Indonesia
NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:850
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Up di jam yang sama 12.00 WIB


Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.

Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Salon Darurat dan Ujian Pertama Hubungan

Hari libur akhir pekan di Kota Surakarta seharusnya diisi dengan kegiatan santai seperti menikmati serabi solo atau berjalan-jalan di taman kota. Namun, bagi Surya Adiwinata, hari libur kali ini terasa seperti hari eksekusi hukuman gantung di depan publik.

Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah ancaman penuh tekad dari sang ratu rusuh, Anna.

"Ayo masuk, Mas Aduh-Aduh! Jangan pasang muka melas begitu kayak tahanan mau disidang," geram Anna sambil menarik lengan jaket bomber Surya dengan paksa. Ia menyeret sang dosen kaku masuk ke dalam sebuah salon modern ber-AC dingin di pusat perbelanjaan elit Solo.

Surya berdiri kaku di tengah ruangan salon yang dipenuhi aroma wangi minyak aromaterapi, alunan musik lounge yang lembut, serta cermin-cermin besar yang dikelilingi lampu LED terang. Beberapa penata rambut profesional dengan gaya modis langsung melirik ke arah mereka dengan tatapan takjub bercampur geli.

"S-Sdri. Anna," protes Surya dengan suara kaku dan wajah tegang, berusaha menahan langkahnya. "Apakah prosedur pemeliharaan rambut di tempat ini benar-benar esensial? Berdasarkan tinjauan struktur folikel rambut saya, minyak kelapa tradisional yang saya gunakan selama ini sudah memenuhi standar biologi dasar!"

Anna langsung mendengus sebal, melepaskan tarikannya lalu melipat kedua tangan di dada. Ia mendelik tajam ke arah Surya. "Standar biologi dasar ndasmu, Surya! Kalau kamu terus-terusan pakai minyak kelapa jadul itu, rambutmu bakal lengket kayak lemari antik peninggalan zaman kolonial! Duduk di kursi itu sekarang, atau aku batalkan kencan kita selama sebulan penuh!"

Mendengar ancaman "pembatalan kencan" yang dilontarkan dengan telak itu, ketahanan mental Surya langsung runtuh seketika. Sebagai pria yang mulai teradiksi oleh "variabel acak" bernama Anna dalam hidupnya, kehilangan hak kencan adalah bencana struktural yang jauh lebih mengerikan daripada potong rambut.

Dengan pasrah luar biasa, Surya berjalan gontai menuju kursi putar salon, lalu duduk kaku dengan punggung tegak lurus mirip patung pahlawan revolusi.

Seorang penata rambut pria berpenampilan modis bernama Kevin mendekat dengan gunting dan sisir di tangan. "Halo, Kak! Mau diapakan nih rambutnya? Disamaratakan atau mau dibikin gaya Korean Pompadour biar kelihatan makin ganteng?"

"Tolong ubah dia jadi pria tertampan abad ini, Mas!" potong Anna cepat-cepat sebelum Surya sempat protes. "Potong rapi tapi modern, hilangkan minyak rambut jadulnya, dan tolong berikan treatment muka biar aura kaku dosen purbakalanya luntur!"

Dua jam kemudian, transformasi itu selesai.

Surya berdiri di depan cermin besar salon. Ia menatap pantulan dirinya sendiri dengan mata mengerjap tak percaya. Rambutnya kini dipotong pendek rapi di sisi samping dengan volume natural di atas, ditata dengan styling modern yang ringan. Wajahnya yang bersih tanpa kacamata tebal (karena diganti kacamata frame tipis) membuat garis rahang tegas dan tatapan matanya terlihat sangat karismatik, matang, dan elegan.

Kevin memuji hasil kerjanya sendiri. "Wah, gila sih, Mbak! Pacarnya jadi mirip aktor drama Korea, pangling banget!"

Anna yang sejak tadi duduk menunggu di sofa sambil memainkan ponselnya mendongak. Begitu melihat hasil akhir penampilan Surya, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Astaga... sialan, ganteng banget, batin Anna salah tingkah setengah mati, meski ia berusaha keras memasang muka datar.

Surya menoleh ke arah Anna, meraba rambut barunya dengan canggung. "Bagaimana, Anna? Apakah modifikasi struktural ini tidak melanggar norma kewajaran akademik?"

Anna berdiri, berjalan mendekat, lalu menepuk bahu Surya pelan sambil tersenyum lebar. "Nah, gini kan enak dilihat, Mas Dosen! Mulai hari ini, gelarmu sebagai dosen paling jadul resmi dicabut!"

Namun, kebahagiaan dan tawa akibat proyek salon darurat itu tidak bertahan lama. Ujian nyata pertama dalam hubungan mereka tiba keesokan harinya di Rumah Joglo Setiawan.

Sore itu, Anna sedang duduk di teras joglo bersama Martha, menikmati teh hangat sambil membahas kehebohan salon kemarin. Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap memasuki halaman joglo dengan pelat nomor dari luar kota.

Pintu mobil terbuka, dan muncullah seorang perempuan paruh baya berbusana batik sutra mewah, mengenakan perhiasan emas yang cukup mencolok, dengan ekspresi wajah dingin dan arogan. Di belakangnya, berdiri seorang gadis muda berpakaian rapi berwajah manis namun tampak canggung—yang tak lain adalah Dewi, putri dari kolega terpandang keluarga Surya sekaligus perempuan yang sejak lama dijodohkan oleh keluarga besar Surya.

Martha yang melihat kedatangan tamu tak diundang itu langsung menyenggol lengan Anna. "Ann, itu siapa? Kayaknya bukan turis mau sewa galeri ukir."

Anna mengerutkan keningnya, berdiri dari kursi rotan.

Ibu paruh baya itu—yang belakangan diketahui adalah Ibu Hartini, ibunda Surya—melangkah tegas ke pendopo. Matanya langsung menatap tajam ke arah Anna dari atas sampai bawah dengan sorot merendahkan.

"Kamu perempuan yang bernama Anna itu?" tanya Ibu Hartini to the point dengan suara ketus dan dingin. "Perempuan yang kabarnya berhasil memengaruhi anak saya—Surya—untuk mengubah penampilan dan meninggalkan tradisi keluarganya demi gaya hidup bebas ala anak muda?"

Anna tertegun sejenak, namun darah pemberontaknya langsung mendidih mendengar nada bicara yang merendahkan itu. Sebelum Anna sempat membalas, dari arah dalam galeri, Surya dan Adnan muncul karena mendengar keributan.

Surya, yang melihat ibunya berdiri di pendopo bersama Dewi, seketika mematung di tempat. Wajahnya yang biasanya tenang mendadak memucat.

"Ibu...?" panggil Surya kaget, buru-buru melangkah mendekat. "Apa yang Ibu lakukan di sini tanpa mengabari saya terlebih dahulu?"

Ibu Hartini menatap putranya dengan tatapan kecewa mendalam. "Ibu harus datang sendiri ke tempat terpencil ini karena mendengar laporan bahwa anak kebanggaan keluarga akademisi kita sekarang hobi nongkrong di kafe, mengubah gaya rambut, dan mengejar perempuan tidak jelas asal-usulnya!" Ibu Hartini menunjuk Anna dengan jarinya secara tajam. "Surya, lupakan perempuan ini! Dewi sudah datang dari Jogja bersama keluarganya untuk membahas kelanjutan pertunangan kalian minggu depan!"

Suasana di pendopo Rumah Joglo Setiawan seketika berubah membeku.

Dewi, gadis di sebelah Ibu Hartini, menunduk malu, tampak sangat tidak nyaman dengan situasi tersebut. Martha dan Adnan langsung berdiri siaga di samping Anna, siap pasang badan membela sahabat mereka.

Anna mengepalkan kedua tangannya erat-erat di balik lipatan bajunya. Hatinya terasa dicubit nyeri. Ia menatap Surya, menunggu apa yang akan dikatakan oleh pria itu di hadapan ibunya.

Surya menarik napas dalam-dalam. Ketegangan di wajahnya perlahan-lahan mencair, digantikan oleh sorot mata yang tegas, mantap, dan penuh pendirian. Pria kaku itu melangkah maju melewati ibunya, lalu berdiri tepat di samping Anna—meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya erat-erat di hadapan semua orang.

"Ibu," ucap Surya dengan suara bariton yang tenang, tegas, namun penuh wibawa yang tidak bisa dibantah oleh siapapun. "Tolong dengar baik-baik. Anna bukan perempuan tidak jelas. Dia adalah pilihan hidup saya. Dan mengenai pertunangan itu... maaf, Bu, saya menolaknya secara sadar dan terstruktur, karena masa depan saya hanya akan saya bangun bersama perempuan di samping saya ini."

Pernyataan telak dan berani dari sang dosen kaku itu sukses membuat Ibu Hartini terperangah hebat, Dewi menunduk kaget, sementara Martha dan Adnan langsung tersenyum lebar penuh kebanggaan. Badai pertikaian keluarga resmi menerjang, menguji seberapa kuat fondasi cinta antara sang ratu rusuh dan dosen kaku di bawah naungan Rumah Joglo!

1
Widia Wati
MasyaAllah
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬: makasih kak🥰🥰...wahh tetangga ya saya berasal dari desa sebalor tapi merantau di Malaysia.. semangat kak🥰
total 1 replies
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬
Kalau suka tinggalin jejak🥰

author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.


Salam paseduluran rek❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!