"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."
Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.
Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.
Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng
Di dalam ruang kontrol utama Markas Sektor Zero yang dingin, pendar cahaya biru dari puluhan layar holografik memantulkan deretan kode yang menari cepat. Joe duduk di depan konsol utama, jarinya mengetikkan perintah pemantauan jaringan lalu lintas Kota Atlas.
Sebuah peringatan halus berwarna kuning mendadak berkedip di sudut layar pemantau pergerakan Daren.
Joe memperbesar rekaman kamera pengawas lalu lintas di jembatan perbatasan Sektor Tengah dari insiden tadi pagi. Layar tiga dimensi itu menampilkan momen saat Daren memotong jalur puluhan motor, berhadapan dengan pimpinan geng, dan menyerahkan kain slayer berwarna biru tua.
Mata Joe yang ada di balik kacamata minusnya menyempit tajam. Jarinya segera mengakses basis data faksi jalanan Kota Atlas.
"Kain slayer biru tua... logo rusa bertanduk perak..." gumam Joe pelan.
Hanya dalam kurun waktu beberapa detik, dokumen rahasia kelompok Blue Horns terbuka di layarnya. Hasil retasan sistem intelijen Joe menampilkan fakta yang mengejutkan: faksi geng motor Blue Horns yang dipimpin oleh Brian ternyata merupakan salah satu sayap terdepan—sebuah kelompok pion jalanan skala kecil yang berada di bawah naungan komando Viper Syndicate.
Joe segera berdiri dari kursinya, melangkah cepat menuju Ruang Pribadi Pemimpin Tertinggi.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk," suara tebal Argus bergema dari dalam.
Joe mendorong pintu ganda tersebut, berdiri di depan meja granit kebesaran. Argus sedang berdiri membelakangi pintu seraya mengapit cerutunya.
"Tuan Argus," panggil Joe dengan suara yang dipenuhi nada kecemasan. "Baru saja sistem pemantau menangkap interaksi Daren di jalanan pagi ini. Dia mencegat dan melakukan penyerahan barang secara pribadi dengan Brian—pimpinan dari Blue Horns."
Argus membalikkan badannya perlahan. Alis tebalnya menyatu, matanya yang hitam pekat memancarkan pendar dingin. "Blue Horns? Bukankah itu faksi terdepan kepunyaan Viktor?"
"Benar, Tuan," sahut Joe tegang. "Daren terlihat menyerahkan sebuah kain rahasia kepada Brian dan mereka melakukan ikatan cengkeraman tangan sebelum berpisah secara damai."
Kecurigaan tipis mendadak merayap di dalam dada sang Pemimpin Tertinggi. Dalam dunia bawah tanah yang penuh dengan pengkhianatan, interaksi damai antara seorang eksekutif utama dengan sayap musuh adalah sinyal bahaya yang sangat krusial. Apakah Daren... secara diam-diam telah dikontak atau dipengaruhi oleh jaringan Viper Syndicate?
Argus mengepalkan tangannya di atas meja. "Hubungi Daren sekarang, Joe. Aku ingin mendengar penjelasannya langsung."
Joe menarik gawai terenkripsinya, memutar saluran telepon khusus menuju Daren.
SMA Bintang – Koridor Lantai Dua
Daren baru saja melangkah keluar dari kelas XII-B pasca-pengembalian boneka milik Clara ketika gawai terenkripsi di saku dalam seragamnya bergetar kencang.
Daren merogoh perangkat tersebut, menepi ke sudut koridor yang sepi dekat jendela.
"Daren," suara Joe bergema dari speaker gawai, sarat akan tekanan dingin. "Tuan Argus sedang menyimak panggilan ini. Jelaskan interaksimu dengan Brian, pimpinan geng motor Blue Horns, di jembatan Sektor Tengah pagi tadi."
Daren tidak menunjukkan kepanikan atau getaran kaget. Dengan nada suara yang sangat tenang, tebal, dan datar, Daren menjelaskan secara rinci apa yang sebenarnya terjadi.
"Kain slayer pimpinan mereka terlepas di jembatan," jawab Daren kaku. "Aku hanya memungutnya dan mengejar mereka untuk mengembalikannya secara baik-baik agar tidak memicu keributan tak berguna di jalanan sebelum jam sekolah. Aku tidak mengenal siapa dia atau organisasi apa di belakangnya."
Di dalam ruang pribadinya, Argus yang mendengarkan ketegangan dan kejujuran polos dari nada suara Daren seketika menghembuskan asap cerutunya ke udara. Kecurigaan tipis di dadanya menguap tanpa bekas, berganti dengan helaan napas lega. Daren yang mendidik dan dibentuknya dari tanah penderitaan tidak akan pernah mengkhianati bendera Red Crows.
"Cukup, Joe," potong Argus pelan pada saluran telepon. Pria besar itu mendekati mikrofon gawai. "Aku percaya padamu, Daren. Kembali ke kelasmu dan bersiaplah. Musuh kita sedang merencanakan sesuatu."
"Diterima, Tuan Argus," sahut Daren sebelum mematikan panggilan.
Sektor Selatan – Markas Tersembunyi Viper Syndicate
Di dalam sebuah gudang bekas pabrik yang temaram di pinggiran Sektor Selatan, Viktor berdiri di depan meja peta kayu. Di hadapannya, Brian—pimpinan Blue Horns yang mengenakan jaket kulit ber-slayer biru—berdiri tegap bersama belasan perwira lapangannya.
Viktor menyunggingkan senyuman culasnya yang penuh kepalsuan seraya mengusap bekas luka goresan di wajahnya.
"Brian..." suara Viktor serak dan bernada manipulatif, "...hari ini adalah waktunya faksi Blue Horns membuktikan loyalitas kalian. Aku ingin kalian melancarkan serangan pertama di batas Sektor Barat. Rusak dermaga logistik milik Red Crows, bakar pos-pos pengawas mereka, dan buat wilayah kekuasaan Argus menjadi neraka!"
Brian menundukkan kepalanya hormat, menyentuh slayer biru di lengannya. "Perintah diterima, Tuan Viktor. Kami akan meratakan batas Sektor Barat siang ini juga."
Tanpa membuang waktu satu detik pun, puluhan anggota Blue Horns bergerak menaiki kendaraan mereka, melesat kencang melancarkan rencana penyerangan pertama mereka ke wilayah kekuasaan Red Crows.
Markas Utama Red Crows – Sektor Zero
BEEP! BEEP! BEEP!
Sirene bahaya berbunyi nyaring di Ruang Kontrol Utama. Peta holografik Sektor Barat memancarkan pendar merah berkedip—menandakan adanya penyerangan massal dari faksi jalanan musuh di area dermaga logistik bawah.
Argus yang berdiri di depan layar raksasa memukul meja granitnya hingga berderik kencang. Wajahnya dipenuhi amarah yang membakar atas kelancangan serangan tiba-tiba dari rival lamanya.
"Kecoa-kecoa Viktor benar-benar sudah tidak sabar untuk mati!" geram Argus murka.
Argus menoleh ke arah Demian yang berdiri siaga di dekat pintu. "Demian! Ambil satu regu prajurit taktis! Bergerak ke dermaga Sektor Barat sekarang dan halau mereka!"
"Siap, Tuan Argus!" tegask Demian seraya menyarungkan sepasang sangkur bajanya dan melangkah cepat keluar dari ruangan.
Namun Argus sadar bahwa penyerangan jalanan ini bisa jadi merupakan jebakan berlapis dari Viktor. Pria penguasa bawah tanah itu tidak ingin mengambil risiko kehilangan perwiranya.
Argus menyambar gawai pribadinya, memutar nomor terenkripsi milik Daren secara langsung.
SMA Bintang – Kelas XII-A (Pukul 13.15 WIB)
Suasana di dalam kelas XII-A sangat hening. Bu Ratna sedang berdiri di depan papan tulis, menjelaskan materi pelajaran matematika di hadapan puluhan murid yang mendengarkan secara tekun. Daren duduk di bangkunya di barisan belakang dekat jendela, menatap ke luar dengan pandangan mata yang tenang.
BZZZZT! BZZZZT!
Gawai terenkripsi di dalam saku celana seragam Daren bergetar kencang.
Daren menarik perangkat tersebut, membaca nama [ARGUS] di layarnya. Manik mata kelabunya menyempit tajam.
Tanpa meminta izin pada Bu Ratna atau memedulikan tatapan heran dari murid-murid di sekitarnya, Daren langsung berdiri dari kursinya, menyambar tas kulit hitamnya, dan melangkah lebar menuju pintu keluar kelas.
"Eh? Daren? Mau ke mana kamu?!" panggil Bu Ratna kaget dari depan kelas.
Daren tidak membalas. Dia melangkah keluar dari kelas, menempelkan gawai ke telinganya seraya berjalan cepat menyusuri koridor yang sepi.
"Tuan Argus," panggil Daren tebal.
"Daren!" suara Argus bergema cepat dan mendesak dari speaker gawai. "Pergilah ke dermaga logistik Sektor Barat sekarang! Pasukan jalanan Viper Syndicate baru saja melancarkan penyerangan massal di sana, dan Demian sudah berangkat lebih dulu untuk memblokir mereka!"
Argus memiringkan kepalanya sedikit, memberikan instruksi keamanan yang sangat spesifik.
"Ingat aturan penyamaranmu, Daren!" tegas Argus. "Lepaskan seluruh atribut sekolahmu! Kenakan jaket taktis dan pakai topeng masker hitam khusus yang ada di bawah jok motor kustommu! Identitasmu sebagai murid SMA Bintang tidak boleh terendus oleh pasukan musuh atau media massa!"
"Diterima, Tuan Argus," sahut Daren mantap.
Daren berlari kencang menunju parkiran roda dua. Dia menyambar jaket kulit hitamnya, membuka kompartemen rahasia di bawah jok motornya, lalu menarik keluar sebuah topeng masker taktis berwarna hitam legam yang menutupi separuh wajah bawahnya dari hidung hingga dagu—disertai kacamata taktis bersudut tajam.
Daren melepas dasi dan kemeja putih sekolahnya, menggantinya dengan kaus taktis hitam pas badan yang mencetak otot dadanya yang kokoh, lalu melapisinya dengan jaket kulit hitam. Dia memasang topeng masker hitam tersebut di wajahnya.
Tato kanji vertikal Akuma no Urami di leher bagian kanannya mengintip tajam di antara lipatan kerah jaket dan batas bawah topeng maskernya.
VRRRROOOOOMMMMM!
Motor sport kustom hitam pekat milik Daren meraung dahsyat, melesat bagaikan bayangan iblis membelah gerbang sekolah menuju dermaga Sektor Barat!
Dermaga Logistik Sektor Barat – Pukul 13.45 WIB
Kawasan dermaga logistik Sektor Barat dipenuhi oleh asap hitam tebal yang membumbung ke udara. Beberapa peti kemas terbakar, dan suara dentuman besi serta teriakan bentrokan fisik bergema nyaring di sepanjang area pelabuhan.
Demian berdiri di tengah arena pertempuran seraya mengayunkan sepasang sangkur bajanya. Baju taktisnya dibasahi noda darah musuh. Di sekelilingnya, puluhan anggota geng motor Blue Horns bersenjata balok besi dan rantai terus meluncur mengepung Demian dan belasan prajurit Red Crows.
Meskipun Demian adalah seorang eksekutif tempur kelas atas, jumlah pasukan musuh yang terlalu banyak—mencapai hampir seratus orang pengendara—membuat Demian dan regu kecilnya mulai kewalahan menahan gelombang serangan dari segala arah.
"Matilah kau, Pengawal Red Crows!" teriak beberapa anggota geng motor seraya mengayunkan pipa besi ke arah kepala Demian dari sudut buta!
Demian menangkis satu sabetan dengan sangburnya, namun dua penyerang lain melompat dari atas kontainer hendak menghantamnya!
VRRRROOOOOMMMMM!
BRAAAAAKKKKKKKK!
Sebuah motor sport kustom berwarna hitam pekat meluncur terbang dari atas tumpukan kontainer setinggi tiga meter!
Motor itu menghantam dua penyerang di udara hingga terlempar lima meter ke tanah, sebelum akhirnya mendarat sempurna dengan decitan ban yang membakar Aspal!
Pengendara motor itu melompat turun dari kendaraannya dengan gerakan yang sangat anggun dan mematikan.
Daren telah tiba.
Wajah bawahnya tertutup rapat oleh topeng masker taktis hitam, matanya yang berwarna kelabu dingin memancarkan aura intimidasi membunuh dari balik kacamata taktisnya. Tato kanji merah di lehernya tampak menyala pekat di bawah terik matahari siang.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Daren menerjang ke tengah-tengah pertempuran!
BAM! BOK! CRACK!
Gerakan pertarungan Daren begitu cepat, presisi, dan brutal! Satu Pukulan lurusnya menghancurkan helm penyerang pertama, satu tendangan melingkarnya mematahkan tulang rusuk dua musuh sekaligus, dan tebasan tangannya melumpuhkan saraf leher penyerang ketiga dalam hitungan seperseribu detik!
Demian yang melihat kedatangan Daren menyunggingkan senyuman lega dari balik bilah sangburnya. "Kau datang di waktu yang tepat, Daren!"
Daren tidak membalas. Dia bergerak berdampingan dengan Demian, mengimbangi penuh jalannya pertarungan. Kombinasi antara keahlian sangkur Demian dan daya hancur pukulan Daren seketika mengacak-acak barisan pasukan Blue Horns, membuat puluhan anggota geng motor tersungkur pingsan bersimbah darah di atas tanah.
Melihat pasukannya dihancurkan secara mendadak oleh sesosok pemuda bertopeng masker hitam, Brian—pimpinan Blue Horns—melangkah maju dengan mata membelalak marah. Brian mengayunkan tongkat pemukul besi tebal di tangannya, meluncur menyerang Daren dari arah depan!
"SIAPA KAU, BAJINGAN BERTOPENG?!" teriak Brian murka seraya menghantamkan pemukul besinya ke arah kepala Daren!
SSET!
Daren memiringkan kepalanya tipis, membiarkan pemukul besi Brian lewat hanya beberapa mili dari pipinya.
Saat mata kelabu Daren beradu pandang secara dekat dengan mata Brian di balik topeng maskernya, Daren merasakan getaran asing. Postur tubuh ini, gaya ayunan tangannya, dan slayer biru di lengan kirinya...
Pria ini... Brian dari geng Blue Horns yang kutemui pagi tadi? Daren membatin secara cepat.
Namun, Daren tidak memiliki waktu untuk berdialog atau membongkar penyamarannya di tengah medan perang. Tugas utamanya adalah menghentikan penyerangan ini sekarang juga!
Sebelum Brian sempat menarik kembali pemukul besinya untuk serangan kedua...
BUUUUKKKKKKK!
Gerakan tangan kanan Daren meluncur deras bagaikan kilat. Sebuah Pukulan kait lurus bertenaga ledak tinggi mendarat telak tepat di tengah dada Brian!
BOK!
Daya dorong pukulan Daren begitu dahsyat hingga pelindung dada kulit milik Brian retak seketika. Tubuh Brian terlempar tiga meter menembus udara, lalu tersungkur keras menghantam tanah dengan napas yang tersengal-sengal menahan sakit luar biasa di dadanya!
Brian memegangi dadanya yang memar hebat, menatap Daren yang berdiri tegap di depannya dengan mata terbelalak ketakutan dan rasa tak percaya. Pukulan tunggal bertopeng ini... memiliki daya hancur monster yang tidak wajar!
Brian menyadari bahwa jika dia terus melanjutkan pertarungan melawan pria bertopeng masker hitam dan Demian ini, seluruh pasukannya akan dibantai tanpa sisa di dermaga ini.
dengan jemari yang gemetar, Brian mengangkat tangan kirinya ke udara, berteriak kencang kepada sisa-sisa anggotanya yang masih berdiri.
"MUNDUR! SELURUH PASUKAN MUNDUR SEKARANG JUGA!" teriak Brian histeris seraya merangkak bangun dengan susah payah.
Sisa-sisa anggota Blue Horns yang ketakutan segera menyeret rekan-rekan mereka yang pingsan, melompat ke atas motor masing-masing, lalu memutar balik kendaraan mereka dan melesat kencang melarikan diri meninggalkan dermaga Sektor Barat yang kini hancur berantakan.
Area dermaga kembali hening, hanya diisi oleh asap tipis dari kontainer yang terbakar.
Demian menyarungkan kembali sepasang sangkur bajanya, melangkah mendekati Daren seraya menepuk bahu tegap pemuda bertopeng itu.
"Kerja yang sangat luar biasa, Daren," puji Demian mantap. "Serangan awal mereka berhasil kita patahkan sepenuhnya."
Daren menatap bayangan rombongan motor Brian yang menghilang di kejauhan. Dari balik topeng masker hitamnya, Daren menghembuskan napas pelan. Benang merah konflik antara Red Crows, penyamarannya di sekolah, dan Viper Syndicate... kini makin terikat erat menanti pertarungan puncak yang sesungguhnya.