Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima tahun kemudian
Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk mengubah seseorang, dan Raka Wibisono adalah bukti nyata dari perubahan itu. Kini, di usianya yang menginjak dua puluh sembilan tahun, ia telah resmi menjabat sebagai Direktur Utama di salah satu anak perusahaan keluarga Wibisono—posisi yang dulu hanya bisa ia bayangkan akan diraihnya bertahun-tahun lagi, namun berhasil ia capai lebih cepat berkat dedikasi kerja yang nyaris tanpa henti.
Pagi itu, seperti biasa, Raka tiba di kantor pukul tujuh, jauh lebih awal dari jam kerja resmi. Ruangannya di lantai dua puluh tiga gedung pencakar langit itu selalu menjadi yang pertama menyala lampunya, dan menjadi yang terakhir padam di malam hari.
"Pagi, Pak Raka," sapa resepsionis dengan senyum ramah yang dibalas Raka hanya dengan anggukan singkat, tanpa kata-kata.
Ia berjalan melewati lorong kantor dengan langkah tegas, wajah yang selalu terlihat serius, hampir tanpa ekspresi. Karyawan-karyawan yang berpapasan dengannya cenderung menundukkan kepala, memberi hormat dalam diam—bukan karena rasa hormat yang tulus semata, melainkan juga rasa segan yang bercampur sedikit ketakutan terhadap reputasinya yang dikenal tegas, bahkan cenderung dingin.
"Pak, jadwal rapat hari ini sudah saya susun," kata sekretarisnya, seorang wanita paruh baya bernama Bu Yanti, mengikuti langkah Raka menuju ruangannya. "Ada tiga rapat penting, dan sore nanti ada wawancara untuk posisi staf administrasi baru di divisi pemasaran."
"Kenapa saya harus ikut wawancara staf administrasi?" tanya Raka datar, tidak berpaling dari layar ponselnya.
"HRD meminta persetujuan langsung dari Bapak, karena posisi ini akan langsung berada di bawah pengawasan divisi Bapak."
Raka menghela napas pelan. "Baik. Jadwalkan jam empat sore."
"Siap, Pak."
Bu Yanti keluar dari ruangan, meninggalkan Raka sendirian di balik meja kerjanya yang rapi dan minimalis—tidak ada foto keluarga, tidak ada hiasan personal, hanya laptop, beberapa dokumen, dan secangkir kopi hitam tanpa gula yang selalu ia minum setiap pagi.
Ia menatap keluar jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota Jakarta yang ramai, pikirannya melayang sejenak sebelum akhirnya kembali fokus pada tumpukan dokumen di mejanya. Lima tahun telah berlalu, namun ada bagian dari dirinya yang tidak pernah benar-benar sembuh, hanya tertutup rapat oleh kesibukan dan kesuksesan yang terus ia kejar tanpa henti.
Sementara itu, di kota kecil Jawa Tengah, kehidupan Laras juga telah banyak berubah. Setelah lima tahun membangun kembali hidupnya dari nol, ia berhasil menyelesaikan kuliahnya di universitas swasta setempat sambil tetap membantu usaha kedua orang tuanya. Kerja kerasnya membuahkan hasil ketika ia mendapatkan gelar sarjana ekonomi dengan predikat cum laude, sesuatu yang menjadi kebanggaan besar bagi keluarganya.
"Laras, ada surat buat kamu," panggil ibunya suatu pagi, menyerahkan sebuah amplop yang tampak resmi.
Laras membuka amplop itu dengan penasaran, matanya membeliak membaca isinya—surat panggilan wawancara kerja dari sebuah perusahaan besar di Jakarta, hasil dari lamaran yang ia kirim beberapa minggu sebelumnya.
"Ini... ini kesempatan besar, Bu," katanya, suaranya bergetar antara gembira dan gugup. "Perusahaan ini salah satu yang paling bergengsi di bidangnya."
"Jakarta?" Ibu Laras menatap putrinya dengan ekspresi campur aduk. "Kamu yakin mau kembali ke sana?"
Laras terdiam sejenak, memikirkan pertanyaan itu dengan serius. Lima tahun sudah berlalu sejak kepergiannya yang penuh luka dari kota itu. Ia sempat berpikir tidak akan pernah kembali, namun kesempatan kerja ini terlalu besar untuk dilewatkan, terutama mengingat perjuangannya selama bertahun-tahun untuk membangun karier yang layak.
"Aku rasa udah waktunya, Bu," jawabnya akhirnya, meski ada sedikit keraguan yang masih tersisa. "Lagipula, ini cuma soal pekerjaan. Jakarta itu kota besar, kemungkinan ketemu orang-orang dari masa lalu kan kecil."
Ibu Laras menatap putrinya lama, mencoba membaca apakah keputusan itu benar-benar sudah dipikirkan matang-matang atau hanya didorong oleh ambisi semata. "Kamu udah nggak mikirin dia lagi, kan?"
Pertanyaan itu membuat Laras terdiam sesaat, sebuah bayangan wajah yang sudah lama coba ia lupakan tiba-tiba muncul di benaknya. "Itu udah lama banget, Bu. Aku udah move on."
Meski begitu, jauh di dalam hatinya, Laras tahu bahwa luka itu tidak pernah benar-benar sembuh sepenuhnya—hanya tertutup oleh kesibukan dan waktu yang terus berjalan, mirip dengan apa yang dialami Raka di sisi lain, tanpa mereka berdua sadari betapa miripnya cara mereka menghadapi rasa sakit yang sama.
Seminggu kemudian, Laras berangkat ke Jakarta untuk mengikuti proses wawancara kerja, ditemani rasa gugup yang bercampur dengan harapan besar akan masa depan yang lebih baik. Kota itu terasa asing sekaligus familiar baginya—gedung-gedung tinggi yang dulu pernah menjadi latar belakang kisah cintanya, kini menyambutnya kembali dengan wajah yang sama sekali berbeda dari yang ia ingat.
Ia berhasil melewati beberapa tahap wawancara dengan baik, kemampuannya yang terasah selama bertahun-tahun bekerja keras membuatnya menjadi kandidat yang menonjol di antara pelamar lainnya. Hingga akhirnya, ia menerima kabar baik yang selama ini ia tunggu.
"Selamat, Anda diterima sebagai staf administrasi di divisi pemasaran," kata petugas HRD melalui telepon, suaranya penuh semangat. "Kami sangat terkesan dengan kualifikasi dan pengalaman Anda selama ini."
Laras hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Rasa syukur dan haru membuncah di dadanya, mengingat perjuangan panjang yang telah ia lalui untuk sampai ke titik ini.
"Terima kasih banyak. Saya akan segera mempersiapkan diri untuk mulai bekerja."
"Baik. Anda akan mulai bekerja minggu depan. Untuk detail lebih lanjut mengenai atasan langsung dan pengenalan tim, akan dijelaskan pada hari pertama Anda masuk kerja."
Laras menutup telepon dengan perasaan campur aduk antara bahagia dan sedikit cemas menghadapi babak baru dalam hidupnya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa perusahaan yang menerimanya bekerja—yang selama proses wawancara hanya dikenalnya dengan nama besar dan reputasi bergengsi di dunia bisnis—ternyata adalah bagian dari kerajaan bisnis keluarga yang dulu pernah menghancurkan kebahagiaannya, keluarga yang kini dipimpin langsung oleh seorang direktur muda yang sudah lama menjadi asing baginya, meski dulu pernah menjadi bagian paling berharga dari hidupnya.
Malam sebelum hari pertama kerjanya, Laras berdiri di depan cermin kamar hotel sederhana yang ia sewa sementara, menatap pantulan dirinya dengan tekad baru yang mulai terbentuk.
Ini cuma soal pekerjaan, batinnya, mencoba menenangkan diri sendiri. Aku udah jadi orang yang berbeda sekarang. Aku bisa hadapi apa pun yang menanti besok.
Ia tidak tahu betapa kelirunya keyakinan itu. Karena esok hari, di lantai dua puluh tiga gedung yang akan menjadi tempat kerjanya yang baru, sebuah pertemuan tak terduga akan mengguncang kembali seluruh fondasi kehidupan yang telah susah payah ia bangun selama lima tahun terakhir—pertemuan dengan seseorang yang telah berubah menjadi pribadi yang jauh berbeda dari yang pernah ia kenal, seseorang yang kini memegang kekuasaan penuh atas nasib pekerjaannya, dan yang hatinya masih menyimpan luka serta kemarahan yang belum pernah benar-benar sembuh selama lima tahun penuh kesalahpahaman yang mencekam.