Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Bab. 1 Dua garis merah

“Aku sungguh hamil? Alhamdulilah.”

Mata Kirana berkaca-kaca menatap alat uji kehamilan yang masih berada dalam genggamannya. Selama tiga tahun menikah dengan Ardy, ia tak pernah berhenti berharap. Di setiap sujud panjangnya di sepertiga malam, hanya ada satu doa yang selalu ia panjatkan dengan derai air mata.

“Semoga Tuhan menghadiahkan seorang anak yang mampu menghangatkan rumah tangga yang sedingin ini.”

Sebab Kirana sadar sepenuhnya, hati suaminya tak pernah benar-benar menjadi miliknya. Ardy memang menikahinya atas desakan almarhum kakeknya, tetapi pria itu tak pernah mencintainya. Meski begitu, Kirana selalu bodoh dan percaya bahwa cinta bisa tumbuh seiring waktu.

Dan pagi ini, Tuhan seolah memberinya secercah harapan.

Dengan hati-hati ia memasukkan test pack itu ke dalam kotak kecil berlapis pita biru yang telah disiapkannya sejak berbulan-bulan lalu. Ia bahkan menyelipkan sepasang kaus kaki bayi mungil berwarna putih yang sengaja ia beli diam-diam.

Malam nanti, ia akan memberi kejutan kepada suaminya. Membayangkan ekspresi Ardy saat mengetahui dirinya akan menjadi seorang ayah membuat dada Kirana dipenuhi kehangatan yang meletup-letup.

“Mas Ardy pasti senang. Dia pasti akan memelukku,” gumam Kirana sembari mengusap sisa air matanya.

*

*

“Mas.”

Kirana tersenyum manis sembari melangkah maju, tangannya terulur merapikan dasi suaminya yang sedikit miring.

“Nanti malam jangan lupa ya? Di restoran tempat kita biasa makan malam bersama keluarga.”

Ardy yang sedang sibuk membalas pesan di ponselnya, berdiri kaku di depan cermin tanpa sedikit pun menoleh. Tangan Kirana di dadanya seolah tak ada artinya.

“Kenapa harus di sana? Dekat kantor saja tidak bisa?” sahut Ardy dengan nada dingin.

“Aku ada kejutan buat Mas. Sangat penting.”

Tatapan Ardy akhirnya beralih sekilas dari layar ponsel.

“Kalau penting, bicarakan sekarang, Kirana. Jadwalku padat.”

“Nggak bisa.” Kirana terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. “Harus nanti malam, Mas.”

“Hmm. Aku usahakan datang.”

Hanya itu. Tak ada senyum. Tak ada pertanyaan manis. Tak ada antusiasme.

“Mas, tolong jangan sampai batal ya. Aku benar-benar menunggu. Ini soal masa depan kita.”

Ardy mengembuskan napas kasar. “Aku bilang aku usahakan, Kirana! Jangan mengulang-ulang ucapan yang sama. Telingaku sakit mendengarnya!”

Pria itu menyentak jasnya, menyambar tas kerja di atas ranjang, lalu melangkah lebar keluar kamar tanpa menoleh lagi.

“Mas, tunggu!”

Brak!

Pintu tertutup rapat sebelum Kirana sempat menyelesaikan kalimatnya. Wanita itu memejamkan mata. Rasa sesak yang sudah terlalu akrab kembali meremas dadanya. Tangannya perlahan turun, mengusap perutnya yang masih rata dengan kelembutan luar biasa.

“Nggak apa-apa, Sayang. Nanti malam semuanya akan berubah. Papamu pasti bahagia mengetahui kamu sudah hadir di sini.” Ia tersenyum kepada dirinya sendiri di pantulan cermin. Lalu menyusul suaminya.

Begitu menuruni anak tangga terakhir, langkah Kirana mendadak terhenti. Senyum di bibirnya membeku.

Di ruang makan, telah duduk seorang wanita bernama Siska. Mantan kekasih Ardy. Wanita yang entah sejak kapan memiliki keistimewaan luar biasa hingga lebih sering berada di rumah ini.

“Selamat pagi, Tante Sarah, Mas Ardy, Mbak Kirana,” sapa Siska dengan senyum manis.

Sarah, ibu mertua Kirana, langsung tersenyum lebar hingga matanya menyipit.

“Sudah sarapan belum, Sayang? Duduk sini. Tante sudah siapkan roti gandum kesukaanmu.”

Kirana hanya mampu menatap pemandangan itu dalam diam. Selama tiga tahun mengabdi menjadi menantu, Sarah tak pernah sekalipun menawarinya makan dengan nada sehangat itu.

“Kirana!” suara Sarah membuyarkan lamunannya.

“Kenapa masih berdiri mematung di sana?! Cepat buatkan teh chamomile hangat untuk Siska! Dia sedang kurang enak badan. Jangan lambat!”

“Iya, Ma.”

Tanpa membantah sepatah kata pun, Kirana berjalan ke dapur. Tak sampai lima menit, ia kembali dengan nampan berisi secangkir teh hangat. Baru saja tangannya hendak meletakkan cangkir itu di atas meja...

“Heh! Taruh yang benar! Jangan sampai tumpah ke baju mahal Siska!”

Bentakan tiba-tiba dari Sarah membuat Kirana refleks terkejut. Tangannya gemetar. Sendok kecil di atas tatakan berdenting keras menyentuh keramik.

Siska sontak memegang dadanya dengan sok dramatis. “Astaga! Aku kaget sekali, Tante....”

“Kirana! Kamu sengaja, ya?! Kamu sengaja mau menyiram Siska dengan air panas?!”

Kirana menggeleng panik, wajahnya pucat pasi. “Nggak, Ma! Sumpah, aku benar-benar nggak sengaja.”

“Alasan! Kerjaan mu memang cuma bikin orang susah di rumah ini!” seru Sarah tajam.

“Maaf, Ma.”

“Kata maafmu sudah basi! Kalau saja Ardy dulu menikah dengan Siska, rumah ini pasti sudah damai dan penuh suara tawa cucu. Bukan diisi perempuan mandul sepertimu!”

Kata mandul itu sukses menampar telak ulu hati Kirana. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Padahal di dalam tasnya, ada bukti bahwa ia bisa memberi keturunan.

Di saat yang sama, Ardy menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana istrinya dimarahi habis-habisan. Bukannya membela sang istri, yang ia lakukan hanyalah menarik kursi di sebelah Siska.

“Sudahlah, Ma. Pagi-pagi jangan ribut,” ucap Ardy acuh tak acuh.

“Sudah bagaimana?!” bentak Sarah tak terima. “Lihat istrimu ini, Ardy! Kelakuannya kampungan! Wajah Siska sampai pucat pasi begini karena ulahnya!”

Siska buru-buru menggenggam tangan Sarah, lalu menatap Ardy dengan mata berkaca-kaca.

“Jangan marahi mbak Kirana, Tante, Mas Ardy. Aku yakin mbak Kirana nggak sengaja. Mungkin dia capek melayani kalian.”

“Makanya Tante sangat sayang sama kamu, Sis. Kamu selalu lembut dan pemaaf. Beda jauh dengan parasit yang cuma numpang jadi istri ini!” Sarah mengusap rambut Siska penuh kasih.

Jantung Kirana serasa ditusuk ribuan jarum.

Parasit? Cuma numpang jadi istri? Bukankah ia istri sah yang dinikahi di hadapan Tuhan? Lalu mengapa kehadirannya selalu dianggap lebih rendah dari keset kaki?

“Mas Ardy, nanti bisa antar aku ke butik? Sopirku mendadak izin hari ini. Tapi kalau Mas sibuk, aku pesen taksi online saja,” pinta Siska.

“Aku saja yang antar kamu,” jawab Ardy cepat. Tanpa berpikir dan tanpa ragu sedikit pun.

Kirana tersenyum kecut. Tiga hari lalu, ia merintih kesakitan, meminta Ardy mengantarnya kontrol ke dokter karena sering mual dan kepalanya seolah mau pecah. Tapi Ardy menolak dengan alasan sibuk.

Tapi hari ini, kesibukan luar biasa itu mendadak menguap tanpa sisa hanya karena satu rengekan Siska.

“Mas.” Kirana memberanikan diri memanggil.

“Apa lagi, Kirana?!”

“Nanti malam jangan lupa, ya?”

Ardy menatapnya lekat dan datar. “Aku bilang aku usahakan!”

Tepat saat kalimat itu selesai, Siska tiba-tiba mengerang pelan dan memegang pelipisnya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Ardy.

“Aduh, Mas, kepalaku mendadak pusing sekali. Dadaku sesak.”

“Kita ke rumah sakit sekarang!”

Tanpa pikir panjang, Ardy merangkul pinggang Siska dengan penuh kelembutan dan perhatian. Sarah pun ikut panik dan membukakan jalan.

Mereka bertiga terburu-buru Mengabaikan Kirana seolah wanita itu hanyalah pajangan tak terlihat dan tak bernapas.

Kirana membuka tasnya. Mengeluarkan kotak kecil berpita biru yang berisi dua garis merah. Seketika senyum di bibirnya pun lenyap.

“Selamat ya, Mas. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah. Tapi sepertinya kabar bahagia ini nggak penting buatmu.”

Terpopuler

Comments

Nice1808

Nice1808

Aku datang kak@Senja di cerita kirana🤣🤣

2026-07-15

1

yulithong

yulithong

baru mampir kak...lanjut....👍

2026-07-15

1

cinta semu 2

cinta semu 2

awal baca aja langsung mules dengar rengekan Siska ...apalagi tu mulut Sarah mertua rasa bon cabe pedas banget

2026-08-02

0

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1 Dua garis merah
2 Bab. 2 Kecelakaan
3 Bab. 3 Keguguran
4 Bab. 4 Membalas Dendam
5 Bab. 5 Menggagalkan Pernikahan
6 Bab. 6 Air Mata Terakhir
7 Bab. 7 Ini Baru Permulaan
8 Bab. 8 Mana Kartu Kredit Mas?
9 Bab. 9 Wanita Gila!
10 Bab. 10 Sarapan Basi?
11 Bab. 11 Roti Panggang Gosong
12 Bab. 12 Hilang Selera
13 Bab. 13 Menghabiskan Uang
14 Bab. 14 Satu Setengah Milyar
15 Bab. 15 Otewe Beli Rumah
16 Bab. 16 Khawatir Pada Sang Istri
17 Bab. 17 Janji Masa Lalu
18 Bab. 18 Kirana Yang Dulu Sudah Mati
19 Bab. 19 Nyonya Ampun!
20 Bab. 20 Mulai Cemburu?
21 Bab. 21 Diikuti Seseorang
22 Bab. 22 Lelaki Simpanan?
23 Bab. 23 Masa Lalu
24 Bab. 24 Siska Hamil
25 Bab. 25 Mendatangi Psikolog
26 Bab. 26 Amplop Putih
27 Bab. 27 Aku Ingin Kita Bercerai
28 Bab. 28 Beri Waktu Satu Bulan
29 Bab. 29 Masih Istri Sahku
30 Bab. 30 Bukan Kecelakaan Biasa?
31 Bab. 31 Kepergok
32 Bab. 32 Buat Dia Bangkrut!
33 Bab. 33 Makan Malam Penuh Sandiwara
34 Bab. 34 Sepupu Siska
35 Bab. 35 Tak Ada Hubungan Keluarga
36 Bab. 36 Sudah Nggak Tahan, Ya?
37 Bab. 37 Curiga
38 Bab. 38 Ikan Memakan Umpannya
39 Bab. 39 Awal Kehancuran
40 Bab. 40 Amplop Coklat Di Tangga
41 Bab. 41 Pertunjukan Seru
42 Bab. 42 Menuduh Kirana
43 Bab. 43 Barang Bekas!
44 Bab. 44 Pergi Dari Rumah
45 Bab. 45 Tamparan Bolak Balik
46 Bab. 46 Naif
47 Bab. 47 Resmi Bercerai
48 Bab. 48 Pimpinan Baru
49 Bab. 49 Kejutan Pernikahan
50 Bab. 50 Kado Terindah
51 Bab. 51 Kesempatan Kedua
52 Bab. 52 Kaburnya Tony
53 Bab. 53 Titik Terendah Ardy
54 Bab. 54 Terungkap
55 Bab. 55 Bertengkar
56 Bab. 56 Permintaan Maaf Sarah
57 Bab. 57 Salah Tingkah
58 Bab. 58 Menunjukkan Perhatian
59 Bab. 59 Kembali Bertemu Setelah Sekian Lama
60 Bab. 60 Rencana
61 Bab. 61 Mengirim Bunga
62 Bab. 62 Membeli Bengkel
63 Bab. 63 Menggoda Sahabat
64 Bab. 64 Senyum-Seyum Sendiri
65 Bab. 65 Menyerah Memperjuangkan Kirana
66 Bab. 66 Dipermalukan
67 Bab. 67 Apa Nona Merindukan Saya?
68 Bab. 68 Aku Calon Suaminya
69 Bab. 69 Salah Paham
70 Bab. 70 Cepat, Kejar Kirana!
71 Bab. 71 Mengungkapkan Perasaaan
72 Bab. 72 Tidak Mau Terburu-buru
73 Bab. 73 Persidangan Siska
74 Bab. 74 Melamar
75 Bab. 75 Saya Bersedia Jadi Istrinya
76 Bab. 76 Kabar Pernikahan Mantan Istri
77 Bab. 77 Mencoba Gaun Pengantin
78 Bab. 78 Undangan
79 Bab. 79 Sah!
80 Bab. 80 Lunasi Semua Biayanya!
81 Bab. 81 Wedang Jahe Spesial
82 Bab. 82 Tris, Aku Mau Kamu...
83 Bab. 83 Ulasan Bintang Lima
84 Bab. 84 Chat Dari Mantan
85 Bab. 85 Aku Hamil Mas
86 Bab. 86 Kebahagiaan Melimpah
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab. 1 Dua garis merah
2
Bab. 2 Kecelakaan
3
Bab. 3 Keguguran
4
Bab. 4 Membalas Dendam
5
Bab. 5 Menggagalkan Pernikahan
6
Bab. 6 Air Mata Terakhir
7
Bab. 7 Ini Baru Permulaan
8
Bab. 8 Mana Kartu Kredit Mas?
9
Bab. 9 Wanita Gila!
10
Bab. 10 Sarapan Basi?
11
Bab. 11 Roti Panggang Gosong
12
Bab. 12 Hilang Selera
13
Bab. 13 Menghabiskan Uang
14
Bab. 14 Satu Setengah Milyar
15
Bab. 15 Otewe Beli Rumah
16
Bab. 16 Khawatir Pada Sang Istri
17
Bab. 17 Janji Masa Lalu
18
Bab. 18 Kirana Yang Dulu Sudah Mati
19
Bab. 19 Nyonya Ampun!
20
Bab. 20 Mulai Cemburu?
21
Bab. 21 Diikuti Seseorang
22
Bab. 22 Lelaki Simpanan?
23
Bab. 23 Masa Lalu
24
Bab. 24 Siska Hamil
25
Bab. 25 Mendatangi Psikolog
26
Bab. 26 Amplop Putih
27
Bab. 27 Aku Ingin Kita Bercerai
28
Bab. 28 Beri Waktu Satu Bulan
29
Bab. 29 Masih Istri Sahku
30
Bab. 30 Bukan Kecelakaan Biasa?
31
Bab. 31 Kepergok
32
Bab. 32 Buat Dia Bangkrut!
33
Bab. 33 Makan Malam Penuh Sandiwara
34
Bab. 34 Sepupu Siska
35
Bab. 35 Tak Ada Hubungan Keluarga
36
Bab. 36 Sudah Nggak Tahan, Ya?
37
Bab. 37 Curiga
38
Bab. 38 Ikan Memakan Umpannya
39
Bab. 39 Awal Kehancuran
40
Bab. 40 Amplop Coklat Di Tangga
41
Bab. 41 Pertunjukan Seru
42
Bab. 42 Menuduh Kirana
43
Bab. 43 Barang Bekas!
44
Bab. 44 Pergi Dari Rumah
45
Bab. 45 Tamparan Bolak Balik
46
Bab. 46 Naif
47
Bab. 47 Resmi Bercerai
48
Bab. 48 Pimpinan Baru
49
Bab. 49 Kejutan Pernikahan
50
Bab. 50 Kado Terindah
51
Bab. 51 Kesempatan Kedua
52
Bab. 52 Kaburnya Tony
53
Bab. 53 Titik Terendah Ardy
54
Bab. 54 Terungkap
55
Bab. 55 Bertengkar
56
Bab. 56 Permintaan Maaf Sarah
57
Bab. 57 Salah Tingkah
58
Bab. 58 Menunjukkan Perhatian
59
Bab. 59 Kembali Bertemu Setelah Sekian Lama
60
Bab. 60 Rencana
61
Bab. 61 Mengirim Bunga
62
Bab. 62 Membeli Bengkel
63
Bab. 63 Menggoda Sahabat
64
Bab. 64 Senyum-Seyum Sendiri
65
Bab. 65 Menyerah Memperjuangkan Kirana
66
Bab. 66 Dipermalukan
67
Bab. 67 Apa Nona Merindukan Saya?
68
Bab. 68 Aku Calon Suaminya
69
Bab. 69 Salah Paham
70
Bab. 70 Cepat, Kejar Kirana!
71
Bab. 71 Mengungkapkan Perasaaan
72
Bab. 72 Tidak Mau Terburu-buru
73
Bab. 73 Persidangan Siska
74
Bab. 74 Melamar
75
Bab. 75 Saya Bersedia Jadi Istrinya
76
Bab. 76 Kabar Pernikahan Mantan Istri
77
Bab. 77 Mencoba Gaun Pengantin
78
Bab. 78 Undangan
79
Bab. 79 Sah!
80
Bab. 80 Lunasi Semua Biayanya!
81
Bab. 81 Wedang Jahe Spesial
82
Bab. 82 Tris, Aku Mau Kamu...
83
Bab. 83 Ulasan Bintang Lima
84
Bab. 84 Chat Dari Mantan
85
Bab. 85 Aku Hamil Mas
86
Bab. 86 Kebahagiaan Melimpah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!