Indonesia
NovelToon NovelToon
Lahir Nya Penyihir Terkuat

Lahir Nya Penyihir Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.

Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.

Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.

Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekad Aurelia

Malam semakin larut dan udara dingin kian menusuk tulang. Bagi mereka yang terlahir dengan berkah sihir Es atau memiliki inti roh murni yang kuat, kebekuan ini hanyalah hembusan angin sepoi-sepoi yang tak berarti.

Namun, di tengah lapangan latihan yang sunyi dan terkubur badai salju yang lebat, hanya ada satu siluet tubuh yang bertahan. Aurelia berdiri di sana, menggenggam sebuah pedang besi berkarat tanpa pendar energi sihir sedikit pun.

Kulitnya mulai membiru dan bibirnya membeku kaku, namun ia terus mengayunkan senjatanya dengan cekatan, mengandalkan insting murni.

Bruk!

Kaki Aurelia melemah. Ia kehilangan keseimbangan dan ambruk di atas tumpukan salju yang tebal. Tubuhnya gemetar hebat menahan hipotermia. Namun, dengan bertumpu pada bilah pedangnya, ia memaksa dirinya kembali berdiri tegak.

Tanpa Aurelia sadari, sepasang mata yang tajam mengamati setiap gerakannya dari balik bayangan koridor batu.

Arthur menyandarkan tubuhnya di dinding batu, melipat kedua tangannya di dada dengan pakaian ringan yang melambai ditiup angin malam.

"Apa yang sebenarnya sedang dilakukan gadis bodoh itu?" gumam Arthur dengan suara berat, nyaris berbisik pada angin malam. "Bukannya beristirahat... dia malah menyiksa diri dan bertarung melawan batas kemampuannya sendiri."

Namun, ada sesuatu yang di lihat Arthur dengan sangat jelas. Ia tertegun melihat sepasang mata Aurelia yang berkilat tajam di bawah rontokan salju yang mengotori rambut pirangnya.

Setiap kali tubuh gadis itu ambruk, detik itu juga ia bangkit dengan tekad yang jauh lebih membara.

Arthur melihat sesuatu yang sangat familiar di dalam tatapan itu—sebuah ambisi murni dan keras kepala yang dulu pernah ia miliki sebelum dunia mengubahnya menjadi dingin.

Disini semua orang menganggap Aurelia sebagai sampah tidak berguna karena tidak memiliki bakat sihir Es.

Namun malam ini, di bawah kesaksian badai salju, Arthur menyadari satu hal: kelak, sampah yang mereka hina inilah yang akan tumbuh melampaui tinggi langit dan membakar seluruh keangkuhan dunia ini.

Arthur perlahan memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan fokus, sebelum akhirnya membukanya kembali.

Detik itu juga, sepasang manik matanya bertransformasi, berpendar oleh cahaya keemasan yang mistis dan agung.

Mata Arthur menembus pakaian, kulit, hingga struktur terdalam dari tubuh Aurelia.

Di sana, di pusat murni energinya, Arthur melihatnya dengan sangat jelas. Sebuah akar kejam, menyumbat aliran energi inti roh murni yang luar biasa kuat di dalam tubuh Aurelia.

Aliran magis yang seharusnya mengalir deras seperti air terjun, dipaksa berhenti hingga tak menyisakan setitik pun sihir di permukaan.

Itulah alasan mengapa Aurelia tidak pernah bisa menguasai satu pun sihir dasar, bukan karena dia tidak berbakat, melainkan karena potensinya dikunci secara paksa.

"Dia bukan sampah yang tidak berguna..." gumam Arthur dengan suara yang begitu rendah, hampir tertelan oleh deru angin malam.

Tatapan matanya melembut sekaligus menajam, mengunci sosok gadis di depannya. "Dia adalah penyihir tersembunyi yang kekuatannya mampu mengguncang benua ini... ini... hanya masalah waktu. Mungkin, jika dia di latih, kekuatannya bisa setara denganku."

Dengan langkah kaki yang anggun namun tegas, Arthur mulai berjalan membelah hujan salju, menuju ke tengah lapangan latihan yang sunyi. Salju yang turun semakin lebat dan menggila, menciptakan dinding-dinding es di udara.

Anehnya, butiran salju dan hawa dingin yang mematikan itu bahkan tidak mampu menyentuh ujung pakaian Arthur; energi tak kasat mata di sekeliling tubuhnya menolak segala bentuk cuaca ekstrem.

"Apa yang Nona lakukan di tempat seperti ini, di tengah malam yang membekukan?"

Suara bariton yang tiba-tiba memecah kesunyian itu menyentak Aurelia dengan keras. Gadis itu terperanjat, napasnya memburu seketika.

Tubuhnya refleks mundur beberapa langkah hingga hampir tersandung kakinya sendiri. Sepasang matanya melebar sempurna, memancarkan keterkejutan saat mendapati sosok Arthur telah berdiri di hadapannya seperti hantu musim dingin.

"A--Arthur..." Aurelia mendadak gagap, lidahnya kelu dan tenggorokannya terasa kering kaku. "Bagaimana... bagaimana bisa kau ada disini?" tanya Aurelia dengan suara bergetar.

Jemari tangannya yang kurus dan dipenuhi luka gores tampak gemetar hebat saat mencengkeram erat gagang pedang berkarat yang ia gunakan untuk berlatih.

Gemetar itu bukan hanya disebabkan oleh dinginnya malam yang menusuk hingga ke tulang sumsum, melainkan karena ada emosi lain yang bergejolak di dalam dadanya.

Ketakutan. Aurelia tidak takut pada Arthur, tetapi dia sangat takut jika keberadaan Arthur di sisinya akan membawa petaka bagi pemuda itu. Jika Arthur berurusan dengannya, Arthur pasti akan terluka lagi.

"Seharusnya aku yang mengajukan pertanyaan itu kepada Anda, Nona," balas Arthur tenang.

Tanpa ragu, Arthur melangkah maju satu kali lagi, memangkas habis jarak yang tersisa di antara mereka. Membuat Aurelia menahan nafas.

Sebelum gadis itu sempat menghindar, Arthur mengangkat tangan kanannya perlahan, lalu dengan lembut mendaratkan telapak tangannya di atas kening Aurelia yang tertutup poni basah. Detik itu juga, sensasi panas menyengat langsung terasa di kulitnya.

"Nona masih demam tinggi... seharusnya Nona beristirahat di dalam kamar, bukannya menyiksa diri di tempat ini," ucap Arthur dengan nada suara yang menuntut namun terselip kekhawatiran yang dalam.

Aurelia seketika menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan mata Arthur yang seolah bisa membaca seluruh isi jiwanya. Air mata yang hangat hampir saja menetes di pipinya yang pucat, namun ia menahannya sekuat tenaga.

"Aku hanya... aku hanya sedang berlatih, Arthur. Hanya pada waktu seperti inilah, saat semua orang tertidur, aku bisa merasa bebas di tempat ini. Tidak ada yang berteriak memanggilku cacat. Tidak ada yang datang untuk mengusirku dari sini, dan tidak ada seorang pun yang akan menggangguku," bisik Aurelia dengan suara yang teramat lirih, nyaris menyerupai desis angin malam yang putus asa.

Meskipun suara itu begitu pelan, Arthur yang memiliki pendengaran tajam dapat menangkap setiap kata dan kepedihan yang tersirat di dalamnya dengan sangat jelas.

"Tubuh Nona sudah mencapai batasnya. Jika Anda terus memaksakan diri melawan dingin ini sendirian, tubuh Nona akan benar-benar hancur dan Anda akan jatuh," sahut Arthur, mencoba memperingatkannya dengan realita yang kejam.

Mendengar kalimat itu, Aurelia perlahan mengangkat wajahnya kembali. Bibirnya yang membiru akibat radang dingin memaksakan sebuah senyuman tipis—sebuah senyuman yang penuh ironi namun juga sarat akan keteguhan.

Dia sangat tahu bahwa tubuhnya rapuh. Dia sadar rasa dingin ini perlahan mematikan saraf-sarafnya, namun di dalam hatinya, ada api yang menolak untuk padam. Ada keras kepala yang menolak untuk menyerah pada takdir yang digariskan orang lain.

"Aku tahu aku lemah, Arthur. Sangat tahu," ucap Aurelia, kali ini ia menatap lurus ke dalam sepasang mata Arthur tanpa ada lagi keraguan, ketakutan, ataupun kegagapan di wajahnya. "Tapi, aku ingin menjadi kuat. Aku tidak mau selamanya merangkak di tanah dan diinjak oleh mereka. Karena alasan itulah... aku memilih untuk berdiri dan bertarung disini... sebelum aku bisa mengalahkan diriku sendiri, aku tidak akan bisa menjadi kuat."

1
utina lee
Jatuhnya aurelia sama emaknya sama² beban ga sih, saling membebani dan memberatkan.... semangat othor 💪
BAITI SYAIRUROH
ceritanya menarik thor..semangat💪
utina lee
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!