“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”
Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.
Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Galih tidak percaya : 07
“Putri saya kenapa dokter, Syahril?” tanya Galih, dia sudah mengenal dokter berumur tiga tahun lebih muda darinya.
“Demamnya dipicu tumbuh gigi, dan penurunan daya tahan tubuh sementara. Bapak dan Ibu, tidak perlu terlalu cemas, hal biasa terjadi pada bayi dimasa tambah gigi, sedang aktif-aktifnya. Saya akan meresepkan obat penurun panas.” Dokter Syahril mengelus sebentar lengan gempal Pujiara.
Ketika berbalik badan, dan hendak melangkah ke meja kerja, dokter Syahril melihat sesuatu perlu diobati. “Sepertinya ini ada penggumpalan darah, mestinya dikompres agar benjolannya cepat kempes.”
Sebagai seorang ayah, ego Galih merasa tersentil, dia tidak memperhatikan wajah putranya yang ternyata bagian pelipis tertutup rambut, mengalami pembengkakan.
Galih malu untuk bertanya langsung kepada Guntur disaat ada orang asing di antara mereka. “Tolong beri salep atau obat, Dokter.”
“Baik. Saya akan beri gel mengandung heparin sodium. Diusahakan jangan memijat atau mengurut area yang memar karena dapat memperparah perdarahan di bawah kulit. Paham jagoan?” suaranya bersahabat.
“Iya pak, Dokter.” Guntur mengangguk, perasaannya menghangat.
Hamima menggendong lagi Pujiara menggunakan kain jarik motif mirip buah kolang-kaling. Ia dan suaminya sama-sama mengucapkan terima kasih, lalu berpamitan keluar dari ruang periksa.
Galih menunggu pengambilan obat teruntuk kedua anaknya, sementara sang istri menimang Pujiara yang kembali rewel.
Setelah obat sudah ditangan, sang kepala keluarga mengajak istri dan anaknya mencari tempat lebih sepi untuk menyantap sarapan pagi.
Mereka menyeberang jalan, lalu berjalan menuju sekolah dasar memiliki ruang belajar sebanyak dua belas ruangan.
“Cuci tangan dulu. Biar Mas yang menimba airnya.” Ia melangkah lebih dulu, menaiki undakan tangga rendah, lalu menurunkan timba terikat tali karet yang disangkut pada alat katrol sampai menyentuh air dalam sumur.
Satu timba air jernih digunakan untuk mencuci tangan oleh Hamima dan putra serta suaminya, lalu mereka berjalan ke bangku dibawah pohon Rambutan.
Guntur melangkah tidak semangat, sekolah barunya jauh dari apa yang dibayangkan. Bangunan terlihat kecil, area halaman lebih sempit dari sekolah lamanya di kota kabupaten.
“Nak, kamu pilih mau makan kue apa?” Mima menawari remaja yang wajahnya tertekuk.
“Kue cucur saja, Bu.” Diambilnya kue berwarna coklat, lalu digigit pada bagian tepi sambil mengedarkan pandangan ke bangunan sekolah warna putih pucat dengan sentuhan kuning pastel, atapnya genteng merah.
Galih dapat merasakan suasana hati putranya, dia berinisiatif mengajak ngobrol sambil mengunyah kue tradisional.
“Disini dari kelas satu sampai enam, dibagi menjadi dua ruangan — A dan B. Jumlah muridnya juga banyak, nanti kamu pasti cepat dapat teman. Mereka baik, ramah, mudah akrab, Nak.”
“Iya, Yah,” hanya itu yang bisa dia katakan dengan memaksakan suara terdengar bersemangat.
Hamima menyela kala merasakan suasana hati putranya bukan membaik, malah kelihatan bertambah sedih. “Mas, kamu kenal dengan ibu Desita, gak?”
Seketika tubuh Galih menegang, rahangnya mengeras. “Dari siapa kamu tahu nama itu, Mima?”
Hamima langsung menceritakan tentang kejadian belum lama berselang.
Reaksi Galih mematik rasa kesal Guntur yang langsung pergi dari sana, beralasan melihat-lihat ruang kelas kosong, dikarenakan sekolah baru akan dimulai empat hari lagi.
“Bisa gak, Mas, kamu jangan terlalu keras ke Guntur? Dia sendiri sudah berusaha menunjukkan sikap tertarik tinggal di tempat baru, aslinya masih bersedih karena harus berpisah dari para sahabatnya,” akhirnya Mima menyuarakan protes.
“Bukan seperti itu maksudku, Mima. Mas gak suka lihat dia yang selalu mengaitkan apapun itu dengan hal mistis. Dari mimpi dikejar-kejar hantu, terus tadi bilang kalau sorot mata bu Desita menyeramkan. Terlalu berlebihan, terkesan mengada-ada,” elaknya membela diri.
“Gimana kalau seandainya rumah baru kita memang ada penunggunya, Mas? Kejadian semalam bukan mimpi, tapi nyata dialami Guntur?” suaranya mengecil, dan Mima mempertahankan raut lembut demi menjaga wibawa suaminya. Berjaga-jaga kalau ada pasang mata memperhatikan interaksi mereka.
“Kamu jangan ikutan paranoid! Sebelum kalian datang kemari, Mas sudah tidur di rumah itu selama dua mingguan. Gak ada kejadian apa-apa,” Galih mempertahankan argumen, meyakini apa yang dia percayai.
“Suara tawa tengah malam, jendela terhempas angin, sekelebat bayangan lewat, semua itu sebatas mimpi ataupun imajinasi yang jadi halusinasi putra kita, Mima,” lanjutnya menekankan setiap kata.
Sesaat mereka sama-sama terdiam. Hamima menunduk memandangi putrinya yang terlelap dalam dekapan.
“Ayo kita daftarkan Guntur, habis itu belanja di pasar, baru pulang.” Galih memungut plastik bekas bungkus kue yang dibelinya tadi, membuangnya ke tong sampah tak jauh dari sana.
Dalam diam, Hamima mengikuti langkah suaminya. Ketegangan di antara mereka masih menggantung di udara. Perdebatan tak menemukan titik terang, dibiarkan mengendap dalam sanubari tanpa penyelesaian.
Nama Guntur sudah terdaftar menjadi murid sekolah dasar kecamatan Windu.
Remaja laki-laki tersebut sama seperti ibu yang menyimpan banyak pertanyaan dalam benaknya. Tentang kalimat wanita bernama Desita, dan kejanggalan hunian baru mereka.
***
Pasar tradisional masih ramai pembeli di jam sudah memasuki pukul sepuluh pagi.
Galih membayar setiap apa yang dibeli istrinya tanpa bertanya ataupun protes.
Hamima sendiri membeli sayuran dalam jumlah sedikit, cukup untuk dua hari agar kesegarannya masih terjaga, sebab dirumah baru tidak ada kulkas.
Setengah kilogram buncis, tomat, wortel, kentang, lalu untuk lauknya dia membeli satu ekor Ayam kampung sudah disembelih dan dicabuti bulunya. Nantinya mau dimasak sup, sebagian lagi direbus dengan bumbu kuning agar tahan untuk beberapa hari baru digoreng.
Guntur memperhatikan setiap hal tampak oleh mata. Bagaimana masyarakat berinteraksi, pedagang menawarkan barang dijual ke calon pembeli, suara anak-anak lebih muda darinya ikut meramaikan pasar tradisional.
Sesudahnya, keluarga Galih kembali menyeberang jalan menuju puskesmas. Motornya diparkirkan disana.
Remaja berwajah murung duduk di bagian depan dekat tangki bahan bakar motor sport, sementara ibu dan adiknya di jok belakang.
Barang belanjaan diapit Hamima yang menggendong Ara, menutupi wajah anaknya menggunakan ujung jarik.
Laju motor berkecepatan rendah, melewati jalanan rata, bebatuan, naik turun dua bukit tak terlalu menanjak, barulah sampai di hunian mewah jauh dari rumah tetangga.
Tanpa mematikan mesin motor, Galih membantu putranya turun. Ia berbicara dengan suara biasa, seolah kekesalan tadi sudah sirna. “Guntur, kamu jaga Ibu dan dek Ara, Ayah ada urusan sebentar di sekolah.”
“Iya, Yah.” Guntur menjinjing tiga plastik belanjaan, lalu melangkah duluan ke teras.
“Mas, hati-hati. Jangan ngebut!” katanya penuh perhatian.
“Kamu juga, jangan berpikiran yang aneh-aneh. Percaya sama suamimu ini, Mima,” ada harap pada suara permintaan itu.
Hamima mengangguk, lalu mencium takzim tangan suaminya yang tidak turun dari motor.
Galih pun kembali melajukan kendaraannya, keluar dari halaman.
“Kenapa, Guntur?” Hamima menelisik raut tegang putranya yang bergeming dengan pandangan lurus ke jendela besar.
“Ada yang lagi memasak di dapur, Bu.”
.
.
Bersambung.
👻👻👻👻👻
🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️
aku yakin Ara mau dijdikan tumbal tu
Krang ajar skli bapak nya
itu pasti tu kumpulan juragan sarkam yg mengamuk karna gagal
nth apa yg ada di otak Sigalih itu