Sebuah rumah yang menyimpan rahasia besar selama ratusan tahun kini mulai membuat penghuninya terganggu.
Tak hanya gangguan mistis, pemiliknya juga mulai sakit sakitan dan mulai menyadari ada yang aneh dengan rumah yang dia tinggali itu.
Akankah pemilik rumah itu berhasil memecahkan misteri di dalam rumah yang sudah puluhan tahun dia tempati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seribu mata
Saat Hala juga yang lain sampai di rumah Karta, ternyata di sana juga sudah ada Kharissa dan Dirga yang datang karena Badaruddin mengatakan, Sahara dan Rukmini memanggil Badaruddin tapi Badaruddin terlambat, saat dia sampai pertarungan sudah selesai.
"Apa kalian terluka?" tanya Dirga khawatir karena melihat Sahara di gendong Gandra.
"Tidak, tapi tadi Sahara sempat lemas karena asap belerang itu mungkin beracun" jawab Rukmini
Gita juga di panggil dan dia di jemput langsung oleh Gading, Gading tidak mengijinkan Roman ikut karena Gading khawatir Roman nanti akan membawa Rani dan Rani akan di incar sosok putih itu.
"Bagaimana kondisi Jessica?" tanya Jayden ketika Gita sudah selesai memeriksa Jessica.
Jayden di minta untuk menginap di rumah Karta karena Karta tahu mereka langsung datang dari Bandung tanpa persiapan, meskipun Jayden sudah rujuk dengan Tisya, tapi mereka belum melakukan ijab kabul lagi dan pastinya tidak akan baik untuk keduanya jika kembali tidur satu kamar.
"Kondisi matanya baik baik saja, pasti Opa Hala sudah mengoleskan obat ya?" tanya Gita
"Iya nak" jawab Hala
"Tapi penglihatannya..."
"Adik saya memang tuna netra" jawab Jayden dan Gita mengangguk faham.
"Dia sudah sadar hanya masih terlihat ketakutan, temani saja adik kakak di dalam karena sepertinya dia juga punya trauma" ucap Gita
"Trauma?" tanya Jayden terkejut
"Tubuhnya gemetar, dia juga berkeringat dingin dan dia terus meracau meminta maaf karena dia tidak bisa menjaga mata itu, dan dia juga tidak mau di pegang tadi setelah sadar" jawab Gita
"Dia tidak mau di pegang kepalanya seperti punya trauma akan sesuatu" ucap Gita lagi
"Apa kamu bisa menebak trauma karena apa?" tanya Hatta
"Tidak kak, ini urusannya harus dengan psikolog, hanya mereka yang bisa tahu" jawab Gita
Jayden meminta Tisya untuk menemani Jessica di kamar, dia juga masih merasa kebingungan dengan apa yang terjadi tadi, bahkan karena melihat kelelahan di mata Jayden, Hatta memilih untuk meminta Jayden istirahat terlebih dahulu tapi Jayden menolaknya.
"Jessica selalu mengatakan mata itu begitu berharga untuk Jessica karena mata itu normal tapi entah karena apa Jessica tetap tidak bisa melihat" ungkap Jayden
"Kamu sudah tahu sekarang karena apa kan, cari keturunan orang yang memberikan kutukan pada Patricia" ucap Dimas dan Jayden mengangguk.
Pasti akan sangat tidak mudah tapi Jayden tidak akan menyerah, apalagi Karta bilang orang yang memberikan kutukan itu masih warga kampung Curug yang di masa lalu tidak punya warga yang banyak.
"Sebenarnya mata siapa yang sekarang ada pada diri Jessica?" tanya Dimas
"Itu adalah mata dari seorang pendonor asal Jakarta, dia meninggal dan matanya dia berikan kepada Jessica" jawab Jayden
"Tapi sosok nyonya meneer itu mengatakan kalau mata Jessica adalah mata Ratri" ucap Rukmini
"Mata Ratri, nenek Ratri?" tanya Karta dan Rukmini mengangguk.
"Bagaimana bisa? aku melihat sendiri orang itu di kubur dan dia perempuan muda" ucap Jayden
"Mungkin ada sesuatu yang tidak kamu ketahui Jayden, Jessica saja yang tahu tentang itu" ucap Hatta melirik Kharissa yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan Jayden.
Kharissa maju ke depan Jayden, dia lalu mengambil sesuatu dari dalam telinga Jayden yang langsung membuat lelaki tinggi besar itu meringis kesakitan. Jayden terus mendorong Kharissa tapi Kharissa sama sekali tidak pergi, Kharissa tetap berdiri di hadapan Jayden dengan santai.
"Aaakhhh! apa yang kamu lakukan!" teriak Jayden.
"Rissa, apa yang kamu lakukan?" tanya Dirga memegangi Jayden yang berusaha melawan Kharissa.
"Ada rambut, rambut putih di telinganya" jawab Kharissa terus berusaha mengeluarkan rambut itu dari dalam telinga Jayden.
"Aakhhh sakit! aku mohon lepaskan!" panas dan perih!" teriak Jayden
"Tahan, ini demi kebaikan kamu" ucap Dimas
Jayden tetap di pegangi Dirga, setelah lima menit mencoba mengeluarkan rambut putih di telinga Jayden, Kharissa akhirnya bisa menarik rambut itu dengan sempurna, bahkan Jayden langsung lemas dan memuntahkan banyak belatung dari mulutnya hingga membuat orang orang di sana mundur beberapa langkah.
"Rambut sosok putih itu, dia memasukkan rambut ini untuk mempengaruhi kamu, menunjukkan penglihatan palsu yang akan membuat kamu percaya padanya" ucap Kharissa mengeluarkan energinya dan membuat rambut itu terbakar dengan mudah.
"Istirahatlah Jayden, aku akan menelepon Tama dan mengatakan kalau Tisya tidak bisa pulang untuk menemani Jessica" ucap Karta membantu Jayden berdiri.
"Om Tama tadi pulang karena khawatir dengan istrinya katanya, aku meminta beberapa pasukan gaib Sona untuk menjaga mereka" bisik Dimas dan Dirga mengangguk.
"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku harus di buat bingung seperti ini" gumam Jayden.
"Karena kamu tidak tahu apapun dan kamu mudah di pengaruhi, mereka jahat" jawab Kharissa
"Jayden Elias Varden, kamu adalah darah campuran sama seperti Vincent, mereka mengincar adik kamu karena adik kamu punya wajah yang mirip dengan Patricia, dia bisa jadi wadah yang bagus untuknya dan rohnya akan menggantikan raga si dukun yang terjebak di alam itu" ucap Kharissa
"Dukun? bukannya itu Patricia?" tanya Dimas
"Bukan, dia dukun yang mengambil raga Patricia, tapi dia gagal dan terjebak di alam itu karena tumbal yang dia berikan kurang" jawab Kharissa
"Tumbal apa?" tanya Dirga
"Seribu mata"
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un" ucap semuanya.
"Mata terakhir itu adalah mata keturunan Vincent Wihardja dan itu ada pada Hannah, dan mata terakhir kedua adalah Jessica, Jessica satu satunya keluarga Varden yang mengalami kebutaan total dan matanya adalah mata milik Ratri yang di berikan Ratri secara gaib di hari Jessica di operasi, Jessica tahu dan karena itulah Jessica merasa bersalah" jawab Kharissa langsung menghela nafasnya dan Dirga segera memberikan istrinya itu minum agar tidak kelelahan.
"Berapa kata dia bicara?" bisik Gandra
"Aduh jari tangan Sahara hanya sepuluh, jari kaki juga sepuluh, Sahara tidak bisa menghitungnya, Sahara tidak suka matematika" jawab Sahara memegangi kepalanya yang pusing menghitung berapa jumlah kata yang di ucapkan Kharissa.
"Jessica?"
"Dia akan baik baik saja" jawab Hatta
"Papa, portal itu sudah terbuka sebesar kepalan tangan" ucap Rian
"Tapi tadi tertutup" ucap Rukmini
"Tadi Rian ke sana, dan terlihat ada celah terbuka di sana, Rian mengintip ke dalam dan rumah kami sudah hangus terbakar" jawab Rian
"Kenapa kamu pergi sendiri, itu berbahaya, jangan lakukan lagi portal itu bisa terbuka pasti karena darah dari mata Jessica, tadi sosok itu sudah hampir mengambil mata Jessica" ucap Hala
"Rian akan lebih berhati hati" jawab Rian
ma'af thor mau nanya itu nyonya meneer sudah berdiri sejak taun berapa🤭🤭🤭