Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Meriam Kinetik dan Monster Samudra
Tujuh hari telah berlalu sejak Bahtera Roda Bintang 01 meninggalkan Pelabuhan Nanhai. Samudra Barat yang luas membentang tanpa tepi, dengan warna air biru tua yang makin pekat dan hembusan angin laut yang membawa hawa dingin menggigit.
Di dalam ruangan komando yang berada di bagian puncak kapal, layar kaca transparan menampilkan grafik kedalaman laut dan frekuensi magnetik di sekitarnya.
Cheon Ryeon berdiri tenang mengamati pergerakan jarum kompas frekuensi di tangannya. Di sisinya, Jaegal So-yeon sedang mencermati peta bintang untuk menyesuaikan posisi navigasi.
"Kita sudah masuk ke wilayah Lautan Segitiga Kelam," kata So-yeon pelan, mengibaskan kipas sutranya dengan tenang. "Buku-buku pelayaran tua di Central Plains menyebut wilayah ini sebagai kuburan kapal karena pusaran angin yang tak menentu dan kemunculan monster laut raksasa."
"Pusaran angin itu cuma efek dari perbedaan tekanan udara dan arus bawah laut berkecepatan tinggi," sahut Ryeon datar, matanya tak lepas dari radar kinetik. "Bukan karena kutukan atau hantu laut."
BEEP! BEEP! BEEP!
Tiba-tiba, sinyal peringatan di konsol radar berbunyi nyaring! Tiga titik merah berukuran raksasa muncul di kedalaman dua ratus meter di bawah lambung kapal, meluncur naik dengan kecepatan luar biasa.
"Bos!" suara Baek Hyun bergema dari pengeras suara internal. "Ada tiga gumpalan Ki raksasa yang mendekat dari bawah laut! Kecepatannya empat puluh knot!"
"Sistem pertahanan geladak, siapkan meriam kinetik!" komando Ryeon dingin lewat konsol komunikasi.
STEP! STEP!
Gong Son-mi melompat ke geladak utama bersama dua puluh ksatria Garda Depan. Meriam-meriam tekanan gas portabel dan pelontar jarum mikro-karbon yang terpasang di sepanjang pagar baja kapal langsung diaktifkan, memancarkan pendar cahaya biru dari energi reaktor sekunder.
SPLASHHH!
Air laut di samping kapal meledak dahsyat!
Tiga ekor monster laut raksasa—Gurita Zirah Hitam (Black-Armored Kraken) sepanjang lima puluh meter—muncul membumbung ke udara! Tubuh mereka dilapisi cangkang hitam tebal yang mengkilap, dan belasan tentakel bersisik tajam meluncur deras hendak mencengkeram lambung baja Bahtera Roda Bintang 01.
"Gila! Besarnya melebihi rumah!" seru Jin-Bao dari balik benteng meriam dengan muka agak pucat, tapi tangannya dengan cekatan mengunci sakelar pemicu daya.
"Jangan panik!" teriak Son-mi tegas, memutar perisai kompositnya. "Buka katup udara meriam nomor satu sampai tiga!"
BOOM! BOOM! BOOM!
Tiga dentuman meriam kinetik mengguncang geladak!
Selongsong amunisi mikro-karbon yang dialiri frekuensi getaran tinggi melesat kilat menembus udara, menghantam tepat di persendian tentakel gurita raksasa tersebut.
CZZZZZ!
Cangkang hitam tebal yang biasanya tidak mempan ditebas pedang biasa mendadak retak seribu akibat efek pembalik gaya kinetik! Semburan darah kehitaman membumbung ke udara saat dua tentakel raksasa itu putus terlempar ke laut!
Gurita raksasa itu menjerit histeris, raungan beratnya bergetar membuat air laut bergolak liar.
Namun, sebelum gurita itu sempat menarik diri kembali ke dalam air, Ryeon sudah melangkah keluar ke geladak utama. Ia memegang sebilah pedang mikro-karbon kustom yang telah tersambung langsung dengan kabel transmisi daya reaktor kapal.
"Buka katup pembuangan frekuensi seratus persen," perintah Ryeon pelan pada Jin-Bao.
"Siap, Bos!" Jin-Bao memutar tuas utama.
BZZZZZZT!
Bilah pedang tipis di tangan Ryeon berpendar cahaya keemasan yang sangat terang, menggetarkan udara di sekitarnya hingga membiaskan gelombang panas.
Ryeon melangkah satu tindak ke depan, memutar pergelangan tangannya dengan Sudut Aerodinamis Pemotong Gelombang.
"Tebasan Resonansi Kinetik," bisik Ryeon.
SWOOSH!
Sebuah tebasan energi berbentuk gelombang cahaya keemasan sepanjang tiga puluh meter meluncur kilat membelah permukaan air laut!
SLICE!
Dua ekor Gurita Zirah Hitam yang tersisa terbelah dua secara sempurna di udara sebelum sempat menyentuh air kembali! Bangkai monster raksasa itu roboh menghantam laut dengan dentuman dahsyat yang menyemburkan ombak tinggi.
Para ksatria Ordo Roda Bintang di atas geladak bersorak gembira melihat pembantaian cepat tersebut.
Namun, belum sempat mereka merayakan kemenangan, Baek Hyun kembali berteriak dari menara pengintai di atas atap.
"Bos! Lihat ke horizon barat! Ada armada kapal!"
Ryeon dan So-yeon menatap lurus ke arah barat daya.
Di antara kabut tipis sore hari, lima buah kapal perang bertiang besi tinggi tampak meluncur cepat mendekati mereka. Kapal-kapal itu tidak menggunakan layar kain biasa, melainkan didorong oleh roda pengayuh besi di sisi lambungnya.
Di atas bendera utama kapal-kapal asing tersebut, terukir lambang Pedang Bersilang di Dalam Lingkaran Besi—simbol resmi milik Faksi Ksatria Murni (Pure Knights)!
So-yeon membuka kipas sutranya, matanya menyempit tajam. "Armada patroli Ksatria Murni... Rupanya mereka sudah menguasai jalur perbatasan samudra ini."
Ryeon menyarungkan kembali pedang mikro-karbonnya dengan bunyi KLIK yang jernih, menyunggingkan senyum tipis yang dingin.
"Bagus," sahut Ryeon datar. "Kita tidak perlu repot-repot mencari jalan ke markas mereka."
Ryeon menekan sakelar transmisi komunikasi kapal. "Seluruh ksatria Ordo Roda Bintang... siapkan formasi tempur utama. Kita sambut tamu pertama kita dari Benua Barat."