Bagi Jema (24 tahun), hidup ini hanya tentang bau oli, tagihan listrik, dan obat Ibunya yang mahal. Lulusan S1 Elektro yang terpaksa jadi montir ini punya hati sedingin es dan tidak punya waktu untuk urusan cinta.
Sampai akhirnya, Maikel (18 tahun) datang mengacaukan segalanya.
Ceria, berisik, dan kaya raya. Bocah SMA bad boy itu sengaja merusak mobil sport mewahnya berkali-kali hanya agar punya alasan sah untuk menggoda Jema di bengkel.
Jema mati-matian menjaga jarak. Baginya, Maikel hanyalah gangguan berisik. Namun, saat Maikel pelan-pelan menyusup ke titik paling rapuh di hidup Jema, benteng pertahanan itu mulai goyah.
Sanggupkah Jema mengabaikan perbedaan usia enam tahun dan jurang status sosial di antara mereka? Apalagi ketika dunia remaja Maikel yang liar mulai menyeret hidup Jema ke dalam bahaya.
"Gue punya alasan sah buat ngerusak mobil gue tiap hari, biar bisa dapet servis dari montir pribadi hati gue." — Maikel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LANGKAH BARU KEJUTAN BARU
Air mata haru perlahan menggenang di sudut mata Ibu yang mulai berkerut. Beliau mengusap kepalaku dengan penuh rasa bangga yang mendalam.
"Alhamdulillah ya Allah... doa Ibu dikabulkan. Anak Ibu yang pintar akhirnya bisa dapat tempat yang layak. Ibu senang sekali, Jem. Sangat senang."
"Ini semua berkat doa Ibu," balasku, menyandarkan daguku di tepi ranjang. Rasa lelah dan sakit hati akibat ucapan Bang Ferdi siang tadi menguap begitu saja, digantikan oleh harapan baru yang membubung tinggi ke langit.
Ibu menatap penampilanku dari atas ke bawah, lalu tersenut penuh arti.
"Jem, besok itu hari penting. Kamu tidak boleh datang dengan pakaian seadanya."
"Ah, pakai kemeja putih sama celana bahan hitam yang biasa buat sidang skripsi dulu juga cukup kok, Bu. Masih rapi di lemari," sahutku enteng.
Ibu menggelengkan kepala dengan tegas, menolak ideku.
"Tidak boleh begitu, Nak. Ini perusahaan besar. Kamu harus terlihat meyakinkan, profesional, dan juga... cantik. Kamu itu anak gadis, Jema. Masa ke perusahaan bonafide pakaiannya kaku begitu."
"Tapi, Bu, uang kita kan"
"Ibu masih punya simpanan uang tunai sedikit di selipan dompet lama di rumah," potong Ibu cepat, tidak membiarkanku mengeluh tentang masalah keuangan.
"Nanti malam, kamu pulang sebentar. Ambil uang itu, lalu pergi ke toko pakaian di depan kompleks. Beli blazer atau kemeja kerja terbaik yang pas di tubuhmu. Ibu ingin anak gadis Ibu terlihat paling bersinar besok pagi."
Aku menatap sepasang mata Ibu yang penuh binar harapan. Aku tahu, menolak permintaannya hanya akan membuatnya berkecil hati. Akhirnya, aku mengangguk pelan sembari tersenyum hangat.
"Iya, Bu. Nanti Jema pulang ambil uangnya dan cari baju baru yang paling cantik buat besok."
"Nah, begitu dong. Anak Ibu harus percaya diri," ujar Ibu sambil mencubit pelan pipiku, membuat kami berdua tertawa bersama di dalam kamar rawat yang kini terasa jauh lebih hangat.
Sesuai saran Ibu, malam itu aku pulang sebentar ke rumah untuk mengambil uang simpanan di dompet lamanya. Beruntung, ada tiga lembar uang seratus ribu yang tersimpan rapi. Aku langsung melangkah ke toko pakaian di dekat pusat perbelanjaan kompleks.
Setelah memilah beberapa pilihan, pilihanku akhirnya jatuh pada sebuah blazer hitam berpotongan modern dengan kemeja dalaman berwarna putih tulang. Pakaian ini pas di tubuhku, memberikan kesan tegas, profesional, namun tetap anggun.
"Kamu terlihat sangat rapi dan cantik, Jem," puji Ibu keesokan paginya saat aku berpamitan di kamar rawat rumah sakit. Wajah Ibu tampak berbinar bangga melihat penampilanku yang jauh berbeda dari biasanya yang selalu berlumuran oli hitam.
"Jema berangkat dulu ya, Bu. Doakan Jema," ujarku sambil mencium punggung tangannya erat.
kamis pagi, pukul 08.45 WIB. Aku sudah berdiri tegak di depan lobi gedung pencakar langit dengan papan nama besar berlapis kuningan di bagian depannya: PT PURNA JAYA OTOMOTIF BACH. Gedung ini sangat megah, dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari pagi dan lalu lalang karyawan berpakaian rapi yang terlihat sangat sibuk.
"Selamat pagi. Saya Jema Juvita, ingin memenuhi undangan pertemuan teknis untuk posisi sistem kelistrikan utama," ujarku pada resepsionis di lobi.
"Selamat pagi, Mbak Jema. Silakan naik ke lantai dua belas, bagian Divisi Pengembangan dan SDM. Konfirmasi ke sekretaris di sana," jawab petugas resepsionis dengan senyum ramah.
Aku melangkah masuk ke dalam lift dengan jantung yang berdegup kencang. Begitu pintu lift terbuka di lantai dua belas, nuansa industri otomotif yang modern langsung menyambutku. Aku diarahkan ke sebuah ruang tunggu kaca yang menghadap langsung ke arah pemandangan kota yang membentang luas.
"Mbak Jema Juvita? Silakan masuk ke Ruang Rapat Anggrek. Manajer HRD dan Kepala Divisi Teknis sudah menunggu," panggil seorang sekretaris wanita dengan sopan.
Aku menarik napas dalam-dalam, membetulkan posisi blazer hitamku, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. Di dalam, duduk dua orang pria paruh baya berpakaian rapi yang langsung menyambutku dengan pandangan menilai yang profesional.
"Selamat pagi, Jema. Silakan duduk," ujar pria yang berada di tengah. Papan namanya tertulis Hendra Wijaya – Kepala Divisi HRD.
"Kami sudah membaca seluruh portofolio dan transkrip nilai Anda dari jurusan Teknik Elektro. Nilai akademis Anda sangat mengagumkan untuk seorang lulusan baru."
"Terima kasih banyak, Pak," jawabku mantap, berusaha menyembunyikan rasa gugup yang mendera.
Pria di sebelahnya, yang tampaknya adalah Kepala Teknisi Senior bernama Pak Irwan, mulai mengajukan pertanyaan teknis yang cukup berbobot.
"Di sini tertulis Anda memiliki pemahaman mendalam tentang restorasi sistem kelistrikan arus searah pada kendaraan modern. Bisa jelaskan bagaimana Anda mendiagnosis masalah sekring utama jika terjadi lonjakan daya tiba-tiba?"
Mendengar pertanyaan itu, rasa percaya diriku langsung bangkit. Ini adalah duniaku. Aku menegakkan posisi dudukku, menatap kedua pewawancara di depanku dengan tatapan meyakinkan.
"Tentu, Pak. Langkah pertama adalah memeriksa hambatan pada rangkaian menggunakan multimeter untuk memastikan tidak ada hubungan pendek ke sasis. Mengingat sistem kendaraan modern menggunakan modul kontrol elektronik atau ECM (Engine Control Module), kita tidak bisa hanya mengganti sekring yang putus tanpa membaca data kerusakan menggunakan alat pemindai diagnostik terlebih dahulu," jelasku dengan sangat lancar, runut, dan antusias.
Semua pengalaman teori saat kuliah beasiswa dan praktik langsung selama enam bulan di bawah kolong mobil bengkel showroom benar-benar membantuku menjawab setiap tantangan dengan taktis. Pak Irwan berkali-kali mengangguk-angguk puas, mencatat poin-poin penting di lembar penilaian dengan senyum tipis.
Pertemuan luring ini murni berjalan di jalur profesional yang bersih. Mereka benar-benar tertarik pada otak dan kemampuanku, bukan karena koneksi atau belas kasihan siapa pun. Aku merasa sangat lega karena harga diriku sebagai sarjana teknik elektro akhirnya dihargai di tempat yang tepat.
"Penjelasan yang sangat luar biasa, Jema," ujar Pak Hendra sembari menutup map berkas lamaranku.
"Jujur, kami jarang menemui lulusan baru yang memiliki pemahaman praktis sematang Anda. Kami sangat membutuhkan teknisi kelistrikan yang jeli seperti Anda untuk menangani lini unit terbaru kami."
"Terima kasih banyak, Pak," jawabku tulus. Rasanya ada beban berat yang luruh dari pundakku.
"Untuk detail kontrak, gaji pokok, dan tunjangan kesehatan akan kami siapkan hari ini. Mengingat kualifikasi Anda, kami menawarkan posisi Teknisi Sistem Kelistrikan Utama dengan masa percobaan tiga bulan, dan gaji awal yang kami tawarkan adalah delapan juta rupiah per bulan. Bagaimana?"
Mendengar angka delapan juta rupiah, jantungku hampir melompat keluar dari rongganya. Itu hampir tiga kali lipat dari gajiku di bengkel, Dengan uang sebanyak itu, aku bisa menyisihkan sebagian besar untuk mencicil utang kepada Maikel, membayar kontrakan, dan tetap bisa membeli obat Ibu tanpa perlu kelaparan.
"Saya sangat tertarik dan bersedia, Pak," ujarku mantap tanpa ragu sedikit pun.
"Baik, kalau begitu silakan tanda tangani berkas kesepakatan awal ini. Hari Senin, Anda sudah bisa mulai bekerja di workshop utama kami di lantai dasar gedung ini," kata Pak Hendra sembari menyodorkan selembar kertas resmi.
Dengan tangan yang sedikit bergetar karena rasa bahagia yang membuncah, aku membubuhkan tanda tanganku di atas kertas tersebut. Begitu proses administrasi selesai, aku menjabat tangan kedua pria itu dengan rasa hormat yang mendalam, lalu melangkah keluar dari ruang rapat Anggrek dengan senyum yang tidak bisa kusembunyikan lagi.
Aku berjalan menuju area lift lobi lantai dua belas. Rasanya aku ingin segera menelepon Ibu dan berteriak kegirangan. Harapan baru untuk masa depanku dan Ibu akhirnya terbuka lebar di gedung megah ini.
Namun, saat aku sedang berdiri menunggu pintu lift terbuka, sebuah suara yang sangat kukenali tiba-tiba terdengar berteriak dari arah koridor seberang, membuat tubuhku seketika membeku kaku.
"Aduh, Pa! Maikel kan udah bilang enggak mau ikut ke kantor! Maikel ada urusan penting hari ini!"
Aku menoleh cepat ke arah sumber suara. Di ujung koridor mewah itu, tampak seorang remaja laki-laki berpakaian kemeja rapi yang pas di tubuhnya sedang berjalan tergesa-gesa dengan wajah cemberut, diikuti oleh seorang pria paruh baya berwajah tegas dan beberapa orang berjas hitam di belakangnya.
Bocah itu... Maikel? Ngapain dia ada di gedung perkantoran mewah ini?!"