Indonesia
NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25 — Waktu Itu Lo Sudah Menciumnya?

Maya datang tanpa mengetuk dua kali seperti biasanya.

Satu ketukan pendek, lalu ia menunggu sampai Nara membuka pintu. Tidak ada kantong makanan di tangannya. Nara baru menyadari bahwa selama ini sahabatnya hampir selalu membawa sesuatu ketika datang.

“Masuk, May.”

Maya berjalan menuju meja. Dua cangkir kemarin sudah dicuci dan disimpan, tetapi ia tetap memilih berdiri.

“Adrian di mana?”

“Gue nggak tahu dia sudah berangkat kerja atau belum.”

“Semalam?”

Nara mengusap telapak tangannya pada celana.

“Gue ketemu dia. Kami makan. Habis itu gue pulang sendiri.”

Maya memandangnya lama.

“Cepat juga. Gue baru nyuruh dia keluar, kalian sudah bisa makan bareng.”

Nara tidak menjelaskan siapa yang menelepon lebih dulu. Ia merasakan kehangatan pelukan semalam berubah menjadi malu karena harus menceritakannya kepada Maya.

“Jadi,” kata sahabatnya, meletakkan tas di kursi. “Apa yang mau lo tanya? Pesan lo semalam kedengarannya seperti gue yang perlu menjelaskan diri.”

Nara menelan ludah.

“Lo benar menelepon Dimas sebelum pameran?”

“Iya.”

Tidak ada penyangkalan. Nara sudah mengira begitu, tetapi ia tetap berharap Dimas melebih-lebihkan sesuatu.

“Lo yang minta dia datang?”

“Gue bilang suami gue akan ada di sana. Gue minta dia menemani istrinya.”

Maya menekankan dua kata terakhir. Nara merasakan wajahnya panas.

“Lo tahu gue ingin pergi sendiri.”

“Dan ternyata gue punya alasan buat khawatir, kan?”

“Waktu itu kami belum ketemu lagi.”

Maya meraih sandaran kursi.

“Gue lihat cara Adrian membaca pesan lo sebelum kalian berhenti kontak. Gue tahu kapan suami gue mulai menunggu sesuatu yang bukan dari gue. Lo mungkin bisa pura-pura nggak ngerti, Na. Gue tidur di sebelahnya.”

Nara terdiam. Ada bagian dari dirinya yang ingin mendengar lebih banyak tentang Adrian menunggu pesannya. Ia jijik pada keinginan itu, terutama ketika melihat mata Maya kembali memerah.

“Kenapa nggak bilang ke gue?”

“Gue sudah bilang! Di kedai itu gue minta baik-baik. Lo janji. Terus gue harus apa, telepon tiap hari menanyakan lo masih pegang janji atau nggak?”

“Jadi lo telepon Dimas.”

Maya melepaskan sandaran kursi.

“Gue pikir kalau dia datang, kalian nggak akan berduaan. Itu saja.”

“Lo lihat dia narik tangan gue di galeri.”

“Gue lihat.” Suara Maya mengecil, tetapi kemudian ia mengangkat dagu. “Gue nggak menyuruh dia berbuat begitu.”

Nara teringat sahabatnya menyentuh siku yang terasa sakit, bertanya apakah ia ingin duduk. Ia menerima perhatian itu tanpa curiga sedikit pun.

“Kenapa nggak cerita setelahnya?”

Maya akhirnya duduk. Ia memandang tasnya, merapikan tali yang sebenarnya tidak berantakan.

“Karena gue malu. Gue pikir gue cuma minta suami lo menemani, lalu malah jadi begitu di depan orang. Gue nggak tahu harus ngomong apa ke lo.”

“Makanya lo bantu gue pindah?”

Maya mendongak.

“Gue bantu karena lo butuh bantuan. Apa sekarang semua yang pernah gue lakukan buat lo harus ada alasan jeleknya?”

Nara menggigit bibir. Ia ingin marah tanpa harus mengingat bahwa Maya memang datang mengangkat kardus, mengelap rak, bahkan membelikan makanan ketika ia lupa makan. Tetapi ia tidak bisa menghapus semua itu hanya karena satu pengakuan.

“Gue cuma berharap lo bilang.”

Maya tertawa pelan. Ia tampak hampir tidak percaya mendengar kalimat tersebut.

“Iya. Gue juga berharap lo bilang banyak hal.”

Nara menunduk.

Maya mengeluarkan tisu dari tas, menekan sudut matanya, lalu bertanya tanpa melihat Nara.

“Adrian bilang kalian berciuman sesudah pameran. Sebelum atau sesudah gue bantu pindah ke sini?”

“Sesudah.”

“Sebelum gue pilih lukisan?”

Nara memandang lukisan terbungkus di dekat dinding. Sisa label nama Maya masih menempel pada kertasnya.

“Iya.”

Maya berhenti melipat tisu.

“Jadi waktu gue cerita pengin memperbaiki hubungan sama dia…”

Nara mengangguk sebelum sahabatnya menyelesaikan kalimat.

“Lihat gue dan jawab.”

Ia mengangkat wajah.

“Iya, May. Waktu itu gue sudah menciumnya.”

Maya menekan tisu begitu keras sampai sobek.

“Gue bahkan tanya pendapat lo. Gue cerita soal anak. Lo dengar semuanya.”

“Gue ingat.”

“Tentu lo ingat. Pasti enak, ya, tahu istri laki-laki yang lo mau sedang susah payah membujuk suaminya sendiri.”

“Nggak.” Nara merasa air matanya turun. “Gue sakit dengarnya.”

Maya menatapnya dengan jijik.

“Lo yang sakit?”

Nara menutup mulut. Ia baru menyadari betapa buruk bunyi pengakuannya. Saat Maya membicarakan masa depan bersama Adrian, ia memang cemburu. Ia ingin mendapat bagian dari hidup yang sedang berusaha dipertahankan sahabatnya.

Ia tidak bisa menjelaskannya tanpa melukai Maya lebih jauh.

Maya berdiri dan mengambil tas.

“Lukisan itu jangan dikirim. Jangan ke rumah, jangan ke kantorku.”

“Gue nggak akan kirim.”

Maya berjalan ke pintu, lalu berhenti dengan tangan pada gagangnya.

“Lo mau dia meninggalkan gue?”

Nara berharap bisa mengatakan tidak. Ia tahu itulah satu-satunya jawaban yang masih bisa membuat Maya menatapnya seperti seorang teman.

Tetapi ia sudah memikirkan kamar hotel Adrian semalam. Ia sudah kecewa ketika tahu laki-laki itu pergi karena disuruh, bukan karena memilihnya.

Nara tidak menjawab.

Maya mengangguk pelan.

“Kalian sama. Ditanya begini selalu diam.”

Pintu tertutup. Nara tetap berdiri di tempatnya, menangis tanpa mencoba memanggil sahabatnya kembali.

* * *

Malam itu, Maya menunggu Adrian di rumah.

Ia sudah mengirim pesan meminta mereka bicara. Adrian menjawab akan datang sesudah mengambil beberapa barang di kantor. Tidak ada janji menginap, dan Maya terlalu takut mendengar penolakan untuk menanyakannya.

Sebelum turun, ia membuka kotak perhiasan di laci meja rias.

Kalung kecil itu tersimpan di bawah sepasang anting yang sudah lama tidak dipakai. Rantainya tipis, dengan liontin bulan yang lebih cocok dikenakan anak perempuan daripada perempuan seumur dirinya.

Maya menyentuhnya, teringat Nara memegang foto lama saat mereka membereskan barang. Nara masih ingat kehilangan kalung itu. Ia hanya tidak tahu di mana benda itu berada sekarang.

Maya menutup kotak, lalu membukanya lagi.

Tangannya gemetar saat memasang pengait di belakang leher.

* * *

Adrian berhenti di ambang ruang makan ketika melihatnya.

Maya tahu ia memperhatikan kalung itu. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, suaminya memandang sesuatu pada dirinya tanpa segera menunduk.

“Masih kamu simpan,” kata Adrian.

Maya mengangguk. Ia mendekat, tetapi tidak menyentuhnya.

“Kamu ingat hujan waktu itu? Di dekat jembatan?”

Adrian memandang wajahnya sekarang.

“Aku ingat.”

Maya menggenggam liontin di dadanya. Ia telah memikirkan banyak kalimat selama menunggu. Tentang pernikahan mereka, tentang semua kesempatan yang diberikan setelah pertengkaran, tentang rumah yang tidak sanggup ia tinggali sendirian.

Yang keluar justru pertanyaan yang jauh lebih lama disimpannya.

“Kamu pernah bilang kamu beruntung aku ada di sana. Karena aku yang menolongmu.”

Adrian tidak menyela.

Maya memegang pergelangan tangannya, takut ia akan mundur sebelum mendengar permintaannya.

“Aku tahu itu sudah lama. Tapi aku perlu kamu ingat siapa yang selama ini ada buat kamu, sebelum kamu meninggalkan aku untuk Nara.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!