Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehangatan Di Ujung Senja

Kehangatan Di Ujung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:33.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.

​Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.

Akankah Alfa bisa menemukan Senja?

Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Alfa

Hari Minggu yang seharusnya menjadi ajang melepas penat justru senantiasa diabaikan oleh Senja. Bagi wanita itu, waktu libur di rumah tanpa tumpukan berkas pekerjaan hanya akan membuka ruang bagi pikiran-pikiran liar yang mengganggu.

Oleh sebab itu, Senja selalu sibuk menenggelamkan diri dalam hobinya, jika tidak mengurung diri bersama buku-buku tebal, ia akan memilih untuk berkutat dengan kanvas dan cat minyak.

Seperti yang ia lakukan sejak sore tadi. Senja berdiam diri di balkon lantai dua yang menghadap langsung ke arah taman belakang rumah mereka yang luas.

Angin malam yang dingin berembus perlahan, memainkan helai-helai rambut hitamnya yang terurai. Di hadapannya, berdiri sebuah easel kayu yang menopang kanvas berukuran besar.

Tangan Senja yang memegang kuas bergerak gemetar namun pasti. Di atas kanvas putih itu, terhampar sebuah lukisan bernuansa surealis yang sangat rumit dan sulit dipahami oleh mata awam.

Didominasi oleh guratan warna-warna gelap, hitam legam, biru tua yang pekat, dan abu-abu kelabu, lukisan itu memvisualisasikan sebuah lorong labirin tanpa batas yang terbuat dari sangkar-sangkar besi tajam.

Di tengah labirin yang gulita itu, tampak samar sosok bayangan wanita bergaun sutra tanpa wajah, berdiri kaku di bawah guyuran hujan abu.

Tidak ada matahari, tidak ada titik terang, dan tidak ada pintu keluar. Lukisan itu seolah menjadi cermin telanjang dari jiwa Senja, sebuah gambaran hidup yang sepi, gelap, terkekang oleh ekspektasi, dan terisolasi di dalam kemewahan yang dingin.

Begitu larutnya Senja dalam setiap sapuan cat minyak dan pergolakan batinnya, ia sama sekali tidak menyadari suara deru mobil yang memasuki garasi, maupun langkah kaki lembut yang mendekat ke arah balkon.

Alfa berdiri mematung beberapa meter di belakang Senja. Pria itu menyandarkan bahunya pada kusen pintu balkon, menatap punggung Senja dan kanvas di hadapannya dengan raut wajah yang sulit diartikan.

Alfa benar-benar terkejut. Ia tahu Senja wanita yang serba bisa, namun menyaksikan langsung bagaimana jemari lentik itu menggoreskan warna dengan emosi yang begitu dalam dan teknik yang amat matang membuat Alfa terpana. Sorot mata Alfa meneliti setiap jengkal lukisan tersebut. Di balik visualnya yang kelam dan rumit, Alfa bisa merasakan keindahan yang magis sekaligus kegetiran yang menyayat hati dari lukisan itu.

"Teknik sapuan kuasmu luar biasa, Senja... tapi atmosfernya terasa sangat sepi dan menyayat" Ujar Alfa tiba-tiba, menembus keheningan malam.

Senja tersentak kecil. Tangannya yang memegang kuas terhenti di udara. Ia memutar tubuhnya dan menemukan Alfa sudah berdiri menatap lukisannya dengan binar mata penuh kekaguman.

"Mas Alfa?" Senja buru-buru meletakkan palet catnya di atas meja kecil.

"Kapan kamu pulang? Aku... aku tidak mendengar suaramu."

"Baru saja" Jawab Alfa seraya melangkah lebih dekat ke kanvas Senja. Matanya masih enggan beralih dari guratan warna gelap tersebut.

"Aku tidak tahu kalau ternyata kamu juga mahir melukis. Coretanmu... bukan cuma sekadar indah, tapi punya nyawa. Walau rasanya sangat gelap dan penuh misteri."

Senja mengulas senyum tipis, sedikit canggung karena karya pribadinya yang mengekspos isi hatinya dilihat oleh Alfa.

"Hanya sekadar menyalurkan pikiran di hari libur, Mas. Kadang kata-kata tidak cukup untuk menjelaskan apa yang ada di dalam kepala."

Alfa menatap Senja dengan dalam, seolah mulai memahami satu per satu lapisan misteri dalam diri istrinya. Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di benak Alfa.

"Ikut aku sebentar" Ajak Alfa lembut.

Senja mengernyit bingung.

"Ke mana?"

"Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."

Alfa berjalan terlebih dahulu, memandu Senja melintasi koridor lantai dua, lalu turun menuju area belakang rumah utama yang jarang tersentuh.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu tebal yang terletak di ujung lorong sepi. Senja selalu mengira ruangan belakang ini hanyalah gudang kosong tempat penyimpanan barang-barang sisa renovasi, mengingat rumah ini masih sangat baru mereka tempati.

Alfa mengangkat pot bunga kaktus kecil yang ada di bufet rapat di samping pintu. Dia mengambil sebuah kunci kecil dibawanya lalu memutarnya di lubang kunci.

Saat sakelar lampu ditekan oleh Alfa, pendar cahaya kuning hangat seketika menerangi ruangan yang luas itu. Mata Senja membelalak tipis. Suasana di dalam sana sama sekali jauh dari kesan gudang kotor.

Ruangan itu sangat bersih, beraroma khas cat minyak dan kayu pine, serta dipenuhi oleh puluhan kanvas dari berbagai ukuran yang tersusun rapi di rak-rak kayu maupun bersandar di dinding.

Senja melangkah masuk dengan perasaan takjub. Ia meneliti lukisan-lukisan yang ada di sana. Berbeda dengan lukisan Senja yang gelap dan kelam, lukisan di ruangan ini justru penuh dengan dinamika warna, pemandangan sudut kota di malam hari, siluet hujan di kaca, hingga instalasi abstrak yang penuh energi artistik tinggi.

"Ini... lukisan milik siapa, Mas?" Tanya Senja heran, memutar tubuhnya menatap Alfa.

"Kenapa ada begitu banyak lukisan indah tertumpuk di sini?"

Alfa tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekati salah satu kanvas besar yang menampilkan pemandangan cakrawala senja di atas lautan. Alfa menunjuk ke sudut kiri bawah kanvas tersebut.

Senja mendekat dan menundukkan badannya untuk melihat lebih jelas. Di sudut kiri bawah kanvas itu, terukir sebuah tanda tangan berupa inisial huruf yang dibuat dengan goresan kuas kecil namun tegas, A.

Senja menatap inisial itu, lalu menatap Alfa dengan mata berbinar tak percaya.

"Ini semua milik kamu, Mas?" Tanya Senja terkejut.

Alfa mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sedikit malu-malu.

"Iya, semuanya karyaku."

"Tapi... bagaimana bisa?" Senja menyusuri barisan kanvas itu dengan raut takjub yang tak bisa disembunyikan.

"Kenapa tidak ada satu orang pun yang tahu kalau kamu bisa melukis sebagus ini? Kenapa semua karya indah ini justru disembunyikan di ruangan belakang?"

Alfa menghela napas pendek, menyandarkan pinggulnya pada meja kerja kayu yang berantakan dengan tabung-tabung cat minyak milik pria itu.

"Orang tuaku tidak pernah suka kalau aku melukis, Senja" Ungkap Alfa jujur, nadanya terdengar datar namun menyimpan kegetiran masa lalu.

"Bagi Papa, seni melukis adalah kegiatan buang-buang waktu yang tidak ada nilainya dalam dunia bisnis. Sejak kecil, aku dituntut untuk selalu fokus pada angka, manajemen, dan kepemimpinan. Jadi... aku melukis secara diam-diam. Ruangan ini adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa dituntut menjadi penerus Arghantara."

Senja terdiam.

Kalimat Alfa merambat masuk ke dalam dadanya, memicu rasa simpati dan keterikatan yang aneh. Mereka berdua rupanya tumbuh di bawah bayang-bayang ekspektasi orang tua yang sama-sama mencekik, hanya saja meluapkannya dengan cara yang berbeda.

Senja berjalan mendekati salah satu lukisan abstrak bernuansa biru dan emas milik Alfa.

"Kamu menggunakan teknik impasto di sini, kan? Goresan pisau paletnya sangat tebal dan berani."

Alfa membelalak kaget, matanya berbinar cerah.

"Kamu tahu teknik impasto?"

"Tentu saja" Sahut Senja seraya mengusap pelan tekstur cat yang mengering di atas kanvas tanpa menyentuhnya langsung.

"Dinamika warnanya luar biasa. Kamu ingin menunjukkan kekacauan yang teratur di sini, benar?"

"Tepat sekali!" Seru Alfa antusias, merasa seperti menemukan seseorang yang akhirnya bisa membaca bahasa jiwanya.

"Kebanyakan orang yang tidak paham seni hanya akan melihat ini sebagai tumpukan cat yang berantakan. Tapi kamu langsung tahu maksudku!"

Obrolan di antara mereka pun mengalir begitu saja di dalam ruangan tersembunyi itu. Dinding kaku yang biasanya membatasi interaksi mereka sebagai suami-istri hasil perjodohan seolah luluh secara ajaib.

Mereka saling bertukar pikiran tentang berbagai aliran seni melukis, perbedaan cat berbahan dasar minyak dan akrilik, hingga makna di balik pencahayaan dan gradasi warna.

Ternyata, pandangan dan filosofi mereka tentang seni melukis sangat cocok dan selaras. Senja yang terbiasa bersikap formal dan tertutup perlahan-lahan mencair. Nadanya bicaranya saat menanggapi Alfa terdengar sangat santai, lepas, dan begitu dekat.

"Tapi Mas" Ujar Senja terkekeh tipis saat menunjuk lukisan siluet pohon tanpa daun milik Alfa.

"Pencahayaan di bagian kanan lukisan ini agak terlalu terang untuk suasana malam. Rasanya seperti ada lampu stadion yang tiba-tiba menyala di tengah hutan."

Alfa tertegun sejenak mendengar kritik jujur Senja, lalu pria itu tertawa lepas, sebuah tawa renyah dan bebas yang belum pernah Senja dengar sebelumnya.

"Kamu benar!" Alfa tertawa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusap tengkuknya canggung.

"Waktu melukis bagian itu, aku sedang sangat mengantuk karena baru selesai rapat jam satu malam. Ternyata mataku sudah tidak bisa membedakan warna kuning dan putih!"

Senja ikut tertawa kecil mendengar pengakuan Alfa. Suasana ruangan yang dikelilingi kanvas-kanvas itu terasa begitu hangat dan hidup. Untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal di bawah satu atap, tidak ada bayangan Dila, tidak ada cengkeraman Prasetya Anjasmara, dan tidak ada tuntutan peran.

Di dalam ruangan tersembunyi berinisial 'A' itu, Alfa dan Senja hanya menjadi dua jiwa yang saling memahami, menemukan titik temu di mana warna-warna hidup mereka yang kelam dan tersembunyi akhirnya bisa saling bersentuhan.

1
Nar Sih
sperti nya kmu mulai jatuh cinta dgn alfa senja
Nar Sih
dari perhatiaan alfa ke senja seperti psng suami istri yang saling mencintai pdhl ...mungkin hnya sbts tangung jwb alfa
Ari Atik
pengen nya alfa merasa kehilangan senja..
biar dia tau perasaan .yg sesungguhnya ...
juwita
kasihan senja jatuh cinta sm suami sendiri tp di hatinya ada cwek lain😭😭😭
mery harwati
Ada kopi online bwt author agar membuka rahasia, apakah orang tua Senja tau bahwa Alfa masih berhubungan dengan Dila meski Alfa sudah menikah sah dengan Senja
Karena bisa jadi nanti pelarian Senja dalam pernikahan ada campur tangan orang tua Senja karena Senja diabaikan oleh Alfa
Agnezz: makanya Senja dan Alfa harus tahan2 diri aja dulu Suatu saat mereka jadi pimpinan dan pemilik perusahaan. Ayah2 mereka sudah tertalu tua dan sakit2an, suatu saat akan menyerahkan perusahaan pada mereka
total 3 replies
mery harwati
Sebentar² aq jadi berpikir tentang pernikahan antara Senja & Alfa memang sudah disetujui oleh kedua orang tua mereka, tapi soal Alfa yang masih merawat Dila & "menelantarkan" Senja sebagai istri sah, diketahui tidak oleh orang tua Senja? Sebab selama episode ini hanya ayah Alfa yang keras menentang hubungan Alfa & Dila, andaikan orang tua Senja bahwa Alfa punya kekasih Dila & tetep menjodohkan Senja dengan Alfa, brati memang Senja benar² sendiri hidupnya ditengah kemewahan, tapi seandainya orang tua Senja tak tau bahwa Alfa masih berhubungan dengan Dila dan Alfa menyakiti Senja, waahh harusnya orang tua Senja menyembunyikan Senja dari Alfa & keluarganya 🤔💪
Agnezz: mungkin karena Senja mulai jatuh cinta pada Alfa dan dalam pandangan Senja, hati.Alfa sudah terkunci pada Dila. Tujuan awal.Senja mau menikah adalah pernikahannya menjadi jembatan menuju kebebasannya. Senja audah bosan terlalu dituntut dan disetir ayahnya. yah memang Senja KESEPIAN. orang tuanya hanya menjadikan Senja sebagai alat.
total 3 replies
Agnezz
Alfa emang cowok yg penuh kasih sayang dan perhatian. Dia tidak bisa berdiam diri kalo orang lain sakit. Pantas sangat mengkhawatirkan Dila karena dia sepeduli itu.Hati2 Senja jangan sampai jatuh cinta.
Agnezz
Untung yg jadi istri Senja, coba kalo wanita lain yg gak terima Alfa masih berhubungan dan memikirkan Dila. bisa dibejek-bejek kamu Alfa.
Agnezz
"Jangan merasa sendirian lagi Senja" berati Alfa paham kalo Senja kesepian.
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.
Hanima
lanjuttt
Cahaya
senja😍
Cahaya
lanjutttt
Hanima
Lari lah jauh2 senja
Inara Khimar
saran ku lari senja lari yang jauh
Ikaaa1605
😍
Cahaya
masihh spi ini blm pada hadir
Sastri Dalila
🤗
Nar Sih
semoga badai nya cpt pergi dan kalian sgra kmbli sampai daratan lgi
Umfaiq
baru kali ni ada CEO bodoh ga ketulungan
Ass Yfa
dan Senjapun tak ada dlm masadepan Alfa..sesakit itu yg Senja...tak ada deorangpun yg tulus menyanyangimu..bahkan suami sendiri😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!