Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Pilihan Paling Berat
Layar laptop di atas kotak besi itu memancarkan pendar merah yang menakutkan. Rekaman siaran langsung ibu Cassandra di dalam supermarket membuat seluruh persendian Cassandra mendadak mati rasa.
Titik inframerah merah berkedip stabil tepat di dada ibunya. Cassandra menutup mulutnya rapat-rapa. Menahan jeritan histeris yang hampir meledak dari tenggorokannya.
"Nggak... ini nggak mungkin," bisik Cassandra dengan suara bergetar hebat.
Narendra langsung bergerak cepat menarik Cassandra ke dalam pelukannya. Cowok itu menatap layar laptop dengan sorot mata murka, namun otaknya tetap dipaksa bekerja dingin di tengah situasi yang amat kritis.
Ia mengamati setiap sudut pergerakan titik inframerah pada layar monitor tersebut. Pengalaman Narendra dalam membedakan sistem peretasan membuatnya menangkap satu kejanggalan kecil dalam rekaman video itu.
"Cas, dengarkan gue," bisik Narendra tepat di telinga Cassandra, suaranya sangat tenang untuk menenangkan kepanikan ceweknya. "Titik inframerah itu punya jeda delay setengah detik dari pergerakan kamera."
Cassandra mendongak dengan mata berair, menatap wajah Narendra yang berjarak sangat dekat. "Maksud lu apa, Ren?"
"Video siaran langsung ini diretas dan dimanipulasi pakai filter simulasi visual buatan," jelas Narendra seraya mengusap lembut air mata di pipi Cassandra. "Ibu lu emang lagi di supermarket, tapi titik penembak jitu itu cuma gambar digital buat nakut-nakutin lu!"
Cassandra bernapas lega seraya mengusap dadanya yang naik turun memburu. Rasa percaya yang begitu besar pada Narendra membuat separuh ketakutannya menguap seketika.
Narendra segera mengambil alih laptop tersebut, jemarinya menari dengan kecepatan luar biasa di atas keyboard. Ia mengirimkan kode pemutus transmisi buatan mereka langsung ke satelit pemancar di Singapura.
KLIK!
Layar laptop seketika berkedip hitam, memutus seluruh akses peretas global dari jaringan komunikasi sekolah dan ponsel ibu Cassandra.
Suara sirine bahaya di laptop berhenti total, berganti menjadi pesan keberhasilan di layar: Target Satelit Lumpuh 100%.
Cassandra tersenyum lebar seraya menatap Narendra penuh rasa kagum yang mendalam. "Lu beneran jenius, Narendra!"
Narendra tertawa kecil, melipat laptopnya lalu menarik tubuh Cassandra ke dalam pelukan hangatnya di bawah langit sore yang makin menggelap. "Gue kan udah janji bakal selalu ada buat melindungi lu."
Di atas atap sekolah yang sunyi, mereka berdua menikmati momen kemenangan kecil itu dengan saling menggenggam tangan erat-erat. Ketegangan yang membakar sejak siang tadi akhirnya mencair, berganti menjadi rasa nyaman yang tulus di antara mereka.
"Habis ini lu harus traktir gue es krim," goda Cassandra seraya menyenderkan kepalanya di bahu tegap Narendra.
Narendra menyunggingkan senyum miringnya yang khas, mendaratkan ciuman lembut di pelipis Cassandra.
"Apapun buat lu, Cas. Satu toko es krim juga bakal gue beliin."
Cassandra tertawa geli mendengar celotehan manis dari cowoknya itu, merasa sangat beruntung memiliki Narendra di sisinya.
Pukul 19.30 WIB.
Kedai es krim di dekat gerbang sekolah terasa begitu hangat dan riuh oleh suara anak-anak SMA yang nongkrong. Lampu-lampu hias gantung memberikan nuansa romantis yang pas untuk menutup hari yang panjang.
Cassandra dan Narendra duduk di meja sudut kayu dekat jendela kaca besar. Dua cup es krim rasa cokelat dan stroberi berukuran besar tersaji rapi di meja mereka.
"Lu beneran enggak capek, Ren?" tanya Cassandra seraya menyuap es krim cokelatnya. "Luka di bahu lu kan belum sembuh total."
Narendra menyandarkan dagunya di atas telapak tangan, menatap Cassandra dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa sayang. "Lihat lu senyum kayak gini aja udah bikin semua luka gue sembuh, Cas."
Pipi Cassandra mendadak memerah merona mendengar gombalan simpel khas anak sekolah dari Narendra. Ia menepok pelan lengan Narendra menggunakan sendok plastik kecilnya.
"Gaya lu makin pinter gombal ya sekarang!" cibir Cassandra malu-malu.
Narendra tertawa lepas, meraup jemari Cassandra di atas meja lalu mengusapnya dengan lembut. Momen sederhana itu terasa begitu berharga setelah semua badai besar yang berhasil mereka lewati bersama.
"Gue serius, Cas," kata Narendra melunak, menatap lurus ke dalam mata Cassandra. "Setiap hari di samping lu adalah hal terbaik dalam hidup gue."
Cassandra membalas genggaman tangan Narendra dengan erat, menyunggingkan senyum paling manis yang ia miliki. "Gue juga, Ren."
Namun, di tengah suasana romantis dan manis itu, pintu kedai es krim mendadak terbuka lebar.
Seorang siswi berseragam SMA Garuda melangkah masuk dengan napas memburu dan raut wajah panik luar biasa. Siswi itu berjalan terburu-buru menghampiri meja tempat Cassandra dan Narendra duduk.
"Cassandra! Narendra!" panggil siswi itu dengan suara gemetar ketakutan.
Cassandra dan Narendra melepaskan genggaman tangan mereka, menatap cewek di hadapan mereka dengan dahi berkerut bingung.
"Ada apa, Maya?" tanya Cassandra heran.
Siswi bernama Maya itu menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan ruang grup obrolan seluruh siswa SMA Garuda.
Sebuah berkas dokumen digital tanpa nama baru saja diunggah ke dalam grup tersebut satu menit yang lalu, dan sudah diunduh oleh ratusan murid.
Dokumen tersebut berisi rahasia kelam masa lalu keluarga Cassandra, beserta rekaman suara pribadi yang membongkar, bahwa seluruh aksi peretasan di sekolah selama ini dilakukan oleh Cassandra dan Narendra sendiri.