Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.
Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.
"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden apartemen sama sekali tak mampu mengusir hawa dingin yang merayapi tengkuk Clara.
Wanita itu berdiri mematung di depan cermin, meremas ujung blus sederhananya hingga kusut. Lingkaran hitam di bawah matanya menjadi bukti bisu dari teror skenario terburuk yang berputar di kepalanya semalaman.
Pikirannya terus melayang pada Ken dan Key yang bermalam bersama Alexio, serta pengadilan sepihak yang mungkin menunggunya hari ini.
"Sudahlah, Ra. Kau sudah mengganti bajumu tiga kali dalam setengah jam," tegur Ketty yang muncul dari arah dapur, menyodorkan secangkir teh hangat.
"Minum ini. Setidaknya buat wajahmu tidak sepucat kertas HVS."
"Aku takut, Ket," gumam Clara dengan suara bergetar, menerima cangkir itu dengan kedua tangan yang sedingin es.
"Bagaimana kalau mereka menatapku jijik? Bagaimana kalau di ruangan itu sudah berjejer pengacara yang siap merampas hak asuh—"
Ting tong!
Suara bel apartemen yang berbunyi nyaring memotong kalimat Clara, membuatnya nyaris menumpahkan teh di tangannya. Ia bertatapan panik dengan Ketty. Dengan langkah gontai bagai narapidana menuju tiang gantungan, Clara berjalan membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, sosok tegap Alexio menjulang dengan setelan jas kasual tanpa dasi yang justru membuatnya tampak luar biasa intimidatif namun menawan.
Di sisi kanan dan kirinya, Ken dan Key berdiri dengan wajah cerah, mengenakan pakaian desainer eksklusif yang entah kapan dibelikan oleh ayah mereka.
"Mamaaa!" seru si kembar serempak, langsung menabrak kaki Clara dan memeluknya erat.
"Astaga, Sayang..." Clara berjongkok, memeluk erat kedua buah hatinya seperti orang yang kelaparan.
Ia menghirup aroma bedak bayi yang kini bercampur samar dengan wangi citrus dan musk mahal milik Alexio.
"Kalian baik-baik saja? Tidak membaut Papa kalian repot kan?"
"Tentu saja tidak, Ma!" jawab Key riang dengan artikulasi yang sangat rapi.
"Semalam Key dan Kak Ken tidur diselimuti oleh Oma dan Opa. Kakek Buyut juga membacakan literatur tentang strategi perang masa lampau sebelum kami tidur. Rumah Kakek Buyut sangat besar seperti istana! Sangat seru dan edukatif!"
Alexio menunduk. Ia bisa melihat jelas badai kepanikan di mata cokelat jernih Clara. Tanpa ragu, pria itu mengulurkan tangan besarnya, menarik Clara untuk berdiri dengan kelembutan yang menuntut.
"Keluargaku sangat menyukai mereka, Clara. Bahkan Kakek semalam ngotot minta pulang dari rumah sakit. Beliau merasa jauh lebih sehat dan segar bugar setelah bertemu cicitnya," ucap Alexio, suaranya rendah dan menenangkan, seolah merapalkan mantra.
"Sekarang, giliranmu. Ayo, mobil sudah menunggu."
****
****
Sepanjang perjalanan di bangku belakang Maybach menuju kediaman utama Van Der Berg, Clara hanya membisu, meremas kedua tangannya yang berkeringat. Menyadari hal itu, Alexio meraih tangan Clara, menyusupkan jari-jarinya di sela jemari wanita itu, lalu meletakkannya di atas paha kokohnya.
Clara tersentak tipis, namun entah bagaimana, genggaman protektif itu perlahan meredakan gemuruh di dadanya.
Setibanya di depan pintu utama mansion megah yang menjulang bagai kastil modern itu, langkah Clara membeku. Pilar-pilar raksasa dan penjagaan ketat di sekitarnya seakan menyedot habis oksigen dari paru-parunya.
"Tuan Alexio, aku... aku rasa aku tidak bisa..." bisik Clara panik, memundurkan langkahnya.
Namun, Alexio mempererat genggamannya, tak mengizinkan wanita itu lari.
"Stop panggil aku Tuan! Panggil aku Alexio atau sayang itu lebih baik!" tegasnya lembut.
Clara hanya bisa pasrah sambil mengangguk pelan.
"Percaya padaku, Clara. Tidak akan ada yang berani menyakitimu di dalam sana. Aku yang menjaminnya." lanjut Alexio.
Tanpa memberi waktu Clara untuk membantah, Alexio memberi isyarat kepada pelayan untuk membuka pintu ganda raksasa tersebut.
Pemandangan di ruang keluarga utama itu seketika menghentikan napas Clara. Bukannya tatapan angkuh atau cibiran merendahkan ala drama keluarga konglomerat, Olivia, Mommy-nya Alexio, justru langsung berdiri dari sofa Chesterfield mewahnya.
Mata wanita paruh baya yang selalu tampil elegan itu berbinar-binar. Setengah berlari, ia menghampiri Clara.
Tanpa basa-basi, Olivia merengkuh tubuh kaku Clara ke dalam pelukan yang luar biasa hangat.
"Ya Tuhan... jadi ini bidadari yang sudah melahirkan dan merawat cucu-cucu kesayanganku?" isaknya pelan, mengusap punggung Clara dengan penuh haru.
"Cantik sekali... pantas saja anak nakal ini sampai setengah gila memburumu selama lima tahun ini."
Clara mematung. Matanya membulat sempurna. "Bidadari? Cucu kesayangan?" gumamnya dalam hati.
Olivia mengurai pelukannya, menangkup kedua pipi Clara dan menatapnya dengan tatapan terima kasih yang tulus.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih sudah menjadi ibu yang luar biasa tangguh untuk Ken dan Key. Maafkan kami yang baru menemukanmu sekarang."
Andries ikut melangkah maju. Pria berwibawa itu tersenyum, menepuk pundak Clara dengan apresiasi mendalam.
"Selamat datang di keluarga Van Der Berg, Nak. Kau telah mendidik mereka menjadi pewaris yang sangat pintar dan beretika. Keluarga ini sangat berutang budi padamu."
Pertahanan Clara seketika runtuh. Ketakutan yang mencekiknya semalaman menguap tak bersisa, digantikan oleh luapan air mata haru yang membasahi pipinya. Tidak ada pengacara kejam, tidak ada tatapan merendahkan, tidak ada ancaman. Yang ada hanyalah penghormatan dan penerimaan mutlak.
"Sini, kemarilah, Nak," panggil Alexander dari kursi kebesarannya di ujung ruangan dengan senyum lebarnya, tak lagi tampak seperti orang yang baru keluar rumah sakit.
Clara melangkah mendekat dengan canggung, menyeka air matanya. Sang Kakek meraih tangan Clara, menepuknya pelan namun penuh penekanan.
"Kau wanita yang luar biasa kuat dan bermartabat, Clara. Keluarga ini bangga memilikimu. Mulai detik ini, kau adalah bagian tak terpisahkan dari Van Der Berg," titah Alexander, meresmikan posisinya.
Clara hanya bisa mengangguk pelan, suaranya serak. "T-terima kasih, Kek... Nyonya... Tuan..."
"Husst!" Olivia memotong cepat dengan delikan pura-pura marah.
"Jangan panggil Nyonya dan Tuan. Panggil kami Mommy dan Daddy. Paham?"
Clara tersenyum malu-malu, rona merah menjalar di pipinya. "Baik, Mom... Dad..."
Alexander berdeham pelan, aura patriarkinya menguar memenuhi ruangan megah itu. Ia menatap Alexio dan putra kandungnya bergantian, lalu mengunci pandangannya pada Clara.
"Nah, karena ibu dari cicit-cicitku sudah ada di sini, mari kita selesaikan urusan yang paling krusial."
Pria tua itu tersenyum penuh arti.
"Clara, Kakek sudah tidak sabar melihat hubungan ini dilegalkan secara hukum dan agama. Bagaimana kalau pernikahan kalian diadakan akhir pekan ini?"
Uhuk!
Clara nyaris tersedak ludahnya sendiri. Matanya terbelalak horor menatap Alexander, lalu beralih menatap Alexio dengan panik.
"Akhir pekan ini?! Sekarang hari Kamis! Bagaimana mungkin menyiapkan pernikahan dalam dua hari?!"
Alexio yang berdiri di samping Clara hanya tersenyum smirk, sebuah seringai iblis yang tampan penuh kemenangan. Ia melingkarkan lengannya di pinggang ramping Clara, merengkuh wanita itu posesif hingga tubuh mereka bersisian rapat.
"Keputusan yang brilian, Kek," sahut Alexio mantap, suaranya menggema penuh otoritas, sama sekali tak memberi celah bagi Clara untuk melarikan diri.
"Kami akan menikah akhir pekan ini."
Bersambung...
semoga cepat hamil lg agar keluarga Alexio semakin ramai 💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰🥰
semangat up thourr,, slalu setia menunggu 💪💪💪🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥
semangat thourr,, sehat slalu dan murah rezeki nya Aamiiin 🤲🤲🤲💪💪💪🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥🔥🔥