Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 ANAK YANG TIDAK MENGENALI IBUNYA
Pertanyaan Arsen menggantung di tengah ruangan. Kaluna menatap lelaki yang dulu menjadi tempatnya pulang. Tiga tahun bukan waktu yang singkat, tetapi Kaluna masih mengenali tanda-tanda ketakutan Arsen: rahangnya mengeras, sementara jemari tangan kanannya bergerak gelisah di sisi tubuh.
“Aku Kaluna,” jawabnya.
Arsen tidak bergerak. Jawaban itu rupanya belum cukup. Arsen seperti menunggu sesuatu yang lebih dari sekadar nama. Di belakang Veyra, Elara masih mengintip dari balik tubuhnya. Tatapannya berpindah dari Kaluna ke foto besar yang diletakkan di antara rangkaian bunga putih.
“Papa,” panggilnya.
Arsen menoleh.
“Dia Mama Kaluna?”
Tak seorang pun langsung menjawab. Pertanyaan sederhana itu membuat suasana yang sudah tegang terasa semakin berat. Kaluna ingin mendekat, tetapi kakinya tetap berada di tempat. Ia tidak ingin Elara kembali bersembunyi karena takut kepadanya.
Arsen mengusap wajahnya. “Elara, kamu ke atas dulu.”
“Aku cuma tanya.”
“Nanti Papa jelaskan.”
“Kapan?”
Arsen tidak segera menjawab. Elara kembali melihat Kaluna. Anak itu masih bingung, tetapi rasa ingin tahunya mulai mengalahkan ketakutan.
“Mama Kaluna sudah meninggal,” katanya.
Kaluna merasa dadanya seperti ditekan dari dalam.
Veyra menunduk kepada Elara. “Sayang, jangan bilang begitu dulu.”
“Tapi fotonya ada di sana.” Elara menunjuk meja peringatan. “Kata Papa, orang yang fotonya dikasih bunga itu sudah tidak ada.”
Kaluna mengikuti arah telunjuk kecil itu. Foto dirinya masih berdiri di tengah ruangan, lengkap dengan tulisan yang menyatakan bahwa ia telah pergi tiga tahun lalu.
“Aku tidak meninggal,” kata Kaluna.
Elara mengernyit. “Terus kenapa semua orang bilang begitu?”
“Aku mengalami kecelakaan.”
“Kecelakaan di sungai?”
Kaluna mengangguk pelan.
“Mama Veyra bilang mobil Mama Kaluna masuk sungai.”
Tangan Veyra di bahu Elara mengerat sesaat. “Elara.”
“Aku cuma cerita.”
“Sudah malam. Kamu sebaiknya istirahat.”
Elara menggeleng. “Aku belum ngantuk.”
Naren bergerak ke samping, memberi ruang ketika dua tamu terakhir meninggalkan rumah. Beberapa masih menoleh dari pintu, tetapi Arsen tidak memedulikan mereka. Setelah semua tamu pergi, di ruangan itu tinggal Kaluna, Naren, Arsen, Veyra, Elara, dan Mbok Rini. Pecahan kaca sudah dibersihkan, tetapi bekas air masih terlihat di lantai.
Mbok Rini berdiri di dekat dinding. Ia terus memperhatikan Kaluna, seakan takut berpaling.
“Nona mau minum?” tanyanya tiba-tiba.
Kaluna hampir tersenyum. Bahkan dalam keadaan seperti ini, Mbok Rini masih memikirkan minuman untuknya.
“Tidak usah, Mbok.”
Mbok Rini mengangguk cepat, lalu mengusap sudut matanya.
Arsen menarik kursi dari dekat meja, tetapi tidak duduk.
“Kita perlu bicara.”
Kaluna melihat Elara.
“Bukan di depan Elara,” lanjut Arsen.
“Dia anakku juga.”
Suara Kaluna tidak tinggi, tetapi cukup untuk membuat Arsen menegang.
Veyra langsung menunduk kepada Elara. “Sayang, ikut Mama ke atas sebentar.”
Elara tidak bergerak. “Aku mau dengar.”
“Ini urusan orang dewasa.”
“Semua selalu bilang begitu.”
Veyra terdiam mendengar ucapan Elara.
Kaluna memperhatikan putrinya. Dulu, bujukan lembut saja sudah cukup membuat Elara menurut. Sekarang anak itu berani mempertahankan keinginannya meski suasana di sekelilingnya tidak nyaman. Kaluna telah kehilangan tiga tahun pertumbuhan Elara: hari pertama sekolah, gigi depannya yang tanggal, teman pertama, juga makanan yang kini tidak disukainya. Veyra yang hadir untuk semuanya.
“Boleh aku bicara dengannya?” tanya Kaluna.
Veyra memandang Arsen.
“Tidak malam ini,” jawab Arsen.
“Aku tidak meminta membawanya pergi.”
“Dia baru saja melihat perempuan asing datang dan mengaku sebagai ibunya.”
“Aku bukan perempuan asing.”
“Bagi Elara, kamu orang asing.”
Ucapan Arsen terasa menusuk. Elara tidak membantah. Anak itu tetap berdiri di sisi Veyra sambil memegang ujung gaun perempuan yang selama ini dipanggilnya Mama. Naren melirik Kaluna, tetapi tidak ikut campur.
Kaluna menarik napas perlahan. “Aku tidak akan memaksa Elara.”
Arsen tampak sedikit lebih tenang, meskipun tatapannya masih penuh kecurigaan.
Kaluna berjongkok agar sejajar dengan Elara. Ia tetap berjarak beberapa langkah.
“Elara.”
Elara memandangnya. Kaluna sempat tidak tahu harus berkata apa. Selama masa pemulihan, ia berkali-kali membayangkan pertemuan ini: Elara berlari memeluknya, atau menangis karena rindu. Tak pernah terlintas bahwa putrinya akan menatapnya seperti orang yang baru dikenal.
“Namaku Kaluna,” kata Kaluna akhirnya. “Kamu tidak harus langsung memanggilku apa-apa.”
Elara mengerutkan kening. “Tapi katanya kamu Mama Kaluna.”
“Iya.”
“Kalau kamu Mama Kaluna, kenapa kamu tidak pulang?”
Pertanyaan polos itu membuat napas Kaluna tertahan.
“Aku sakit cukup lama.”
“Sakit apa?”
“Setelah kecelakaan aku terluka. Aku juga nggak ingat banyak hal.”
Elara memikirkan jawabannya. “Kamu lupa punya anak?”
Kaluna merasakan panas di belakang matanya. Ia menunduk sebentar, lalu kembali mengangkat wajah.
“Aku bukan sengaja melupakanmu.”
“Berarti kamu memang lupa.”
Kaluna diam sebentar. Ia sendiri tahu jawabannya terdengar seperti alasan.
“Iya,” ucapnya jujur. “Untuk sementara, aku tidak ingat siapa diriku. Tapi setelah ingatanku kembali, aku berusaha pulang.”
“Kenapa lama?”
“Aku harus memastikan beberapa hal dulu.”
Elara masih tampak belum puas.
Veyra menyentuh pundaknya. “Sudah, Sayang. Jangan terlalu banyak bertanya.”
“Tapi dia datang ke rumah kita.”
Rumah kita. Bukan rumah Kaluna. Ia menahan perubahan di wajahnya.
Elara melanjutkan, “Mama Kaluna dulu pergi karena ambil uang Papa, ya?”
Arsen menoleh tajam kepada Veyra.
Perempuan itu tampak terkejut. “Elara, siapa yang mengatakan itu?”
“Waktu Tante Lira datang. Dia ngomong sama Nenek. Elara dengar.”
Veyra menghela napas pelan. “Mama sudah bilang jangan mendengarkan pembicaraan orang dewasa.”
“Tapi mereka bilang Mama Kaluna ninggalin Papa.”
Kaluna memandang Arsen, tetapi lelaki itu segera mengalihkan pandangan. Jadi, inilah cerita yang tumbuh bersama Elara: ibunya bukan hanya meninggal, melainkan juga dianggap pencuri yang meninggalkan keluarga.
“Aku tidak mengambil uang ayahmu,” kata Kaluna.
Elara menatap Arsen. “Benar, Pa?”
Arsen mengatupkan bibir. Kaluna menunggu pembelaan yang seharusnya mudah diucapkan, bahwa tuduhan itu belum tentu benar. Arsen malah memalingkan wajah.
“Kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi,” jawabnya.
Kaluna berdiri.
“Setelah tiga tahun, itu jawabanmu?”
Arsen menatapnya kembali. “Kita nggak bahas ini di depan Elara.”
“Dia sudah mendengar tuduhannya.”
“Aku tidak pernah mengajarinya membencimu.”
“Tapi kamu juga diam waktu orang-orang nyebut aku pencuri.”
Veyra bergerak sedikit, menempatkan dirinya di antara Elara dan pertengkaran yang mulai muncul.
“Kaluna,” katanya lembut, “Elara tidak perlu mendengar semua ini malam ini.”
Kaluna memandang Veyra. Gaun yang dikenakan perempuan itu sederhana, wajahnya tampak lelah, dan tangannya tetap berada di bahu Elara. Veyra tidak menunjukkan kebencian. Tidak juga tampak seperti orang yang sedang menang. Itu justru membuat Kaluna semakin sulit menilainya.
“Aku tidak ingin membuatnya takut,” ujar Kaluna.
“Dia memang sedang takut.”
Kaluna menoleh kepada Elara. “Kamu takut kepadaku?”
Elara tidak menjawab. Tubuhnya malah merapat ke sisi Veyra, dan itu sudah cukup. Jemari Kaluna terasa dingin. Dulu, Elara selalu mencarinya setiap bangun tidur. Perempuan asing yang kini ditakuti anak itu pernah menggendongnya sepanjang malam saat demam. Sayangnya, semua kenangan tersebut hanya hidup dalam diri Kaluna. Bagi Elara, tiga tahun mungkin lebih panjang daripada seluruh waktu yang pernah mereka jalani bersama.
“Aku tidak akan mendekat kalau kamu belum mau,” kata Kaluna. “Aku nggak akan maksa kamu percaya.”
Elara memandangnya ragu. “Kamu mau tinggal di sini?”
Arsen langsung menjawab, “Tidak.”
Kaluna berdiri tegak. “Aku bisa menjawab sendiri.”
Arsen menoleh kepadanya. “Kamu tidak bisa datang begitu saja dan tinggal di rumah ini.”
“Aku belum bilang akan tinggal.”
“Lalu untuk apa kamu datang?”
Kaluna kembali memandang Elara. “Untuk melihat anakku.”
Elara tampak tidak nyaman mendengar dirinya disebut demikian.
Veyra mengusap punggungnya. “Sayang, kita ke atas, ya.”
Kali ini Elara tidak menolak. Ia mengangguk kecil, lalu menggenggam tangan Veyra. Kaluna menahan keinginan untuk memanggilnya. Saat mereka melewatinya, Elara sengaja menjaga jarak. Matanya sempat tertuju kepada Kaluna, lalu segera berpindah ke depan.
Kaluna berdiri diam.
Beberapa langkah sebelum tangga, kertas gambar yang tadi dibawa Elara jatuh dari tangannya. Kaluna refleks membungkuk untuk mengambilnya.
“Elara.”
Anak itu berbalik. Kaluna mengangkat kertas itu. Dari dekat, gambar itu terlihat lebih jelas. Arsen digambar paling tinggi, Veyra berada di tengah, sedangkan Elara memegang tangan keduanya. Tidak ada tempat untuk Kaluna.
Kaluna berjalan dua langkah dan menyerahkan gambar itu tanpa menyentuh tangan Elara.
“Terima kasih,” ucap Elara pelan.
Saat Elara menerima kertasnya, lengan baju kirinya tersingkap. Bekas luka memanjang tampak di bagian dalam lengannya. Warnanya sudah memudar, tetapi bentuknya masih jelas. Itu bukan goresan kecil yang baru terjadi.
Kaluna membeku.
Ia hafal setiap tanda di tubuh putrinya sebelum kecelakaan: tahi lalat kecil di belakang bahu, bekas gigitan nyamuk dekat lutut yang sulit hilang, serta luka tipis di dagu karena jatuh dari ayunan. Bekas di lengan itu tidak pernah ada.
Veyra segera menarik lengan baju Elara, seolah hanya sedang merapikannya.
Kaluna mengangkat wajah.
“Luka itu dari mana?”