundukkan kepala dalam-dalam. "S-Selamat malam, Pak Arka. Anda pimpinan tertinggi di tempat perusahaan kami bernaung."
Rian membatu di tempatnya. Tenggorokannya terasa tercekat melihat sosok pria di hadapannya yang levelnya bak langit dan bumi dibanding dirinya.
Arka menatap Siska dan Rian bergantian dengan pandangan merendahkan. "Istri saya memaafkan kebodohan kalian di masa lalu, bukan karena kalian pantas diampuni. Tapi, karena dia terlalu baik untuk menyimpan dendam pada orang-orang kecil yang sombong seperti kalian."
Arka membalikkan badan menatap Elara. Raut wajah dinginnya seketika melunak berganti kehangatan yang amat pekat. "Sudah cukup reuniannya, Sayang? Suamimu ini mulai gerah melihat ada pria yang menatap kamu dengan tatapan kagum."
Pipi Elara memerah. Perasaan bahagia membuncah, melihat bagaimana Arka membela dan memperlakukannya bagaikan ratu, di depan orang-orang yang dulu merendahkannya.
"Iya, Mas Arka. Kita pulang sekarang, ya," bisik Elara manis, memeluk lengan Arka erat-erat di hadapan semua kawan alumninya yang terpana tanpa kata.
Di sisi lain, Siska menatap gusar sambil mengeraskan kepalan tangannya. Bagaimana mungkin, orang yang selalu dia rendahkan, kini statusnya jauh di atas dirinya. Kesombongan yang dia lontarkan menjadi senjata yang memakan dirinya sendiri.
"Sial! Gimana dia bisa sehoki itu?" keluhnya pelan.
Elara yang belum melangkah jauh, memutar badannya, lalu kembali menghampiri Siska. Langkahnya anggun, dadanya tegap, tatapannya lurus dan meyakinkan.
Siska gemetar. Tanpa sadar kakinya bergeser mundur teratur. Gelas minuman yang digenggamnya nyaris tumpah mengenai gaun yang dikenakan.
"Orang-orang berubah, Siska. Begitupun aku, nasibku, keberanian, bahkan status dan keadaanku. Merendahkan orang lain tidak membuatmu lebih tinggi. Itu hanya menunjukkan di mana posisimu berdiri," ujar Elara tenang, namun menohok tepat di jantung Siska.
Siska tak membalas, tapi sorot matanya tak bisa menyembunyikan amarah dan rasa malu. Sementara suaminya, hanya tertunduk tanpa bisa membela.
Arka tersenyum puas dari tempatnya berdiri. Ada rasa bangga dalam hatinya, melihat perubahan Elara dan mendengar apa yang baru saja diucapkannya. "Dia istriku," gumamnya.
Mereka meninggalkan ruangan. Menyisakan keheningan dan tatapan heran orang-orang. Antara takjub sekaligus bingung. Di antara semuanya, Siska satu-satunya orang yang merasa ditelan-jangi kebodohannya sendiri.