Indonesia
NovelToon NovelToon
Kebangkitan Aurora

Kebangkitan Aurora

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Wanita perkasa / Penyesalan Suami
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Alessandra Bizarelli

Mereka menjodohkannya sejak kecil. Lalu mereka menghancurkannya.

Aurora Stefanini dulu percaya pada takdir—percaya bahwa Marco Donati, sang pewaris kerajaan mafia Sisilia, akan menjadi miliknya. Sampai pemuda itu mencampakkannya demi saudari tirinya sendiri, di depan mata, tanpa setetes pun rasa bersalah. Gadis rapuh itu tidak menangis. Ia hanya pergi.

Bertahun-tahun kemudian, Aurora kembali ke Sisilia—bukan sebagai pengantin yang penurut, melainkan sebagai perempuan yang membangun imperiumnya sendiri dari nol: dingin, tak tersentuh, dan mematikan. Ketika perang antarklan memaksa kedua keluarga bersatu kembali, Aurora menerima pernikahan itu dengan satu syarat yang mengguncang seluruh dewan: ia akan menikahi Marco. Dengan kontrak buatannya sendiri. Dua tahun, kamar terpisah, tanpa cinta, tanpa sentuhan—lalu perceraian.

Rencananya sempurna. Balas dendam yang dingin dan terukur.

Yang tidak ia perhitungkan adalah Marco yang kini bukan lagi bocah sombong itu—seorang Don yang tahu persis apa yang dulu ia buang, dan bertekad merebutnya kembali, seklausul demi seklausul. Yang tidak ia perhitungkan adalah rahasia berdarah tentang kematian ibunya, para pengkhianat yang bersembunyi di balik senyum ramah, dan sebuah hasrat yang menolak untuk padam.

Di pulau tempat sebuah janji dimeteraikan dengan darah dan pengkhianatan dibayar dengan nyawa, Aurora akan belajar bahwa kebangkitan sejati bukanlah tentang membalas luka lama—melainkan tentang berani mencintai lagi, tanpa takut hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alessandra Bizarelli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Matahari Sisilia selalu terasa membakar dengan cara yang berbeda di atas tanah keluarga Donati dan Stefanini. Itu bukan sekadar terik Mediterania; itu adalah beban tradisi, darah, dan janji-janji yang diikrarkan di bawah keheningan pepohonan zaitun tua yang seolah menjadi saksi bisu.

Aurora baru sepuluh tahun ketika ia memahami makna kata aliansi. Duduk kaku di kursi beledu dalam perpustakaan luas milik ayahnya, ia mengamati para pria berjas gelap membahas masa depan seolah menggerakkan bidak di atas papan catur. Di antara mereka ada Marco Donati. Usianya setahun lebih tua, bahunya tegak dengan kesombongan dini seorang yang terlahir untuk menjadi Don, dan mata cokelatnya nyaris tak lepas dari gadis kecil yang, pada hari itu juga, telah dijanjikan menjadi miliknya.

Bagi Aurora, janji itu tak terasa seperti beban. Mereka tumbuh di bawah bayang-bayang kesepakatan itu—berbagi musim panas di tepi pantai, jamuan-jamuan resmi, dan keyakinan diam-diam bahwa jalan hidup mereka telah digariskan. Aurora belajar memandang Marco dengan harap polos seorang gadis yang percaya pada takdir.

Namun, semuanya berubah ketika masa kanak-kanak berlalu dan kenyataan dunia mafia mulai menggores garis-garisnya yang bengkok.

Kedatangan Elena, ibu tiri baru Aurora, membawa serta Giulia. Giulia adalah segala hal yang bukan diri Aurora: ekspresif, berisik, dan menyimpan kerapuhan yang mengundang perhatian setiap orang. Di bawah atap keluarga Stefanini, Elena menggerakkan bidak-bidaknya selicik ular, menyanjung putrinya sendiri sembari melontarkan komentar-komentar beracun nan halus tentang kekakuan Aurora. Dan Marco—dalam kerapuhan masa remajanya, dibutakan oleh kesombongan nama keluarganya—adalah yang pertama jatuh ke dalam perangkap itu.

Sekolah berasrama di Swiss, jauh dari mata para Don yang mengawasi di Italia, menjadi panggung keruntuhan Aurora.

Musim dingin di Jenewa begitu keras, tetapi dingin yang menyayat dada Aurora pada sore Kamis itu bukan berasal dari salju di luar sana. Usianya enam belas tahun ketika Marco menyudutkannya di koridor batu perpustakaan sekolah. Tatapan pemuda itu jauh, mengeras oleh maskulinitas yang masih ia coba buktikan kepada dunia.

"Berhentilah menatapku seolah aku berutang sesuatu padamu, Aurora." Suaranya rendah, tetapi cukup tajam untuk meninggalkan luka abadi. "Pernikahan ini... aliansi kedua orang tua kita ini... hanyalah selembar kertas. Kewajiban yang akan kupenuhi demi klan. Tapi jangan harapkan apa pun lebih dari itu. Aku tidak akan pernah mencintaimu. Camkan itu baik-baik, sekali dan untuk selamanya."

"Tapi kita berjanji untuk saling mencintai, Marco! Sejak kita berusia lima tahun."

Marco tertawa penuh cemooh.

"Jangan konyol, Aurora! Kita masih anak-anak waktu itu. Kau sungguh mengira kita tahu apa itu cinta?"

"Dan sekarang kita tahu?"

"Tidak. Tapi kita bisa memilih." Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya dengan dingin dan penuh perhitungan. "Dan aku memilih untuk tidak mencintaimu."

Aurora tidak menangis. Kebanggaan darah Stefanini mengalir dalam nadinya, menjaga sikapnya tetap sempurna saat Marco berlalu, meninggalkannya bersama gema kata-kata kejam itu.

Penegasan atas pukulan itu datang beberapa minggu kemudian, saat liburan musim semi. Kampus nyaris kosong. Aurora menyusuri taman yang berselimut kabut, mencari tempat untuk membaca, ketika bisik-bisik suara membuatnya terpaku di balik deretan pohon pinus.

Menembus dedaunan, ia melihatnya.

Marco memeluk pinggang Giulia, jemarinya menyusup ke rambut gadis itu dengan gairah mendesak yang tak pernah ia tunjukkan pada Aurora. Giulia tersenyum di sela ciuman—suara tertahan penuh kemenangan yang mengambang di udara dingin. Marco menciumnya dengan gairah membabi buta seorang pemuda keras kepala; pemuda yang sama, yang beberapa minggu sebelumnya menuntut kepatuhan Aurora.

Aurora melangkah mundur, tangannya yang gemetar tersembunyi di saku mantel. Ia tak bersuara. Tak menyela. Ia hanya menyaksikan sandiwara itu mengukuhkan diri di depan matanya. Pada saat itu, ketika sang tunangan menyerahkan dirinya kepada gadis yang ia anggap saudari, sesuatu retak di dalam diri Aurora, dan yang tersisa menggantikannya adalah dingin yang tak tergoyahkan.

Sekembalinya ke asrama, ia menatap peta dunia yang terbentang di dinding. Italia tampak terlalu kecil. Sisilia, terlalu menyesakkan. Ia meraih telepon dan menghubungi ayahnya, dengan suara paling tegar yang bisa ia kumpulkan.

"Papa, aku sudah menyelesaikan ujianku lebih awal," ucapnya tanpa emosi. "Aku tidak akan pulang ke Sisilia musim panas ini. Aku mendapat tempat kuliah di Frankfurt. Aku akan berangkat ke Jerman, dan menetap di sana."

Ia tak menunggu persetujuan ayahnya sebelum menutup telepon. Aurora Stefanini sedang meninggalkan papan catur itu. Ia membiarkan Marco menikmati ilusi sia-sianya bersama Giulia, tetapi ia bersumpah pada dirinya sendiri, di depan cermin kamar asing itu, bahwa ketika kewajiban kelak memaksanya menginjak tanah Italia lagi, ia takkan pernah lagi menjadi gadis yang menerima sisa-sisa milik orang lain.

Mereka menginginkan pengantin yang penurut. Tapi Sisilia belum siap menghadapi perempuan yang kelak akan ia jelma.

🌹🌹🌹

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!