Indonesia
NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:74
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Wajah di Pom Bensin

Pak Darto menggantung medali Rayhan di paku yang biasa dipakai untuk kalender bengkel.

"Biar semua pelanggan lihat," katanya bangga.

"Nanti kena debu," protes Rayhan.

"Debu bengkel itu berkah."

Mbah Surti yang kakinya sudah membaik ikut menyahut dari kursi halaman. "Kalau ditaruh di warung, lebih banyak yang lihat."

"Mbah mau jualan prestasi cucu atau nasi?" tanya Laras.

"Dua-duanya."

Mbah Surti bahkan sudah menyiapkan pidato pendek untuk siapa pun yang mau mendengar. Ia menceritakan bagaimana Rayhan belajar sampai larut, bagaimana sekolahnya mengirim ke tingkat provinsi, dan bagaimana cucunya kelak akan masuk kampus terbaik.

"Belum tentu ITB, Mbah," kata Rayhan untuk kelima kalinya.

"Kalau belum tentu, ya dibuat tentu."

Pak Darto tertawa sambil membalik ayam. "Kalau kampusnya nolak, Mbahmu datang bawa ulekan."

"Saya bawa toa. Lebih cepat."

Laras menyodorkan piring sayur kepada Mbah agar pidatonya berhenti. Kemeriahan kecil itu membuat Rayhan terdiam sesaat. Rumah mereka sempit, kursinya tidak seragam, dan sebagian piring pinjaman dari tetangga. Namun tidak ada satu pun orang di rumah besar keluarga ayahnya yang pernah merayakan namanya seperti ini.

Beberapa hari setelah malam hujan itu, Pak Darto akhirnya mengadakan makan-makan yang tertunda. Alasannya menumpuk: Mbah Surti sudah bisa berjalan, Rayhan membawa pulang medali, dan Galih kembali ke Gang Mawar dengan luka yang mulai sembuh.

Ayam dibakar di halaman. Nasi, sambal, dan kerupuk memenuhi meja panjang. Tetangga berdatangan membawa piring sendiri, lalu pulang membawa cerita orang lain.

Rayhan menjadi anak paling rajin sore itu. Ia mengambilkan nasi untuk Pak Darto, mengupas udang untuk Mbah Surti, dan memindahkan kursi agar orang tua tidak duduk dekat asap.

"Cucu Mbah cocok jadi menantu Pak Darto," kata seorang ibu sambil tertawa.

Mbah Surti langsung mengangguk. "Memang dari kecil sudah saya pesan."

Laras hampir tersedak kerupuk. "Mbah, jangan bikin cerita sendiri."

Rayhan justru menyodorkan air kepadanya dengan wajah sopan. "Minum dulu, Ras."

Di bawah meja, ujung sepatunya menyentuh sepatu Laras. Hanya sekali, seperti memberi tanda bahwa ia mendengar setiap kata.

Galih duduk tidak jauh dari mereka. Sejak malam hujan, ia lebih banyak bicara kepada Pak Darto dan menghindari menatap Laras terlalu lama. Kotak jepit yang kosong sudah dikembalikan Laras, tetapi jepitnya belum ditemukan.

Rayhan menyimpan benda itu di bagian paling dalam tas asrama.

"Lih, tambah ayam," kata Pak Darto.

"Sudah kenyang, Pak."

"Kurus begitu bilang kenyang. Ambil paha."

Rayhan lebih dulu mengambil paha terbaik, lalu menaruhnya di piring Mbah Surti. Gerakannya lembut dan wajar. Hanya Laras yang beberapa kali menangkap matanya terus mengikuti ke mana ia bergerak, siapa yang mengajaknya bicara, bahkan kapan Galih berdiri mengambil minum.

Anak itu sedang menjaga wilayah tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Laras menendang kakinya di bawah meja.

"Apa?" bisik Rayhan.

"Mata lo istirahat."

"Aku lihat ayam."

"Ayamnya bukan Galih."

Senyum Rayhan tipis sekali. "Aku tahu."

Suara mesin meraung dari ujung jalan sebelum Laras sempat membalas. Bukan satu motor, melainkan beberapa sekaligus. Getarannya sampai ke gelas plastik di meja.

Anak-anak berlari ke mulut gang. Sebuah rombongan motor besar dan dua mobil modifikasi melintas menuju jalan bukit di luar kecamatan, tempat tikungan tajam sering dipakai balapan liar malam hari.

"Anak orang kaya cari mati lagi," gumam Pak Darto.

"Kalau rusak, nanti cari bengkel kita," kata Laras.

"Kalau pengendaranya rusak, bukan urusan bengkel."

Rombongan itu berhenti di pom bensin dekat jalan raya. Dari halaman, suara mesin masih terdengar seperti geraman jauh.

Laras teringat indikator bensin motornya yang sudah menyala sejak siang. "Pak, gue keluar sebentar isi bensin."

"Aku aja," kata Rayhan cepat.

"Lo lagi makan."

"Sudah kenyang."

Galih hendak berdiri, tetapi Rayhan sudah mengambil kunci dari telapak Laras.

"Isi penuh?"

"Setengah cukup. Jangan ngebut."

"Iya, Bu."

Rayhan pergi sebelum Galih sempat menawarkan diri. Laras menatap punggungnya dengan perasaan campur aduk. Ia tahu anak itu sedang mencari alasan keluar dari meja yang terlalu penuh saingan, tetapi setidaknya kali ini ia memilih pergi sebentar, bukan membuat keributan.

Pom bensin lebih ramai dari biasanya. Kendaraan rombongan kaya memenuhi dua jalur, bodi mengilapnya memantulkan lampu putih. Beberapa pemuda mengenakan jaket balap bermerek dan berbicara keras seolah tempat itu milik mereka.

Rayhan mengantre di belakang sebuah motor hitam. Ia membuka tutup tangki motor Laras, menyerahkan uang kepada petugas, lalu menoleh ketika seseorang berseru dari dekat mobil merah.

"Reno! Cepetan, kita keburu malam!"

Nama itu membuat bahunya kaku.

Seorang laki-laki muda berdiri di antara dua temannya. Rambutnya ditata sembarangan dengan sengaja, jam di pergelangan tangannya tampak lebih mahal daripada seluruh isi warung Mbah Surti. Ia tertawa sambil melempar kunci mobil ke udara.

Rayhan pernah melihat wajah itu dalam foto-foto lama yang ia cari diam-diam. Foto acara keluarga di halaman berita bisnis. Foto ulang tahun yang diunggah akun teman. Foto seorang anak laki-laki berdiri di sisi pria yang tidak pernah mengakui Rayhan.

Garis rahangnya sama. Alisnya juga. Bahkan cara memiringkan kepala ketika tidak sabar terasa seperti cermin yang buruk.

Beberapa bulan sebelumnya, Rayhan pernah menyimpan tangkapan layar sebuah acara amal. Reno berdiri di samping ayah mereka, mengenakan jas gelap dan senyum malas. Ia juga menemukan data umur yang menempatkan Reno beberapa tahun di atasnya. Saat itu semua masih terasa seperti susunan bukti di layar.

Sekarang orang itu bernapas hanya beberapa meter darinya.

Suara tawanya nyata. Parfum mahalnya bercampur bau bensin. Salah satu temannya menyebut rencana pesta malam, dan Reno menjawab tanpa menurunkan volume suara, sama sekali tidak peduli siapa yang mendengar.

Reno.

Anak sah yang dibesarkan di rumah besar. Kakak seayah yang tidak pernah tahu ia punya adik.

"Mas, motornya maju sedikit," kata petugas pom.

Rayhan tersadar. Tangannya masih menggenggam gagang pompa terlalu kuat sampai ruas jarinya memutih.

Ia memajukan motor Laras dan menundukkan wajah. Ini bukan tempat untuk bertanya atau menuntut. Ia belum punya apa-apa selain potongan informasi dan kemarahan yang terlalu lama disimpan.

Rombongan Reno mulai bergerak. Mobil merah harus berbelok melewati jalur tempat Rayhan berdiri, tetapi sebuah motor menghalangi. Rayhan menarik motor Laras ke samping agar jalan terbuka.

Reno menurunkan kaca jendela. Tatapannya melewati Rayhan tanpa tanda mengenal, hanya singgah karena merasa diberi jalan.

"Makasih, Dek."

Mobil itu melesat pergi, diikuti raungan motor lain dan bau knalpot yang pekat.

Rayhan berdiri di bawah lampu pom bensin, memandangi lampu belakang yang makin kecil.

Pelan-pelan ia mengulang satu kata di dalam hati.

Dek.

Kakaknya sendiri baru saja memanggilnya adik tanpa tahu betapa tepat kata itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!