Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Brak!
Meja kerja dari kayu mahoni itu dipukul dengan sangat keras oleh seorang wanita paruh baya.
Tante Rosalina Wegan berdiri dengan napas memburu dan wajah merah padam menahan marah.
"Apa maksudmu semua mandor tambang kita mogok kerja hari ini?!" bentak Rosalina pada asisten pribadinya.
"Maafkan saya, Nyonya Rosalina. Mereka tiba-tiba menuntut kenaikan gaji tiga kali lipat secara serempak," jawab asisten itu dengan tubuh bergetar.
"Pecat mereka semua sekarang juga! Cari pekerja baru yang mau dibayar murah hari ini juga!" perintah wanita tua yang memakai banyak perhiasan emas itu.
"Tidak bisa, Nyonya. Semua akses jalan menuju tambang sudah diblokir oleh puluhan preman bayaran," jelas asisten itu semakin ketakutan.
"Dan yang lebih parah, saham perusahaan pemasok alat berat kita anjlok drastis pagi ini," tambahnya sambil menyerahkan laporan di layar tablet.
Prang!
Rosalina melempar gelas kopi di atas mejanya hingga hancur berkeping-keping menghantam dinding ruangan.
Nafas wanita tua itu naik turun dengan sangat cepat melihat grafik saham perusahaannya yang menukik tajam berwarna merah.
"Siapa bajingan yang berani bermain-main dengan bisnis keluarga Wegan cabang milikku ini?!" teriak Rosalina menjambak rambutnya sendiri.
"Kami sedang menyelidikinya, Nyonya. Tapi sepertinya ada perusahaan raksasa yang sengaja memutus rantai pasokan kita," jawab asisten itu menundukkan kepala.
"Keluar kau dari ruanganku! Jangan kembali sebelum kau menemukan siapa dalang di balik semua kekacauan ini!" usir Rosalina menunjuk pintu keluar.
Asisten pria itu langsung berlari keluar dari ruangan direktur itu tanpa berani membantah sepatah kata pun.
Rosalina menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesarannya dan memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.
Wanita paruh baya itu selalu merasa dirinya adalah pebisnis paling hebat di ibu kota.
Tapi serangan beruntun yang menghancurkan perusahaannya hari ini terasa sangat sistematis dan menakutkan.
"Kenapa firasatku mengatakan ada yang tidak beres hari ini," batin Rosalina menggigit kuku jarinya yang dihias kutek mahal.
"Serangan bisnis secepat ini cuma bisa dilakukan oleh orang yang punya kekuasaan tak terbatas seperti keponakanku sendiri, Leon," gumamnya curiga.
Rosalina mengambil ponsel pribadinya dari dalam laci meja yang terkunci rapat.
Dia mencari sebuah nama kontak yang sudah sangat lama tidak dia hubungi selama beberapa bulan terakhir.
Nama kontak itu bertuliskan Suster Rini.
Tut... Tut... Tut...
Suara nada sambung terdengar cukup lama di telinga Rosalina.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."
Suara operator wanita dari telepon itu membuat Rosalina mengerutkan keningnya dengan perasaan was-was.
"Kenapa perawat rendahan ini mematikan ponselnya di jam kerja seperti ini," gerutu Rosalina mencoba menelepon sekali lagi.
Hasilnya tetap sama, ponsel Suster Rini benar-benar mati total tidak bisa dihubungi sama sekali.
Rosalina mulai merasa panik dan keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya.
Dia buru-buru mencari kontak lain yang dia simpan dengan nama rahasia Si Miskin Siska.
Itu adalah nomor telepon milik wanita yang membesarkan anak kandung Leon di kawasan kumuh.
Tut... Tut... Tut...
Lagi-lagi suara nada sambung terdengar sebelum akhirnya panggilan itu terputus dengan sendirinya.
Rosalina mencoba menelepon nomor Herman, suami Siska, tapi nomor pria pemabuk itu juga tidak aktif.
Tiga orang kunci yang mengetahui rahasia penukaran bayi enam tahun lalu tiba-tiba menghilang di hari yang sama.
Ini bukanlah sebuah kebetulan belaka di mata seorang pebisnis licik seperti Rosalina Wegan.
"Sialan! Pasti ada sesuatu yang terjadi pada mereka bertiga!" maki Rosalina melempar ponselnya ke atas meja.
"Jangan bilang Leon sudah mengetahui kebenarannya? Tidak mungkin! Rencanaku enam tahun lalu sangat sempurna tanpa celah!" batin Rosalina menolak kenyataan.
"Perawat itu pasti sedang sibuk, dan suami istri gembel itu pasti belum bayar tagihan telepon," ucapnya membohongi dirinya sendiri.
Tapi rasa penasaran dan ketakutan di hati Rosalina terus membesar hingga menggerogoti akal sehatnya.
Kalau Leon sampai tahu bahwa Bianca bukanlah anak kandungnya, nyawa Rosalina pasti akan melayang hari ini juga.
"Aku harus memastikan apakah anak pungut itu masih ada di rumah Leon atau tidak," putus Rosalina berdiri dari kursinya.
"Kalau Bianca masih hidup enak di sana, berarti rahasiaku masih sangat aman," gumam wanita tua itu mengambil tas Hermes miliknya.
Rosalina segera keluar dari ruangannya dan berjalan tergesa-gesa menuju lift utama gedung perusahaannya.
"Siapkan mobilku sekarang juga! Aku mau pergi ke kediaman utama keluarga Wegan!" perintah Rosalina pada supir pribadinya lewat telepon.
Dia akan berpura-pura menjadi bibi yang baik dan datang berkunjung untuk membawakan hadiah bagi keponakannya.
Sementara Rosalina sedang dalam perjalanan dengan hati yang panik, suasana di kediaman utama Wegan justru dipenuhi dengan kebahagiaan.
Ceklek.
Pintu ganda dari kayu jati berukir indah itu didorong terbuka oleh Leon Wegan.
"Selamat datang di kamarmu yang baru, tuan putri kecil," ucap Leon tersenyum lebar menunjuk ke dalam ruangan.
Luna yang sedang digendong oleh Nabila membelalakkan mata bulatnya dengan mulut terbuka membentuk huruf O.
Kamar itu besarnya menyamai lapangan basket tempat anak-anak jalanan biasa bermain lari-larian.
Dinding kamar itu dicat dengan warna merah muda pastel yang sangat lembut dan menenangkan mata.
Lantai marmernya ditutupi oleh karpet bulu tebal berwarna putih bersih yang terlihat sehalus kapas.
Di tengah ruangan terdapat sebuah ranjang berbentuk kereta labu Cinderella yang sangat besar dan megah.
"Wah... kamarnya besar sekali, Papa! Luna bisa main kejar-kejaran di dalam sini!" seru Luna turun dari gendongan ibunya.
Luna melangkah ragu-ragu memasuki kamar itu dengan kaki telanjang karena takut mengotori karpet putih tersebut.
"Kenapa sepatunya dilepas sayang? Karpet ini tidak apa-apa kalau diinjak pakai sepatu," ucap Nabila lembut melihat tingkah putrinya.
"Tidak mau, Mama. Nanti karpetnya kotor kena debu dari kakiku," jawab Luna menggelengkan kepalanya polos.
Luna berjalan pelan mendekati ranjang kereta labu itu dan menyentuh seprai sutranya dengan ujung jari telunjuknya.
"Kainnya halus sekali, lebih halus dari baju Nyonya... eh, maksudku baju Mama," ucap Luna meralat panggilannya sendiri.
Leon tertawa pelan mendengar ucapan lucu putrinya itu dan berjalan mendekati Luna.
"Semua yang ada di kamar ini milikmu sayang. Kamu bebas melompat, berguling, dan tidur di kasur ini sepuasmu," jelas Leon mengangkat tubuh Luna.
Bruk!
Leon melempar pelan tubuh ringan Luna ke atas tumpukan bantal empuk di ranjang tersebut.
"Hahaha! Kasurnya membal, Papa! Luna seperti melayang!" tawa Luna pecah saat tubuhnya memantul di atas kasur.
Gadis kecil itu berguling-guling ke kanan dan ke kiri menikmati keempukan kasur yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.
Nabila ikut duduk di tepi ranjang dan menatap putrinya dengan mata yang kembali berkaca-kaca karena bahagia.
Tidak ada lagi sisa-sisa kamar milik Bianca di ruangan ini.
Semua wallpaper, perabotan, dan mainan lama sudah dihancurkan dan dibuang ke tempat pembakaran sampah.
Kamar ini benar-benar seratus persen baru dan didesain khusus hanya untuk putri kandung mereka, Luna Wegan.
"Di sebelah sana ada lemari baju yang sangat besar, Mama sudah membelikan banyak sekali gaun baru untukmu," tunjuk Nabila ke arah pintu kayu di sudut ruangan.
"Baju untuk Luna semua? Tapi Luna cuma butuh dua baju saja, Mama. Satu untuk dipakai dan satu untuk dicuci," jawab Luna dengan kepolosan anak jalanan.
"Kamu adalah putri keluarga Wegan sayang, kamu tidak boleh memakai baju yang sama dua kali kalau kamu tidak mau," balas Leon mengelus rambut putrinya.
"Mulai sekarang tugasmu cuma satu, yaitu bermain dan bahagia setiap hari," lanjut ayah yang sangat protektif itu.
Tiba-tiba pintu kamar mandi di dalam ruangan itu terbuka dan seorang kepala pelayan wanita keluar sambil membungkuk.
"Permisi Tuan dan Nyonya Besar, air hangat untuk mandi Nona Luna sudah siap," lapor kepala pelayan itu dengan sopan.
"Ayo sayang, kita mandi dulu biar badanmu harum dan bersih," ajak Nabila mengulurkan tangannya.
Luna menyambut tangan Nabila dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi mewah tersebut.
Mata Luna kembali membesar melihat kamar mandi yang lantainya terbuat dari marmer hitam mengkilap.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget