Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*
lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.
Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.
*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UMPAN TELAH DI LEPAS
Vanka beranjak dari kursi. Ia melangkah ke hadapanku. Tangannya yang kekar menjadi penopang tubuhnya yang membungkuk, mendekatkan wajahnya secara perlahan hingga hampir tak berjarak.
Suasana malam itu hening. Angin sepoi-sepoi berembus dari balkon. Aku seolah berpasrah pada situasi. memejamkan mata, mengira Vanka akan mencium bibirku. Detak jantung berdegup kencang. Aliran darah mengalir deras sampai ke ubun-ubun, membuat bulu kudukku meremang.
Wajahnya semakin mendekat. Aku semakin memejamkan mata dengan erat. Namun, bukan bibir yang beradu. Tangan Vanka justru menyentuh rambutku yang terurai.
"Ada daun di rambutmu, Naya," ucapnya pelan sambil membuang daun itu dengan sentilan jarinya.
Wajahku langsung memerah. Malu setengah mati dengan tindakanku sendiri. Untuk menghindari suasana canggung, aku bergegas beranjak dari kursi.
"Vanka, sepertinya aku sudah mengantuk," ucapku berbohong sambil pura-pura menguap di hadapannya. "Hooaaammm."
Tanpa menunggu jawabannya, aku melangkah cepat menuju kamar. Masuk ke dalam dan langsung menutup pintu kembali. Ceklek.
Aku membaringkan tubuh di atas kasur, di sebelah Puri yang sudah terlelap dengan buaian mimpi indahnya. Aku menutup seluruh tubuh dengan selimut, lalu berteriak sambil menendang-nendangkan kaki di balik selimut.
"Arrrghhhkkk!"
"Aku melakukan itu! Sungguh membuatku gila! Bagaimana aku menghadapi Vanka nanti?" gerutuku tertahan di dalam selimut.
Sementara itu - POV Vanka
Teriakan Naya dari dalam kamar terdengar sampai ke ruang tengah. Vanka yang mendengarnya justru tersenyum tipis. Senyum yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.
Ia merasa berhasil menggoda Naya. Setiap kali melihat tingkah Naya dan gerak-geriknya yang konyol, hati Vanka yang selama ini terasa sepi dan dingin perlahan mulai berwarna kembali. Hanya saja, ia masih belum berani menyatakan perasaannya dengan sungguh-sungguh.
Sejak awal pertemuan mereka, bagaimana semua bisa menjadi kebetulan? Apakah mungkin semua ini adalah takdir bagi Vanka?
Ia menghela napas panjang, lalu melangkah menuju ruang sofa. Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur lantai secara perlahan dan mulai memejamkan mata, dengan bayangan wajah Naya yang masih memerah karena malu.
Kembali ke POV Naya
Pagi telah tiba. Fajar telah mengintip lewat sela-sela jendela apartemen.
Puri sudah terlihat rapi dengan setelan kulot dan crop top di tubuhnya. Sementara aku, masih terbaring di atas kasur yang nyaman. Kasur itu seolah merayu dan tidak mengizinkanku untuk beranjak. Aku masih terbayang-bayang dengan kejadian memalukan semalam.
"Naya, bangunlah! Ini sudah pagi. Semalam kau tidur jam berapa sampai membuatmu malas begini?" lirik Puri seraya merapikan ikatan rambutnya di depan cermin.
Aku menggeram pelan, lalu beranjak dengan malas. Aku melangkah membersihkan diri, kemudian memakai hoodie abu-abu dan jeans panjang. Rambutku kuikat asal-asalan. Setelah itu, kami melangkah keluar kamar bersama.
Terdengar suara perbincangan para lelaki di meja makan.
Aku melangkah menghampiri mereka beserta Puri di sebelahku. Mataku langsung tertuju pada Vanka. Ia hanya menggunakan singlet hitam dan celana pendek. Otot kekarnya terpampang jelas di bawah cahaya pagi. Ia tersenyum padaku, tetapi senyuman itu justru membuatku gugup hingga aku menabrak sudut meja makan.
"Auch!"
Semua mata tertuju padaku.
"Naya, kamu tidak apa-apa?" ujar mereka kompak.
Aku meringis sambil memegangi pinggulku yang terbentur. "Tidak apa-apa, tidak apa-apa," jawabku cepat dengan wajah yang kembali memerah.
Seperti biasa, selama aku dan Ayah (Tuan Ajimo) tinggal di apartemen milik Vanka, ia selalu memasak untuk kami. Aroma nasi goreng dan telur mata sapi menyebar ke seluruh ruangan.
Sarapan telah siap. Satu per satu piring porselen telah terisi penuh.
Selesai sarapan, aku membantu Vanka membereskan sisa sarapan dan membawanya menuju wastafel untuk membersihkannya. Di ruang sofa, Puri, Alex, Tuan Ajimo, dan Pengacara Frans sedang menyiapkan rencana hari ini untuk menjebak Hans. Vanka membersihkan kompor tanam yang mewah yang kotor terkena percikan minyak dari menu sarapan yang ia buat.
Gerakannya terlihat tenang, namun tatapannya sesekali melirik ke arahku.
Setelah selesai mencuci piring, aku melangkah menuju mereka di ruang sofa yang sedang berdiskusi, diikuti oleh Vanka dari belakang.
Alex mulai menjelaskan rencananya. "Aku akan menyebar berita tentang kejahatan Hans dan kontroversi bahwa Tuan Ajimo masih hidup. Ini akan memancing mereka keluar."
Puri kemudian meletakkan alat pelacak kecil di saku celana jeans yang kupakai dan meletakkannya juga pada saku kemeja Tuan Ajimo. Tangannya cekatan.
Vanka kini sudah memakai kaos santai berwarna hitam dengan celana dasar hitam. Pengacara Frans dan Puri mendapatkan tugas mengincar dua polisi yang menjadi bekingan Hans. Mereka akan berpura-pura menjadi klien untuk transaksi narkoba milik Hans.
Alex akan menunggu di apartemen sebagai pusat komando.
"Aku dan Ayah akan dengan sengaja menampakkan diri pada peliharaan Hans," jelasku.
Saat kami beriringan melangkah keluar, tiba-tiba Vanka menarik tanganku dengan cepat. Aku terkejut dan menatap wajahnya yang begitu dekat. Jantungku kembali berdegup tak karuan.
Lalu, tanpa banyak bicara, ia menyelipkan sebuah chip kecil di sela-sela kerah hoodie yang memang sudah ia lubangi diam-diam saat aku sedang mandi tadi pagi.
"Satu chip saja tidak cukup. Hans bukan orang bodoh. Ia pasti akan menggeledahi tubuh kalian," bisiknya dengan tegas.
Setelah itu, ia menarik tubuhku ke dalam dekapan hangatnya. Dekapan yang begitu erat dan posesif.
"Jaga dirimu, Naya. Aku tidak ingin kehilanganmu," ucapnya pelan di telingaku.
Tubuhku mematung. Jantungku bergemuruh kencang. Aku bisa merasakan napasnya yang berat dan aroma parfumnya yang khas. Ia mendekap tubuhku cukup lama, sehingga membuat Puri harus memanggil.
"Naya, ayo cepat!" lirik Puri dengan mata sedikit membulat, memberi kode.
Vanka melepaskan dekapannya secara perlahan, namun matanya masih menatapku dalam.
Kami melangkah menuju lobi, kecuali Alex yang tetap di apartemen. Kami masuk ke dalam kendaraan masing-masing yang sudah disiapkan Vanka. Puri dan Pengacara Frans menggunakan mobil milik Pengacara Frans sendiri, hanya mengganti pelat nomor untuk berjaga-jaga.
Sedangkan aku dan Ayah (Tuan Ajimo) memesan taksi online untuk mengelabui peliharaan Hans, yang sebenarnya adalah pengawal Vanka sendiri yang menyamar menjadi supir.
Vanka membuntuti kami dari belakang dengan mobil sport hitamnya yang gagah.
Satu per satu kendaraan pergi dengan tugasnya masing-masing. Aku dan Ayah sudah tiba di daerah terbuka, dengan sengaja memancing peliharaan Hans untuk menangkap kami.
Rencana dimulai.
Bersambung...