"Jauhi suami saya!"
Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.
Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.
Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
Pintu kamar pribadi Glow di lantai dua terdorong pelan. Pesta di halaman bawah telah usai, leaving gelak tawa tamu undangan yang perlahan lenyap berganti dengan kesunyian malam New York.
Glow melangkah masuk lebih dulu dengan gaun satin gadingnya yang masih menjuntai, disusul oleh Lean yang berjalan santai dengan kedua tangan terbenam di saku celana tuksedonya. Namun, tepat dua langkah melewati ambang pintu, langkah kaki Lean mendadak terkunci.
Pria tegap yang terbiasa hidup di antara dentuman senjata, markas rahasia bertembok baja, dan aroma minyak pelumas itu hampir saja membuat rahangnya jatuh ke lantai. Jika bukan karena kendali kontrol wajah es yang sudah terlatih puluhan tahun, Lean pasti sudah menganga lebar.
Kamar pribadi Pearl Glow Hurt adalah sebuah bencana visual berwarna merah jambu.
Seluruh dinding dilapisi wallpaper merah muda bergaris-garis pastel. Sprei, bed cover, gorden sutra, hingga karpet bulu di bawah kakinya—semuanya dominan warna baby pink. Bahkan sebuah boneka kelinci raksasa berukuran satu setengah meter duduk manis di atas sofa beludru pink di sudut ruangan.
Lean berdiri mematung di tengah ruangan, matanya berkedip pelan menatap sekeliling. Aura gelap dan intimidatif yang melekat pada dirinya seketika meleleh, digantikan oleh ekspresi keterkejutan yang amat sangat.
Glow yang menyadari pandangan aneh suaminya langsung melempar tas genggamnya ke atas kasur dengan gaya kelewat angkuh.
"Apa yang kau lihat, Tukang Bengkel?" tantang Glow seraya bersedekap dada. "Ini kamarku. Warna pink melambangkan keanggunan dan kelembutan jiwa. Pria tanpa estetika sepertimu mana paham."
Lean menoleh perlahan, menatap Glow dengan satu sudut bibir terangkat tipis. "Kelembutan jiwa? Aku merasa baru saja melangkah masuk ke dalam perut karakter kartun."
"Kau—!" Glow melotot, siap meledakkan emosinya. Namun, mengingat wejangan panjang lebar dari Angelina beberapa saat lalu tentang 'bersabar menghadapi pria penipu', Glow dengan cepat menahan napasnya, mengelus dada, dan memasang senyum manis yang dipaksakan. "Ah, tidak apa-apa. Aku memaklumi keterbatasan selera senimu. Pria miskin yang biasa tidur di atas tumpukan ban bekas di Queens pasti kaget melihat kemewahan ini."
Lean tidak membalas sindiran itu. Ia berjalan mendekati ranjang king size berkanopi pink, lalu menepuk kasurnya pelan. "Kasur yang cukup empuk. Aku akan tidur di sebelah kanan."
"Enak saja!" jerit Glow, pertahanan sabarnya runtuh seketika dalam hitungan detik. Ia menuding wajah Lean dengan jari telunjuknya. "Siapa bilang kau boleh tidur di kasur ini?! Kasur empuk bersprei sutra ini hanya untukku! Tempatmu adalah di sana!"
Jari Glow bergeser, menunjuk ke arah karpet bulu merah muda di dekat pintu masuk kamar mandi.
Lean menyipitkan matanya. "Kau menyuruh suamimu tidur di lantai?"
"Kau bukan suamiku, kau cuma tameng sepuluh menit yang kebetulan ikut sampai ke kamar!" pangkas Glow tajam. "Lagi pula, lantai kayu ini sangat bersih. Karpetnya tebal dan empuk. Sangat mewah untuk ukuran mekanik yang biasa tidur beralaskan kardus!"
"Bagaimana kalau aku menolak?" sahut Lean santai, membuka kancing jas tuksedonya satu per satu lalu melemparkan jas mahal itu begitu saja ke atas sofa pink. Ia mulai melonggarkan dasi hitamnya.
"Gunakan kamar mandi dulu!" seru Glow cepat, memotong pergerakan Lean yang berniat mendekati kasur. "Aku mau mandi lebih dulu!"
"Siapa cepat dia dapat, Istriku," balas Lean dingin, melangkah lebar mendahului Glow menuju pintu kamar mandi.
"Lean! Hentikan langkahmu!" Glow berlari kecil, berusaha menyalip Lean. Namun, dengan tubuhnya yang tinggi besar, Lean dengan mudah memblokir jalan Glow hanya dengan memiringkan bahunya. Lean melangkah masuk ke kamar mandi dan langsung memutar kunci dari dalam.
KLIK.
"Lean! Buka pintunya, Sialan!" jerit Glow histeris seraya menggedor-gedor pintu kamar mandi berlapis kaca buram itu. "Itu kamar mandiku! Sabun di sana semuanya aroma stroberi dan mawar, kau tidak cocok menggunakannya! Kau akan berbau seperti permen!"
Dari dalam kamar mandi, suara gemericik air pancuran terdengar, disusul suara berat Lean yang bergema santai, "Aroma stroberi jauh lebih baik ketimbang aroma bensin yang kau keluhkan tadi sore."
"Kau benar-benar penipu tidak tahu diri!" maki Glow frustrasi, menendang pintu kayu itu pelan sebelum akhirnya terduduk pasrah di tepi ranjangnya yang berwarna pink.
Sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
Uap hangat merebak keluar, membawa aroma stroberi segar yang sangat pekat. Lean melangkah keluar hanya dengan menggunakan handuk putih melingkar di pinggangnya, sementara tubuh bagian atasnya yang atletis, dada tegap berotot, dan guratan-guratan samar bekas luka pertarungan terpampang nyata di bawah pendar lampu kamar. Rambut cokelat gelapnya yang basah meneteskan titik-titik air ke atas bahunya.
Glow yang sedang mengomel sendiri seketika membeku. Matanya membelalak menatap pemandangan di hadapannya. Pipi Glow memerah padam—bukan karena warna dinding kamarnya, melainkan karena syok melihat proporsi tubuh suaminya yang benar-benar tidak seperti tukang bengkel biasa.
"Kau... kenapa tidak pakai baju?!" pekik Glow, memalingkan wajahnya cepat-cepat seraya menutupi matanya dengan kedua tangan.
"Aku tidak membawa baju ganti, jika kau lupa," jawab Lean santai. Ia mengambil handuk kecil, mengeringkan rambutnya tanpa rasa canggung sedikit pun. "Lagipula, kita sudah menikah. Apa yang kau takutkan?"
"Gila! Kau benar-benar gila!" umpat Glow, langsung bangkit dan berlari kencang masuk ke kamar mandi untuk menyelamatkan matanya dari pemandangan yang membakar dada tersebut.
Brak!
Pintu kamar mandi dibanting rapat dari dalam.
Lean terkekeh pelan. Sebuah tawa renyah yang sangat langka keluar dari bibir sang penguasa takhta kegelapan New York. Ia menyandarkan punggungnya di dinding pink, menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Mata es Lean meredup, pikirannya melayang mundur ke momen beberapa jam lalu di ruang kerja bawah tanah.
Saat itu, Lucifer Hurt—tangan kanan paling setia dari kakeknya, Dariush Chase Ashford—berlutut dan memohon di hadapan Lean dan Dariush. Lucifer, pria tangguh di dunia bawah tanah, meneteskan air mata memohon bantuan pertama dan terakhirnya: meminta keluarga Ashford menyelamatkan harga diri putri tunggalnya dari jebakan skandal penipuan Leonardo.
Lucifer hanya meminta pernikahan sandiwara itu bertahan untuk malam ini saja, agar Glow tidak menjadi bahan tertawaan publik Manhattan.
Namun, di luar dugaan semua orang, Orion Leander Ashford menggelengkan kepala saat itu.
"Aku tidak pernah melakukan hal setengah-setengah, Lucifer," ucap Lean dingin kala itu. "Aku akan menikahinya secara sah dan seumur hidup. Kenapa harus menikah hanya untuk satu malam kalau aku bisa memilikinya selamanya?"
Awalnya, Lean mencurigai kecerobohan dan keanehan Pearl Glow Hurt. Ia sempat mengira gadis ini adalah agen pemicu yang disusupkan oleh pihak kepolisian atau sindikat rival untuk menjebak jaringan bisnis senjatanya saat berada di Queens, sore tadi.
Namun, menyaksikan bagaimana gadis ini berinteraksi malam ini—cerewet, penuh prasangka absurd, menduga dirinya mekanik miskin, hingga menuduhnya membelikan baju palsu untuk ibunya—Lean sadar kecurigannya sepenuhnya salah.
Pearl Glow Hurt hanyalah seorang gadis kaya yang sangat manis, polos, dan memiliki tingkat imajinasi absurd yang kelewat tinggi.
Dua puluh menit kemudian, Glow keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama porselen berlengan panjang berwarna krem. Wajahnya sudah bersih dari riasan pesta, meninggalkan kulit mulusnya yang agak pucat dan mata bundarnya yang terlihat lelah.
Lean sudah duduk di atas sofa beludru pink, kini mengenakan celana kain tuksedonya tanpa atasan, memangku laptop hitam tipis milik Glow yang ada di meja.
Glow melangkah mendekati meja riasnya, mengeringkan rambutnya dengan handuk perlahan. Keheningan menyeruak di antara mereka selama beberapa saat. Tensi konyol tadi perlahan luntur, berganti dengan atmosfer yang penuh keraguan.
Glow menatap bayangan Lean dari cermin kaca riasnya.
"Lean," panggil Glow pelan. Suaranya tidak lagi melengking angkuh seperti sebelumnya, melainkan terdengar lembut dan agak bergetar.
Lean tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop, namun suaranya menyahut, "Hmm?"
Glow memutar tubuhnya, menatap Lean lurus-lurus. "Setelah malam ini... kita tinggal di mana?"
Lean menghentikan ketukan jarinya di atas papan ketik. Ia mendongak, menatap istrinya.
Glow menunduk, mengusap jemarinya sendiri yang saling bertautan. "Aku tahu kau... kau mungkin tidak punya rumah yang layak di Manhattan. Bengkel di Queens itu pasti tempat tinggalmu juga, kan?"
Glow menarik napas panjang, mencoba menata kalimatnya dengan dewasanya. "Aku punya tabungan pribadi dari bisnis desain buku dan warisan kecil dari mendiang Mommy. Kita bisa menyewa apartemen sederhana di pinggiran kota. Aku... aku tidak mau kau dipandang rendah oleh Daddy atau Camilo."
Lean tertegun. Sorot mata esnya bergetar tipis mendengarkan nada bicara Glow.
Glow mendongak lagi, menatap Lean dengan mata yang berkaca-kaca, memperlihatkan ketulusan yang murni dari balik mulut pedasnya. "Daddy sudah berjuang keras bertahun-tahun membesarkan kami sejak Mommy meninggal. Aku tidak mau Daddy berpikir aku menikahi pria yang tidak bertanggung jawab. Walaupun kau penipu dan tukang membual, sekarang kau suamiku. Kita harus menata hidup ini dari awal, paham? Kau bisa tetap bekerja di bengkel, dan aku akan membantumu keuangan rumah tangga kita."
Sebuah terkekehan pelan lolos dari tenggorokan Lean. Pria itu menggelengkan kepalanya menatap Glow.
Ia benar-benar tidak menyangka. Gadis yang tadi siang memaki-makinya kini sedang menyusun rencana masa depan rumah tangga mereka dengan sangat serius, lengkap dengan niat mulia untuk membiayai hidupnya.
"Kenapa kau tertawa?!" seru Glow, merengut kesal karena merasa niat baiknya dijadikan bahan lelucon. "Aku sedang bicara serius, Lean! Aku sedang memikirkan martabat Rumah tangga kita!"
Lean bangkit dari sofa, melangkah pelan mendekati Glow. Langkah kakinya tanpa suara membuat aura mengintimidasi itu kembali memenuhi ruangan pink tersebut. Ia berhenti tepat di hadapan Glow, menunduk hingga wajah mereka sejajar.
"Kau benar-benar gadis cerewet yang bodoh, Pearl Glow Hurt," bisik Lean lembut, suaranya sarat akan kehangatan yang tak biasa.
"Apa kau bilang?!" desis Glow, membalas tatapan pria itu.
"Kau suka menuduh sembarangan, membuat asumsi gila di kepalamu sendiri, dan dengan mudahnya percaya aku ini pria miskin," sambung Lean dengan satu sudut bibir terangkat. "Tapi... pikiran dewasa dan ketulusanmu itu cukup mengesankan."
Glow mematung, dadanya berdebar kencang saat jemari tegap Lean terangkat, mengusap sudut matanya yang agak basah secara perlahan. Kelembutan sentuhan pria itu terasa begitu kontras dengan bahunya yang tegap berotot.
"Soal tempat tinggal..." bisik Lean, mengikis jarak hingga napas hangatnya menyapu bibir Glow, "...kau tidak perlu khawatir. Istri dari seorang Orion Leander tidak akan pernah tinggal di tempat sempit."
Glow menelan salivanya dengan susah payah, mencoba mempertahankan sisa-sisa keangkuhannya di tengah debaran dada yang makin tak terkendali. " J-jangan membual lagi! Dan ingat, kau tetap harus tidur di lantai malam ini!"
Lean terkekeh rendah, menatap leher putih Glow yang terekspos di balik kerah piyamanya.
"Sudah kukatakan padamu di panggung dansa tadi, Istriku," bisik Lean dengan nada menggoda yang berbahaya, "...kau punya hidangan pembuka malam ini. Dan aku lebih suka bagian lehermu. Di sana banyak lemak—bagian favorit sang kanibal."
"Lean! Sialan kau!" jerit Glow sambil mendorong dada tegap pria itu, berusaha melarikan diri, namun lengan kokoh Lean dengan cepat melingkar di pinggangnya, menariknya rapat dalam dekapan yang mengunci malam pertama mereka di dalam kamar merah jambu tersebut.
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍