Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 — Malam Perkenalan
Dila masih berdiri di depan ranjang.
Pesan Azam terus terbayang di kepalanya.
«Besok malam, jangan datang sebagai karyawan.
Datang sebagai seseorang yang harus saya perkenalkan kepada keluarga saya.»
Dila membaca kedua pesan itu berkali-kali.
Semakin dibaca, semakin banyak pertanyaan muncul.
“Kenapa harus seperti ini?”
Tangannya masih memegang kalung yang dikirimkan Azam.
Benda itu indah.
Terlalu indah untuk digunakan seseorang seperti dirinya.
Dila kemudian memasukkannya kembali ke dalam kotak.
“Aku tidak boleh terbawa suasana.”
Ia menutup kotak tersebut.
Namun baru beberapa langkah hendak meninggalkan kamar, pintu terbuka.
Fadil muncul.
“Kamu belum tidur?”
Dila sedikit terkejut.
“Belum.”
Fadil melihat kotak di atas ranjang.
“Itu apa?”
Dila langsung mengambilnya.
“Barang dari kantor.”
“Dikasih perusahaan?”
Dila mengangguk.
“Untuk acara besok.”
Fadil tersenyum.
“Wah, baru kerja sudah dapat hadiah.”
“Bukan hadiah.”
“Terus?”
“Perlengkapan kerja.”
Fadil tidak terlalu memikirkannya.
“Oh.”
Ia kemudian duduk di tepi ranjang.
“Besok kamu ada acara?”
“Iya.”
“Pulang malam?”
“Mungkin.”
Fadil mengangguk.
“Tidak masalah.”
Dila duduk di sampingnya.
“Mas…”
“Ya?”
“Kalau suatu hari aku melakukan sesuatu yang menurut Mas salah…”
Fadil menoleh.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Cuma bertanya.”
Fadil tersenyum.
“Aku mungkin marah.”
Dila menunduk.
“Tapi aku akan dengarkan alasanmu dulu.”
Dila terdiam.
“Kenapa?”
“Karena kamu istriku.”
Fadil kemudian mengusap kepala Dila.
“Jangan terlalu banyak berpikir.”
Dila menahan air mata.
“Ya.”
Malam itu, mereka tidur bersebelahan.
Namun Dila hampir tidak memejamkan mata.
Di antara dirinya dan Fadil kini terdapat sebuah rahasia.
Rahasia yang semakin hari terasa semakin berat.
Keesokan harinya, Dila menjalani pekerjaannya seperti biasa.
Tetapi sepanjang hari, ia terus memikirkan acara keluarga Azam.
Laras bahkan beberapa kali memberikan pengarahan.
“Jangan terlalu banyak bicara.”
“Kenapa?”
“Karena keluarga Pak Azam sangat memperhatikan hal-hal kecil.”
Dila mengangguk.
“Lalu saya harus bagaimana?”
“Jadilah diri sendiri.”
Dila tertawa kecil.
“Katanya jangan banyak bicara.”
“Jadi diri sendiri yang tidak banyak bicara.”
Dila akhirnya ikut tertawa.
Untuk pertama kalinya sejak bekerja di sana, ketegangan di hatinya sedikit berkurang.
Namun sore hari, sebuah kejadian membuat semuanya berubah.
Dila sedang berjalan menuju ruang kerja Azam ketika mendengar suara keras dari dalam.
“Aku tidak setuju!”
Suara lelaki.
Dila berhenti.
Kemudian suara Azam terdengar.
“Ini keputusan saya.”
“Perusahaan ini bukan hanya milikmu!”
“Memang.”
“Tapi keluarga kita juga punya hak!”
Dila tidak sengaja mendengar percakapan itu.
Ia hendak pergi ketika pintu terbuka.
Seorang pria keluar dengan wajah marah.
Mereka saling berhadapan.
Pria itu menatap Dila.
“Kamu siapa?”
Dila gugup.
“Saya Dila.”
Pria tersebut menatapnya beberapa detik.
Kemudian ekspresinya berubah.
“Kamu?”
Dila bingung.
“Kenapa?”
Pria itu tidak menjawab.
Ia justru pergi.
Dila berdiri terpaku.
Tak lama kemudian Azam keluar.
“Kamu mendengar?”
“Sedikit.”
Azam menghela napas.
“Itu Bagus.”
“Siapa dia?”
“Adik saya.”
“Kenapa dia seperti mengenal saya?”
Azam diam.
“Pak Azam?”
“Nanti kamu akan tahu.”
Dila mulai kesal.
“Kenapa semua orang menyembunyikan sesuatu dari saya?”
“Karena belum waktunya.”
“Kalau terus begini, bagaimana saya bisa percaya?”
Azam menatapnya.
“Kamu tidak perlu percaya kepada saya.”
Dila terdiam.
“Kamu hanya perlu menjalankan kontrak.”
Malam tiba.
Sebuah mobil kembali menjemput Dila.
Kali ini ia mengenakan gaun yang dikirimkan Azam.
Gaun itu sederhana tetapi elegan.
Dila berdiri di depan cermin.
Untuk sesaat ia bahkan tidak mengenali dirinya sendiri.
Laras datang menghampiri.
“Cantik.”
Dila tersenyum malu.
“Saya merasa aneh.”
“Wajar.”
“Seperti bukan diri saya.”
Laras memperhatikan kalung di leher Dila.
“Pak Azam yang memilihnya.”
Dila langsung menyentuh kalung itu.
“Kenapa dia memilih ini?”
Laras tidak menjawab.
Mereka kemudian berangkat.
Rumah keluarga Azam ternyata jauh lebih besar daripada yang Dila bayangkan.
Sebuah rumah bergaya klasik berdiri di tengah halaman luas.
Lampu-lampu taman menyala.
Beberapa kendaraan mewah terparkir.
Dila menelan ludah.
“Banyak sekali orang.”
“Acara keluarga kecil,” jawab Laras.
Dila meliriknya.
“Kalau ini kecil, saya tidak ingin tahu yang besar.”
Laras tertawa.
Mereka masuk.
Beberapa orang langsung memperhatikan Dila.
Bisikan mulai terdengar.
“Itu siapa?”
“Perempuan yang bersama Azam?”
“Bukankah dia sudah menikah?”
Dila mendengar semuanya.
Langkahnya mulai kaku.
Laras berbisik,
“Tenang.”
“Saya tidak nyaman.”
“Jangan pedulikan mereka.”
Kemudian suara seseorang terdengar dari depan.
“Azam!”
Dila menoleh.
Seorang perempuan paruh baya berjalan mendekat.
Wajahnya terlihat anggun.
Ia adalah ibu Azam.
“Bu Ratih,” sapa Laras.
Bu Ratih mengangguk.
Namun tatapannya langsung tertuju kepada Dila.
Ia tidak berkata apa-apa.
Hanya menatap.
Lama.
Terlalu lama.
Kemudian wajahnya berubah pucat.
“Tidak mungkin…”
Dila bingung.
“Bu?”
Bu Ratih melangkah mendekat.
Tangannya terangkat, hampir menyentuh wajah Dila.
Namun berhenti di udara.
“Siapa nama kamu?”
“Dila.”
Bu Ratih mundur satu langkah.
Matanya berkaca-kaca.
“Dila…”
Azam yang berdiri di belakang mereka langsung berkata,
“Ibu.”
Bu Ratih menoleh kepada anaknya.
“Apa maksudmu membawa dia ke sini?”
Azam menjawab tenang.
“Saya sudah menjelaskannya.”
“Kamu gila?”
Beberapa anggota keluarga langsung memperhatikan.
Dila semakin bingung.
Bu Ratih kemudian berkata dengan suara bergetar,
“Perempuan ini…”
Ia menatap Dila.
“Dia sangat mirip dengan seseorang.”
“Siapa?” tanya Dila.
Bu Ratih tidak menjawab.
Tiba-tiba seorang lelaki tua yang sejak tadi duduk di ruang tengah berdiri.
Tatapannya jatuh kepada Dila.
Tongkatnya hampir terlepas dari tangan.
“Dila?”
Suasana mendadak sunyi.
Dila membeku.
Lelaki tua itu berjalan mendekat.
“Tidak mungkin…”
Dila menatapnya.
“Saya mengenal Anda?”
Lelaki itu justru menatap Azam.
“Dari mana kau menemukan dia?”
Azam menjawab,
“Saya tidak menemukan dia.”
Ia menatap Dila.
“Saya menemukannya kembali.”
Jantung Dila berdetak semakin keras.
“Menemukan kembali?”
Lelaki tua itu memejamkan mata.
“Berarti akhirnya…”
“Apa?” tanya Dila.
Tidak ada yang menjawab.
Malam itu, Dila merasa seperti sedang berdiri di tengah sebuah teka-teki besar.
Ia tidak mengenal keluarga Azam.
Namun semua orang seolah mengenalnya.
Dan yang paling membuatnya takut adalah cara mereka memandang dirinya.
Seolah wajahnya membawa kembali kenangan yang sudah lama terkubur.
Ketika suasana semakin tegang, Azam akhirnya membawa Dila keluar menuju taman belakang.
“Maaf.”
Dila langsung berbalik.
“Maaf?”
“Seharusnya saya memberitahumu bahwa keluarga saya mungkin akan bereaksi seperti ini.”
“Mungkin?”
Dila hampir tertawa karena kesal.
“Mereka memanggil nama saya seolah-olah sudah mengenal saya sejak lama.”
Azam diam.
“Siapa perempuan yang saya mirip?”
Azam menatap kolam di hadapan mereka.
“Ibu saya.”
Dila terkejut.
“Ibu Anda?”
“Bukan.”
Azam menggeleng.
“Kamu mirip seseorang yang sangat penting bagi keluarga kami.”
“Siapa?”
Azam menatapnya.
“Namanya Larasati.”
Dila mengernyit.
“Siapa dia?”
Azam tidak menjawab.
“Kenapa Anda diam?”
“Karena Larasati meninggal dua puluh delapan tahun lalu.”
Dila membeku.
“Lalu apa hubungannya dengan saya?”
Azam mendekat beberapa langkah.
“Itulah alasan sebenarnya saya mencarimu.”
Dila mundur.
“Saya tidak mengerti.”
“Dua puluh delapan tahun lalu, ada seorang perempuan yang meninggalkan keluarga kami.”
“Larasati?”
Azam mengangguk.
“Dan sebelum meninggal, dia meninggalkan sebuah rahasia.”
Dila menatapnya.
“Rahasia apa?”
Azam hendak menjawab.
Namun suara langkah kaki terdengar dari belakang.
Mereka menoleh.
Bu Ratih berdiri di sana.
Wajahnya penuh air mata.
“Azam.”
“Bu?”
“Jangan katakan semuanya malam ini.”
Dila menatap keduanya.
“Kenapa?”
Bu Ratih akhirnya menatap Dila.
“Karena kalau kamu tahu siapa sebenarnya dirimu…”
Ia berhenti.
Air mata mengalir di pipinya.
“…kamu mungkin akan membenci keluarga kami.”
Dila merasakan tubuhnya merinding.
Sementara di dalam rumah, Fadil menelepon istrinya.
Namun Dila tidak mendengar telepon itu.
Ponselnya bergetar berkali-kali di dalam tas.
Di layar terpampang nama Fadil.
Dan pada saat yang sama, sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
«Jangan percaya Azam. Dia tidak mengatakan semuanya kepadamu.»
Dila menatap pesan tersebut dengan napas tertahan.
Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertanyakan keputusan yang telah dibuatnya.
Siapa sebenarnya Larasati?
Mengapa keluarga Azam mengenal wajahnya?
Dan yang paling penting…
Mengapa seseorang memperingatkannya agar tidak mempercayai Azam?
Malam itu, Dila sadar bahwa kontrak dua puluh juta rupiah yang ia tanda tangani hanyalah permulaan.
Sebab di balik kontrak tersebut tersimpan sebuah rahasia keluarga yang telah terkubur selama puluhan tahun.
Dan Dila perlahan sedang ditarik masuk ke dalamnya.
Bersambung…