Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Tertukar Sang Mafia

Pengantin Tertukar Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Silvia

Sejak kematian ibunya, hidup Kayla berubah menjadi neraka. Diambil oleh keluarga paman yang serakah demi warisan yang menjadi haknya, gadis kecil itu tumbuh bukan sebagai keponakan, melainkan sebagai budak, samsak tinju, dan sasaran hinaan selama bertahun-tahun. Dunianya hanyalah ruang bawah tanah yang gelap dan lembap.

Lalu takdir mengetuk lewat cara yang paling kejam. Untuk menyelamatkan diri, keluarga itu menukar Kayla sebagai pengantin—menyerahkannya kepada Arkan Pratama, bos mafia paling ditakuti di kota, sebagai pengganti putri kandung mereka yang sesungguhnya. Malam pertama mereka mengungkap sebuah kebenaran yang mengubah segalanya: gadis rapuh penuh luka ini bukanlah perempuan yang Arkan kira.

Lelaki yang datang untuk membalas dendam justru menemukan sesuatu yang tak pernah ia cari—seseorang yang ingin ia lindungi dengan segenap kegelapannya. Sementara Kayla perlahan belajar mengeja dunia, tertawa, dan mencintai, roda pembalasan mulai berputar. Dan mereka yang pernah memadamkan cahayanya… akan segera menuai ganjaran setimpal.

Bisakah cinta menyembuhkan jiwa yang telah remuk? Dan seberapa jauh seorang mafia rela melangkah demi perempuan yang menangis air mata jiwa untuk sampai kepadanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perkenalan

Surabaya, 10 April 2013. Renata Halim akhirnya kalah dalam pertarungannya melawan kanker. Namun, selama napasnya masih tersisa, yang paling menyiksa hatinya bukan penyakit itu, melainkan masa depan yang menanti putri kecilnya yang baru berusia lima tahun. Suaminya telah tiada dua tahun lalu, dan satu-satunya kerabat dekat yang tersisa adalah saudara tiri Ruben, mendiang suaminya. Ia tak pernah mengenal lelaki itu, dan suaminya selalu berkata bahwa orang itu bukan orang baik.

Dalam keadaan seperti itu, pihak berwenang akan menempatkan si kecil di panti asuhan dan menunggu apakah ada kerabat yang datang mengklaimnya sebelum ia diserahkan untuk diadopsi.

JAKARTA

Ferdinand Sanjaya adalah pemilik sebuah kasino, tempat berbagai urusan gelap berlangsung, seperti pencucian uang, dan dari situlah sebagian besar pundi-pundi lelaki tiga puluh lima tahun itu mengalir. Selain itu, ia kerap bermain api dengan perempuan-perempuan yang bekerja di sana, ditambah kebiasaan menenggak minuman keras yang sudah tak terkendali.

Istrinya, Vera, seorang perempuan dingin, dangkal, dan angkuh, tahu betul apa yang dilakukan suaminya. Namun semua itu selalu ditebus dengan hadiah-hadiah mahal, begitu pula untuk putri mereka yang berusia lima tahun, Sasha, bocah yang di usia sedini itu sudah menunjukkan watak sombong dan suka merendahkan. Maka, apa pun yang diperbuat suaminya tak terlalu ia pusingkan, asalkan segala petualangan itu dijauhkan darinya. Ia sang istri, dan ia tak sudi teman-teman sosialitanya sampai mencium bau skandal.

Hari itu, saat memeriksa surat-surat yang masuk, Ferdinand menemukan sebuah amplop yang ditujukan atas namanya. Aneh, sebab jarang ada yang menulis atau mengiriminya pesan lewat pos biasa. Semuanya selalu elektronik.

Vera meliriki benda yang dipegang suaminya.

"Ada yang penting?" tanya perempuan itu, sedikit tertarik.

"Entah apa urusanku dengan kematian istri saudara tiriku." Ferdinand menunjukkan amplop yang sudah terbuka itu.

"Saudara tirimu yang jutawan itu—istrinya sudah mati juga." Vera mendengus, tak paham apa maksudnya. "Mereka pikir kau akan datang menguburkannya atau apa?" Lalu ia tersenyum, seakan tiba-tiba teringat sesuatu.

"Ferdinand, aku ingat kau pernah bilang saudaramu punya seorang putri yang seumur dengan Sasha kita."

Saat itu juga, pikiran keduanya menyatu di satu titik. Ferdinand kembali merebut surat itu dan membacanya sekali lagi.

"Yang terhormat Bapak Ferdinand Sanjaya, kami menghubungi Anda dengan harapan Andalah orang yang kami cari… Nyonya Renata Halim meninggal beberapa hari yang lalu. Ada satu keluarga yang berniat mengadopsi gadis kecilnya, tetapi lebih dahulu kami ingin memastikan bahwa satu-satunya kerabat yang ia miliki tidak berkeberatan. Jika Anda berminat, Anda memiliki waktu lima belas hari kerja untuk mengklaimnya sebagai kerabat." Begitulah bunyi surat itu, tertulis dengan jelas.

"Kita berangkat sekarang juga. Surat ini tertahan setidaknya delapan hari, jadi kita harus bergegas sebelum uang sebanyak itu lepas dari tangan kita."

Keduanya saling pandang penuh persekongkolan, dengan senyum di bibir.

"Ayo kita jemput keponakanku." Ferdinand menambahkan sambil tersenyum—senyum yang bisa saja dibaca sebagai sesuatu yang mengerikan.

Vera selalu memegang satu keyakinan: uanglah yang menentukan derajat seseorang. Kalau kau miskin, kau memang pantas menunduk-nunduk pada mereka yang berpunya. Dingin, angkuh, dan hina—begitulah Vera Sanjaya.

Namun yang lebih buruk lagi, putri mereka yang baru berumur lima tahun adalah bocah yang tak tahu adab, semena-mena, dan manja terhadap para pelayan di rumah. Dengan mudah ia melontarkan kata-kata kotor yang seharusnya belum dikenal anak seusianya.

Esok harinya mereka berangkat dengan jet pribadi yang dipinjam Ferdinand dari salah satu rekan bisnis kasinonya. Ia terpaksa membayar cukup mahal, tetapi itu urusan sepele, pikirnya. Jika semua berjalan sesuai rencana, tak lama lagi uang akan mengalir bertumpuk-tumpuk ke tangannya.

Hari itu juga mereka tiba di kantor kepala panti asuhan.

"Boleh saya lihat kartu identitas kalian masing-masing?" pinta lelaki yang mengurus tempat itu.

Sasha sudah diwanti-wanti agar tidak mengucapkan sepatah pun kata kasar. Tapi menjinakkan bocah yang tak tahu aturan itu sungguh sebuah tantangan. Saat sang kepala panti masuk, Sasha justru sedang mengamuk—jenis tantrum yang membuat orang tua mana pun kebingungan meredakannya, situasi yang bisa menghancurkan segalanya.

Vera terpaksa membawa putrinya keluar sebelum keadaan lepas kendali di depan orang-orang, apalagi di hadapan sang kepala panti yang menatap mereka sambil mengernyitkan dahi.

"Dia putri Anda, saya kira?" tanya lelaki itu, memegang sebuah map berisi berkas.

Ferdinand harus mengarang dusta yang meyakinkan dengan cepat.

"Ya, tapi tadi dia gelisah karena ingin sekali bertemu sepupunya," dalihnya. "Begitu kami bilang dia harus menunggu, seperti itulah reaksinya."

Ia berharap alasan itu cukup bagus. Lelaki di hadapannya diam saja, jemarinya sibuk mengetik di komputer.

"Anda seorang pengusaha—tertulis begitu di sini?" tanya sang kepala panti sambil mencermati data.

Sampai titik ini, Ferdinand sudah berkeringat dingin. Kalau ada yang meleset, lenyaplah sudah uang yang sejak tadi diincarnya.

"Saya punya sebuah kasino dan sedang dalam proses mengambil alih satu lagi," jawabnya gugup, meski berusaha menyembunyikannya. "Itu salah satu bisnis yang paling menjanjikan saat ini." Ia berkata sambil melihat Vera kembali bersama Sasha yang sudah tenang.

"Baiklah, dokumennya sudah siap. Saya akan tetap berhubungan dengan kalian selama beberapa bulan ke depan untuk memastikan tidak ada kendala. Akan saya bawakan Kayla—dia gadis kecil yang sangat manis."

Ia mengangkat gagang telepon, memberi isyarat agar si kecil dibawa masuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!