Nasib Kyarra, Kakanya yang meninggalkan suami dan juga putrinya. Kyarra harus menikah dengan kakak iparnya demi keserakahan ibunya.
Kyarra melakukannya demi keponakannya yang membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Tetapi banyaknya pertentangan dalam pernikahan mereka, belum lagi Kakak iparnya menganggap bahwa dia menerima pernikahan itu semata-mata hanya ingin memeras.
Kyarra benar-benar terjebak dalam pernikahan yang seharusnya tidak terjadi dan apalagi kontrak yang pasti pengetahuannya antara ibunya dengan Kakak iparnya.
Lalu bagaimana Kyarra yang awalnya hanya menjalankan peran sebagai seorang tante yang menyayangi keponakannya dan saat ini harus menjadi istri dari mantan Kakak iparnya, di tengah banyaknya mimpi yang ingin dia tuju?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 Sudah Terjadi
Kyarra benar-benar pasrah, benar-benar menerima sentuhan yang di berikan Alvino kepadanya. Kyarra memejamkan mata saat merasa ada yang berbeda pada dirinya.
Air matanya keluar dari kelopak matanya, saat merasa sakit yang luar biasa di area sensitifnya. Meski penuhi dengan gairah dan hasrat yang tidak terkontrol, Alvino tetap memberi kenyamanan pada wanita yang dia sentuh.
Tidak egois, tidak mementingkan diri sendiri, memberi ketenangan dan kembali melumat bibir Kyarra dengan lembut, menenangkan Kyarra dengan 5 jari mereka saling menggenggam.
Kyarra pasrah, tidak bisa menggambarkan perasaan apa yang saat ini dia miliki, Kyarra hanya sebagai seorang istri dan apa yang dia lakukan bukanlah dosa besar.
Jika Kyarra dan Alvino akhirnya menjalankan tugas dan kewajiban mereka di malam penuh cerita, semua sudah pasti akibat ulah Mega yang saat ini berada di rumahnya saat ini berada di rumahnya dan membongkar barang belanjaan yang baru saja dia beli.
Di tengah-tengah kesibukannya melakukan hal itu tiba-tiba Mega tersenyum penuh arti.
"Memang aku harus bergerak untuk mengurus anak bodoh itu, anak yang tidak pernah memanfaatkan kesempatan. Dengan begini, maka tidak ada penghalang dan justru akan terjadi ikatan besar di antara mereka. Apapun yang aku lakukan demi kebaikan anak itu," ucap Mega merasa paling benar, kembali tersenyum dengan melihat barang-barang yang baru saja dia beli.
******
Cahaya matahari sudah kembali menerangi bumi, sinarnya masuk dari celah-celah jendela ke dalam kamar Alvino, kamar yang menjadi saksi keromantisan pasangan suami istri dalam percintaan mereka di ranjang besar itu.
Pakaian yang berserakan di atas lantai, tempat tidur yang berantakan, hanya terlihatnya Kyarra di sana yang berbaring miring dengan memeluk selimut putih.
Sudah dapat dipastikan tubuhnya dibalik selimut itu tanpa busana, Kyarra beberapa kali membuang nafas perlahan ke depan, wajahnya panik, gelisah dan mungkin saja karena kejadian tadi malam yang dia lewati bersama dengan Alvino.
Sementara Alvino saat ini berada di kamar mandi, sedang membersihkan tubuhnya berdiri di bawah shower, mengacak sesekali rambut basahnya, mata terpejam dan ternyata teringat apa yang terjadi tadi malam.
Alvino memang sadar, hanya saja tidak mampu mengendalikan diri, dia mengingat apa yang dia lakukan, dia tidak melupakan bahwa dia telah menyentuh istrinya, istrinya yang masih suci, semua itu di luar dugaan, selama ini berpikir bahwa Kyarra sama seperti wanita lain di luar sana.
Ternyata salah, justru dia menjadi orang pertama yang menyentuh Kyarra, wanita yang menutup dirinya dengan hijab yang selalu terpasang indah ternyata sama dengan penampilan dari dalam.
"Kenapa aku menyentuhnya!" ucap Alvino dengan suara nafas yang terasa berat.
Mungkin ada penyesalan melakukan hal itu dan tidak seharusnya terjadi, tetapi ia tidak mampu mengontrol diri, gairahnya yang terus meminta tubuhnya untuk melakukan hal itu.
"Hahhhhhhh!" Alvino kembali membuang nafas perlahan ke depan, semua sudah terjadi, apa yang bisa dia lakukan lagi, Kyarra adalah istri sah, tidak ada yang salah dengan apa yang telah dia lakukan.
Tetapi mungkin kegelisahan ini justru yang Kyarra rasakan, kegelisahan batin yang membuatnya tidak tenang.
"Apa aku seorang pengkhianat," ucapnya tiba-tiba saja merasa bersalah.
"Kak Alvino adalah suami dari Kak Melani, apa yang aku lakukan? Kenapa aku tidak bisa mencegah semua ini, kenapa aku justru terperangkap, bagaimana ini?"
"Tidak Kyarra, kamu hanya seorang istri, apa yang kamu lakukan adalah kewajiban, mereka sudah berpisah dan kamu bukan pengkhianat, kamu melakukan semua ini karena kamu adalah istri sahnya," Kyarra berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
CEKLEK
Pintu kamar mandi yang terbuka membuat jantung Kyarra berdebar begitu kencang. Akhirnya ada momen kembali dia bersama dengan Alvino pasti akan berbicara berdua, setelah percintaan tadi malam Kyarra merasa begitu lelah, yang akhirnya membuatnya tertidur sampai pagi hari.
Kyarra tidak menyadari kapan Alvino bangun dan tiba-tiba sudah tidak ada di kamar dan hanya mendengar suara aktivitas di kamar mandi.
Alvino keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandi berwarna putih, rambutnya masih basah, tatapan matanya tertuju pada Kyarra yang masih tetap pada posisinya, tetapi Alvino pasti mengetahui bahwa istrinya itu sudah bangun.
"Papa!"
"Papa!"
Pintu yang terus diketuk membuat Kyarra mengerutkan dahi, mendengar suara Kelly.
Kyarra mengingat bahwa Kelly harus ke sekolah dan dia malah asik tertidur. Kyarra panik dan langsung terduduk, tetap memegang selimut begitu erat, situasi menjadi canggung saat melihat ke arah Alvino.
"Saya saja yang membuka pintu!" ucap Alvino mengambil alih dan kemudian berjalan membuka pintu tersebut.
"Kelly," sahut Alvino.
"Papa, apa tante Kyarra tidur di dalam?" tanyanya.
Alvino tidak menjawab, Kyarra mendengar dari atas tempat tidur terlihat panik, Kelly pasti bertanya-tanya Kyarra berada di kamar itu karena sampai saat ini Kelly tidak mengetahui bahwa mereka sudah menikah.
"Hmmmm, memang kenapa Kelly?" Alvino yang berjongkok berusaha untuk menenangkan putrinya yang masih sangat mengantuk.
"Tante Kyarra tidak ada di kamar dan tidak membangunkan Kelly. Kelly sudah melihat di dapur dan tidak ada. Di mana tante Kyarra, Kelly harus ke sekolah dan nanti terlambat," jawabnya.
"Kalau begitu biar Papa yang bantu Kelly untuk siap-siap ke sekolah," ucap Alvino.
"Memang tante Kyarra kemana?" tanyanya sedikit aneh jika Alvino yang harus mengambil alih.
"Hmmmm, daripada terlambat sekarang Kelly kembali ke kamar dan langsung mandi, Papa siap-siap sebentar dan setelah itu akan menyusul ke kamar untuk membantu bersiap-siap ke sekolah," ucap Alvino tidak menjawab pertanyaan putrinya dan justru mengalihkan pada hal lain.
"Bagaimana sayang? Apa cocok?" tanya Alvino dengan dahi mengkerut.
"Baiklah Papa," sahut Kelly akhirnya menurut dan tidak bertanya lagi di mana Kyarra.
Kelly juga langsung meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke kamarnya yang membuat Alvino menghela nafas.
Alvino berdiri dan kembali melihat ke arah Kyarra masi tetap berada di atas ranjang dengan pegangan erat pada selimutnya.
"Saya akan membantu Kelly untuk bersiap-siap ke sekolah," ucap Alvino.
"Tapi, Kyarra bisa melakukannya sendiri," ucap Kyarra.
"Kamu sepertinya kurang enak badan, nanti bisa ketularan pada Kelly, saya saja yang melakukannya," ucap Alvino.
Tadi malam saat menyentuh tubuh istrinya, ia bahkan menyadari bahwa Kyarra sebenarnya kurang sehat dan mungkin itu menjadi alasan Kyarra tidak terlalu banyak memberontak dan lebih pasrah, karena tenaganya juga tidak ada.
Alvino menuju lemari, mengambil pakaian kerja yang kemudian kembali memasuki kamar mandi untuk berganti.
Kyarra melihat isi kamar tersebut, sangat berantakan, dan bahkan Kyarra merasakan tubuhnya benar-benar pegal, sakit di area sensitifnya tidak bisa dijelaskan, memang di saat seperti itu enaknya rebahan.
Tidak lama Alvino kembali keluar dari kamar mandi, sembari merapikan lengan kemejanya.
"Kak...." langkah Alvino berhenti ketika ingin keluar dari kamar yang mungkin akan membantu putrinya bersiap-siap.
"Ada apa?" tanya Alvino.
"Bukankah kita harus berbicara?" tanya Kyarra.
Benar! mereka harus berbicara atas apa yang terjadi tadi malam, bukan seolah-olah tidak terjadi apapun di antara mereka.
"Ya, kita akan bicara, tetapi saya harus mengurus Kelly dulu, saya akan mengantar ke sekolah dan setelah itu kembali ke rumah," ucap Alvino kemudian langsung pergi begitu saja.
Bersambung.....