Indonesia
NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUNTUHNYA SEBUAH ISTANA PASIR

Malam menyelimuti ibu kota dengan kedinginan yang menusuk, tetapi di dalam rumah besar yang megah di kawasan elite Menteng, keheningan yang ada terasa jauh lebih mencekam ketimbang kuburan.

Rumah dua lantai berarsitektur kolonial modern itu tidak pernah terasa sesunyi, sehampa, dan semencekam malam ini.

Tidak ada alunan musik, tidak ada gelak tawa, tidak ada pula hangatnya canda tawa keluarga hanya ada keheningan tebal yang seolah sanggup meremukkan dada siapa saja yang berani melangkah di dalamnya.

Gibran Mahendra duduk terpaku di kegelapan ruang kerjanya yang luas.

Pria tegap itu menolak menyalakan lampu utama.

Ia hanya ditemani oleh pendar pudar dan temaram dari lampu meja kerja berukir kayu jati, yang melemparkan bias bayangan kaku tubuhnya ke dinding berlapis wallpaper emas.

Bayangan itu tinggi, tegap, dan berwibawa, namun di dalamnya tersimpan jiwa yang bergetar hebat.

Di atas meja kayu yang mengkilap di hadapannya, sebuah amplop cokelat tebal tergeletak bagai bom waktu yang hitungan mundurnya telah habis siap meledakkan sisa-sisa kehormatan, martabat, dan kebanggaan yang selama ini ia jaga setengah mati.

Isinya bukan berkas rahasia pertahanan negara, bukan laporan intelijen mengenai gerakan separatis di perbatasan, melainkan laporan investigasi domestik dari tim intelijen swasta yang sengaja ia sewa beberapa minggu lalu.

Langkah pahit itu terpaksa ia ambil setelah desas-desus liar, bisik-bisik bisu di kalangan elit perwira, dan rumor miring mengenai istrinya, Anindita, mulai memekakkan telinganya dan mengusik ketenangannya.

Gibran adalah seorang Letnan Jenderal Komando Pasukan Khusus.

Sepanjang hidup dan karier militernya, ia telah ditempa di medan perang paling ganas.

Ia dilatih untuk tetap berdarah dingin, berpikir jernih, dan tidak bergeming sedikit pun di bawah ancaman hujan peluru, dentuman meriam, maupun ledakan granat yang menghancurkan tanah.

Namun, saat Jemari kekarnya yang biasa menggenggam senapan otomatis itu membuka dan membaca lembar demi lembar laporan kertas tebal tersebut, tangannya gemetar hebat menahan amarah murni yang membakar dari dalam dada.

Foto-foto beresolusi tinggi dengan pencahayaan sempurna di dalamnya tidak bisa berbohong atau mengelak.

Anindita istri sah yang ia nikahi tiga tahun lalu demi memenuhi janji bakti terakhirnya pada mendiang ibunya, wanita yang ia pilih untuk menundukkan seluruh ego dan keinginan pribadinya terlihat sangat mesra dan tanpa canggung berada dalam dekapan hangat seorang pria muda.

Foto-foto itu diambil di sebuah vila mewah yang tersembunyi di kawasan Uluwatu, Bali.

Pria muda yang merangkul pinggang istrinya dengan telanjang dada di tepi kolam renang itu tak lain dan tak bukan adalah manajer pribadi dari agensi model internasional tempat Anindita bernaung selama ini.

Tiba-tiba, suara pintu depan rumah berderit berat saat dibuka dari luar.

Suara ketukan langkah kaki menggunakan heels berhak tinggi yang anggun dan ritmis menggema berirama di atas lantai marmer impor yang dingin.

Suara yang sangat familier.

Anindita baru saja tiba di rumah setelah melakoni apa yang ia sebut sebagai "perjalanan kerja dinas dan pemotretan busana" selama satu minggu penuh di Bali.

Gibran berdiri tegak secara perlahan.

Otot-otot rahangnya mengeras, jemari kekarnya meremas amplop cokelat itu hingga remuk di dalam genggamannya.

Tanpa suara, ia melangkah keluar dari ruang kerjanya yang gelap.

Pria bertubuh tinggi besar itu berdiri kaku di puncak tangga utama lantai dua, berdiri mematung bagaikan malaikat pencabut nyawa yang menanti di kegelapan.

Manik matanya yang tajam menatap lurus ke bawah, mengunci sosok istrinya yang tampak teramat cantik, menawan, dan seolah tanpa beban sedikit pun dalam balutan dress sutra bermerek mahal yang membungkus tubuh indahnya.

"Baru pulang, Anin?" suara Gibran menggema melintasi keheningan ruang tengah.

Suaranya terdengar sangat rendah, bernada dingin, dan datar jauh lebih dingin ketimbang hembusan angin malam yang menyapu Pos Komando di perbatasan utara saat musim hujan.

Anindita yang baru saja meletakkan tas tangannya di atas meja konsol mendadak mendongak.

Ia sedikit tersentak kaku, terkejut melihat suaminya berdiri di puncak tangga dalam kegelapan dan ternyata belum tidur.

"Iya, Mas," jawab Anindita berusaha mengatur helaan napasnya agar terdengar kasual, meski ada riak canggung di matanya.

"Sesi pemotretannya di luar ruangan sangat menguras tenaga dan melelahkan.

Aku cape banget dan mau langsung mandi air hangat."

"Menguras tenaga karena kamera... atau karena melayani pria di foto ini?"

Dengan satu gerakan tangan yang cepat dan bergaris tegas, Gibran mengibaskan amplop cokelat yang sudah robek itu.

Lembaran-lembaran foto berwarna pekat itu terlempar bebas dari atas tangga.

Lembar demi lembar kertas foto melayang-layang di udara sebelum akhirnya berhamburan, jatuh tepat berserakan di depan kaki Anindita yang masih terbalut sepatu heels mewahnya.

Anindita membeku seketika di tempatnya berdiri.

Seluruh tubuhnya mendadak kaku bagaikan patung batu.

Wajah cantiknya yang semula memancarkan kesegaran dan pendar kemewahan mendadak pucat pasi bagai mayat yang tak berdarah saat manik matanya menangkap gambar dirinya sendiri sedang berpelukan mesra, tertawa manja, dan berciuman di tepi kolam renang bersama pria lain.

Namun, hal yang membuat dada Gibran kian bergemuruh hancur dan panas bukanlah bukti perselingkuhan itu sendiri, melainkan reaksi yang ditunjukkan oleh Anindita selanjutnya.

Wanita berkelas itu tidak menangis ketakutan.

Ia tidak berlutut memohon ampun, dan tidak pula mencoba menyusun kebohongan baru untuk menyelamatkan mukanya.

Sebaliknya, Anindita justru perlahan mengukir sebuah tawa sinis yang hampa tawa mengejek yang menggema dingin di ruang tamu megah tersebut.

Ia membungkuk anggun, memungut salah satu lembar foto yang paling intim dari atas lantai marmer, lalu mengamatinya tanpa ada rasa bersalah.

"Jadi... sang Letnan Jenderal yang terhormat akhirnya turun derajat?

Menggunakan keahlian intelijen militernya yang hebat hanya untuk memata-matai dan melacak pergerakan istrinya sendiri?" Anindita mendongak, melemparkan pandangan tajam yang menantang tepat ke arah mata Gibran yang menyala.

"Kenapa kamu harus berakting terkejut dan terluka seperti ini, Mas Gibran?

Kita berdua sama-sama tahu betul dari awal kalau pernikahan megah ini hanyalah sebuah sandiwara kosong tanpa jiwa!"

"Sandiwara?!" Gibran berteriak.

Suaranya yang berat dan menggelegar memecah keheningan malam, memenuhi seluruh sudut ruangan hingga membuat piringan kaca lampu kristal di langit-langit bergetar hebat.

"Saya mencoba menjadi seorang suami yang bertanggung jawab selama tiga tahun ini, Anin!

Saya berikan kamu semua fasilitas kelas atas, kemewahan tanpa batas, penghormatan publik, dan nama besar keluarga Mahendra di pundakmu!"

"Semuanya kamu berikan, Mas!

Segalanya!

Kamu berikan uang, status, dan rumah megah ini!

Tapi kamu tidak pernah memberikan hatimu!" Anindita balas berteriak histeris.

Pertahanan emosinya akhirnya pecah, air mata kemarahan, kehampaan, dan rasa frustrasi yang terpendam bertahun-tahun kini meluap membasahi pipi mulusnya.

"Kamu pikir aku ini wanita bodoh yang tidak punya perasaan?!

Kamu pikir aku tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di dalam otakmu?!

Kamu menikahiku, Mas, kamu membawaku ke gereja dan resepsi mewah ini, tapi jiwamu tidak pernah sekalipun berada di rumah ini!

Setiap kali kamu tertidur lelah setelah pulang dari markas, kamu berulang kali menyebut nama wanita lain!

Kamu menyebut nama 'Ziva' dalam igaumu yang gelisah!

Kamu tidak pernah menyentuhku dengan rasa cinta dan hasrat murni seorang pria karena jauh di dalam hatimu yang kaku itu, kamu merasa sedang mengkhianati bocah perempuan itu!

Aku ini wanita bernapas, Gibran!

Aku butuh dicintai!

Aku butuh seorang pria nyata yang menginginkanku sepenuh hati, bukan patung berseragam yang hidup meratapi dan memenjarakan dirinya dalam masa lalu!"

Gibran tertegun kaku di puncak tangga.

Kata-kata tajam yang terlontar dari bibir istrinya menghantam dadanya jauh lebih keras ketimbang hantaman serpihan granat atau pukulan musuh mana pun yang pernah melukainya di medan tempur.

Seluruh pertahanan mentalnya runtuh seketika.

Ternyata, selama tiga tahun terakhir ini, dengan berlindung di balik topeng "pengabdian" dan "tanggung jawab", ia tidak hanya menyiksa hatinya sendiri hingga membusuk... melainkan ia juga telah menyeret seorang wanita lain masuk ke dalam neraka penderitaan, kedinginan, dan kesepian yang teramat menyiksa.

"Jika kamu merasa tidak bahagia di rumah ini...

jika kamu merasa tersiksa dengan kedinginan saya... kenapa kamu tidak mengatakannya sejak awal?" tanya Gibran.

Suaranya yang tadi menggelegar kini mendadak melemah, bergetar pelan akibat rasa malu yang luar biasa dan kehancuran jiwa yang tak tertahankan.

"Kenapa harus dengan cara berzina?

Kenapa harus menginjak-injak kehormatan dan martabat saya sebagai seorang suami dan perwira?"

"Karena aku pengecut, Mas...

sama sepertimu," bisik Anindita dengan nada suara yang teramat getir.

"Aku sangat menyukai status sosial, lampu sorot media, dan rasa bangga menjadi istri dari seorang Jenderal termuda yang cemerlang.

Tapi di saat yang sama, aku membenci kesepian setengah mati saat berada di rumah dingin ini.

Sekarang... semuanya sudah hancur, terbuka, dan berakhir, kan?"

Gibran berjalan turun tangga secara perlahan.

Setiap injakan langkah kakinya di atas anak tangga marmer terasa teramat berat, seolah kedua kakinya dipasangi rantai besi yang memikul beban ribuan ton penderitaan.

Pria itu menyambar sebuah pena berujung emas dan selembar kertas resmi dari atas meja konsol.

Di atas meja makan mewah berukir yang selama tiga tahun pernikahan mereka belum pernah sekalipun digunakan untuk makan malam yang hangat dan penuh kasih sayang, Gibran menggoreskan garis-garis kalimat keputusan akhirnya.

"Saya akan meminta pengacara pribadi keluarga untuk mengurus seluruh proses perceraian ini secara tertutup dan diam-diam," ujar Gibran dengan suara yang kembali mendingin, tanpa mau memandang wajah Anindita sedikit pun.

"Saya tidak akan membiarkan nama baik institusi militer yang saya abdi tercoreng sedikit pun karena skandal perselingkuhan yang murahan ini.

Kemasi seluruh barang-barang pribadi, pakaian, dan perhiasanmu.

Pergilah dari rumah ini sebelum matahari terbit besok pagi."

"Mas..." Anindita memanggil lirih, ada nada getar penyesalan yang mendadak muncul di ujung suaranya saat menyadari realitas dari berakhirnya pernikahan mereka.

"Pergi, Anin.

Angkat kaki dari sini sekarang juga... sebelum saya lupa bahwa saya adalah seorang prajurit yang dilatih untuk selalu menghormati seorang wanita," potong Gibran dengan nada tajam, tegas, dan mematikan yang tak membiarkan adanya bantahan kedua.

Malam semakin larut dan bergeser menuju dini hari.

Setelah Anindita pergi meninggalkan kediaman itu bersama koper-koper besarnya diiringi deru mobil yang menjauh, Gibran berdiri sendirian di balkon luar lantai dua.

Angin malam yang membelah kawasan Menteng merengkuh tubuh tegapnya yang kini terasa begitu kosong, lelah, dan hampa.

Pernikahan yang dulu ia paksakan berdiri demi membahagiakan mendiang ibunya, demi reputasi, dan demi melarikan diri dari bayang-bayang luka masa lalu, kini telah runtuh sepenuhnya menjadi debu tanah yang tak berharga.

Ia merasa telah gagal total dalam kehidupannya sebagai seorang manusia gagal sebagai seorang pria yang tak berani jujur pada perasaannya, gagal sebagai suami yang tak sanggup membahagiakan istrinya, dan gagal mati-matian dalam usahanya yang sia-sia untuk melupakan nama Ziva Adriana.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, pria itu merogoh saku celananya.

Ia mengeluarkan ponsel dinasnya, menatap layar sentuh yang menyala pudar, lalu menekan nomor kontak Aris keponakan kesayangannya yang berada di luar negeri.

"Aris," suara Gibran terdengar teramat parau, berat, dan pecah saat panggilan internasional itu akhirnya terhubung dari seberang sana.

"Datanglah ke rumah utama ini minggu depan.

Bawa serta calon istri yang selalu kamu banggakan itu.

Saya... saya merasa butuh suasana baru dan kehangatan di rumah yang hampa ini."

"Om baik-baik saja?

Suara Om terdengar aneh, parau, dan lelah banget," tanya Aris dari ujung telepon di London, nada suaranya memancarkan rasa khawatir yang tulus pada paman yang sangat ia kagumi tersebut.

"Saya baik-baik saja, Aris.

Jangan khawatir," jawab Gibran sambil menghela napas panjang yang terasa menyiksa dadanya.

"Saya baru saja membuang sampah yang sudah terlalu lama membusuk dan merusak udara di dalam rumah ini."

Gibran sama sekali tidak pernah tahu, dan tidak akan pernah membayangkan, bahwa di sudut lain benua Eropa, di kota London yang dingin dan selalu dibasahi gerimis, Ziva Adriana saat ini sedang merapikan koper-koper pakaiannya bersama Aris.

Pria berseragam itu sama sekali tidak menyadari bahwa tepat saat status perceraian resminya sedang diproses di pengadilan, wanita yang akan melangkah masuk melewati pintu rumah utamanya adalah wanita yang sama wanita muda yang namanya tak pernah berhenti ia sebut, ia panggil, dan ia tangisi dalam igauannya setiap malam selama tiga tahun terakhir.

Tembok es dan benteng pertahanan yang dibangun sang Jenderal telah runtuh sepenuhnya hingga rata dengan tanah, meninggalkan dirinya yang berdiri kaku sendirian di atas puing-puing kehancurannya sendiri.

Ia kini memang telah bebas secara hukum dari ikatan pernikahan yang semu, namun jiwanya terluka parah tanpa ada obat yang mampu menyembuhkan.

Dan takdir, dengan segala skenario terduga, dramatis, dan kejamnya, telah siap mempertemukan kembali dua jiwa yang sama-sama hancur ini dalam sebuah jalinan konfrontasi keluarga yang paling tidak terbayangkan dan paling menyiksa batin.

1
+82
jangan 1 hari 1.. 1 hari 3 mungkin 🌚
+82
lagi🌚
+82
abis kamu ziva.. 🌚 menanti +21
+82
🌚🌚🌚 lagi
+82
lagi🌚
+82
bukaaa🦖 ga sabar mereka balikan
+82
bwahahaha🌚
aku
murahan ziva!! 🙏
Annisa
ceritanya bagus dan menegangkan
Annisa
mantap demi cinta , Gibran dikejar sampai medan konflik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!