Indonesia
NovelToon NovelToon
RENKARNASI SANG PENGUASA ABSOLUT

RENKARNASI SANG PENGUASA ABSOLUT

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Sistem / Tamat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUAKA BAGI YANG TERBUANG

Di ruang kerja utama kerajaan, Alan sedang duduk di kursi kebesarannya sambil memangku Sena yang sibuk mencoret-coret kertas dengan krayon sihir. Yumi berdiri anggun di samping meja, sementara Akami menyerahkan sebuah laporan analisis sihir.

"Bagaimana hasilnya, Akami?" tanya Alan seraya mengelus kepala Sena.

"Sesuai dugaan Anda, Tuan Alan," jawab Akami lembut. "Nona Sena sama sekali tidak memiliki sirkulasi sihir atau mana di dalam tubuhnya. Beliau adalah manusia seratus persen biasa."

Alan bernapas lega. "Baguslah. Aku malah senang kalau dia tumbuh seperti anak-anak normal di duniaku dulu." Alan menoleh menatap Yumi, Zero, dan Akami dengan raut serius. "Karena Sena tidak punya sihir untuk melindungi dirinya, aku minta keselamatan Sena tetap jadi prioritas nomor satu di kerajaan ini."

"Hamba sekalian mengerti, Tuan Alan," sahut mereka serentak penuh komitmen.

Namun, pembicaraan hangat itu terputus saat pintu ruangan terketuk keras. Zero melangkah masuk dengan raut wajah yang cukup tegang.

"Mohon maaf mengganggu, Tuan Alan," ujar Zero seraya membungkuk. "Prajurit pengintai di perbatasan luar Perisai Mutlak baru saja melaporkan sebuah kejadian emergency."

"Ada apa, Zero? Ada serangan pasukan musuh lagi?" tanya Alan heran.

"Bukan pasukan musuh, Tuan," jawab Zero. "Tetapi rombongan besar penyintas. Ada sekitar lima ribu jiwa yang terdiri dari manusia biasa korban perang Granvalia, kaum Elf yang desanya dibumihancurkan, serta ras Demi-Human—manusia setengah binatang—yang melarikan diri dari perbudakan Kerajaan Obsidion. Saat ini mereka terkepung di luar perbatasan, kelaparan dan terluka parah."

Mendengar laporan itu, Alan tertegun. Di dunia yang keras ini, diskriminasi ras dan kekejaman perang ternyata begitu nyata.

"Tuan Alan, apakah kita harus mengusir mereka?" tanya salah satu menteri yang ikut berdiri di ruangan. "Wilayah ini awalnya diciptakan khusus untuk Anda."

Alan menggelengkan kepala tanpa ragu sedikit pun. Ia bangkit dari kursinya seraya menggendong Sena.

"Tidak. Bukakan gerbang," perintah Alan tegas. "Solaria bukan cuma tempat sembunyiku. Kalau kita punya kekuatan berlebih untuk melindungi orang-orang yang tertindas, kenapa harus ragu? Tampung mereka semua!"

Di luar Perisai Mutlak Kerajaan Solaria, suasana tampak begitu mencekam dan memilukan.

Lima ribu pengungsi berkumpul dalam ketakutan. Anak-anak manusia menangis dalam pelukan ibunya yang berbadan kurus kering. Para peri bertelinga panjang (Elf) menahan rasa sakit akibat luka bakar, sementara kaum Beastkin—manusia bersayap dan bertelinga serigala—memeluk anak-anak mereka seraya menatap benteng Solaria dengan pandangan putus asa.

"Apakah... apakah penguasa benteng megah ini akan membantai kita juga?" bisik seorang wanita Elf dengan bibir gemetar.

"Pasukan manusia dan iblis sama-sama memburu kita... kita sudah tidak punya tempat tinggal lagi di benua ini," rintih seorang pria Beastkin bertubuh singa yang kehilangan satu lengannya.

KRUUUKKK...

Tiba-tiba, kubah keemasan Perisai Mutlak bergetar pelan. Gerbang marmer putih raksasa Kerajaan Solaria terbuka lebar secara perlahan.

Para pengungsi menahan napas, bersiap menerima nasib terburuk. Namun, alih-alih tembakan sihir pembantai atau sabetan pedang pembunuh, yang keluar dari balik gerbang adalah barisan Ksatria Abadi dan Penyihir Abadi yang membawa ratusan peti kayu berisi roti hangat, buah-buahan sihir, dan obat-obatan murni.

Di barisan terdepan, Alan melangkah keluar dengan pakaian santainya, didampingi oleh Zero, Yumi yang menggendong Sena, serta Kayy.

"Selamat datang di Kerajaan Solaria," suara Alan menggema hangat, merasuk ke dalam hati setiap pengungsi. "Kalian semua aman di sini. Tidak ada perang, tidak ada perbudakan, dan tidak ada diskriminasi ras. Mulai hari ini, tempat ini adalah rumah kalian."

Seluruh pengungsi melongo tak percaya. Air mata menetes dari pipi wanita Elf itu. "R-Rumah... untuk kita yang terbuang ini...?"

Melihat kondisi pemukiman luar yang masih berupa padang rumput kosong, Alan mengulurkan tangan kanannya ke udara.

"Melodina, aktifkan Otoritas Konstruksi Domain Absolut. Bangun kota pemukiman ramah lingkungan untuk lima ribu jiwa," perintah Alan dalam hati.

[Perintah diterima. Memulai manifestasi konstruksi kota...]

WUSHHH! BRAYYY!

Cahaya keemasan raksasa menyelimuti area padang rumput luas di luar benteng utama. Di hadapan mata lima ribu pengungsi yang membelalak syok, tanah marmer terpapar rapi. Ratusan rumah kayu-batu yang kokoh dan cantik, saluran air bersih yang jernih, pasar, area pertanian subur, hingga penerangan kristal sihir muncul begitu saja dari tanah hanya dalam hitungan detik!

Sebuah kota baru yang megah dan bersih tercipta secara instan tanpa perlu bantuan ribuan tukang bangunan!

BRUKK! BRUKK! BRUKK!

Lima ribu penyintas dari berbagai ras itu secara serentak jatuh berlutut di atas tanah. Mereka menangis tersedu-sedu, menyembah ke arah Alan dengan rasa syukur dan keagungan yang tak terhingga.

"Terima kasih, Penguasa Agung! Terima kasih!" jerit seorang pria manusia sambil mencium tanah.

"Hidup Penguasa Solaria! Hidup Kerajaan Solaria!" seru kaum Elf dan Beastkin bersahut-sahutan hingga suara mereka membahana memenuhi langit Utara.

Beberapa jam kemudian, pemukiman baru yang kini diberi nama Kota Suaka Solaria mulai dipenuhi dengan aktivitas hangat. Pasukan Abadi membantu membagikan makanan dan merawat yang terluka, sementara para pelayan Yumi membagikan pakaian bersih yang layak.

Sena, yang berjalan gandengan bersama Alan di tengah-tengah pemukiman baru, menatap anak-anak pengungsi dengan mata berbinar. Ada anak manusia, anak elf bertelinga lancip, dan anak beastkin bertelinga kucing yang sedang duduk canggung di tepi jalan.

Sena melepaskan pegangan tangan Alan, lalu berlari kecil menghampiri mereka sambil membawa sekantung permen manis yang diberikan Yumi tadi.

"Nih! Permen wangi!" seru Sena polos sambil mengulurkan permennya pada seorang anak beastkin bertelinga kucing.

Anak beastkin itu ragu-ragu sejenak, namun melihat senyuman manis dan tulus Sena, ia menerima permen itu lalu tersenyum lebar. "T-Terima kasih, Nona Kecil..."

Tak butuh waktu lama, Sena sudah tertawa bersama anak-anak dari berbagai ras tersebut, berlari-lari kecil di antara bangunan rumah baru.

Alan berdiri di sudut jalan, menyandarkan tubuhnya pada dinding rumah kayu seraya memperhatikan Sena dari jauh. Yumi melangkah mendekat, berdiri di samping Alan dengan senyuman yang sangat hangat.

"Tuan Alan," ujar Yumi pelan. "Tindakan Anda hari ini telah menyelamatkan ribuan nyawa. Solaria bukan lagi sekadar wilayah kekuasaan, melainkan menjadi simbol harapan bagi seluruh benua ini."

Alan tertawa pelan, menyeruput napas udara sore yang segar. "Aku cuma nggak tega melihat anak-anak seusia Sena harus menangis karena perang, Yumi. Lagipula... lihat kota ini sekarang. Jadi makin ramai dan seru, kan?"

Yumi mengangguk anggun. "Benar, Tuan Alan. Kerajaan ini kini sungguh-sungguh hidup."

Di bawah naungan Perisai Mutlak dan perlindungan sosok Penguasa ber-Level 99.999, Kerajaan Solaria kini resmi bertransformasi dari sekadar benteng rahasia menjadi sebuah suaka agung yang menampung harapan dari berbagai ras yang terbuang.

1
𝓐. 𝓗.𝓸
terima kasih Babnya. saya suka dengan ceritanya dengan membangun kerajaan hingga mencipta pasukan lalu dengan membangun sebuah kota, cukup memuaskan di baca. 😁😊
Prayy: terimakasih atas dukungan nya saya akan menulis semenarik mungkin untuk pembaca agar terhibur mohon selalu di tunggu bab selanjutnya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!