Indonesia
NovelToon NovelToon
SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.

Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.

Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 — DI GUA, DEWI DAN SILUMAN

Kesadaran Lu Chen kembali seperti air yang menetes di batu. Pelan. Sakit. Dingin.

Hal pertama yang ia rasakan adalah nyeri yang merayap dari tulang belakang sampai ke ubun-ubun. Lalu dingin; udara lembap bercampur bau lumut dan obat-obatan pahit. Suara air terdengar menetes ritmis di kejauhan.

Matanya terbuka perlahan. Cahaya pagi masuk dari celah batu di atas, memotong gelap gua menjadi garis-garis tipis.

"Di mana... aku..." Suaranya serak, tenggorokannya terbakar.

Ia mencoba menggerakkan tangan, namun rasa sakit yang luar biasa menusuk dadanya. Di sanalah segel itu berada, dengan retakan yang terasa seolah siap sobek kapan saja. Ingatan semalam menyerbu kembali: Desa Qingfu, bandit, energi yang lepas, mata warga yang ketakutan, wajah ayah angkatnya yang menangis, dan sosok putih di ujung kesadarannya.

"Jangan bergerak."

Suara itu datang dari samping—tenang, dingin, dan mutlak. Sebuah mangkuk porselen putih terulur ke bibirnya, berisi air hangat yang mengepulkan uap tipis.

Lu Chen menoleh dengan susah payah dan melihat Shen Yue. Dewi itu duduk bersila di atas batu datar; gaun putihnya panjang sampai ke tanah dengan ujung yang kotor oleh lumpur dan darah kering. Rambutnya diikat sederhana, dan di antara alisnya ada titik cahaya biru pucat yang berdenyut pelan.

"Minum," kata Shen Yue lagi. "Jika pembuluh darah di dadamu sobek lagi, aku tidak akan bisa menambalnya untuk kedua kali."

Lu Chen meneguk air itu. Rasa sejuk mengalir ke dadanya dan sedikit meredakan rasa terbakar. Setelah mangkuk disingkirkan ke atas batu dengan bunyi ting yang pelan, Lu Chen memberanikan diri bertanya, "Kau... siapa?"

Shen Yue berdiri dengan anggun, berjalan ke mulut gua tempat kabut putih menyelimuti lembah. "Namaku Shen Yue, Penjaga Hukum Langit dari Istana Awan Giok."

Jantung Lu Chen mencelos. Istana Langit adalah musuh bebuyutan bangsa siluman dan musuh bebuyutannya sendiri. "Tangkap aku kalau begitu. Bunuh aku. Bukankah itu tugasmu?"

Shen Yue menoleh, menatapnya dengan mata jernih seperti es danau di puncak gunung. "Jika aku ingin membunuhmu, kau sudah menjadi debu sejak aku menemukanmu tergeletak di luar gua ini."

"Lalu mengapa?"

"Karena aku melihatnya." Shen Yue berjongkok di depan Lu Chen, menjaga jarak satu lengan. "Aku melihat kau berjuang. Di tengah amukan energi siluman itu, kau masih memilih menekan dirimu agar tidak melukai orang tak bersalah."

Ia mengulurkan tangan, menyentuh dada Lu Chen tepat di atas rajah yang retak. Aliran energi lembut mengalir, menenangkan amukan di dalam tubuhnya.

"Menyegel sementara retakan itu," jawab Shen Yue. "Tiga hari. Mungkin empat. Setelah itu kau harus belajar mengendalikannya sendiri." Ia menarik tangannya. "Namamu?"

"Lu Chen..."

"Lu Chen," ucap Shen Yue mengulang seolah mencicipinya. "Kau tahu apa dirimu?"

Lu Chen tertawa pahit. "Monster. Itu yang mereka katakan."

"Bukan. Kau adalah kesalahan." Shen Yue bangkit dan memutari gua. "Tiga alam—manusia, dewa, siluman. Sejak perang besar sepuluh ribu tahun lalu, batas itu tidak boleh dilanggar. Tapi di dalam tubuhmu ada ketiganya."

Setiap kata dari sang dewi menjelaskan bagian dirinya: sepertiga esensi manusia yang memberinya hati, sepertiga darah dewa yang membuat segel itu bertahan, dan sepertiga kutukan siluman purba keturunan Raja Iblis dari Jurang Tanpa Dasar yang membuatnya berbahaya bagi tiga alam.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan padaku?" tanya Lu Chen parau.

"Aku melanggar hukum langit ketika aku memilih untuk tidak membunuhmu," balas Shen Yue mantap sambil mengulurkan tangannya kembali. "Mulai hari ini, kau bukan lagi Lu Chen si peracik obat. Kau adalah muridku."

Lu Chen menatap tangan seorang dewi yang seharusnya menghukumnya itu. "Apa kau tidak takut? Aku bisa kehilangan kendali dan menyakitimu."

Shen Yue melangkah ke mulut gua, membiarkan cahaya pagi menyinari punggungnya. "Aku sudah hidup selama tiga ribu tahun, Lu Chen. Satu anak setengah siluman tidak membuatku takut. Tapi ingat ini: jika suatu hari nanti kau benar-benar kehilangan kendali, akulah yang harus membunuhmu dengan tanganku sendiri. Itu janjiku pada langit."

Lu Chen menutup matanya. Beban di pundaknya terasa berat, namun untuk pertama kalinya, ia tidak lagi merasa berjalan sendirian di dalam kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!