Indonesia
NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 — Sumpah di Bawah Cahaya Bulan

Malam itu, kediaman di atas bukit itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya bulan purnama bersinar terang benderang, menembus celah tirai jendela dan menciptakan bayang-bayang lembut di lantai kayu yang berkilauan. Su Yi berdiri di dekat jendela di kamarnya, menatap ke arah taman yang remang-remang diterangi cahaya bulan, namun matanya tak benar-benar melihat keindahan di bawah sana. Pikirannya terus terbayang wajah pria yang baru saja mengancam mereka, dan kata-kata tajam yang meluncur dari bibirnya — ancaman yang ditujukan kepadanya, sebagai cara untuk melukai Mo Han.

Di belakangnya, pintu kamar terbuka perlahan tanpa ketukan. Su Yi menoleh dan melihat sosok Mo Han berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian tidur yang sederhana namun tetap tampan dan berwibawa. Wajahnya tampak lelah, matanya sedikit merah karena kurang tidur, namun tatapannya tetap lembut dan penuh perhatian saat jatuh pada sosok gadis itu.

"Kau belum tidur?" Mo Han bertanya pelan sambil melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dan berjalan mendekat perlahan seakan takut mengagetkannya.

Su Yi menggeleng pelan, lalu menatapnya dengan tatapan yang tenang namun penuh tanya. "Bagaimana keadaan pelayan-pelayan itu? Apakah mereka baik-baik saja?"

"Mereka hanya terkejut dan takut, tidak ada yang terluka sedikit pun." Mo Han menjawab pelan sambil berdiri tepat di sampingnya, ikut menatap ke luar jendela. "Aku sudah menempatkan pengawal tambahan di sekeliling rumah. Mulai malam ini... tidak ada siapa pun yang bisa masuk tanpa izin. Dan tidak ada siapa pun yang bisa keluar tanpa sepengetahuanku."

Su Yi menoleh menatapnya, melihat kerutan halus yang terbentuk di antara alis tebalnya — tanda bahwa pria itu sedang memikul beban yang berat sekali. Ia mengangkat tangannya perlahan, menyentuh kerutan itu dengan lembut, seakan usapan tangannya mampu menghapus segala beban di hatinya.

"Kau tidak perlu menyembunyikan kekhawatiranmu dariku, Mo Han." Su Yi berkata pelan namun tegas, matanya menatap lurus ke dalam manik mata pria itu yang gelap dan dalam. "Aku tahu mereka mengancammu lewatku. Aku tahu keberadaanku di sisimu justru menjadi kelemahanmu. Jika... jika karena itu kau merasa ragu... aku siap melakukan apa pun agar kau aman."

Belum selesai kalimat itu terucap, tangan Mo Han dengan cepat menangkup wajah gadis itu, menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam, begitu serius, dan begitu menyakitkan hingga membuat napas Su Yi tertahan.

"Jangan pernah berkata seperti itu lagi." Suara Mo Han rendah namun bergetar, penuh dengan ketakutan yang nyata. "Kau bukan kelemahanku. Kau adalah kekuatanku. Selama sepuluh tahun ini... aku bertahan hidup hanya dengan satu harapan — harapan agar bisa menemukanmu lagi. Jika kau pergi... maka aku tidak akan memiliki alasan apa pun untuk terus bertarung. Dan jika ada yang menyakitimu... maka aku akan menghancurkan seluruh dunia ini demi membalasnya. Kau paham, Su Yi? Kau adalah nyawaku. Dan tidak ada nyawa yang bisa dipisahkan dari tubuhnya tanpa berarti kematian."

Air mata perlahan menetes dari sudut mata Su Yi, menyentuh telapak tangan Mo Han yang hangat. Ia menyadari betapa dalamnya cinta pria itu — cinta yang telah tumbuh sejak masa kecil, terpendam sepuluh tahun dalam kesepian, dan kini meluap-luap tak terbendung. Ia mengangguk perlahan, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu, mendekatkan wajahnya hingga jarak antara mereka hanya beberapa jari saja.

"Maafkan aku... aku tidak akan pernah pergi." Su Yi berbisik pelan, napasnya menyentuh bibir Mo Han dengan hangat. "Aku akan tetap di sisimu. Menghadapi apa pun bersama-sama. Seperti yang kita janjikan di bawah pohon bunga matahari itu. Selamanya."

Mo Han menatap bibirnya yang merah muda dan basah oleh air mata, lalu perlahan menunduk menyatukan bibir mereka dalam satu kecupan yang lembut, hangat, dan penuh janji. Itu bukan sekadar ciuman kasih sayang — itu adalah sumpah setia yang terucap tanpa suara, di bawah cahaya bulan yang bersaksi di luar jendela. Saat bibir mereka saling bersentuhan, seakan seluruh dunia di luar sana lenyap, hanya menyisakan dua hati yang berdetak serempak, menyatu dalam cinta yang tak tergoyahkan oleh apa pun.

Ketika mereka berpisah perlahan, dahi mereka masih saling menempel, napas mereka bercampur menjadi satu. Mo Han mengusap air mata di pipi Su Yi dengan lembut, menatapnya dengan tatapan penuh cinta dan tekad yang membara.

"Mulai besok... aku akan mengurus semuanya." Mo Han berjanji dengan suara yang teguh dan tak tergoyahkan. "Aku akan menghadapi keluarga Jiang. Aku akan melindungimu. Dan aku akan memastikan bahwa tidak ada siapa pun yang berani mengancammu lagi. Tapi untuk sementara waktu... kau harus tetap berada di dalam rumah ini. Jangan pergi ke mana pun sendirian. Setiap langkahmu akan dijaga. Ini bukan karena aku tidak percaya padamu... tapi karena aku takut kehilanganmu."

"Aku mengerti." Su Yi menjawab tulus, tangannya meremas kerah pakaian pria itu pelan. "Aku akan menunggumu di sini. Dan aku akan berdoa agar kau selalu selamat. Hati-hatilah, Mo Han. Ingat... aku menunggumu pulang."

Mo Han mencium keningnya sekali lagi, lama dan penuh kasih sayang, seakan menyimpan seluruh rindu dan doa di dalam sentuhan itu. "Aku pasti pulang. Selama aku masih bernapas... aku pasti pulang ke pelukanmu."

Malam itu, Mo Han tidak kembali ke kamarnya. Ia menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Su Yi, menggenggam tangan gadis itu hingga ia terlelap. Dan saat melihat wajah Su Yi yang tenang dalam tidurnya, Mo Han mengangkat kepalanya menatap langit malam yang gelap namun bertabur bintang, lalu berbicara dalam hati dengan suara yang tak terdengar oleh siapa pun selain dirinya.

"Dengar baik-baik, siapa pun yang berani mengancamnya. Aku tidak peduli siapa ayahmu, seberapa besar kekuasaanmu, atau seberapa kuat kekuatan yang kau miliki. Jika kau berani menyentuh sehelai rambut pun di kepalanya... aku akan menghancurkan segala hal yang kau banggakan. Aku akan membuatmu menyesal telah dilahirkan ke dunia ini. Karena Su Yi adalah nyawaku. Dan siapa pun yang mencoba menyentuh nyawaku... berarti berhadapan dengan maut itu sendiri."

 

Keesokan paginya, suasana di kediaman itu berubah menjadi lebih tegang namun teratur. Pengawal-pengawal berbadan tegap kini terlihat berjaga di setiap pintu dan sudut rumah. Mo Han berpakaian rapi dengan setelan jas hitam yang membuatnya tampak semakin gagah dan berwibawa, namun matanya tampak lebih tajam dan dingin dari biasanya — tanda bahwa pria itu telah bersiap untuk menghadapi badai yang datang.

Sebelum berangkat, ia berhenti di depan pintu utama dan menatap Su Yi yang berdiri di ambang pintu menatapnya dengan tatapan penuh kekhawatiran dan harapan. Mo Han berjalan mundur selangkah, kembali mendekat kepadanya, dan mengusap pipinya sekali lagi dengan lembut.

"Tetap di dalam rumah. Jangan membuka pintu untuk siapa pun selain pengawal yang kupercaya. Aku akan kembali secepat mungkin."

"Hati-hati." Su Yi hanya mampu mengucapkan dua kata itu, namun di dalamnya tersimpan ribuan doa dan rindu.

Mo Han mengangguk, lalu melepaskan genggamannya perlahan dan melangkah menuju mobil yang sudah menunggu. Saat mobil itu melaju perlahan meninggalkan halaman rumah, Su Yi masih berdiri di sana menatapnya hingga sosok itu hilang di balik gerbang besar. Dadanya terasa sesak dan cemas, namun ia menarik napas panjang dan berusaha menguatkan hatinya. Ia harus percaya pada kekuatan pria itu. Dan ia harus tetap kuat menunggunya pulang.

Di dalam mobil yang melaju menuju pusat kota, wajah Mo Han perlahan berubah menjadi dingin dan tanpa ekspresi. Ia mengeluarkan ponselnya dan menekan satu nomor yang sudah tersimpan lama di dalamnya. Saat panggilan terhubung, suaranya terdengar rendah, berat, dan penuh tekanan yang membuat siapa pun yang mendengarnya akan merinding.

"Siapkan semuanya. Aku ingin mengetahui segala gerak-gerik keluarga Jiang dalam dua puluh empat jam terakhir. Catat semua transaksi, semua hubungan, semua kelemahan yang mereka miliki. Dan kirimkan orang-orang terbaikku menjaga setiap jalan menuju kediamanku. Aku tidak ingin ada celah sekecil apa pun yang bisa mereka manfaatkan. Kali ini... aku akan menghancurkan mereka dengan cara yang mereka sendiri tidak akan percaya."

Di ujung telepon, suara tegas menjawab singkat, lalu sambungan terputus. Mo Han menatap ke luar jendela mobil, melihat gedung-gedung tinggi yang melintas dengan cepat. Matanya memancarkan kilatan dingin dan berbahaya. Selama ini ia menahan diri, tidak ingin memperluas permusuhan, tidak ingin melibatkan orang-orang tak bersalah. Namun ancaman keluarga Jiang terhadap Su Yi telah melampaui batas kesabarannya.

Mereka bermain dengan api... dan kali ini, api itu akan membakar mereka sendiri.

 

Sementara itu, di kediaman keluarga Jiang yang megah namun dingin di kawasan elit kota itu, Jiang Chen berdiri di hadapan ayahnya dengan senyum penuh kemenangan di wajahnya.

"Ayah, Mo Han telah berangkat ke kantor pagi ini. Dia tampak terburu-buru dan wajahnya tampak gelap sekali. Sepertinya ancaman kita mulai membuahkan hasil. Dia sudah mulai kehilangan ketenangannya."

Pria tua yang duduk di kursi kebesaran itu memejamkan matanya perlahan, lalu membukanya perlahan dengan tatapan yang tajam dan licik.

"Bagus. Biarkan dia gelisah. Biarkan dia takut. Seorang pria yang dikuasai ketakutan demi wanita yang dicintainya... akan kehilangan kewarasannya. Dan saat itu terjadi... dia akan membuat kesalahan. Kesalahan yang akan menghancurkannya selamanya."

Pria tua itu berdiri perlahan, berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke kota, lalu melanjutkan dengan suara yang berat dan penuh perhitungan.

"Kirimkan orang-orang kita. Awasi setiap gerak-geriknya. Dan jika kesempatan muncul... ambil wanita itu. Bawa kepadaku hidup-hidup. Wanita itu adalah kunci kehancuran Mo Han. Selama dia ada di tangan kita... Mo Han akan melakukan apa pun yang kita minta. Termasuk menyerahkan seluruh kekayaannya dan meninggalkan kota ini selamanya."

Jiang Chen tersenyum lebar, matanya bersinar penuh kejahatan. "Baik, Ayah. Segera kuatur. Wanita itu akan berada di tangan kita sebelum matahari terbenam hari ini."

 

Tanpa mereka ketahui, di kantor pusat Grup Mo yang menjulang tinggi di tengah kota, Mo Han berdiri di balik kaca jendela lantai teratas menatap ke arah kediaman keluarga Jiang yang terlihat samar di kejauhan. Di tangannya, sebuah laporan tebal baru saja selesai dibacanya — laporan yang berisi segala kejahatan, kecurangan, dan hutang-hutang keluarga Jiang yang selama ini mereka sembunyikan dengan rapi.

Mo Han meremas kertas laporan itu perlahan, matanya menyala dengan amarah yang terkendali namun mematikan.

"Kalian ingin bermain kotor denganku? Kalian berani menyentuh wanita yang kucintai? Baiklah... aku akan bermain dengan aturanku sendiri. Dan kalian akan menyesal telah lahir ke dunia ini."

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!