Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:495
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Pertemuan yang Salah Paham

Hari Sabtu pagi, suasana di area proyek Zona Empat mendadak tegang.

Kepulan debu tanah merah membubung tinggi di udara saat deretan truk pengangkut pasir lalu lalang.

Dua hari menjelang pengiriman katering pertama dan eksekusi penyergapan Ardiansyah Putra, Intan Saputri memutuskan untuk melakukan peninjauan lokasi lapangan terakhir bersama Maya.

Intan berdiri di depan pos pengawasan sementara, mengenakan rompi keselamatan dan helm proyek berwarna putih.

Blazer hitamnya sengaja ditinggalkan di dalam van katering demi fleksibilitas gerak.

Di sampingnya, Maya yang menyamar sebagai pengawas mutu katering tampak tenang, meneliti denah jalur distribusi makanan.

"Semua jalur evakuasi dan posisi titik pemantauan Rendra sudah siap."

Bisik Maya pelan tanpa mengubah arah pandangnya dari papan jalan.

"Rendra dan timnya sudah menempatkan dua personel berseragam sipil di pos keamanan depan."

"Bagus, Mbak."

Sahut Intan mantap.

"Tinggal menunggu hari Senin saat dokumen transfer pembayaran diproses."

Namun, di tengah koordinasi tenang itu, sebuah suara teriakan keras dari arah area penampungan material batu pecah memecah kebisingan mesin konstruksi.

"Mana Ardiansyah?! Keluar kamu, Penipu!"

Intan dan Maya seketika menoleh.

Di tengah lapangan tanah merah, seorang wanita muda berusia pertengahan belasan—mengenakan jaket jins kusam dan celana kain berdebu—sedang dihadang oleh dua orang penjaga keamanan proyek.

Wajah wanita itu merah padam oleh amarah, matanya sembap, dan tangannya mengacungkan selembar kertas yang sudah remuk.

"Mbak, tolong tenang!"

"Ini area terbatas proyek!"

Seru salah seorang penjaga keamanan seraya mencoba mendorong wanita muda itu mundur.

"Saya tidak mau tenang!"

"Mana pria bernama Ardiansyah yang ngaku perwakilan pengadaan?!"

"Dia bawa lari uang tabungan almarhum ayah saya!"

Jerit wanita muda itu dengan suara bergetar yang sarat akan keputusasaan.

Jantung Intan seketika berdesir hebat.

Uang almarhum ayah?

Intan teringat cerita Rendra semalam tentang Pak Herman—pengusaha kontraktor yang meninggal akibat serangan jantung setelah ditipu Ardiansyah, yang meninggalkan seorang putri kandung.

Wanita muda di hadapannya ini pasti adalah Siti, putri dari almarhum Pak Herman yang menyewa Rendra!

Siti mendadak melepaskan diri dari pegangan penjaga keamanan dan berlari menuju area kantor direksi sementara.

Namun, di saat yang bersamaan, pintu kantor direksi terbuka.

Ardiansyah Putra melangkah keluar bersama tiga orang pengawal pribadi dan dua orang staf teknik proyek.

Ardiansyah mengenakan kemeja batik dan helm proyek bersinar terang, tampak sangat berkuasa di area tersebut.

Melihat ada keributan, Ardiansyah memicingkan matanya. Saat tatapannya jatuh pada sosok Siti yang emosional dan Intan yang berdiri tak jauh dari sana, otak licik sang penipu langsung menyusun skenario pertahanan.

"Ada apa ini?!"

Bentak Ardiansyah dengan nada berwibawa yang dibuat-buat, berjalan menghampiri kerumunan.

Siti menunjuk muka Ardiansyah dengan telunjuk bergetar.

"Kamu!"

"Ardiansyah!"

"Kamu yang pakai nama Rian Cipta dua tahun lalu!"

"Kembalikan uang ayahku!"

Ardiansyah tidak terlihat panik sedikit pun. Sebaliknya, ia mengulas senyum sinis yang tertutup oleh raut simpati palsu.

Ia memalingkan wajahnya ke arah para pekerja proyek dan pengawal di sekelilingnya, lalu menunjuk ke arah Intan Saputri dan Siti secara bergantian.

"Bapak-bapak sekalian, tolong jangan terkecoh."

Ujar Ardiansyah dengan suara lantang yang menguasai lapangan.

"Dua wanita ini adalah bagian dari komplotan penipu jaringan luar kota yang sengaja mau memeras proyek kita!"

Kalimat itu menghantam udara bagaikan petir di siang bolong.

Siti terbelalak bingung.

"Apa?!"

"Aku tidak kenal dia!"

Namun Ardiansyah dengan cepat melanjutkan kebohongannya.

"Lihat wanita ber-helm putih itu!"

Ardiansyah menunjuk Intan dengan tegas.

"Kemarin dia mengaku perwakilan Katering Barokah dan menyodorkan proposal palsu untuk menguras dana operasional pengadaan saya."

"Dan hari ini, dia membawa anak gadis ini untuk membuat drama pemerasan di lapangan!"

Para pekerja proyek dan petugas keamanan seketika mengalihkan pandangan mereka ke arah Intan.

Bisik-bisik ketakutan dan prasangka buruk mulai menyebar di antara mereka.

Sebuah pertemuan yang salah paham yang berantakan telah tercipta secara Spontan.

Siti yang datang tanpa koordinasi dengan Rendra secara tidak sengaja dimanfaatkan oleh Ardiansyah untuk membalikkan tuduhan kepada Intan.

Dalam sekejap, posisi Intan yang semula merupakan pemburu rahasia berubah menjadi terduga pelaku pemerasan di mata publik proyek.

Siti menoleh ke arah Intan dengan tatapan penuh kebencian dan kecurigaan baru.

"Jadi kamu..."

"Kamu anak buah pria ini yang mau menipuku lagi?!"

"Bukan!"

"Dengarkan aku dulu!"

Panggil Intan, mencoba melangkah mendekat.

"Jangan sentuh aku!"

Teriak Siti histeris, mendorong dada Intan hingga Intan terhuyung mundur satu langkah.

"Kalian semua penipu!"

"Kalian semua sama saja!"

"Tangkap mereka berdua dan bawa ke pos keamanan belakang!"

"Hubungi polisi!"

Perintah Ardiansyah dingin kepada para pengawalnya, memanfaatkan situasi chaos itu untuk menutupi boroknya sendiri.

Dua orang pengawal berbadan tegap langsung maju melangkah ke arah Intan dan Siti.

Di balik kekacauan itu, Maya bergerak cepat. Ia menarik lengan Intan secara terukur, bisikannya tajam di telinga Intan.

"Jangan melawan secara fisik di sini, Intan!"

"Kalau kamu melawan pengawal proyek, Ardiansyah punya alasan hukum untuk menahanmu atas tuduhan penganiayaan dan pemerasan!"

Intan mengepalkan tangannya rapat-rapt di samping tubuh. Dadanya bergemuruh oleh gejolak amarah.

Ardiansyah berdiri lima meter di hadapannya, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat licik—sebuah senyuman kemenangan sementara dari seorang predator yang berhasil memutarbalikkan kenyataan.

Namun, Intan tidak membiarkan emosinya melumpuhkan logikanya.

Ajaran Maya dan tempaan kepahitannya di masa lalu kembali menguasai pikirannya.

Dia ingin membuatku panik. Dia ingin aku terlihat seperti kriminal yang bersalah, batin Intan tajam.

Intan mengangkat kedua tangannya secara terbuka ke udara, menatap lurus mata Ardiansyah tanpa ada sedikit pun binar ketakutan.

"Saya tidak akan lari, Pak Ardiansyah."

Ujar Intan dengan suara yang mendadak sangat tenang, jernih, dan bergema di tengah lapangan.

"Silakan panggil polisi kawasan industri sekarang juga."

"Biar kita periksa sama-sama seluruh dokumen kontrak PT Pandawa Perkasa, nomor rekening penampungan atas nama Ardiansyah Putra, dan rekam jejak transaksi atas nama almarhum Pak Herman di hadapan penyidik."

Senyuman di bibir Ardiansyah seketika membeku.

Pria penipu itu tidak menyangka bahwa tuduhan balik dan skenario gertakannya justru disambut oleh kesiapan penuh Intan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum detik itu juga.

Siti yang mendengar nama ayahnya dan nama rekening asli Ardiansyah diucapkan secara detail oleh Intan mendadak menghentikan perlawanannya.

Mata wanita muda itu membelalak, menyadari bahwa wanita di hadapannya ini bukanlah musuh, melainkan seseorang yang memegang kunci kebenaran.

Di ujung lapangan proyek, dari balik barisan truk semen, sosok Rendra Wijaya tampak melangkah cepat dengan radio panggil di tangannya—siap mengintervensi sebelum situasi memburuk.

Pertemuan yang penuh salah paham ini memang sempat mengacaukan skenario awal, tetapi keberanian dingin Intan telah membalikkan keadaan.

Perang terbuka di Zona Empat tak lagi bisa ditunda. Topeng sang penipu telah terkoyak di depan publik proyek, dan persidangan jalanan ini baru saja dimulai.

*

*

*

Jangan lupa like, komen dan subscribe😌

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!