Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24 Menantu Baru Keluarga Halim
"Kau Nathan versi tiga puluh tahun."
Kalimat pertama Keira setelah bertemu Marcus membuat ruang tamu keluarga Halim sunyi selama satu detik.
Marcus, yang baru mengulurkan tangan, menaikkan satu alis. Wajahnya memang memiliki garis tegas yang sama dengan Nathan, hanya lebih matang dan jauh lebih sulit dibaca.
"Aku menganggap itu pujian," katanya.
Nathan berdiri di samping Keira. "Aku tidak."
"Kau tetap versi yang lebih berisik."
Keira berjabat tangan dengan Marcus. "Senang bertemu, Ko Marcus."
"Aku juga. Akhirnya ada orang yang bisa membuat Nathan datang makan siang tepat waktu." Marcus menoleh kepadanya. "Keira, kalau dia menyebalkan, telepon aku."
"Kenapa langsung berpihak kepadanya?" protes Nathan.
"Karena aku mengenalmu dua puluh lima tahun."
Tawa Vivian terdengar dari tangga. Ia turun dengan gaun hijau muda dan gelang yang berdenting di pergelangan tangan. Begitu sampai di lantai bawah, ia langsung memeluk Keira.
"Keira, akhirnya! Coba Mama lihat cincinmu."
Keira belum sempat memberi salam ketika tangannya sudah diangkat ke bawah cahaya. Vivian memeriksa cincin ular penuh berlian itu dengan kepuasan nyata.
"Pilihanmu bagus. Nathan dulu mau memilih model yang terlalu ramai."
"Aku cuma menunjukkan opsi," bela Nathan.
"Tujuh belas opsi," kata Keira.
Andreas muncul dari arah ruang kerja dengan langkah tenang. "Selamat datang. Maaf pertemuan pertama harus tertunda karena jadwal penerbangan."
Keira mencium punggung tangannya dengan hormat. "Tidak apa-apa, Papa."
Satu panggilan itu melembutkan wajah Andreas. Ia menerima kotak teh dari Keira dan membuka segelnya sendiri.
"Teh oolong dari kebun kecil di Jawa Barat," jelas Keira. "Papa saya yang menyarankan."
"Herman punya selera baik. Kita minum setelah makan."
Sebelum menuju ruang makan, Andreas mengajak Keira melihat deretan foto keluarga di koridor. Tidak ada potret besar yang sengaja memamerkan kekayaan. Hanya foto kelulusan, perjalanan, dan ulang tahun yang dibingkai dengan ukuran hampir sama.
Nathan kecil muncul dengan rambut berantakan dalam banyak foto. Di satu gambar, ia tidur sambil memeluk papan ketik. Di gambar lain, Marcus yang masih remaja menyeretnya keluar dari bawah meja pesta.
"Dia bersembunyi karena tamu ingin mencubit pipinya," jelas Marcus.
"Ko Marcus yang menyuruhku keluar, lalu menyerahkanku kepada enam tante."
"Itu latihan sosial."
Keira berhenti di depan foto Nathan memakai seragam sekolah, kacamatanya terlalu besar untuk wajah kecilnya. "Kamu sudah pakai kacamata sejak dulu."
"Aku juga sudah tampan sejak dulu."
"Kacamatanya yang menarik."
Andreas tertawa pendek. "Simpan fotonya kalau kau mau. Kami punya salinan."
"Papa," protes Nathan.
Keira mengambil gambar bingkai itu dengan ponselnya. "Sudah tersimpan."
Vivian merangkul lengannya. "Nanti Mama kirim satu album penuh. Ada foto dia menangis waktu rambutnya dipotong terlalu pendek."
"Itu pelanggaran privasi," kata Nathan.
"Keluarga tidak mengenal privasi untuk foto masa kecil."
Keira melirik suaminya. "Aku mulai menyukai rumah ini."
Nathan mencatat ancaman album itu untuk ditangani nanti, tetapi senyum Keira membuatnya tidak benar-benar ingin mencegah apa pun.
Di meja makan, Vivian sengaja menempatkan Keira di sebelahnya. Hidangan pertama belum habis ketika ia mulai menanyakan detail gaun, bunga, dan menu resepsi.
"Mama tidak akan mengubah pilihanmu," katanya. "Mama hanya ingin tahu semuanya."
"Itu definisi lain dari ingin mengubah," gumam Nathan.
Vivian mengabaikannya. "Keira, udang asam manis ini resep keluarga. Coba."
Keira mencicipi satu ekor. Sausnya begitu manis sampai lidahnya terasa dilapisi sirup, tetapi semua orang menunggu reaksinya.
"Teksturnya enak," katanya jujur.
"Terlalu manis?" tanya Marcus.
Keira mengangguk kecil. "Sedikit."
Nathan langsung memindahkan piring itu menjauh dan menaruh tumis sayur di depannya. "Aku sudah bilang gula resep ini harus dikurangi."
"Kau waktu kecil makan sausnya pakai nasi," kata Vivian.
"Manusia berkembang."
"Sejak kapan?"
Di ujung meja, Andreas menggeser cangkir teh kosong ke arah Marcus tanpa menarik perhatian Vivian. Marcus memahami isyarat itu, membuka lemari kecil di belakangnya, lalu menuang sedikit arak beras ke dalam cangkir.
Nathan melihatnya. "Mama, Papa minum."
Andreas menatap putra bungsunya dengan pengkhianatan nyata.
Marcus menutup botol perlahan. "Aku tidak terlibat."
Vivian berbalik. "Andreas."
"Hanya sedikit untuk pencernaan."
"Dokter bilang tidak boleh siang hari."
Keira menunduk, bahunya bergerak menahan tawa. Di rumah Sutanto, Mariana mengendalikan meja dengan ketegasan rapat direksi. Di sini, keluarga Halim ternyata menyelundupkan minuman seperti anak sekolah.
Suasana menjadi lebih santai setelah itu. Sampai Vivian mengarahkan pertanyaan kepada Marcus.
"Kau kapan membawa pasangan pulang? Adikmu sudah menikah."
Marcus menyeka bibir dengan serbet. "Mama sebaiknya bertanya kapan Nathan memberi cucu."
Nathan hampir tersedak air.
"Ko Marcus."
"Apa? Aku hanya membantu mengalihkan agenda."
Vivian langsung tertarik. "Benar juga. Kalian ingin punya berapa anak?"
Keira meletakkan sendok. Nathan sempat meraih tangannya di bawah meja, tetapi ia menjawab sendiri.
"Kami belum merencanakan anak sekarang. Kami masih saling mengenal."
"Tentu." Andreas memotong sebelum Vivian melanjutkan. "Tidak ada tenggat. Pernikahan kalian, keputusan kalian."
Vivian mengangguk, meski terlihat menyimpan setidaknya sepuluh pertanyaan lain. "Mama hanya senang. Itu saja."
"Kami tahu," kata Keira. "Kalau sudah siap, Mama akan jadi salah satu orang pertama yang diberi tahu."
Ketegangan tipis itu pun surut.
Sesudah makan, Andreas membawa mereka ke ruang duduk. Ia berbicara tentang pekerjaan Keira dengan minat yang tidak dibuat-buat.
"Kalau suatu hari kau ingin mengelola perusahaan sendiri, keluarga bisa menyiapkan modal dan orang," katanya.
"Terima kasih, Papa. Untuk sekarang aku masih ingin bekerja sebagai ilustrator."
"Keputusan yang baik kalau itu yang kau pilih. Tawaran tetap ada."
Vivian kembali membawa dua baki perhiasan, seolah percakapan bisnis adalah tanda untuk membuka etalase pribadi. "Yang ini untuk sehari-hari. Yang ini untuk acara keluarga."
Keira menatap kalung, gelang, dan anting yang jumlahnya terlalu banyak. "Mama, satu saja sudah lebih dari cukup."
"Kalau satu, pasangan setnya akan kesepian."
Nathan berbisik, "Jangan mencoba menang dengan logika."
Marcus duduk di seberang mereka, memperhatikan cara Keira menolak tanpa mempermalukan Vivian, cara Nathan selalu menunggu reaksi istrinya sebelum ikut bicara, dan jarak tubuh mereka yang semakin lama semakin dekat.
Ia juga melihat satu hal lain.
Nathan sama sekali tidak menyembunyikan perasaannya. Setiap gerak Keira ditangkap matanya seperti sinyal penting.
Namun ketika Vivian menyebut cinta, Keira hanya tersenyum sopan.
Tatapan Marcus bertahan satu detik lebih lama.
Nathan menyadarinya.
Dua saudara itu saling memandang dari seberang meja, dan untuk pertama kalinya hari itu, Marcus tidak sedang bercanda.
Di bawah meja, Nathan mencari tangan Keira dan menemukannya. Keira membiarkan jari mereka bertaut, tanpa mengetahui pertanyaan yang baru tumbuh di mata kakaknya.