Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Nggak Bisa Pedas

Beberapa hari setelah perang dingin mereka berakhir, Keira pulang membawa dua kotak mi pedas yang sedang viral.

"Level tiga buatku, level dua buat kamu," katanya sambil menaruh kantong di meja.

Reynard yang sedang menyusun bahan makanan mengangkat kepala. "Kenapa punyaku level dua?"

"Karena level tiga tinggal satu."

"Aku bisa level tiga."

"Jangan rebut makanan orang yang lebih tua."

Mereka akhirnya bertukar setengah porsi. Pada suapan pertama, Reynard masih terlihat tenang. Suapan kelima membuat telinganya merah. Suapan kesepuluh membuat butiran keringat muncul di pelipis.

Keira berhenti makan. "Kamu kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

"Mukamu pucat tapi telingamu merah."

"Panas."

Pendingin ruangan menyala pada dua puluh dua derajat. Keira menyipitkan mata, lalu melihat tangan Reynard menekan bagian atas perut.

"Rey, kamu sakit?"

"Sedikit perih. Nanti hilang."

Keira langsung mengambil kotaknya. "Jangan dimakan lagi."

"Sayang dibuang."

"Lebih sayang kalau aku harus bawa kamu ke IGD gara-gara mi. Obatmu di mana?"

Reynard menunjuk tas yang tergantung di kursi. Keira membukanya dan menemukan satu strip obat lambung, air mineral kecil, serta biskuit tawar. Semuanya tersusun seperti perlengkapan darurat yang sudah sering dipakai.

"Kamu memang punya maag?"

"Kadang."

"Dan tetap makan pedas?"

"Cici juga makan."

"Tubuh kita beda. Kenapa nggak bilang dari awal?"

Reynard menunduk. "Dari kecil kalau nggak kuat pedas suka dibilang cengeng. Jadi terbiasa menahan."

Keira menuangkan air dan menyerahkan obat. "Kuat itu bukan berarti menyiksa perut sendiri. Minum."

Reynard menurut. Sepuluh menit kemudian keringatnya belum hilang, jadi Keira mengambil handuk dingin dan menempelkannya ke tengkuk cowok itu.

"Aku bisa sendiri."

"Diam. Tadi siapa yang sok kuat?"

"Galak banget."

"Bagus. Biar kapok."

Meski mengomel, Keira memasak bubur polos dari sisa nasi. Ia menambahkan telur dan sedikit kecap, tanpa sambal, lalu duduk menunggu Reynard menghabiskannya. Cowok itu menerima setiap suapan dengan patuh.

"Mulai sekarang, maksimal level nol," putus Keira.

"Itu bukan pedas."

"Tepat sekali."

"Sedikit saja."

"Nggak."

"Ci Kei."

"Panggil sampai besok juga jawabannya tetap nggak."

Reynard menatap wajahnya beberapa detik, lalu tersenyum. "Baik. Menurut Cici saja."

Keira menahan diri untuk tidak ikut tersenyum. Beberapa hari lalu, kepatuhan seperti itu akan terasa mencurigakan. Malam ini, setelah melihat cowok tersebut pucat dan berkeringat, ia hanya merasa lega.

Panggilan video dari Vanessa masuk saat Keira masih membereskan meja. Latar belakang sahabatnya memperlihatkan kamar hotel dan setumpuk dokumen.

"Kalian masih hidup?" tanya Vanessa.

Keira membalik kamera ke arah Reynard yang memeluk bantal sambil menunggu obat bekerja. "Adikmu hampir tumbang gara-gara mi pedas."

"Dia makan pedas? Rey, otakmu ketinggalan di SMA?"

"Cici, jangan mulai," protes Reynard.

Vanessa tertawa. "Waktu kecil dia pernah nangis karena sambal kena nasi. Sejak itu kalau ada yang bilang nggak jantan, dia pasti nekat makan."

"Aku nggak nangis. Mataku berair."

"Sambil terisak panggil Mama."

Reynard meraih ponsel, tetapi Keira menghindar sambil tertawa. "Tenang, Nessa. Mulai sekarang aku awasi makanannya."

Tawa Vanessa mendadak berhenti. Ia menatap layar dengan senyum penuh arti. "Wah, baru kutitipkan sebentar sudah ada yang mengawasi makan. Bagus. Aku jadi tenang di sini."

"Jangan aneh-aneh."

"Aku cuma bilang terima kasih."

Vanessa kemudian menanyakan tindak lanjut kasus Ricky dan jadwal UAS Keira. Setelah mendapat jawaban lengkap, nada bercandanya melunak.

"Kalau ada apa-apa lagi, telepon aku kapan pun. Brasil bukan planet lain."

"Urus saja auditmu. Di sini sudah aman."

Keira tanpa sadar melirik Reynard saat mengucapkan kalimat terakhir. Vanessa menangkap gerakan itu, tetapi cukup baik untuk tidak mengomentarinya. Ia hanya berpamitan, lalu memutus sambungan karena harus menghadiri rapat pagi.

Reynard masih menatap Keira setelah layar padam.

"Apa?"

"Cici bilang di sini aman."

"Memang aman."

"Karena keamanan gedung?"

Keira membawa mangkuk ke wastafel. "Karena sekarang petugasnya lebih waspada. Jangan besar kepala."

Senyum Reynard mengatakan ia mendengar jawaban yang berbeda.

***

Sejak kejadian mi pedas, daftar belanja mereka berubah. Reynard berhenti membeli saus cabai untuk dirinya. Keira selalu memeriksa tingkat kepedasan sebelum memesan makanan. Jika restoran hanya punya menu pedas, ia memilih tempat lain tanpa perlu diminta.

Sebagai balasan, Reynard mulai menyisihkan daun ketumbar dari makanan Keira. Kopinya selalu diberi dua gula. Saat Keira pulang membawa roti dengan kismis, ia menemukan bagian berkismis sudah dipotong karena pernah sekali mengeluh tidak menyukainya.

"Kamu hafal semua hal aneh tentangku," komentar Keira.

"Bukan hal aneh. Cuma kebiasaan."

"Aku sendiri kadang lupa."

"Makanya ada aku."

Kalimat itu jatuh begitu alami sehingga keduanya terdiam.

Malam berikutnya mereka duduk di lantai ruang tamu, melipat pakaian bersih sambil menonton serial. Hujan tipis menyentuh jendela. Reynard menyerahkan kaus Keira yang baru dilipat, lalu mengambil handuk berikutnya.

"Untung ada kamu," kata Keira tanpa berpikir. "Jadi nggak kesepian tinggal sendirian."

Tangan Reynard berhenti di atas handuk.

Keira baru menyadari apa yang dikatakan. Ia menatap televisi, berpura-pura tertarik pada adegan yang bahkan tidak diikuti.

"Aku juga," jawab Reynard pelan.

Tidak ada yang menambahkan apa pun. Namun di antara bunyi hujan, pakaian hangat, dan dua unit yang hanya dipisahkan beberapa langkah, kesunyian itu terasa jauh lebih penuh daripada percakapan.

Untuk pertama kalinya, Keira tidak merasa perlu melarikan diri dari keheningan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!