Indonesia
NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15 : Semuanya punya giliran

Victor terdiam sejenak, lalu mengangguk tergesa.

Ia segera berlutut di hadapan Blair, tubuhnya merosot hingga dahi menyentuh lantai. Suaranya pecah saat ia bersujud, kata-katanya keluar tanpa jeda.

“Benar. Iya, kau benar. Aku melakukannya,” akunya.

“Aku memukulnya, menendangnya, mencambuknya setiap kali dia mencoba kabur. Aku menjadikannya pelampiasan setiap kali aku merasa bosan.”

Tangannya mengepal di lantai.

“Aku juga mengancamnya, karena aku tahu dia mencintaiku. Aku tahu dia tidak akan berani melawanku.”

Blair terdiam.

Ia berdiri perlahan, sepatu haknya berhenti tepat di hadapan Victor yang masih bersujud. Blair menunduk, menatap punggung pria itu dengan ekspresi datar.

“Jadi…karena dia mencintaimu,” ucapnya tenang, “kau anggap apa dia dimatamu?"

Victor mengangkat kepalanya. Wajahnya basah oleh keringat dan air mata, namun sorot matanya tak sepenuhnya hancur.

“A-aku juga mencintainya,” jawabnya cepat.

“Aku hanya… memastikan dia tidak membantahku. Tidak meninggalkanku sendirian.”

Ruangan kembali sunyi.

Blair berbalik. Ia melangkah pergi, meninggalkan Victor di belakangnya tanpa satu pun kata tambahan.

Melihat punggung Blair menjauh, ekspresi Victor berubah. Rasa sakit di wajahnya memudar, digantikan seringai tipis. Ia perlahan bangkit, jemarinya meraih pemukul besi yang tergeletak di lantai.

“Serius?” gumamnya rendah.

“Kau pikir kau bisa melepaskan begitu saja?”

Dengan gerakan tiba-tiba, Victor berlari. Ia mengangkat pemukul tinggi-tinggi, mengerahkan sisa tenaganya.

“Mati kau—!”

Namun Blair menunduk sedikit.

Pemukul itu berhenti di udara, tertahan oleh tangan Blair yang mencengkeramnya dengan kuat.

Victor tertegun. Napasnya tercekat.

Blair tersenyum tipis.

“Bukan aku,” katanya pelan, “yang akan mati malam ini.”

Kakinya melesat, menghantam pinggang Victor. Tubuh pria itu terlempar ke samping, pemukul terlepas dari genggamannya.

Blair mengambil besi itu sebelum Victor sempat bergerak. Ia melangkah mendekat, lalu menginjak telapak tangan Victor hingga pria itu menjerit.

“Aa—!”

Victor meronta, mencoba menarik tangannya. Matanya menatap Blair dengan ketakutan murni.

“T-tolong… aku minta maaf—”

Tak ada senyum di wajah Blair sekarang.

“Cukup,” katanya dingin. "Aku sudah muak dengan sandiwaramu."

Pemukul besi itu terangkat, lalu menghantam lengan Victor. Sekali. Dua kali. Berkali-kali. Jeritan memenuhi ruangan hingga akhirnya terdengar bunyi retak yang mengerikan.

Blair berhenti.

Victor gemetar hebat, menatap lengannya yang hancur sambil terisak tak beraturan.

Blair mengangkat kakinya dari tangan Victor, lalu menunduk sedikit agar sejajar dengannya.

“kuharap, kau jangan mati dulu,” ucapnya tenang.

“karna masih ada satu lengan… dan dua kakimu yang butuh hukuman."

Ia meluruskan tubuhnya.

“Dan aku pastikan semuanya punya giliran.”

...

Malam menggantung rendah di atas kota.

Lampu sirene berputar tanpa suara, memantulkan kilau merah-biru ke dinding gedung dan aspal yang basah. Garis polisi terbentang membentuk batas tegas, menahan kerumunan agar tetap menjauh dari sebuah sudut gelap tak jauh dari kantor kepolisian.

Di sana, dua petugas berjongkok di depan sebuah karung besar yang disandarkan ke dinding bata lembap.

“Buka perlahan,” ujar salah satu dari mereka, suaranya tertahan.

Ujung karung ditarik.

Dan detik berikutnya, keduanya tersentak mundur.

Wajah di dalamnya nyaris tak bisa disebut wajah. Tulang pipi remuk, rahang miring, darah mengering menutupi kulit yang lebam. Mata terbuka setengah, kosong, seolah menatap siapa pun yang berani melihat terlalu lama.

“Sial…” salah satu polisi terengah, menutup mulutnya sendiri.

Yang lain berdiri tergesa, menoleh ke sekeliling, seakan udara di tempat itu mendadak terlalu sempit untuk dihirup.

Hujan gerimis jatuh lebih rapat.

Di tengah keheningan itu, suara langkah kaki terdengar melewati garis kuning.

Tenang. Mantap. Tanpa ragu.

Seorang pria melangkah masuk ke area TKP. Jaket kulit hitam menutupi tubuhnya, kerahnya terangkat sedikit menahan dingin. Tidak ada ekspresi terkejut di wajahnya, hanya tatapan datar yang menyapu lokasi dengan cepat dan presisi.

Polisi atasan yang berdiri tak jauh darinya langsung menegakkan badan.

“Tuan,” sapanya pelan, hampir seperti refleks.

Pria itu tidak menjawab.

Matanya tertuju pada karung yang terbuka. Pada tubuh di dalamnya. Pada luka-luka yang terlalu rapi untuk disebut amukan biasa, namun terlalu kejam untuk disebut kecelakaan.

Ia mendekat satu langkah.

“Periksa,” ucapnya singkat.

“Siap tuan.” tanya petugas forensik yang baru tiba.

Pria itu mengangguk tipis.

“Dari kepala sampai kaki. Jangan ada yang dilewatkan.”

Salah satu polisi menelan ludah. “Identitas korban masih kami pastikan, tapi—”

“Selidiki semuanya," potong pria itu tanpa menoleh. “Ini terlihat bukan pembunuhan acak.”

Ia berjongkok, menatap lebih dekat bekas luka di lengan dan kaki yang hancur.

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!