Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Sang Don

Di Balik Topeng Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: LORD KING

Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.

Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.

Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang bayang di Pelabuhan

Pelabuhan tiga tidak pernah tidur. Bahkan pada pukul dua dini hari, derek-derek raksasa masih bergerak diam-diam di bawah sorot lampu natrium, memindahkan kontainer yang isinya jauh lebih beragam dari yang tertulis di manifes resminya.

Luki berdiri di lantai atas gudang penyimpanan sementara, menatap ke bawah melalui jendela kaca satu arah, mengamati aktivitas bongkar muat yang berjalan seperti biasa — kecuali bagi mata yang tahu apa yang harus dicari. Bram berdiri di sampingnya, tablet di tangan menampilkan rekaman kamera pengintai dari tiga titik berbeda.

"Ini," kata Bram, memutar layar tabletnya ke arah Luki. Rekaman itu menunjukkan sebuah truk yang tidak terdaftar di jadwal bongkar muat resmi, masuk melalui gerbang belakang yang seharusnya hanya digunakan untuk keadaan darurat. "Masuk jam sebelas malam. Keluar jam satu, tanpa muatan yang tercatat."

"Antasena," gumam Luki, lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan.

"Truk itu terdaftar atas nama perusahaan boneka yang sama yang dipakai untuk operasi mereka di Surabaya tahun lalu." Bram menggeser layar, menunjukkan dokumen kepemilikan yang sudah dilacak timnya. "Mereka nggak lagi sekadar mencoba masuk wilayah kita, Tuan. Mereka mencoba membangun jalur permanen tepat di bawah hidung kita."

Luki diam, rahangnya mengeras, matanya masih terpaku pada layar meski rekaman sudah berhenti diputar. "Berapa lama mereka sudah beroperasi di sini tanpa kita sadari?"

"Kemungkinan tiga bulan." Bram ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Ada hal lain, Tuan. Sesuatu yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar jalur distribusi."

"Katakan."

Bram menarik napas, jelas tidak nyaman menyampaikan apa yang akan ia katakan berikutnya. "Salah satu informan kita di lingkaran dalam Antasena bilang, nama Indra sudah disebut dalam pertemuan internal mereka minggu lalu. Bukan sebagai target penculikan untuk uang tebusan biasa. Mereka bicara soal—" Bram memilih kata-katanya hati-hati, "—'aset kognitif'."

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih dingin dari suhu AC yang sebenarnya. Luki berbalik perlahan, menatap Bram dengan intensitas yang belum pernah dilihat Bram sepuluh tahun terakhir — bukan kemarahan biasa, melainkan sesuatu yang jauh lebih primitif, lebih berbahaya.

"Ulangi," kata Luki, suaranya nyaris berbisik.

"Antasena punya proyek riset gelap, Tuan. Kecerdasan buatan yang dilatih menggunakan pola pikir manusia jenius, katanya untuk sistem enkripsi generasi berikutnya yang mereka rencanakan jual ke negara-negara yang tidak bisa membelinya secara legal. Mereka butuh subjek dengan kapasitas kognitif ekstrem untuk melatih model itu. Nama Indra muncul di laporan mereka setelah insiden peretasan sekolahnya bocor ke jaringan informan mereka."

Untuk beberapa detik, Luki tidak bergerak sama sekali. Bram sudah melihat atasannya marah, melihatnya dingin, melihatnya kejam tanpa ampun terhadap siapa pun yang berani berkhianat. Tapi ia belum pernah melihat wajah Luki seperti ini — pucat sesaat, seolah tanah di bawah kakinya baru saja runtuh, sebelum kembali mengeras menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin dari sebelumnya.

"Kumpulkan semua orang," kata Luki akhirnya, suaranya kembali stabil, tapi ada nada baru di dalamnya — nada yang membuat Bram, meski sudah kebal terhadap kekerasan selama bertahun-tahun, tetap merasa merinding. "Aku ingin tahu setiap gerakan Antasena, setiap orang yang bekerja untuknya, setiap rekening yang pernah ia sentuh. Aku ingin tahu di mana ia tidur malam ini."

"Tuan, kalau kita bergerak terlalu agresif sekarang, itu bisa memicu perang terbuka—"

"Aku tidak peduli." Luki melangkah mendekat, suaranya masih rendah tapi kini bergetar dengan sesuatu yang jarang sekali Bram dengar — ketakutan yang dibungkus kemarahan. "Dengar aku, Bram. Aku sudah kehilangan ayahku karena perang wilayah yang bodoh. Aku sudah kehilangan istriku karena dunia ini. Aku tidak akan kehilangan Indra karena seseorang memutuskan otaknya lebih berharga daripada hidupnya sebagai manusia."

Bram mengangguk pelan, memahami bahwa perintah berikutnya bukan lagi soal strategi bisnis atau perhitungan untung-rugi — ini soal sesuatu yang jauh lebih personal, sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan.

"Akan saya kerjakan malam ini juga," katanya.

 

Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil yang melaju menembus jalanan Jakarta yang mulai sepi, Luki menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya berputar pada satu bayangan — Indra, tertidur di bawah selimut galaksinya, tak tahu apa-apa tentang dunia yang baru saja mengancamnya bukan karena kesalahannya, melainkan karena kecerdasan yang seharusnya menjadi anugerah, kini berubah menjadi kutukan yang mengundang predator dari kegelapan.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Alena.

"Sesi tadi berjalan baik. Indra mulai terbuka. Tapi Pak Subroto, saya perlu bicara dengan Anda soal sesuatu yang ia gambar hari ini. Ada beberapa hal yang menurut saya perlu Anda tahu."

Luki menatap layar itu lama. Sesuatu di dadanya sedikit mengendur — bukan karena ancaman itu berkurang, melainkan karena mengetahui ada seseorang yang memperhatikan Indra dengan mata yang sama telitinya seperti dirinya.

"Saya akan pulang jam tujuh seperti biasa," ia mengetik balasan. "Kita bisa bicara setelah Indra tidur."

Ia menekan kirim, lalu menyandarkan kepalanya ke jok mobil, menutup mata sejenak.

Di luar sana, di suatu tempat di kota yang sama, Antasena Prawira sedang duduk di kantornya sendiri, menatap sebuah foto di layar laptopnya — foto Indra yang diambil diam-diam dari kejauhan saat anak itu berjalan pulang dari sekolah minggu lalu, tersenyum riang tanpa tahu ada lensa kamera yang mengintainya dari balik kaca mobil yang terparkir di seberang jalan.

"Anak yang menarik," gumam Antasena pada dirinya sendiri, mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. "Sayang sekali ayahnya terlalu keras kepala untuk mau bernegosiasi baik-baik."

Ia mengambil ponselnya, mengetik satu pesan singkat kepada seseorang di jaringannya.

"Mulai persiapkan rencana B. Kita ambil dia minggu depan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!