Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Penolakan Tanpa Ampun
Ruang Pertemuan Utama di lantai empat puluh dua masih dilingkupi atmosfer yang menekan. Ziko membuka folder proposal dengan tangan yang sedikit bergetar. Keringat dingin mulai membasahi dahi dan telapak tangannya.
Di seberang meja, Mahira duduk tegak, menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran dengan pandangan yang teramat tenang namun tajam menembus.
"Silakan, Tuan Ziko. Waktu Anda sepuluh menit," ucap Mahira dingin. Suaranya terdengar begitu datar, seolah-olah pria di depannya ini hanyalah seorang klien biasa yang sedang mengadu nasib.
Ziko berdehem keras untuk menutupi getaran pada suaranya. Ia mulai membeberkan poin-poin dalam proposal investasi yang telah ia susun terburu-buru bersama timnya semalam.
"B-berdasarkan draf yang kami ajukan, Adhi Jaya Perkasa memproyeksikan pengembalian modal sebesar dua belas persen dalam kuartal pertama jika pasokan baja dan beton dari Grand Wijaya Group tetap dilanjutkan. Kami juga berencana melakukan ekspansi pada proyek perumahan komersial di wilayah timur...." Ziko menjelaskan dengan nada bicara yang berusaha dibuat semeyakinkan mungkin, meski beberapa kali suaranya tertahan karena gugup.
Clarissa yang duduk di sebelah Ziko berusaha membantu dengan menyodorkan lembaran grafik ke arah jajaran direksi. Namun, tidak ada satu pun direktur yang mengambil berkas tersebut. Semua mata di ruangan itu tertuju pada Mahira, menunggu reaksi dari sang penguasa tertinggi.
Mahira mendengarkan penjelasan Ziko tanpa sekali pun menyela. Jemari tangannya yang lentik mengetuk-etuk pelan permukaan meja jati. Begitu Ziko mengakhiri presentasinya dengan napas terengah-engah, Mahira meraih dokumen proposal Adhi Jaya Perkasa yang berada di depannya.
Ia membuka halaman demi halaman dengan gerakan yang sangat anggun dan perlahan. Hening kembali menguasai ruangan. Bunyi gesekan kertas terasa begitu nyaring, menambah ketegangan yang merayap di dada Ziko.
Sret.
Mahira menutup dokumen tersebut dengan bunyi ketukan yang tegas. Ia menatap Ziko lurus.
"Hanya ini yang bisa Anda sajikan setelah tiga tahun menerima sokongan penuh dari anak perusahaan kami, Tuan Ziko?" tanya Mahira, suaranya tenang namun dihinggapi nada sarkasme yang begitu tipis dan mematikan.
Ziko tertegun. "M-maksud Anda, Bu Mahira?"
Mahira menegakkan posisi duduknya, memajukan tubuhnya sedikit ke depan. "Mari kita bicara secara profesional berdasarkan data, bukan karangan harapan. Di halaman empat, Anda mencantumkan proyeksi margin keuntungan dua belas persen. Namun, Anda sama sekali tidak memasukkan variabel fluktuasi harga bahan baku impor dan risiko kenaikan suku bunga bank yang saat ini sedang melonjak."
Mahira mengetuk halaman dokumen itu dengan ujung jarinya. "Analisis risiko operasional Anda sangat buruk. Dangkal, teledor, dan penuh dengan asumsi tanpa dasar yang valid. Anda memprediksi arus kas berdasarkan asumsi bahwa pasokan barang akan selalu lancar, padahal manajemen internal perusahaan Anda sendiri sedang berantakan. Utang jangka pendek Adhi Jaya Perkasa ke pihak ketiga sudah membengkak lebih dari tiga puluh persen dari total aset yang Anda miliki."
Wajah Ziko seketika memucat. Matanya melebar tak percaya. Bagaimana mungkin Mahira tahu angka-angka detail keuangan perusahaannya yang bahkan tidak ia cantumkan di dalam proposal tersebut?
"B-bagaimana bisa Anda...." Ziko terbata-bata, lidahnya mendadak terasa kelu.
Jessi yang berdiri di samping Mahira menyunggingkan senyum dingin, lalu menyerahkan satu map hitam tambahan ke hadapan Ziko. "Ibu Komisaris Utama telah melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh rekam jejak keuangan Adhi Jaya Perkasa sejak kemarin sore, Tuan Ziko. Tidak ada satu pun celah kerugian Anda yang luput dari pengamatan beliau."
Ziko mencengkeram tepi meja. Keringat dingin kini menetes dari pelipisnya. Ia baru teringat bahwa selama tiga tahun mereka menikah, Mahira adalah orang yang selalu melihat laporan keuangan kasarnya di rumah. Namun dulu, Ziko menganggap Mahira tidak paham apa-apa dan hanya menganggapnya sibuk membersihkan meja. Pria itu tidak pernah sadar bahwa di balik diamnya, Mahira menganalisis seluruh bobrok manajemen perusahaannya dengan ketelitian tingkat tinggi.
"Selain masalah finansial," lanjut Mahira dengan nada dingin yang tak tersentuh, "struktur kendali internal perusahaan Anda sangat rapuh. Pengarsipan dokumen vital teledor, keputusannya sering diambil berdasarkan emosi tanpa perhitungan matematis, dan Anda terlalu bergantung pada jaminan pihak luar untuk menutupi ketidakbecusan manajemen sendiri."
Setiap kata yang keluar dari bibir Mahira menghantam dada Ziko bagaikan godam besi. Semua celaan dan kritikan tajam itu disampaikan Mahira secara sangat profesional di depan puluhan jajaran direksi, membuat harga diri Ziko sebagai seorang pengusaha hancur berkeping-keping tanpa sisa.
Clarissa yang merasa terdesak akhirnya tidak bisa menahan diri. Ia ikut angkat bicara dengan suara bergetar. "Maaf, Bu Mahira... tapi perusahaan Ziko punya potensi besar! Lagi pula, Papaku sudah berkomunikasi dengan pihak eksekutif di sini untuk~"
"Nona Clarissa," potong Mahira tajam, menatap Clarissa dengan pandangan mata yang sedingin es hingga membuat kalimat wanita itu terhenti seketika. "Di ruang rapat Grand Wijaya Group, nama atau jabatan ayah Anda tidak punya nilai tawar sedikit pun. Kami menilai mitra bisnis berdasarkan kualifikasi, integritas, dan angka rasional, bukan berdasarkan koneksi omong kosong atau bualan di luar sana."
Wajah Clarissa seketika merah padam karena malu dan terintimidasi. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani lagi menatap mata Mahira.
Mahira meraih pena mewahnya, lalu menarik lembaran draf permohonan investasi Adhi Jaya Perkasa. Tanpa ragu sedikit pun, dengan gerakan tangan yang tegas dan mengalir, Mahira menggoreskan stempel merah bertuliskan DITOLAK di atas kertas tersebut, lalu membubuhkan tanda tangannya di bawahnya.
Tack.
Mahira meletakkan penanya kembali ke tempatnya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, menatap Ziko dengan pandangan yang sepenuhnya asing dan dingin.
"Proposal investasi dan permohonan peninjauan ulang Adhi Jaya Perkasa resmi saya tolak," tegas Mahira. Suaranya bergema mutlak di seluruh penjuru ruangan. "Pemutusan pasokan bahan baku dan penghentian seluruh fasilitas jaminan akan tetap dieksekusi per jam dua siang ini. Keputusan ini final dan tidak dapat diganggu gugat."
Ziko merasa bumi yang dipijaknya seolah-olah runtuh total. Tubuhnya lemas, matanya menatap kosong pada lembaran kertas di depannya yang kini telah distempel penolakan resmi oleh tangan wanita yang baru saja diusirnya dari rumah.
"Rapat selesai. Terima kasih atas waktunya," ucap Mahira pendek seraya berdiri dari kursinya dengan anggun.
Seketika, seluruh jajaran direksi berdiri dan membungkuk hormat saat Mahira melangkah meninggalkan ruang rapat dengan diiringi para pengawal pribadinya.
Mahira berjalan melewati Ziko tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan pria itu terkapar dalam kehancuran harga diri dan kebangkrutan yang kini nyata membayang di depan mata.