Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:480.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."

Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.

Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.

​Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.

​Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.

​Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.

Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 12 Hilang Selera

Dengan panik, Siska mengambil pisau dapur dan mulai mengikis bagian hitam dari roti itu.

"Tidak apa-apa! Mas Ardy pasti tidak akan sadar kalau ku tutupi!" gumamnya menyemangati diri.

Ia lalu mengambil mentega dan selai keju. Karena panik rotinya masih terlihat gosong, ia mengoleskan selai keju itu setebal mungkin hingga roti itu nyaris tenggelam dalam lautan keju kental.

"Selesai! Sekarang tinggal kopinya!"

Siska menyambar toples kopi dan menaburkannya ke dalam cangkir. Tangannya gemetar hebat. Ia menuangkan air panas, lalu matanya tertuju pada toples putih di sebelahnya. Karena pikirannya sudah kacau dan ia tidak terbiasa di dapur, tangan Siska secara refleks menyendok isi toples putih itu.

Sayangnya, karena gugup yang luar biasa, gula yang seharusnya dilarang keras oleh Ardy justru masuk dengan indahnya ke dalam cangkir tersebut.

"Nah selesai. Mudah-mudahan mas Ardy suka," ucap Siska menghela napas lega sembari menyeka keringat dingin di dahinya.

Siska menata semuanya di atas nampan dan membawanya ke meja makan dengan tersenyum manis.

"Mas, sarapan spesialnya sudah siap," ucap Siska meletakkan piring dan cangkir itu di depan Ardy.

Ardy yang sedang sibuk mengecek ponsel, langsung meletakkannya.

"Terima kasih."

Tanpa curiga sedikit pun, Ardy mengambil sepotong roti yang terlihat tebal oleh keju itu. Gigitan pertama langsung masuk ke mulutnya.

Kening Ardy perlahan berkerut. Ia pun menghentikan kunyahannya.

"Aneh. Kenapa Rasanya sangat berbeda," batin Ardy.

Rotinya terasa sekeras batu di pinggirannya, berbau sangit seperti benda terbakar dan rasa pahit arang langsung menyengat lidahnya, bertabrakan dengan rasa asin keju yang terlalu berlebihan hingga membuat enek.

Ardy buru-buru menelan paksa roti itu, lalu segera meraih cangkir kopinya untuk menetralisir rasa tak karuan di mulutnya. Ia menyesap kopi hitam itu.

Sedetik kemudian, mata Ardy melebar. Ia menjauhkan cangkir itu dari mulutnya dengan wajah bereaksi jijik.

"Kopi apa ini?!" seru Ardy tajam.

Bahu Siska seketika melonjak kaget. Jantungnya serasa copot dari tempatnya.

"Kenapa, Mas? Kopinya kurang panas?" tanya Siska terbata-bata, matanya mulai bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri.

Ardy menatap cangkir kopi dan roti di depannya bergantian selama beberapa detik, lalu menatap Siska dengan pandangan menusuk yang penuh kecurigaan.

"Siska. Bukankah tadi aku bilang kopi hitam tanpa gula? Ini manis sekali seperti air sirup! Dan roti keras dan gosong rasanya!"

Siska langsung gelagapan. Wajahnya pucat pasi. Kedua telapak tangannya mulai berkeringat dingin dan ia meremas ujung bajunya dengan kuat.

"Itu... anu, Mas... mungkin tadi gulanya tidak sengaja tumpah ke dalam cangkir waktu aku mengaduk. Iya, tumpah," ujar Siska beralasan.

"Dan kalau soal rotinya, pemanggangnya sepertinya rusak, Mas. Jadi tingkat panasnya tidak stabil. Iya, salah pemanggangnya."

Ardy meletakkan rotinya kembali ke piring dengan kasar. Ia menatap Siska, membuat wanita itu semakin mengecil di tempatnya.

"Bukankah dulu kamu yang setiap pagi selalu membuat sarapan yang sempurna untukku?"

Siska tak mampu menjawab. Ia hanya bisa tersenyum kaku. Dalam hatinya, ia berdoa semoga Ardy tidak menyadari kebohongan besarnya bahwa selama ini, sarapan enak yang selalu dipuja-puja oleh Ardy, sama sekali bukanlah hasil buatannya.

"Sudahlah. Selera makanku jadi hilang," ucap Ardy menggeser piring berisi roti gosong berlumur keju itu menjauh dari pandangannya.

Siska yang sejak tadi berdiri di samping meja makan langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia meremas ujung piyamanya kuat-kuat, memasang wajah memelas penuh penyesalan.

"Maaf, Mas. Aku benar-benar tidak fokus pagi ini karena perutku sakit sekali," cicit Siska dengan suara bergetar dan nyaris menangis.

Ardy mengembuskan napas panjang seraya memijat pangkal hidungnya. Ia terlalu lelah dengan urusan kantor dan drama di rumah ini untuk memperpanjang masalah hanya karena sepotong sarapan yang gagal.

"Sebaiknya kamu istirahat saja di kamar," putus Ardy sambil bangkit dari kursinya dan meraih tas kerjanya.

"Tapi, Mas—"

"Aku bisa beli sarapan di jalan," potong Ardy cepat. "Jangan lupa minum obatmu. Kalau ada apa-apa atau sakitnya bertambah parah, hubungi aku."

Siska mengangguk pelan, air mata buaya menggenang di pelupuk matanya.

"Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Maafkan aku ya."

Siska mengantar Ardy hingga ke depan pintu utama. Ia melambaikan tangannya dan tersenyum manis bak istri idaman sampai mobil sedan mewah pria itu benar-benar keluar dari gerbang halaman rumah.

"Kesal banget," gumam Siska menghentakkan kakinya ke lantai.

"Kenapa sih dia tiba-tiba harus minta aku yang masak?! Bikin jantungan saja!" Ia mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustrasi.

"Tadi itu hampir saja ketahuan! Kalau mas Ardy sampai sadar selama ini aku beli roti itu di kafe, habis sudah citra sempurnaku!" gerutunya dengan napas memburu.

"Sayang, sudah jangan dipikirkan lagi."

Siska langsung berbalik dan memeluk wanita paruh baya itu erat.

"Tante maafkan Siska. Aku benar-benar lupa cara buat roti sialan itu. Aku panik, Tante!"

Sarah membalas pelukan itu dan tersenyum penuh kasih.

"Sudah, tidak apa-apa, Nak. Jangan menangis. Nanti Tante yang akan ajarkan kamu diam-diam. Atau kalau perlu, Tante akan panggil koki privat ke rumah ini saat Ardy sedang kerja."

Siska mendongak dengan mata berbinar. "Beneran, Tante?"

"Iya, Sayang. Pelan-pelan saja. Yang paling penting sekarang adalah Ardy tetap memilih kamu, bukan si Kirana." Sarah mengusap kepala Siska dengan sayang.

Mendengar janji itu, Siska akhirnya bisa menghela napas panjang dan tersenyum lega.

"Iya, Tante. Makasih."

Jauh di lubuk hati Siska yang terdalam, rasa cemas itu mulai tumbuh subur bak gulma. Untuk pertama kalinya sejak ia merebut kembali hati Ardy, pria itu menatapnya dengan tatapan meragukan. Siska tahu, ia harus bermain jauh lebih pintar sekarang.

*

*

Sementara itu, di sebuah...

"Rana!" Seorang wanita melambaikan tangannya penuh semangat dari sudut ruangan.

Kirana yang baru saja tiba, tersenyum tipis lalu melangkah menghampirinya. Belum sempat Kirana duduk, Vanessa langsung berdiri dan memeluknya erat-erat, nyaris mencekiknya.

"Ya ampun, Rana! Gimana keadaan kamu? Kamu baik-baik aja, kan? Kepalanya masih sering sakit? Kamu makan teratur, kan di rumah neraka itu?" tanya Vanessa sambil menangkup kedua pipi Kirana, memeriksa sahabatnya itu.

Kirana tertawa kecil, perlahan melepaskan tangan Vanessa dan duduk.

"Bisa nggak sih tanyanya satu-satu, Nes? Kamu ini mirip wartawan infotainment banget."

Vanessa mencibir, ikut duduk dan melipat tangannya.

"Namanya juga khawatir. Kalau nanti kepalamu sakit lagi, aku mau kenalkan kamu sama dokter spesialis saraf kenalan Bang Rajendra."

Kirana menggeleng santai sambil memberi isyarat pada pelayan untuk memesan latte.

"Nggak usah repot-repot, Van. Aku baik-baik aja sekarang. Lagian, tujuan kita ketemuan hari ini bukan untuk bahas rumah sakit atau kesehatanku."

Vanessa mengernyitkan dahi bingung. "Terus? Tumben kamu ngajak keluar pagi-pagi begini?"

Senyum di bibir Kirana melebar. Perlahan, ia membuka ritsleting tas di pangkuannya. Tangannya merogoh dompet dan mengeluarkan sebuah kartu kredit metalik berwarna hitam berkilau.

Mata Vanessa langsung membelalak sempurna.

"Ya Allah! Rana itu black card kan?"

"Iya," jawab Kirana tenang.

Vanessa refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya bergantian menatap kartu itu dan wajah Kirana.

1
Idah Jafar
Kirana siap habisi uang Ardy
beeli yg bermanfaat KY mas berlian apartemen
biar habis tuh saldonya ATM
Sunny Kwok
Ceritanya bagus 👍👍👍
Senja: terima kasih kk
total 1 replies
Evy
Bapaknya anak Siska sudah pasti itu..Toni..sepupu gadungan..
Indra Wahyu Rianti
👍
Indra Wahyu Rianti
sarah gila. jelasjelas kakek kirana yg nolong suntikan dana perusahaannya masa dibilang miskin. baru kali ini orang yg nolong disia siakan.
davina aston
👍👍👍👍👍👍👍👍
Indra Wahyu Rianti
lah riko kan diminta bsk pagi data tony. malah laporin kirani dan tristan. ardy pun gak nanya. beg**** nya
Indra Wahyu Rianti
lah ternyata msh dirumah. kl tau itu berita yg ditunggu ngapain tgg nanti malem.
Evy
Pelayan yang tidak punya hati nurani... Sombong amat jadi pembantu...
Linda Muslimahcell
jgn mimpi Ardi,,,kasiah jg km ardi🤭
PNC
ga setujuuuuuuuuuuuuuuu
Farida Dalle
Ternyata sdh tamat yah.. terimakasih thor, ceritanya bagus, dan ada yg bisa jadi renungan, bahwa apa yg kita punya hrs ttp disyukuri, krn setiap pembeeian dr Allah itu pasti yg terbaik buat hambaNya.. jd ttplh jd manusia yg pandai bersyukur agar tdk ada penyesalan dikemudian hari... ok thor semoga ada S2nya🙏
Senja: Terima kasih kka sudah mampir
total 1 replies
Farida Dalle
Yah... waharlh Kurana minta nambah, bayangin 3 thn nikah, dikasih nafkah batin cuman sekali itupun krn Ardy mabuk,gimna coba...

🤭🤣
Farida Dalle
Selamat atas pernikahan Tristan&Kirana, neskipun kita 5dk diundang tp ttp mendoakan yg terbaik, semoga Samawa, dn cepat diberi momongan, biar lengkap kebahagiaan si kakek, dan utk Tristan 2 jempol untukmu, yg mau menolong dg ikhlas... ibarat kata tangan kanan memberi, tangan kiri tdk perlu tahu, sekali lg selamat yah... 🥰😍
Farida Dalle
Thor, sedih aq tuh dg mas Ardy sm bu Sarah... rasanya mau nangis, semoga nntinya dikasi juga kebahagiaan yah thor🙏🥹
Farida Dalle
Thor, dilu kan wktu ngambil black cardnya si Ardy, Kirana kan sempat beli rumah, koq gak prnh dibahas... klu mmng ada kasi ke Ardy sj, spy bisa tinggal dg nyaman bersama ibunya
🤭
Farida Dalle
Inilh susahnya klu cuma drngar setengah2,jadi salah paham kan...tp tdk apa,dentan demikian sdh bisa ketebak kan klu sbnarnya Kirana jg suka sama Tristan,bahkan mungkin sdh mencintainya
🤭🤣
Farida Dalle
"Kalau aku mau, aku bisa mendapatkan kembali hatinya" hellow... sadar gak kamu Ardy, PD tingkt dewa... ngaca ... ups sorry pasti di tempat kontrakannya gak punya cermin, hihi
Farida Dalle
"Kalau aku mau, aku bisa mendapatkan kembali hatinya" hellow... sadar gak kamu Ardy, PD tingkt dewa... ngaca ... ups sorry pasti di tempat kontrakannya gak punya cermin, hihi
Farida Dalle
Ardy, plisss deh... gak usah buang duit dan wktumu, mending uangnya pake buat byr kontrakan dan makanannya, kamu mkn sj sm ibumu biar kenyang, iya kan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!