Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.
Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.
Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Panggilan Rahasia di Tengah Badai dan Obat dari Sang Tiran
Angin malam berembus sangat kencang, membawa ribuan jarum air hujan yang langsung menusuk kulit Arga begitu ia melangkah keluar dari balik pintu kayu reyot itu. Payung hitam usang milik Senja yang tulang-tulangnya sudah patah sama sekali tidak banyak membantu. Dalam hitungan detik, kaus abu-abu kusam dan celana training kebesaran yang ia kenakan basah kuyup, menempel lekat pada tubuh atletisnya.
Jarak lima puluh meter menuju warung sembako yang sudah tutup itu biasanya bisa ditempuh Arga dalam waktu kurang dari setengah menit dengan berlari santai. Namun malam ini, setiap langkah yang ia ambil terasa bagaikan menyeret bola besi seberat ratusan kilogram.
Luka tusuk di pinggang kirinya menjeritkan protes. Hawa dingin dari air hujan membuat otot-otot di sekitar lukanya kaku dan menegang. Darah segar kembali merembes, menodai bebatan kain di pinggangnya, larut bersama air hujan yang mengalir turun ke kakinya. Arga menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa rasa besi dari darahnya sendiri, menolak untuk mengeluarkan erangan kesakitan.
Di dalam kepalanya, hanya ada satu gambar yang terus berputar layaknya kaset rusak: wajah pucat Senja yang terbaring tak berdaya, menggigil hebat karena demam yang membakar tubuh kecilnya.
Bertahanlah, Senja. Kumohon, bertahanlah.
Langkah kaki yang terseret-seret itu akhirnya tiba di bawah terpal plastik biru yang berkibar liar di depan warung. Arga menjatuhkan payung rusaknya begitu saja, membiarkannya terbawa angin. Ia bersandar dengan napas memburu pada dinding warung, berlindung dari tampias hujan.
Di hadapannya, berdiri sebuah kotak telepon koin berwarna biru yang sudah berkarat di banyak bagian. Kacanya buram oleh coretan spidol dan debu.
Dengan tangan yang gemetar karena kombinasi hawa dingin dan rasa sakit yang menyiksa, Arga merogoh saku celana panjang berdarahnya yang ia bawa. Jari-jarinya menemukan tiga keping koin bernilai seribu rupiah. Ia memasukkan koin pertama ke dalam lubang dengan susah payah.
Klotak.
Arga mengangkat gagang telepon yang berbau tembaga berkarat dan debu lembap itu, menjepitnya di antara telinga dan bahunya. Jari telunjuknya dengan cepat dan tanpa ragu menekan belasan digit nomor rahasia. Itu bukan nomor kantor Danendra Group, bukan pula nomor ponsel utama Raka. Itu adalah saluran komunikasi darurat terenkripsi yang hanya diketahui oleh Arga dan Raka, saluran yang didesain untuk situasi hidup dan mati.
Nada sambung berbunyi. Suara statis dari kabel tua yang tersapu hujan membuat bunyinya terdengar putus-putus.
Satu dering. Dua dering.
Tepat pada dering ketiga, panggilan itu dijawab.
Di ujung garis sana, tidak ada kata "Halo". Hanya ada suara embusan napas tajam dan berat, menandakan kewaspadaan tingkat tinggi dari si penerima.
"Katakan padaku ini bukan nomor nyasar, atau aku akan melacak lokasimu dan meratakan rumahmu dalam sepuluh menit," ancam sebuah suara bariton yang familiar. Suara Raka Narendra. Terdengar sangat dingin, lelah, dan dipenuhi amarah yang siap meledak.
Mendengar suara asisten sekaligus sahabatnya itu, Arga memejamkan mata, mengembuskan napas lega yang menghasilkan kepulan uap putih di udara malam.
"Simpan ancamanmu untuk anjing-anjing Wijaya, Rak. Ini aku," suara Arga serak dan parau, nyaris tenggelam oleh suara guntur di langit, namun ketegasannya tak bisa disembunyikan.
Terdengar suara benda jatuh yang sangat keras dari seberang telepon—seperti kursi yang ditendang atau cangkir kopi yang terbanting ke lantai marmer.
"Arga?! Bos?!" Raka berteriak, suaranya pecah antara kepanikan luar biasa dan kelegaan yang tak terlukiskan. "Brengsek kau, Ga! Di mana kau sekarang?! Tim keamanan menemukan Aston Martin-mu hancur dengan darah di mana-mana! Kupikir kau sudah mati di selokan mana! Biar kutebak, bajingan Wijaya itu yang menyergapmu, kan? Beri tahu titik koordinatmu sekarang, aku akan membawa tiga helikopter, tim medis VVIP, dan pasukan bersenjata untuk menjemputmu!"
Rentetan kepanikan Raka itu membuat Arga sedikit menjauhkan gagang telepon dari telinganya.
"Dengarkan aku baik-baik, Raka. Tutup mulutmu dan dengarkan perintahku karena koin ini tidak akan bertahan lama," potong Arga dengan nada absolut yang biasa ia gunakan di ruang rapat direksi.
Raka di seberang sana langsung terdiam, beralih ke mode asisten profesional. "Siap. Katakan, Bos."
"Jangan kirim siapa pun ke sini. Tidak ada helikopter, tidak ada tim medis, apalagi pasukan keamanan bersenjata. Tidak ada satu pun dari orang kita yang boleh tahu aku masih hidup, kecuali kau," perintah Arga tegas.
"Apa maksudmu? Kau terluka, Ga! Darah di mobilmu sangat banyak!" protes Raka, kebingungannya jelas terdengar. "Jika Wijaya tahu kau masih hidup—"
"Justru karena itu. Biarkan Wijaya mengira aku sedang sekarat atau mati. Jangan buat pergerakan yang mencolok. Jika kau mengirim iring-iringan ke distrik selatan malam ini, mata-mata Wijaya akan tahu lokasiku. Ada seseorang di sini yang harus kulindungi, dan aku tidak akan membiarkan orang itu terseret ke dalam perang kotor ini."
Hening sesaat di ujung telepon. Otak cerdas Raka dengan cepat memproses informasi tersebut. Seseorang yang harus dilindungi? Sejak kapan seorang Arga Danendra, tiran berdarah dingin yang tidak peduli pada nyawa manusia lain, rela mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk melindungi orang lain di tempat antah berantah?
"Siapa yang bersamamu, Ga?" tanya Raka hati-hati.
"Bukan urusanmu sekarang," jawab Arga dingin, meski matanya menatap tajam ke arah rumah kontrakan Senja dari kejauhan. "Yang perlu kau lakukan sekarang adalah menyiapkan paket medis. Aku butuh obat penurun panas berdosis tinggi, parasetamol cair jika memungkinkan agar mudah ditelan, antibiotik spektrum luas, kompres demam elektrik, vitamin cair, dan..."
Arga terdiam sesaat, mengingat perut Senja yang selalu kosong. "...dan bawakan makanan bernutrisi tinggi yang sangat mudah dicerna. Bubur dari koki hotel kita, pastikan tetap panas."
Raka terkesiap. "Tunggu, tunggu. Obat penurun panas? Bubur? Ga, kau ditusuk atau ditabrak truk semalam? Luka tusuk tidak diobati dengan kompres demam!"
"Obat ini bukan untukku, idiot," desis Arga tak sabar. Rasa sakit di pinggangnya semakin menjadi-jadi. "Ini untuk orang yang menyelamatkanku. Dia sedang demam tinggi dan nyaris kejang. Waktuku tidak banyak."
Raka menelan ludah. Fakta bahwa bosnya yang sombong dan kejam ini sedang menelepon dari telepon umum rongsokan di tengah badai—hanya untuk meminta obat demam bagi orang asing—adalah anomali terbesar abad ini.
"Baik. Aku paham," Raka kembali serius. "Bagaimana cara aku mengirimkannya padamu jika aku tidak boleh membawa pengawal?"
"Dengarkan instruksiku," Arga memajukan tubuhnya, menatap nanar ke arah persimpangan gang yang gelap. "Kemas semua obat dan makanan itu dalam kantong plastik hitam biasa. Jangan gunakan logo rumah sakit atau tas berlabel mewah. Kau harus menyamar menjadi kurir pengantar paket atau pengemudi ojek online. Kemudikan mobil murahan tanpa pelat nomor resmi."
"Aku? Tangan kanan CEO Danendra Group, menyamar jadi kurir malam-malam?" Raka terdengar merana, namun ia sudah mencatat setiap kata bosnya.
"Ya. Kau sendiri yang harus turun. Kirimkan paket itu ke Perempatan Gang Beringin, Distrik Selatan. Ada sebuah tempat sampah besar dari beton di dekat tiang listrik yang lampunya mati. Letakkan bungkusan itu di belakang tempat sampah tersebut. Setelah meletakkannya, langsung pergi. Jangan menunggu, jangan mencoba mencari tahuku, dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu."
"Ga, ini gila. Bagaimana dengan lukamu sendiri? Setidaknya biarkan aku menyelundupkan seorang dokter bedah ke sana!"
"Lukaku bisa menunggu. Lakukan saja perintahku. Aku butuh paket itu tiba di sini kurang dari empat puluh menit. Mengerti?"
"Empat puluh menit menembus badai ke distrik selatan? Kau pikir aku pembalap Formula 1?!" keluh Raka, namun terdengar suara kunci mobil diambil dari atas meja. "Baiklah. Tiga puluh lima menit. Bertahanlah, Bos."
Klak.
Koin di mesin telepon habis, memutus sambungan secara otomatis.
Arga menjatuhkan gagang telepon itu. Ia menunduk, mencengkeram tiang telepon dengan kedua tangannya, membiarkan napasnya terengah-engah. Keringat dingin bercampur dengan air hujan di wajahnya. Ia berhasil. Bantuan sedang dalam perjalanan.
Namun, ia tidak bisa berlama-lama di sini. Meninggalkan Senja sendirian dalam kondisi tak sadarkan diri adalah hal yang paling membuatnya gila.
Dengan memaksakan sisa tenaga terakhirnya, Arga kembali berjalan tertatih menembus gerimis yang mulai mereda. Langkahnya meninggalkan jejak air kemerahan di atas aspal kotor. Setibanya di depan pintu kontrakan, ia mendorong pintu kayu itu dan langsung menguncinya dari dalam.
Udara di dalam ruangan terasa sedikit lebih hangat, namun keheningan yang mencekam menyambutnya.
Arga tertatih menghampiri kasur. Senja masih terbaring dalam posisi yang sama seperti saat ia tinggalkan. Gadis itu meringkuk memeluk guling kempes, napasnya terdengar pendek dan bersusah payah. Wajahnya semakin merah, keringat membasahi pelipis dan lehernya, sementara bibirnya terus menggumamkan igauan yang tak jelas.
Arga segera melepaskan kaus abu-abu basahnya, membuangnya ke lantai. Ia menggunakan handuk kecil milik Senja untuk mengeringkan dada dan rambutnya secara asal-asalan, agar hawa dingin dari air hujan tidak semakin memperburuk kondisi Senja saat ia menyentuhnya. Ia kemudian kembali mengenakan kemeja putih mahalnya yang tadi siang sudah dijahit oleh Senja—meski kemeja itu sudah cacat, setidaknya kainnya kering.
Ia duduk di tepi kasur, meraih tangan Senja yang berada di luar selimut. Tangannya masih sedingin es.
"Aku kembali, Senja," bisik Arga lembut, membawa tangan kecil yang kasar karena kerja keras itu ke bibirnya. Ia mengecup punggung tangan Senja yang gemetar, menyalurkan kehangatan dari embusan napasnya. "Obatmu akan segera datang. Kau malaikat yang kuat, kau pasti bisa melewati ini."
Waktu tiga puluh lima menit terasa bagaikan tiga puluh lima tahun bagi Arga.
Setiap detik yang berlalu adalah siksaan. Ia terus membelai dahi Senja, mengganti handuk basah di kepalanya dengan air dingin dari baskom, meski cara itu sepertinya tidak banyak membantu meredam api yang membakar tubuh gadis itu.
Arga, pria yang selalu memegang kendali atas segalanya, kini dipaksa belajar tentang arti kesabaran dan ketidakberdayaan. Ia terus menatap jarum jam dinding tua yang berdetak monoton.
Tepat tiga puluh delapan menit kemudian, insting tajam Arga menangkap suara deru mesin mobil dari kejauhan. Suaranya halus, namun ia mengenali jenis mesin itu—itu bukan mesin mobil murahan warga sekitar, melainkan mesin mobil pabrikan Eropa yang sengaja dipelankan agar tidak mencolok. Mobil itu berhenti sebentar di persimpangan gang depan, terdengar suara pintu ditutup pelan, lalu mobil itu kembali melaju menjauh.
Raka telah datang, dan ia melakukan tugasnya dengan sangat rapi.
Arga menatap Senja. "Aku tinggal sebentar," bisiknya.
Ia kembali keluar, kali ini udara malam terasa lebih bersahabat karena hujan telah benar-benar berhenti. Arga berjalan cepat menuju persimpangan Gang Beringin. Di belakang tempat sampah beton yang bau dan kotor, matanya yang awas menemukan sebuah kantong plastik hitam besar yang terikat rapi.
Arga memungutnya. Kantong itu terasa berat. Di dalamnya, Raka bahkan telah menambahkan sebuah kotak P3K super lengkap standar rumah sakit VVIP, beberapa ampul obat, dan termos insulasi kedap udara yang memancarkan hawa panas.
Tidak ada pesan tertulis. Raka sangat paham protokol keamanan. Meninggalkan jejak tertulis sama dengan bunuh diri jika paket itu jatuh ke tangan yang salah.
Arga membawa kembali paket kehidupan itu ke dalam kontrakan dengan tergesa. Begitu pintu dikunci rapat, ia menyalakan lampu pijar kuning lima watt milik Senja, satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu.
Arga membongkar plastik hitam itu. Di dalamnya, Raka telah membungkus obat-obatan mahal produksi Jerman ke dalam botol-botol plastik polos tanpa label, menyamarkannya seolah itu hanyalah obat warung biasa agar Senja tidak curiga saat gadis itu sadar nanti. Asistennya itu memang jenius dan sangat bisa diandalkan.
Arga membuka botol sirup parasetamol dan antibiotik cair, menuangkannya ke dalam sendok takar.
Ia mendekati Senja, meletakkan obat itu di atas meja kecil, lalu perlahan mengangkat bahu gadis itu. Arga duduk di atas kasur, menyandarkan tubuh lemas Senja ke dada bidangnya, menjaga agar kepala gadis itu sedikit mendongak.
"Senja," panggil Arga pelan, menepuk pipi gadis itu. "Buka mulutmu sedikit. Ini obat untukmu."
Senja mengerang pelan, kelopak matanya bergetar namun tak mau terbuka. Dalam keadaan delirium (mengigau karena demam tinggi), pasien sering kali menolak menelan apa pun. Bibir Senja terkatup rapat, dan ia menggelengkan kepalanya lemah, menolak sendok yang disodorkan Arga.
"P-Pahit... tidak mau..." igau Senja dengan suara manja yang menyayat hati.
Arga menarik napas panjang. Ia tidak boleh kehilangan kesabaran. Di perusahaannya, jika ada anak buahnya yang membantah, ia akan langsung memecat mereka. Tapi menghadapi gadis kecil yang sedang bertarung melawan demam ini, hati Arga melembut layaknya genangan air yang tenang.
"Ini tidak pahit, Senja. Ini obat manis. Kau harus meminumnya agar rasa dingin dan sakit di kepalamu hilang," bujuk Arga dengan nada yang sangat halus—sebuah nada yang jika didengar oleh Raka, asistennya itu pasti akan mengira Arga telah kerasukan setan baik hati.
Arga menggunakan ibu jari dan telunjuknya untuk menekan lembut rahang Senja, memaksa bibir gadis itu terbuka sedikit. Dengan sangat hati-hati, ia menuangkan sirup obat itu ke dalam mulut Senja, sedikit demi sedikit, agar gadis itu tidak tersedak.
Secara refleks, karena rasa manis dari sirup kualitas tinggi itu, tenggorokan Senja bergerak menelannya. Arga segera menyusulnya dengan memberikan beberapa teguk air hangat dari gelas kaleng untuk membilas sisa obat.
"Pintar," gumam Arga lega. Ia menyeka sisa air di sudut bibir Senja dengan ibu jarinya, gerakannya begitu lambat dan penuh pemujaan.
Setelah memastikan obat itu tertelan sempurna, Arga membaringkan Senja kembali. Ia lalu membuka kotak kompres elektrik yang dibawakan Raka—alat canggih tanpa kabel yang hanya perlu ditekan untuk menghasilkan sensasi dingin yang tahan lama. Arga menempelkan kompres itu di dahi Senja.
Kini, yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu obat itu bereaksi.
Arga duduk di lantai semen di samping kasur, melipat kedua lengannya di atas tepi kasur, dan meletakkan dagunya di sana. Matanya tak pernah lepas dari wajah Senja.
Dua jam berlalu dalam keheningan malam yang panjang.
Perlahan-lahan, keajaiban medis modern mulai menunjukkan efeknya. Obat penurun panas berdosis tinggi itu berhasil memenangkan pertempuran di dalam tubuh Senja. Napas gadis itu yang tadinya memburu kini mulai melambat dan teratur. Keringat dingin di dahinya berubah menjadi keringat hangat yang menandakan demamnya telah pecah. Rona merah menyala di pipinya perlahan memudar, mengembalikan warna kulit aslinya yang putih pucat.
Gigil di tubuh Senja benar-benar menghilang.
Arga mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Senja. Suhunya telah kembali normal. Sang CEO yang keras kepala dan tak pernah menundukkan kepalanya kepada siapa pun itu, tiba-tiba memejamkan mata dan mengembuskan napas panjang, sebuah ucapan syukur tanpa suara yang ditujukan pada langit.
"Terima kasih..." bisik Arga, entah kepada siapa.
Ia telah berhasil. Ia tidak kehilangan gadis ini.
Tiba-tiba, kelopak mata Senja bergetar pelan. Di bawah cahaya remang lampu kuning lima watt, mata bulat yang bening itu terbuka perlahan, mengerjap menyesuaikan diri dengan cahaya.
Pandangan Senja masih kabur, namun perlahan fokusnya menemukan sosok raksasa yang sedang duduk di samping kasurnya, menatapnya dengan intensitas yang bisa meluluhkan baja.
"K-Kak... Arga...?" suara Senja sangat lemah dan parau, nyaris seperti bisikan angin.
Mendengar panggilan itu, hati Arga berdesir hebat. Ia segera bangkit, mencondongkan tubuhnya, dan memberikan senyum tipis yang tulus. "Ya. Aku di sini. Bagaimana perasaanmu?"
Senja mengerutkan kening, mencoba mengingat apa yang terjadi. Otaknya terasa kosong, hal terakhir yang ia ingat adalah ia memegang kemeja putih Arga, dan setelah itu dunia berputar gelap.
"Aku... aku pingsan?" tanyanya lugu. Gadis itu mencoba bergerak untuk duduk, namun Arga dengan cepat menahan bahunya, menekannya kembali ke kasur.
"Jangan bergerak. Kau demam tinggi hingga nyaris kejang. Tubuhmu butuh istirahat," cegah Arga dengan nada protektif yang dominan.
Mata Senja melebar, kepanikan tiba-tiba melanda dirinya. Ia meraba dahinya, merasakan kompres elektrik canggih yang menempel di sana. Ia melihat bungkus obat kosong di atas meja, dan sebuah termos stainless steel besar yang memancarkan uap hangat.
"O-Obat? Dan kompres ini? T-Termos itu?" Senja tergagap, menatap Arga dengan kebingungan yang luar biasa. "Dari mana Kakak mendapatkan semua ini? Bukankah Kakak tidak punya uang sama sekali? Kakak tidak sedang merampok warung di depan kan?!"
Arga nyaris tertawa mendengar tuduhan absurd itu. Bahkan dalam kondisi baru sadar dari pingsan, gadis ini masih memikirkan hal-hal konyol yang dipenuhi prasangka baik sekaligus panik.
"Tentu saja tidak," jawab Arga tenang, otaknya telah mempersiapkan alibi yang sempurna sebelum Senja sadar. "Saat kau pingsan, aku sangat panik. Aku tidak punya pilihan lain selain membongkar kardus bekas di sudut ruanganmu, mencari barang rongsokan yang bisa dijual. Kebetulan ada beberapa botol kaca bekas dan kabel tembaga tua. Aku menukarnya di pengepul rongsokan di ujung gang yang masih buka, dan uangnya kugunakan untuk membeli obat murah di warung serta meminjam termos kompres dari pemilik warung."
Itu adalah kebohongan yang sangat logis dan rapi, dirancang khusus untuk memuaskan logika seorang gadis yang hidup di lingkungan kumuh.
Mendengar cerita itu, mata Senja langsung berkaca-kaca. Air mata yang hangat mengalir dari sudut matanya, membasahi bantalnya.
Bagi Senja, cerita itu terdengar sangat menyayat hati. Ia membayangkan Kak Arga—pria malang yang sedang amnesia dan luka tusuknya belum sembuh—harus tertatih-tatih keluar malam-malam, memikul rongsokan berat menembus hujan hanya demi mendapatkan sedikit uang untuk menyelamatkan nyawanya. Pengorbanan pria asing ini, di mata Senja, adalah hal terindah yang pernah ia terima seumur hidupnya.
"Kak Arga..." isak Senja pelan, bibirnya bergetar hebat menahan tangis haru. "M-Maafkan aku... Seharusnya aku yang merawat Kakak, tapi aku malah merepotkan dan membuat Kakak harus bekerja keras dalam keadaan sakit. Kakak pasti sangat kesakitan saat mengangkat rongsokan itu..."
Arga terdiam. Ia merasakan sebuah tusukan rasa bersalah di dadanya saat melihat air mata tulus gadis itu. Kebohongannya terlalu jauh, tapi ini adalah satu-satunya cara agar ia bisa tetap berada di sisi Senja tanpa membuatnya ketakutan atau menjauh.
Arga mengulurkan tangannya, mengusap lembut air mata di pipi Senja dengan ibu jarinya. Sentuhannya sangat hati-hati, seolah takut kulit gadis itu akan memar hanya dengan sedikit tekanan.
"Berhentilah menangis dan meminta maaf, Senja," bisik Arga, suaranya mengalun seperti melodi bariton yang menenangkan. "Kau telah menyelamatkan nyawaku semalam. Apa yang kulakukan hari ini, tidak ada seujung kuku dari kebaikan yang telah kau berikan padaku. Kita... kita hanya sedang menjaga satu sama lain, bukan?"
Mendengar kata-kata 'menjaga satu sama lain', Senja tertegun. Sebuah kehangatan yang asing mekar di dalam rongga dadanya. Sejak kedua orang tuanya meninggal, tidak ada seorang pun yang pernah mengucapkan kata-kata itu padanya. Ia selalu menjadi pihak yang memberi, yang mengalah, yang bekerja keras, tanpa pernah ada yang menjaganya saat ia jatuh.
Kini, pria amnesia yang tak punya apa-apa ini, justru menjadi orang pertama yang berdiri sebagai tameng pelindungnya.
Senja mengangguk pelan, memejamkan matanya, membiarkan sentuhan tangan Arga di pipinya memberikan rasa aman yang telah lama ia rindukan.
"Sekarang," Arga memecah keharuan itu dengan nada yang lebih ringan. Ia menarik termos mahal berisi bubur dari koki hotel bintang lima miliknya, lalu menuangkannya ke dalam mangkuk plastik usang milik Senja. Aroma kaldu ayam asli bercampur rempah-rempah yang lezat langsung memenuhi ruangan.
"Duduklah perlahan," perintah Arga, membantu Senja bersandar di dinding.
Ia mengaduk bubur itu perlahan, meniupnya hingga uap panasnya berkurang, lalu menyodorkan sendok pertama tepat ke depan bibir Senja.
"Buka mulutmu. Waktunya kau yang makan bubur tanpa protes, persis seperti yang kau lakukan padaku tadi pagi," ucap Arga dengan senyum tipis yang menantang namun sangat manis.
Senja merona merah. Hatinya berdebar tak karuan. Dengan ragu, ia membuka mulutnya, membiarkan pria paling berkuasa di kota itu menyuapinya bubur dengan tangannya sendiri.
Malam itu, diiringi sisa rintik hujan di luar, dua jiwa yang saling menyembunyikan masa lalu dan identitas mereka, menemukan sebuah titik damai. Bagi Senja, ini adalah awal dari rasa nyaman yang akan membawanya pada kebahagiaan terbesar. Bagi Arga, ini adalah ikrar tanpa suara, bahwa mulai detik ini, hidup dan matinya akan selalu terikat pada gadis pembuat roti yang kini tersenyum manis memakan buburnya.
Badai di luar mungkin belum usai, namun di dalam ruangan sempit ini, cinta sejati sedang membangun fondasinya dengan sangat kokoh, bersiap untuk menghadapi gempa bumi intrik dan konflik besar yang akan menghantam mereka dalam waktu dekat.